JALAN BERDUA

1003 Words
Setelah semuanya telah kujalankan, sepertinya diriku hanya terlihat seperti permainan saja! Mengapa kukatakan demikian? karena sekarang aku telah merasakan bagaimana rasanya ditolak. Sungguh sangat menyebalkan, perasaanku kali ini seperti seorang emak-emak yang tidak menerima bansos, wajahku sepertinya sudah keriput, dan juga rambutku terasa acak-acakan. Sekilas terdengar kupingku suara seseorang yang datang, dari arah depan. Siapakah itu? Aku bertanya dalam hati padahal ini sudah malam, tetapi masih ada suara ribut didepan sana, sebentar aku juga ingin memulai acar menonton videoku. Tetapi semua terhenti tidak sesuai dengan rencana, karena suara kegaduhan dari arah depan pintu itu jelas membuat diriku tidak tahan. Aku tidak ingin mendengarnya, oleh karena itu secepat nadi aku menutup kedua telingaku, dan juga mematikan saklar lampu. Aku kira dengan begitu, semuanya akan terbawa kedalam mimpi, namun ternyata lampu kembali lagi menyala. Aku ingin mengeluarkan Pancasila yang dikeluarkan oleh ibuku saat marah pada diriku yang lugu, dan tidak tahu apa-apa ini. Tetapi saat aku ingin membuka mulutku, Miracle lelaki yang kejam dengan smirk khasnya datang menuju ranjangku. Sialan! umpatku dalam hati sembari seperti mengeluarkan senyum tidak tahu apa-apa. Untuk memulai saatnya waktu ini, aku bangun dari ranjangku, tidak ingin mendatangkan musibah dengan kedatangan Miracle lelaki bodoh plus tidak tahu apa arti dari perasaan itu. Seperti yang menjadi kewajibanku sebagai seorang babu, yaitu harus melayani dirinya dan juga teman-teman dimalam hari yang sangat penuh dengan rahasia ini. Rahasia setiap malam yang selalu berbeda-beda, waktu yang juga berbeda dan juga keadaan yang tidak pernah sama. Miracle meminta diriku untuk membuatkan mereka makan malam, ekspresiku tidak bisa aku lawan karena memang itu sudah menjadi tugasku. Aku beranjak tanpa sepatah dua kata, kepada Miracle saat itu, segera aku menoleh kebelakang, dirinya juga masih terduduk di atas ranjangku. Aku adalah orang bodoh yang cantik dan pintar. 'Eitss__, sudah bodoh kenapa aku pintar' batinku sembari berjalan ke arah dapur. Sebenarnya jika dipikir-pikir diriku terlalu cantik untuk hal ini, dan hobiku terlalu remeh untuk hal ini, oleh karena itu diriku hanya bertahan karena tuan yang tidak bisa hidup tanpa diriku. Aku bergerak dua kali lebih cepat, memberikan makan mereka berlima, kebetulan aku sempat melirik berapa mereka, apakah mereka ada perempuan? Sungguh aku over protective, sekali kepada Tuanku, padahal tuanku tidak peduli entah diriku bersama dengan lelaki lain atau tidak. Mungkin ini perasaan yang belum bisa diartikan, sangat dekat sekali dengan diriku, namun mulut ini tidak berani untuk berbicara. Diriku sangat berbeda dengan dirinya, dimana aku hanyalah seorang babu, dan dia seorang lelaki tampan yang sudah mempunyai masa depan. Aku juga sudah sadar bahwa tidak selamanya lelaki yang aku suka bisa aku dekap, namun hanyalah waktu yang aku tunggu agar bisa berpisah dengan dirinya. Aku melangkah ke dapur dengan mataku yang selalu melirik ke arah Miracle, aku tidak tahu entah dia melihat diriku, tetapi yang pasti aku hanya melakukan tugasku. Atasanku yang tidak lain adalah ibu Miracle datang dengan wajah bengisnya, aku hanya bisa tersenyum, seperti orang bodoh, yang memang selalu akan menjadi bodoh. *** Beberapa hari ini berjalan dengan sangat lama, ditambah pula aku kedatangan tamu, yang tidak bisa aku tolak. Meskipun pintu kututup rapat-rapat, dan juga jendela sudah kukunci dengan rapat, dia masih bisa datang dengan tenang. Yah, tamu bulanan yang sangat spesial, menganggu kegiatan semuanya, dan juga mengajarkan batas kepada dirimu agar tidak dekat-dekat kepada lelaki. Tetapi saat tamu bulananku menyapa diriku, disitu juga kesempatan bagi diriku untuk mendekat kepada dirinya. Aku terasa diintai oleh masalah, ketika mendengarnya meminta diriku untuk membuka pintu Kalian tahu bukan? Sekarang ini malam hari, dengan piyama yang kukenakan dan juga rambut yang acak-acakan, dirinya dengan santai meminta tolong kepada diriku. Meminta tolong sekarang ini, untuk gala yang aku hindari, jujur ini tidak masuk akal, kenapa saat diriku tidak mood, dia semakin merajalela mengajakku keluar. "Apa." "Sungguh aku tidak akan pernah bisa." Aku berucap demikian seperti tidak terima saja, bagaimana dengan mudahnya lelaki ini meminta diriku untuk meminta keluar malam-malam seperti ini? Diriku ingin menolak, tetapi karena ini kesempatan emas, jelas aku menerima dengan lapang d**a dan juga hati yang sedikit tenang walaupun kacau. Deru nafasku segera kukeluarkan sangat panjang, untuk waktu yang dekat itu, karena mendengarkan diriku harus menemani dirinya pergi berjalan-jalan dimalam ini. Satu jam telah berlalu, jelas aku berdandan yang cantik, karena aku dulunya sudah cantik, ditambah malam ini tambah cantik, jelas aku melihat mata dari Miracle itu menatap mataku dengan tajam. Aku berjalan dengan sangat percaya diri, karena diriku yang terlalu percaya diri, atau memang ini nasibku untuk terjatuh, sungguh kali ini aku terjatuh dengan harapan yang baik. Aku merasakan Miracle mendekap diriku, tepatnya pinggangku kali ini terasa dipeluk oleh tangan yang kekar itu. Aduh! Mataku menatap matanya dengan penuh tanda tanya, jujur ini sekali pertama baru aku merasakan getaran cinta yang sesungguhnya. Mata kami saling berhenti menatap, karena Miracle melepaskan aku begitu saja, aku kesal, dan dalam waktu yang cepat, saat itu aku hampir terjatuh, kalau Miracle benar melepaskan diriku. Sekarang ini didalam mobil mata kami berdua saling menatap satu sama lain, mungkin untuk pertama sekali, dalam waktu yang dekat ini aku hanya mengepal tangan kuat. Setelah setengah jam berlalu, aku dibawa oleh lelaki yang bernama Miracle itu ketempat yang paling aku inginkan selama ini, yaitu restoran Cina yang selama beberapa hari terahkir ini sangat terkenal, karena makannya yang sangat melezatkan. Kami berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang baru saja balikan, dimana masih ada rasa kaku satu sama lain. Menurutku selain aku gadis bodoh, aku juga gadis yang beruntung, diantara semua gadis yang cantik. Mengapa? Karena aku yang berada diposisi terdepan sekarang ini, aku yang berhasil mendapatkan kursi degan lelaki yang tidak mungkin aku dekap. Tadinya sih aku berpikir seperti ini. 'Arg__, mungkin nantinya aku hanya penonton mereka bersama dengan pacar masing-masing.' 'Mungkin juga kami tidak jalan berdua, melainkan semua teman-temannya.' Namun salah kali ini kami jalan berdua, hatiku berbunga-bunga karena malam ini terasa diriku seperti ratu. Ratu satu malam, bisa juga sah. Senyumku indah, dan karena itu, ada lelaki yang mendatangi diriku sewaktu permisi ke kamar mandi. Pergi ke kamar mandi bukan karena ingin buang air kecil tetapi, menghindari rasa malu yang sudah membara di dalam pikiran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD