PERMINTAAN MUTIARA

2005 Words
Detik itu juga menjadi hal yang sangat berharga untuk mereka yang berdiri di tempat itu, tahukah kalian bahwa saat ini Vanessa benar-benar gemes melihat ke khawatiran mereka. Di depan pintu itu Vanessa tertawa kecil, sehingga menimbulkan raut wajah yang bertanya-tanya untuk Mutiara dan lelaki yang dua berada di sampingnya. Vanessa membuka mulut setelah sekian lama dia tertawa kecil perutnya sudah sakit tak terasa hanya dengan mendengarkan omongan dari kedua orang tua Tuan Miracle. "Kenapa kamu tertawa, apakah ada hal yang lucu?" wajah Mutiara tampak bingung, sembari menatap ke arah suaminya yang juga mengeluarkan ekspresi yang bingung,"apakah Tante sangat khawatir kepada diriku?" pertanyaan itu sangat kentara untuk Mutiara. Mutiara tidak tahu harus menjawab apa namun pada detik berikutnya dia kembali mengalihkan topik, dia segera meminta kepada Miracle untuk mengantarkan wanita itu pulang. Saat mereka akan pulang, dan Vanessa sudah berjalan satu langkah maju dari tempatnya, rencana Mutiara benar-benar berjalan dengan lancar, wanita dengan dua tentengan kresek besar yang berada di tangan kanan dan kiri, kali ini dirinya telah keluar dari mobil sewa yang sangat penumpang. Keringat bercucuran di mana-mana, bau apek menjadi salah satu ciri khas orang yang baru pulang dari pasar, Vanessa menghentikan langkahnya dia juga menatap siapa gerangan yang datang, begitu juga untuk Miracle yang tadinya di belakang Vanessa, dia melihat bahwa gadis tempat dia curhat kali ini berada di depan matanya dengan keringat yang sudah menjadi hal yang tidak akan pernah pergi dari tubuhnya. "Ayo, apalagi apalah kalian tidak mau pergi dari sini, terutama untuk kamu Vanessa di sini sangatlah banyak pembantu yang sangat tidak tahu sopan, dan tidak tahu diri," sindir wanita itu dengan bibirnya yang naik satu ke atas, ketika melihat pergerakan dari Zee semkain dekat ke arah mereka. Zee tahu bahwa semua ini akan menjadi rencana dari wanita itu, tetapi dia bisa buat apa? saat dia berpikiran untuk melawan, tetapi naasnya Zee adalah wanita yang bermain cantik, dia segera mendekati mereka semua, tidak terkecuali, sembari membuat panas hati Mutiara. "Ohw, iya di sini sangat banyak pembantu yang seperti itu, kalau boleh kasih saran sebaiknya anda cepat-cepat pulang dari sini," dia melangkah dan mendekati tempat di mana berdiri Vanessa,"apakah maksud kalian berdua?" Vanessa terlalu bingung. Mutiara dan juga Zee saling menatap, mereka terlihat seperti iblis yang akan bertarung untuk hal yang tidak luar biasa, Miracle segera memangil Zee dan meminta kepada dirinya untuk membawakan semua belanjanya ke dalam dapur, guna untuk menghindari semua hal yang bersangkutan dengan ibunya. "Zee segeralah pergi dan memasak, saya akan pulang untuk makan siang," perintahnya sembari masuk ke dalam mobil. Zee rasa kesal, baru diamau melawan tetapi kenapa saat ini dia di suruh pergi oleh sosok Miracle, ini sangat menyebalkan, langkahnya yang sangat kentara dia buat, dia berjalan menuju tempat dia letakkan tadinya sayur itu, dan yang pasti dia menatap Mutiara dengan tatapan Smirk khas. Lama-lama bisa gila Mutiara kalau mendapati pembantu yang super menyebalkan setiap hari seperti ini, bisa-bisa dia menginap salah satu penyakit yang sangat berbahagia, amit-amit hanya itulah yang ada ada pikiran Mutiara. Sesampainya di dapur, kali ini dengan raut wajah Maya yang sedikit khawatir, dia mendekati putrinya dan bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi kepadanya sewaktu di suruh berbelanja ke pasar, pasalnya dia adalah wanita yang sangat penawar sekali, bagaimana mungkin dia tega untuk menawar sangat rendah harga ikan dan juga sayuran, takutnya ibu Maya mendapati anaknya berantam hanya karena masalah ini dengan penjual, satu kekhawatiran yang sangat besar. "Jangan katakan kalau tadi kamu bersama penjual sayur berantam," dia sangat mengidintimidasi tatapan mata yang diberikan oleh Zee. Dia menggeleng kuat dan pada detik berikutnya dia mengeluarkan smirk khasnya, dan itu membuat ambigu perasaan dari Maya. Saat itu juga Mata mencubit pipi dari putrinya, dan memaksa apa yang sebenarnya telah terjadi,"apakah kamu ingin berbohong dan menjadikan ini sebuah alasan agar ibu mencubit mu?" tanyanya sembari mencubit dengan tertawa kecil dan rambut Zee yang terbawa sedikit," ampun, ibu bukan begitu maksud , Zee, tadi semuanya berjalan dengan lancar kok," dia mengatakan hal yang sebenarnya ketika ibunya sudah marah dan tidak bisa mengontrol emosi. Sepersekian detik berikutnya, emosi dari Maya telah turun dan benar untuk saat ini dia telah melepaskan cubitan itu dan membuat Zee berlari histeris ke arah kamar pribadinya sembari berkata. "Ibu saja yang memasak, wleee," dia benar-benar membuat ibunya marah. Di dalam mobil yang kini sudah ada Miracle dan juga Vanessa, mereka sangat pendiam tidak ada suara dan juga tidak ada musik, tempat itu seakan menandakan bahwa tidak akan ada lagi percakapan. Tetapi mereka berdua saling membuka mulut pada waktu yang bersamaan,"apakah__" mulut mereka juga berhenti pada detik yang sama, bola matanya seketika menatap ke luar dan menghindari pandangan itu terjadi lagi. Miracle mengatakan kepada Vanessa untuk dia mengatakan apa yang perlu dia katakan, dan Vanessa langsung menuruti hal itu,"apakah Tuan merasa bahwa sekarang kita telah telat datang ke kantor?" dia bertanya dengan kata kita. Otomatis setelah menyadari pertanyaan yang dia berikan, Vanessa berdegup jantungnya, dia baru sadar menggunakan kata kita, belum menjadi miliknya di lihat dari segi yang lainnnya pasti Tuan Miracle sudah mempunyai pacar bukan? "Saya rasa tidak terlalu masalah pergi ke kantor jam seperti ini," Miracle malah menjawab tanpa menyinggung kata kita, dia membuat jantung dan harapan untuk wanita yang sekarang sedang menautkan sedikit tawa kecilnya, sembari menoleh ke samping. Miracle tahu bahwa sekarang ini Vanessa tertawa namun apakah memang iya dengan menjawab seperti itu dapat membuat hati Vanessa semakin hangat, kalau benar begitu adanya dia akan melakukan hal yang seperti itu setiap harinya. Mobil mereka telah berhenti tepat di depan beberapa karyawan yang akan makan siang, jelas sudah bahwa ini akan menjadi salah satu pertanyaan yang sangat besar, melanda setiap sudut yang ada pada gedung besar itu. "Apakah mereka mempunyai hubungan yang spesial, lihat saja beberapa hari ini mereka selalu bersama, entah itu ke kantin dan bahkan mereka satu mobil, gawat," wanita dengan satu pop mie berada di tangannya sekarang ini dia bahkan tidak jadi untuk memakannya. Hanya karena hal seperti ini, semua pandangan mata tertuju kepada mereka berdua,"Daebak, aku tidak menyangka bahwa mereka akan menjadi satu pasangan yang sangat serasi," ucap lelaki dengan roti yang dia pegang. Sedangkan untuk orang yang acuh tak acuh, saat ini mereka hanyalah melakukan aktivitas mereka baik itu main ponsel dan hal yang berhubungan dengan kesibukan yang sementara. Miracle memasuki kantornya, dia tidak tahu apakah benar perasaan tumbuh pada dirinya seiring waktu berjalan atau apakah hal yang sebaliknya?dia menyenderkan punggungnya yang tidak lebar sekali pada kursi tempat dia sembari menghembuskan napas dan melihat ke langit-langit kantornya. "Sebenarnya apa yang terjadi kepada diriku?" dia bergumam dengan suara kecil. Sedangkan untuk wanita yang membasuh dengan air wajahnya yang tidak lain adalah Zee, dia juga merasakan hal yang sama, dia bahkan terlalu khawatir sehingga jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari pada dugaannya. "Apakah aku benar-benar menyukai atau hanya sekedar mengangumi Tuan Miracle," bibirnya tak mentor sama sekali waktu mengatakan hal itu. Seolah ada yang masuk ke dalam kamar mandi, Vanessa segera masuk ke dalam bilik kamar mandi satu lagi, di tidak mau nantinya di lihat oleh beberapa staff dan menggosip tentang dirinya, sekalian dia hanya ingin mengatur waktu agar tidak saling bertatapan wajah dengan Tuan Miraclemi, nanti dia akan kena serangan jantung kalau terus melihat wajah dan ketampanan dari Miracle seorang. Parasnya sesungguhnya membuat orang sangatlah terpukau bahwa itu lelaki dan juga wanita, untuk seorang lelaki mereka bahkan akan itu melihat ketampanan dari Miracle, dan untuk seorang wanita mereka akan merasa sangat bersalah kalau tidak bisa mendapatkan lelaki semacam Miracle, dan mereka akan iri kepada wanita yang nantinya menjadi miliknya. "Apakah kalian rasa Vanessa sangat cocok dengan Tuan Miracle?" Degg entah ini adalah sebuah pedang atau sebaliknya, wanita yang sekarang mengatakan hal itu sedang memakai liptint kepada bibir manisnya. Vanessa terkejut memang setiap orang satu hari ini akan selalu membicarakan hal ini, apakah dia lebih baik di sini? Sebentar untuk saat itu, Vanessa mencoba untuk tidak keluar, dia hanya ingin mendengarkan lebih banyak lagi tentang tanggapan orang-orang yang berada di luar, dengan ini dia bisa tahu apakah dirinya cocok sebagai teman hidup dari Tuan Miracle ataupun sebaliknya, intinya ada hal yang membuat dia percaya, bahwa dirinya layak untuk pria tampan dengan seribu satu pesona yang sangat membahana. "Saya rasa mereka berdua sangatlah cocok dari segi manapun," wanita yang nomer dua mendukung pendapat wanita pertama tadi. "Bagaimana dengan kamu?" tanyanya kepada wanita yang memakai bedak itu,"aku rasa iya, dari segi manapun lihat saja tubuh mereka yang sangat cantik serta wajah dari Vanessa sangatlah cantik, di tambah ibu Vanessa sangatlah baik, apakah itu mustahil bagi mereka untuk bersatu?" Pertanyaan itu membuat kedua temannya menggeleng keras, sehingga Vanessa yang sudah naik kuping di dalam kamar mandi sana, hanya bisa seolah tidak mendengarkan apa-apa tetapi pada dasarnya dia sungguh-sungguh sangatlah bahagia, ingin rasanya berteriak di alam bebas dan bisa meneriaki apa yang menjadi miliknya. *** Malam telah tiba, Zee sudah tertidur tenang di tengah ranjangnya yang tidak lebar sekali, dirinya mendengkur, dengan badannya yang juga sangat bagus posturnya. "Apakah dia sudah tidur?" suara khas lelaki dari luar yang ingin mengetuk pintu seketika berhenti. Miracle datang, dia ingin meminta saran dari wanita itu, apakah pertanda bahwa wanita menyukai dirinya, ataupun lelaki, tetapi rasanya tidak enak jika harus membangunkan dia di tengah malam ini, dan dia juga merasa bersalah karena tadi pagi dia meminta Zee untuk memasak dan untuk makan siangnya, tetapi naasnya dirinya tidak pulang, Arg... dia benar-benar kesal kepada dirinya, dia benci kalau harus berhianat. Mutiara merasa haus seketika, dia tidak mungkin membangunkan pembantunya hanya untuk memberikan air minum kepada dirinya, maka dari itu Mutiara memutuskan untuk keluar, kakinya telah beranjak dari ranjang itu dan melihat wajah suaminya yang tenang dan diam untuk saat ini. "Kamu tetap sangat tampan, apakah ini adalah ketampanan yang membuat Miracle juga sangat terkenal hanya karena rahangnya yang keras dan juga buku matanya yang sedikit lebat?" Mutiara mengeluarkan wajah dari Ayah Miracle. Dia bersyukur karena telah mendapatkan dan juga bisa memiliki dua lelaki yang menyangangi dirinya, dua lelaki tampan sudah jelas membuat dirinya nyaman, tetapi ada satu hal yang membuat dia harus meminta kepada yang dia atas lagi, dia hanya kekurangan Menantu, dia tidak mau mati tanpa melihat ada cucu yang dia gendong. "Tetapi aku masih meminta satu hal kepadaku yah Tuhan, seadanya kamu berkenan memberikan menantu kepada diriku," dia menatap ke depan dan sepersekian detiknya membuang tatapan ke arah pintu. Di tengah dia meminum air minum itu, dia melihat bayangan dari Miracle, apakah ini hanyalah Dejavu atau sebaliknya, dia tidak mungkin melihat tanpa mata yang sesegar ini, dia mencoba untuk memastikan dan benar saja ada Miracle yang baru saja keluar dari arah dapur. "Apa yang membuatmu datang ke dapur jam segini, apakah kamu lapar?" Mutiara memukul dengan pelan punggung dari anaknya dia mencoba untuk bertanya dengan halus. "Tidak, hanya saja aku ingin__" dia tidak tahu melanjutkan karena dia juga bingung apa alasan pertama dia datang ke tempat ini. Karena sudah sangat lama Mutiara menuggu jawaban dari anaknya, dia mengalihkan pembicaraan, dia juga tidak tahu mengapa satu hari ini pikirannya hanya tertuju kepada wanita dengan intelektual dan juga sikap yang baik. "Apakah dia selalu bersikap baik kepadamu?" Pertanyaan yang sangat ambigu untuk Miracle, siapa kah dia, jelas-jelas tidak ada orang selain mereka berdua di tempat ini. Miracle mengangkat dagunya dia membuat ibunya juga tambah bingung. "Apakah ibu melihat ada orang selain kita bertiga di tempat ini?" Miracle membuat pertanyaan lagi. "Tidak, itu wanita yang kamu bawa ke rumah," ucapnya dengan senyum. Miracle terdiam dia rasa ibunya telah menaruh hati kepada wanita itu,apakah ini akan menjadi pertanda bagi diri nya? Miracle mengiyakan melalui gelengan kepala, dia tersenyum dan itu adalah jawaban bagi ibunya, Mutiara menepuk pundak nya dia juga menundukkan wajahnya. "Apakah kamu mau mengabulkan permintaan ibu?" suara itu jelas-jelas merupakan satu suara permintaan yang sangat mendasar, membuat Miracle bingung apakah ini adalah permintaan yang sangat besar ataupun kecil. "Apakah itu ibu?" dengan pekan mulut dan juga suaranya terbuka, dia menjawab pertanyaan yang di berikan oleh ibunya. Malam ini akan menjadi malam penentu apakah dia wanita yang berstatus sebagai sekretaris dari Miracle akan merubah statusnya. Bintang akan menyaksikan beserta jejeran yang menjadi pendengar apa permintaan dari wanita itu. "Apa?" satu kata keluar dari mulutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD