ALASAN

2017 Words
Bukankah ini sebuah perintah atau sebagainya? *** Mutiara menatap anaknya dengan penuh pengharapan, setelah sekarang ini dia hanya ingin mendengarkan satu kata yang menjadi penentu bagi dirinya, apakah wanita itu akan menjadi menantunya ataupun sebaliknya. Di seberang sana Zee telah terbangun, dia tidak tahu mengapa tiba-tiba saja bulu matanya terbuka, hatinya terasa sakit, entah kenapa ini namun yang pasti dia hanya ingin melakukan satu hal, minum. "Arg, ada apa dengan jantungku," dia seolah mengeraskan tangannya pada bagian jantung. Berdiri. Dia kemudian berjalan dengan postur tubuhnya yang sangat langsung namun rambutnya yang amburadul, membuat dirinya terlihat menyedihkan. Karena kakinya keseleo saat berjalan dia sedikit menjerit kesakitan. "Arrg... Ibu," jeritnya sembari terduduk,"suara itu jelas sampai pada telinga wanita dan juga lelaki yang kini masih dalam keadaaan yang tegang, dia bergumam,"apakah itu suara dari pembantu yang tidak tahu sopan itu?" terdengar nada yang sangat membenci keluar dari mulut Mutiara. Saat ini sekarang Miracle bingung entah sejak kapan ibunya memandang tidak sopan Zee, padahal sebelumnya mereka sangatlah kompak, tidak ada pertanda bahwa akan ada pertikaian, Arg.. ini bisa membunuh secara perlahan Miracle. Memang betul, Miracle tidak mempunyai perasaan kepada Zee, ternyata selama beberapa hari ini dan selama beberapa tahun ini dia hanya mengagumi sifat pekerja keras dari wanita itu. Saatnya Miracle harus menghentikan semua ini, dia ingin memikirkan apa yang dikatakan oleh ibunya, dan yah dia juga harus mematangkan perasaan dan juga pikirannya, dia tidak bisa terjerumus dalam hal percintaan, dia harus memilih yang benar, dia tidak boleh lagi kehilangan wanita terahkir dalam hidupnya. "Berikan aku waktu tiga kali dua puluh empat jam, untuk menjawab pertanyaaan ini, aku perlu argument yang sangat kuat untuk hal yang seperti ini, menyangkut hidupku," dia berdiri dan lekas meninggalkan ibunya yang termenung mendengarkan jawabannya tadi. Zee seketika terkejut, dia mendengarkan ketukan pintu untuk yang ketiga kalinya, Arg.. dia benar-benar tidak memiliki hari yang bahagia kalau dilihat dari saat ini, dia berdiri tetapi kakinya sangat sakit, sehingga pada akhirnya dia memutuskan untuk menyeret tubuhnya perlahan ke arah pintu, dia rasa itu adalah ibunya. "Aku lebih baik membukanya, itu pasti adalah ibu," gumamnya dengan seulas senyum yang tidak akan pernah orang lain bisa dapatkan. Dia menyeret perlahan tubuhnya, tangannya sudah berada pada engsel pintu itu, dia tersenyum dan seketika senyum itu memudar saat melihat siapa yang berada di depan pintunya, dan mengetok pintu di tengah malam yang sudah bisa terbilang sangatlah larut ini. "Apa__" ucapnya terpotong saat itu, dan ingin menutup pintu. Dia berdiri, namun pergerakannya segera dihentikan oleh lelaki itu, dia juga tidak tahu mengapa sikap dari Zee akhir-akhir ini sangatlah berubah drastis, dia tidak seperti Zee yang dia kenal, dia lain dari wanita yang lain, sepertinya hubungan mereka sudah mulai retak, seiring waktu dan umur telah berjalan dan bertambah. "Apakah maksud kamu datang ke sini?" dia bertanya tetapi seolah membuat Miracle menjadi teman bukan Tuan. "Apakah kamu tidak menganggap aku sebagai majikan kami?" sepertinya dia tidak terima dengan sebutan nama yang diberikan oleh Zee kepada dirinya. "Ya, sepertinya anda sangatlah senang kalau saya memangil anda sebagai Tuan, bukankah begitu?" dia bertanya, dan ingin menyeret sekali lagi tubuhnya ke arah balkon. Saat dia menyeret tubuhnya ingin menuju ke balkon, rasanya tubuhnya terbang, dan benar saja ini adalah hal yang membuat Zee tidak bisa melupakan sosok Miracle,"Ayo, berikan aku satu kesempatan untuk mengendong dirimu," dia benar-benar membuat jantung wanita itu melayang terbang jauh, dia juga tak tahu bagaimana dia menghapuskan ini. Dengan terpaksa saat itu dia memberontak,"lepaskan aku, tolong kamu bahkan tidak sopan," dia bahkan mengira jika mengatakan hal yang seperti itu dia akan mendapatkan perlakuan yang seperti biasanya, namun salah dia malah digendong dan menuju balkon. 'Apakah kamu sadar dengan kamu melakukan ini kamu kira hati ini tidak sakit.' 'Apakah kamu juga tidak sadar, kamu membunuh perlahan hati ini, kamu telah merobek rasa ini.' 'Zee sadarlah, kamu harus menolak dia mentah-mentah, ohw tidak dia? Apakah dia mempunyai perasaan kepada diriku?" Sepertinya Zee benar-benar kalut saat ini dia menatap ketampanan wajah dari lelaki yang bukan jodohnya, dia salah karena saat ini menerima perilaku baik dari Miracle, sesampainya di balkon lelaki itu segera membuat tempat duduk yang sangat nyaman untuk seorang wanita dengan kaki yang keseleo. "Yah, kamu sudah berada di tempat yang kamu inginkan, apakah aku boleh mengatakan sesuatu?" dia membuat jantung wanita itu kembali lagi berdebar. "Apakah itu," ucapnya acuh tak acuh sembari membuang pandangan. Pikiran mereka berdua kali ini sudah sangatlah rumit, satu hal yang mereka jalankan belum tentu ada yang cocok untuk orang tua mereka, dang yang pasti untuk saat ini masih terjadi keheningan, langit yang menatap mereka, bintang yang memberikan mereka cahaya, dan satu hal lagi udara yang membuat mereka tidak lagi merasakan kedinginan yang sesungguhnya. Setelah lima belas menit denting jam berputar, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk memberikan kebenaran, dia sadar saat ini tidak ada gunanya untuk berbuat hal yang tidak masuk akal, diam dan terlihat seperti orang yang sama sekali tidak mengerti bahasa. "Apakah kamu setuju jika aku menikah?" Degg... Di seberang sana, kini Vanessa benar-benar bahagia, dia telah mendapatkan apa yang dia inginkan, yah sekarang dia bertingkah seperti anak kecil lagi, dia telah memegang Indomie yang sangat enak rasanya dari luar, di lihat dari warnanya yang merah dan juga jangan lupa untuk kecap yang ditaburi di seberang mienya.. "Argg aku sudah lapar, aku akan memakan habis kamu," dia benar sangatlah lapar, dia melahapnya dengan mantap, mulutnya berlumuran kecap dan juga rasa pedas yang telah membantai dirinya. Setelah merasa dirinya sudah kenyang, kini dia menatap ke depan lagi dan memandang langit-langit kamarnya, betapa senang dirinya ketika terlintas wajah lelaki yang menemani dia tadi, Arg rasanya tabah kenyang saja. "Apakah kamu rasa saat ini kamu tambah kenyang?" dia mengajak berbicara perut yang sudah terisi dengan mie itu. Sesaat itu dia kembali menutup mata, jendela yang terbuka membuat matanya terayun-ayun ingin tertidur, dan lebih pastinya dia ingin merasakan lebih dalam ketenangan yang sangat dalam ini, dia ingin mewujudkan satu saja hal yang membuat dia semangat menjalani hari-hari yang selalu membuat dia terasa tertantang. *** Pagi telah datang dan mentari benar-benar menawan sinar yang sangat khas, mentari kali ini adalah mentari yang sangat sederhana, tetapi kenapa dengan wanita yang menatap lurus ke depan melalui jendela itu, pikirannya sudah terbang ke sembarang arah dan dia juga tidak tahu kenapa hatinya rasanya sangat sakit jika mendengarkan suara Miracle tadi malam. Pikirannya jelas-jelas sudah ambigu, dadanya terasa sesak dan untuk badannya kini semua terasa remuk, tidak ada ikatan apapun itu namun kenapa dia bisa bertingkah seperti ini? dia sudah di racuni pikirannya, dia sudah tergangi oleh semua ini. Zee yang melamun dari tadi kali ini terkejut tidak kuasa untuk menahan suaranya,"arrg siapakah ini," dia berteriak sembari melihat siapa yang memukul pundaknya yang tidak seberapa itu. "Apakah ada hal yang menggangu dirimu?" benar saja itu adalah orang yang beberapa hari ini menjadi teman Tee bertempur. Kalian tentu tahu siapakah orang yang dimaksud itu, dengan pakaian yang seperti biasa sudah sangat tapi dan juga liptint serta make up yang sudah rapi terpoleskan di wajahnya, dia terlihat sangat cantik, namun satu pertanyaan kenapa dia datang ke dapur, padahal dia tidak seperti biasanya, dia hanyalah datang ke dapur kalau menang ada tamu dan seseorang yang sangat penting, dia tidak mungkin menuangkan gula dan kopi ke dalam gelas itu, dan meminumnya bukan? Karena Zee adalah orang yang selalu bertugas untuk memberikan majikannya minum, Zee adalah orang yang selalu melihat kondisi kesehatan dari kedua orang tua Miracle, namun kenapa saat ini berbeda dan apa lagi maksud dia mendekati tubuh wanita yang sudah berusaha untuk tetap tidak terlihat takut itu. "Apakah maksud kedatangan dari ibu?" langkahnya terhenti, Mutiara benar-benar tidak habis pikir, ternyata wanita ini masih mau memangil dia dengan sebutan ibu. Zee terdiam, dia salah kenapa dia masih memangil nama Mutiara dengan sebutan ibu, mereka berdua sama-sama melotot mata satu sama lain, rasanya tidak benar kalau sempat seperti ini, Zee mencoba untuk mencairkan suasana dia menarik perkataannya. "Ohw tidak, ada apa Nyonya," dengan mengatakan hak itu hati wanita yang bernama Mutiara kini kembali lagi mengalami bentrokan, dia sama sekali tidak mengerti apa tujuan dari Zee memindahkan bahasa itu. Saat itu juga mereka berdua terlihat seperti musuh bebuyutan, mereka saling membelakangi dan tentunya dengan isi hati serta pikiran yang jelas sangat berbeda,"apakah maksud kedatangan saya kesini?" Mutiara mengulang sekali lagi pertanyannya. "Iya," dia menggelengkan kepalanya pertanda dia mengatakan hal yang benar adanya. "Apakah seorang majikan salah jika memasuki rumahnya sendiri?" dia tertawa renyah dengan tangan yang dia layangkan ke udara karena telah habis pikir dengan semua ini. "Tidak," jawabnya kaku jelas-jelas dia terlihat sangatlah bodoh di depan majikannya dia mengerutuki dirinya yang sangatlah polos ini. Di sisi lain kini dengan kemeja yang terlihat sangatlah rapi telah menutupi badan kekarnya, lelaki itu kini menyisir rambutnya, dengan rapi dan mengoleskan sedikit minyak rambut, parfumnya yang menyeruak ke seluruh pengisi ruangan itu, telah menjadi salah satu ciri khas dari tubuhnya, dia menatap ke depan cermin dan mengatakan satu hal yang sangat bahagia. "Aku sangatlah tampan, siapa saja wanita yang melihatku pasti langsung menaruh hati kepada diriku," ucapnya sembari tersenyum smirk. Dia tampak begitu percaya diri, siapa yag bisa mengalahkan rasa kepercayaan yang dia miliki, dan siapa juga yang dapat mengalahkan semua hal yang dia miliki, tetapi satu hal yang sangat dia sayangkan kenapa sampai sekarang dia belum menemukan wanita yang bisa membuatnya bahagia, dan juga siapa jodoh yang ada dia alam sana yang selalu dia tunggu-tunggu. Rasanya saat ini sudah habis semua penantian dirinya, dia juga merasa saatnya untuk menghentikan semua angan-angan ini, dan ini adalah saat yang tepat untuk pergi bekerja. "Arg, selamat bekerja untuk diriku sendiri," dia bergumam dan memberikan semangat yang baik untuk dirinya sendiri. Langkahnya perlahan mendekati tangga sebagai penghubung untuk kamar dan juga ruangan tengah, dan kini dia memutuskan tidak usah sarapan, melainkan langsung pergi saja, namun saat dia sudah berada di depan pintu mobilnya, langkahnya kembali berhenti lagi,"apakah kamu tidak sarapan dan langsung pergi begitu saja?" bunyi suara terdengar sangat nyaring pada pendengaran lelaki itu. Saatnya Miracle menoleh ke belakang dia sebenarnya sangat malas untuk makan, namun melihat ibunya telah memanggil namanya, dia memutuskan untuk makan saja. "Miracle," dengan nada yang sedikit mengancam suaranya dapat menghentikan langkah kaki Miracle."Iya, bahkan saya akan tambah," ucapnya menambahi dua kali lipat. Di posisi sana wajahnya sudah kembali lagi cerah, wanita dengan kerah pakaian yang bernuansakan biru langit, kali ini sudah sampai di depan kantor, dengan percaya diri dia memutuskan untuk masuk, tidak sama sekali melihat ke sekeliling entah itu wajah dari karyawan dan nantinya lelaki yang selalu memenuhi otak kanan dan kirinya. "Baiklah, ini adalah awal yang baik untukku, jangan pernah berbuat masalah Vanessa, jangan terlalu gugup di hadapan lelaki itu, ingat mungkin dia sudah mempunyai pacar atau semacamnya, jangan kamu terlalu berusaha," dia mencamka nya dalam hati sembari melangkahkan kakinya perlahan. Setibanya dia di dalam kantor beberapa tatapan yang tidak suka dan juga tatapan yang suka mengarah pada dirinya, namun satu hal yang dia lakukan yaitu mengabaikan semua pandangan itu. "Kenapa dia tambah cantik saja, ohw tidak__" mereka menutup mulut tidak percaya. "Dia semakin cantik karena sudah merebut lelaki yang kita sukai." "Apa?" "Yah, dia telah lama menyukai Tuan Miracle, namun naasnya dia sama sekali tidak sadar diri, lihat saja penampilan dan kondisi pikirannya," keluh wanita yang bersama dengan dirinya. "Argg... Sialan, bagaimana bisa kamu tidak mendukung temanmu?" dia kesal, dan sangat kesal karena mendengarkan hal itu. Teman, bukan berarti tidak boleh menjatuhkan, malah dia yang sering membuat kita kecewa selalu mengabaikan isi hati itu, dan sepertinya teman itu sangatlah tidak mau kalau kita terlihat sukses di matanya. Benar. Itu adalah faktanya, itu adalah hal yang sangat benar adanya, tidak mungkin ada teman yang sangat suci. Mereka semua kembali diam, saat mendengarkan bahwa atasan mereka telah datang, dan benar saja Vanessa jantungnya kembali marathon, wajahnya terlihat memerah, dia mengepa-epakkan tangannya yang kecil mungil itu dia atas wajahnya, dan dia juga tidak seharusnya seperti ini. "Kenapa kamu bodoh sekali Vanessa," dia bergumam sembari membelakangi kedatangan dari Miracle yang sudah t Pat berada di depan pintu. Suasananya segera berbeda, saat ini juga jantung dari Miracle kembali lagi bergoyang, untung saja wajahnya tidak memerah, kalau sempat memerah, dia akan sangatlah malu bertemu dengan Vanessa. "Mari, pak," ucap wanita dengan map yang berada pada tangannya sembari berjalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD