Benar-benar sebuah masalah di tengah solusi yang dia minta, lihat saja saat ini wanita yang masih memandang wajah lelaki itu dengan tatapan buram berusaha agar tetap mendapatkan kebenaran siapakah yang dia lihat saat ini.
Dia terus saja menatap tanpa berkedip kepada Zee, mungkin ini adalah rasa kasihan ataupun rasa iba, dia tidak mengetahui itu sama halnya ketika dia baru datang dan mencoba apakah itu benar wanita yang pernah bersama dengan dirinyalah.
"Apakah kamu akan mabuk?" dia bertanya seolah belum mengetahui bahwa sebentar lagi dia akan pingsan.
"Benar-benar, kamu membuatku gila kamu sama seperti yang dulu," kesalnya dengan nada yang tertawa.
Beberapa wanita yang tadi melihatnya sangatlah kesal, pasalnya mengapa mereka tidak mencoba hal yang seperti itu, kalau saja mereka bergerak dengan cepat mungkin wanita yang memang dengan wajah cantik itu tidak akan pernah mendapatkan pelukan seromantis itu di tengah malam yang sungguh sangat larut ini.
"Ahk, sangat malu aku, bagaimana bisa wanita yang harus saja datang mendapatkan pelukan dan d**a bidang lelaki itu?" dia menghela napas dan menyandarkan punggungnya, tak lupa dengan tatapan matanya yang masih memandang mereka berdua.
"Dan lagipula, aku sudah lama di tempat ini, namun kenapa sedari tadi aku tidak bergerak?" mulutnya berbusa-busa hanya karena mengatakan hal seperti itu.
Pagi ini terlalu cerah, sadar atau belum sadar sepenuhnya sekarang Zee memoles matanya dengan kedua tangannya, kemudian dia rentangkan dan mencoba untuk meraba ponselnya.
Seperti tempat biasa, di mengira bahwa ini adalah kamarnya, namun ada tempat yang berbeda membuat pergerakannya dua kali lebih cepat sadar dari sebelumnya. Dia terbangun dan melompat menatap ke sekeliling ternyata dan ternyata ini bukan ruangan miliknya.
Dia bergumam dengan merangkul tubuhnya dengan dramatis, wajahnya yang penuh dengan misteri serta suaranya yang dia buat lebay seperti orang yang keras berpikir saja.
"Aku pasti di curi oleh pangeran impianku," dia bahkan tidak takut,"ohw, tidak pasti ada sesuatu yang mereka ambil dariku," langkah kakinya melangkah mundur seiring setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Aku harus menghentikan semua itu," tatapannya mengarah ke depan,"aku harus di curi oleh orang yang berkualitas, kalau tidak aku akan melarikan diri," tawanya begitu bodoh, seakan mengatakan bahwa dia mau di curi.
Di saat-saat lamunan yang panjang dan juga gumaman yang konyol itu, ada suara sepatu yang datang menghampiri dekat ruangan yang dia inap, dia melangkah mundur sekitar Pat langkah selebihnya saat itu dia mengeratkan lebih erat lagi pelukan dalam tubuhnya.
Engsel pintu mulai bergerak, tatapan matanya mulai tidak stabil, jujur dia hanya bercanda tadinya tidak mungkin dia mau di culik dengan cara yang seperti ini tadi malam sungguh benar-benar dia tidak sadarkan diri, dia bingung mengapa akhirnya dia berada di tempat ini, tempat yang lumayan bagus.
Bila matanya melebar kala melihat cahaya itu datang memasuki ruangan dengan lampu yang kelap-kelip tadinya berada di tempatnya, dia menggigit bibir bawah dengan keras dan menahan segala bentuk teriakan.
"Apa?" tanya lelaki itu dan memasuki kamar Zee dengan santay.
Kamat Zee? ohw tidak, itu bukan kamarnya wanita itu hanya menumpang untuk waktu yang dekat, karena lelaki tadi yang tidak mengetahui di mana tempat dari Zee.
Selebihnya kali ini Miracle mencari di mana keberadaan dari Zee, pasalnya setelah dia melihat ada pembantu yang baru dia bahkan tidak pernah lagi bertemu dengan sosok yang dia cari. Dia bertanya kepada ibunya sembari duduk di meja makan dengan keadaan yang sudah rapi.
"Ma, Zee di mana? kenapa akhir-akhir ini aku tidak melihat dirinya?" Kakinya mulai tersilangkan secara perlahan.
"Tidak tahu," ucap Mutiara acuh tak acuh.
"Benarkah?" dengan nada yang tidak percaya, Miracle mulai curiga jangan-jangan Zee berniat untuk memutuskan kontrak kerja setelah kejadian yang beberapa hari lalu.
Kemudian di tengah mereka makan, Mutiara membuka mulut dia mulai bertanya akan hal yang sangat sensitif di depan Miracle.
"Apakah kami belum siap untuk menikah?"
Tiba-tiba suasana berubah seakan menjadi es yang sangat beku, wajah Miracle seketika berubah menjadi tegang, dia hanya takut kalau nanti jawaban yang dia berikan menjadi penyakit bagi ibunya.
Dia juga tidak mau jujur akan kisah cintanya yang saat ini masih berada di ombang-ambing, dia mencintai wanita yang satu dengan profesi tinggi tetapi tidak mampu perhatian, dan yang satu lagi dengan profesi tanpa pangkat tetapi mampu menenangkan hati Miracle.
Inilah yang di maksud dengan cinta segitiga tidak beraturan? hanya ada bayang-bayang kedua wanita menempati posisi pikirannya.
"Bagaimana?" Mutiara menggoyangkan pindah Miracle.
"Ohw, tidak," jawabannya reflek membuat nafsu dari ibunya seketika sirna di lahap matahari.
Dia meletakkan kedua sendok yang tadinya sebagai penghantar makanan itu, namun sekarang Mutiara malah berjalan seperti orang yang tidak mempunyai harapan dan melintasi Miracle serta suaminya yang tidak lain adalah Alexander.
Ayahnya tahu bahwa Miracle belum siap menikah, namun ibunya hanya ingin mempunyai cucu sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Tetapi apa boleh buat yang menjalani rumah tangga ini adalah Miracle bukan Ayahnya dan juga bukan ibunya, jadi semua keputusan hanya berada di tangan Miracle.
Kantor terlihat seperti biasanya, banyak karyawan yang bergosip ria di tengah banyaknya pekerjaan, mereka belum melihat sama sekali batang hidung dari atasannya, maka dari itu mereka lebih baik bercanda ria.
Dan untuk Vanessa dia batu saja sampai dan melihat situasi, ini sangat buruk yang bisa di lakukan oleh dirinya adalah berjalan dan menaiki lift, sebelum itu dia mencoba untuk berbicara dengan cleaning servis, pasalnya saat dia melintasi dan memegang gagang pintu ada debu dan noda yang membandel membuatnya tak nyaman lagi.
"Kalian semua tolong kumpul," ucapnya membuat beberapa cleaning servis itu maju dengan wajah yang ketar-ketir.
"Ada apa, Ibu?" tanya mereka dengan sopan sembari menundukkan kepala.
Dengan nada yang tidak suka, Vanessa tidak mau berbasa-basi dia segera mengertak mereka karena pekerjaan yang tidak becus sama sekali, sehingga mengundang banyak sekali perhatian karyawan yang kurang kerjaan.
"Apakah kalian saya gaji hanya untuk menggosip ria saja? tidak laki-laki tidak perempuan kalian tidak bisa menjalankan tugas dengan baik," dia mengeram kuat pasalnya tidak tahan lagi untuk semua ini.
"Ada apa, Ibu?" tanya kepala seksi dari cleaning servis.
"Hahah," tawanya benar-benar menjadi neraka bagi semua tenaga kerja yang bingung di mana letak kesalahan mereka.
"Apakah kamu lihat tangan ini?" dia mengangkat tinggi-tinggi telapak tangannya dan benar saja banyak sekali debu serta flek hitam yag menempel.
Semua tatapan tegang dan saatnya mereka di bantai pastinya.