Seakan dia masuk ke tahap yang lebih tinggi, nyawanya semakin terancam pula.
Setiap orang memiliki kendala masing-masing dalam setiap hubungan yang mereka jalani, entah itu hubungan percintaan yang di telan bumi dan perselingkuhan dan juga dengan cinta segitiga.
Hubungan itu bisa saja retak kapan yang mereka inginkan, kecuali jika setiap orang yang mempercayai pasangan mereka, mungkin akan lebih baik.
Satu Minggu telah berlalu, dan keakraban Vanessa dan juga Miracle semakin terdengar di mana-mana, mereka menjadi salah satu pandangan objek akan semua berita yang mereka gosip dalam satu Minggu.
Mulai dari tidur di hotel mewah dan juga pergi ke restoran yang mewah, yang mungkin gaji beberapa karyawan di sana tidak cukup untuk membeli tiket saja.
Mungkin mereka harus bekerja satu tahun agar bisa menikmati makanan yang berada di tempat itu, bayangkan saja itu membuat menyerah para kaum pekerja yang seperti mereka.
Kantor sudah sangat ramai seperti biasanya ini adalah akhir bulan, semua tugas harus selesai dan pergi ke ruangan atasan mereka untuk mendapatkan tanda tangan.
Miracle kesal karena beberapa karyawan yang datang selalu saja menggangu dirinya untuk mendapatkan ciuman dari wanita yang sudah pulang ke tempat duduknya.
Ketika dia rasa ini adalah waktu yang tepat untuk b******u dengan Vanessa tiba-tiba ada suara gagang pintu yang terbuka sedemikian rupa, Vanessa bukan wanita ceroboh dia segera berdiri dan mengambil semua map itu segera pergi meninggalkan Miracle yang sudah kesal tidak karuan.
"Di sini pak," mereka memberikan satu persatu kepada Miracle.
Wajahnya yang tampak cemas berkata,"sepertinya kalian boleh keluar saya akan pergi sebentar untuk makan," gumamnya membuat heran beberapa karyawan yang di sana, pasalnya mereka tidak pernah melihat sikap yang tidak peduli ini.
"Apakah kami akan pulang dengan tangan kosong?"
"Yah, seperti inilah nasib dari karyawan yang sepele,"
"Ini memang sudah taraf kita, sebaiknya kita hanya perlu menjalankannya," gumam wanita dengan kacamata yang dia kenakan dan rambut yang dia kepang.
Beberapa percakapan dari karyawan itu jelas tidak ada yang membuat perasaan dari Miracle merasa terganggu sedikit pun, biarkan mereka seperti itu sudah lebih baik dan mungkin ini adalah sikap dia sebagai atasan, bisa semena-mena dalam segalanya.
Di sisi lain, harumnya memang tida karuan berbagai menu telah di adakan dengan pakaian yang serba putih untuk bagian dapur, lelaki yang baru saja sampai di restoran itu menghentikan langkah kaki, dia tersenyum dan sekali lagi melanjutkan langkahnya.
Setelah saat itu, dia tertawa karena ada sambungan dari ponselnya yang sangat tidak bisa dia hindari, sama halnya dengan Miracle tampaknya dari dasi yang melekat pada lehernya jelas adalah sebuah pekerjaan yang paling istimewa rasanya.
Sepatu hitam berkilau jelas membuatnya lebih percaya diri.
"Apakan Tuan ingin memesan menu kami yang baru?" seorang pelayan datang sembari menundukkan wajah dengan pelan pertanda bertanya dengan hormat pada lelaki itu.
"Ini, sebentar," ucapnya kepada pelayan itu sembari menunjuk menu yang menurutnya belum pernah dia coba.
"Baik,silahkan menunggu Tuan," senyum itu kembali lagi dia tebarkan bak bunga di atas kuburan.
Setelah dia menunggu beberapa saat hidangan yang dia inginkan kali ini, sudah datang dengan cara makan yang berkelas kali ini dia cukup memukau dan menjadi pusat perhatian dari tiga wanita yang sudah berada di tempat itu.
"Apakah kalian melihat dia?" wanita Dengan kuku panjang itu bertanya sembari melihat rambut lelaki itu.
"Siapa yang tidak melihat dia? Lihatlah semua pandangan mata terarah kepada dirinya," gumam wanita dengan rambut yang sedikit rapi itu.
Mata mereka menatap ke semua pelanggan yang ada di tempat itu, dan benar saja tatapan dari orang muda dan terkecil melihat setiap inci pergerakan dari lelaki tadi.
Setibanya,bola matanya terkejut pasalnya dia juga mengetahui bahwa ini bukanlah restoran mewah, dia merasa gelisah, apakah hal yang membuatnya gelisah?
Harga? suasana uang tidak nyaman? dan pandangan semua pelanggan yang datang?
Beberapa deretan pertanyaan membuat hatinya dan juga otaknya tidak bisa berjalan dengan baik, dia melihat wanita yang sudah dia intip beberapa hari belakangan ini.
"Di sini?" tanya Zee menatap ke arah lelaki yang sudah kaku itu.
"Iya, ada apa?" tanyanya membuat jantung berdebar semakin cepat.
"Apakah boleh saya berada di tempat ini?" tanyanya tanpa meminta persetujuan langsung dari lelaki tadi.
Yah, dia khawatir akan hal itu, kehadiran dari Zee membuatnya ingat akan masa lalu, dia takut kalau sampai Zee mengingat siapa lelaki yang berada di depannya.
"Apakah kamu ingin pergi?" Zee bertanya seolah dia sangat kenal baik dengan lelaki tadi.
"Iya," Zee memutuskan pandang itu, dia enggan untuk meminta kepada lelaki itu agar menemani dirinya.
Langkah kaki dari lelaki tadi benar-benar sudah memutuskan untuk pergi satu langkah, namun ketika langkah yang kedua dia kembali lagi, dia menoleh kebelakang melihat betapa kasarnya cara wanita bodoh itu untuk minum, sangat menjengkelkan sekali.
Dia duduk dan melihat bahwa Zee sudah menangis sembari mengigit bibir bawahnya, dia tidak tahu mengapa dengan kondisi wanita yang seperti ini, namun ada rasa yang tidak terima saat melihat beberapa tetesan air mata itu menjadi penghalang bagi dirinya untuk pulang.
"Kenapa dengan anda?"
"Tidak, kenapa kamu tidak pergi jadinya?"
"Air mata itu, sungguh membebani aku, saya tidak sanggup untuk pergi meninggalkan wanita tengah malam menangis seperti ini," jujurnya sembari menghapus air mata Zee.
Zee merasakan bahwa getaran dan juga hembusan dari angin ini menjadi pertanda bagi diri ya, bahwa saat ini dia seakan bertemu dengan seseorang yang lama dia cari, tetapi lelaki.yang berada di depannya adalah lelaki yang belum pernah dia temui.
Sebelum mereka berdua terlena lebih dalam, Zee menghempaskan tangannya ke arah yang berlawanan, dia meminum kembali alkohol yang tidak terlalu besar pengaruhnya.
Tetapi untuk tegukan yang kedua kalinya, lelaki tadi menghentikan sikap kebodohan dari Zee, dari situ dia mengerti bahwa situasi sangat mencengkram, tidak ada yang bisa membantu Zee keluar dari masalah ini.
Tidak ada yang bisa membantu dirinya yang hampa keluar dari jalan ini, dia mencoba memeluk tubuh wanita itu di tengah ketidaksadaran yang merenggut nyawanya.
"Kamu bahkan sangat sama seperti dahulu, apakah Miracle masih tetap suka mempermainkan wanita?" gumamnya, pendengaran Zee masih berfungsi tetapi belum sepenuhnya.
Bayang-bayang wajah itu seketika buram dia lihat, tetapi ada hal yang sangat ingin dia tahu, apakah dalam detik terahkir ini dia mendengarkan kata Miracle dari mulut lelaki tadi?
"siapa kamu?" sebelum benar-benar hilang kesadaran, tangannya sempat menyentuh d**a lelaki tadi.