RINDU YANG BERBEDA

1003 Words
Jelas semuanya terlihat berbeda kali ini, aku sedang tersenyum manggut di belakang pintu kamarku. Tersenyum manggut? Arg__ rasanya diriku sudah ternodai oleh rasa malu yang belum bisa diobati. Tentu saja, kepalaku serasa tambah besar saja, hidupku terasa ribet, saat tadinya membayangkan sandalku yang dua versi. Aku segera memikirkan dimana tadi letak kesalahan dan juga perpindahan dari sandalku, sungguh perasaan aku memakai sandal yang sepasang bersamaan mulai dari tadi pagi. Wajahku pasti memerah, kupingku juga memerah, dan tentunya mataku sekarang telah menatap malu dinding yang berada didepan tubuhku. Aku hanya membayangkan saja, tetapi itu sudah sangat malu rasanya, terutama untuk sekarang ini. *** Aku rasa hari terlalu cepat berlalu, juga rasanya tidak seindah hari-hari yang lalu. Jelas aku katakan seperti itu, karena untuk sekarang ini, Miracle lelaki yang sama sekali tidak bisa aku dekap, adalah lelaki yang sekarang tidak berada dirumah. Aku menghela nafas panjang, terdengar sangat melelahkan untuk waktu yang dekat itu. Ibuku datang jelas aku lihat sekarang, salah satu tangganya berada pada pinggangnya, pertanda ini sudah cukup lelah hari ini. Apakah dayaku, yang satu hari ini tidak melakukan pekerjaan yang baik, hanya menonton video21+ dan mager, seperti anak orang kaya yang dilahirkan untuk kaya. Aku juga tidak tahu, apakah diriku yang b***t ini masih bisa dikatakan sebagai anak seorang pembantu? Deru nafasku semakin b*******h, karena kali ini rasanya sungguh berbeda, ibuku tidak mengucapkan Pancasila, pasalnya sekarang ini karena aku yang hanya mageran tidak melakukan apa-apa. Memang ibu adalah seorang yang terbaik, selalu pengertian untuk semua versi anaknya, untung saja sekarang ini hanya aku seorang yang menjadi anaknya. Kalau sempat aku mendapatkan bahwa sekarang ini masih ada Adik-adikku, sungguh, ini akan menjadi beban yang sangat besar bagi diriku. Aku seorang saja yang mempunyai umur 23 tahun, yang hobinya nonton video ragam sosialita, jelas kali ini sungguh ingin bunuh diri. Bunuh diri bukan karena ibuku, tidak mampu memberikan apa yang menjadi keinginanku, tetapi karena aku menjadi penonton setia dari video 21+. Aku juga pernah mencoba, tetapi rasanya ini sangat sulit, karena sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi rutinitas kebiasaan yang harus dipenuhi. Rasanya jika tidak menonton satu kali dalam satu hari, mungkin aku bisa mati terdampar ditepi sungai yang sangat deras alirannya. Bayangkan kalian saja, kalau diriku terdampar ditepi sungai yang alirannya deras, mungkin wajahku yang cantik ini akan berubah menjadi putih pucat, kuku yang kumiliki akan berubah menjadi kemerah-merahan. Baju yang aku pakai kali ini pasti akan sobek bukan? Sungguh!! membayangkan itu saja membuat diriku hampir terjun melemparkan diri ke tepian jurang yang berada di gunung yang paling jauh dan curam. Sungguh aku ingin bersih-bersih sekarang, jiwaku meronta-ronta karena rasa ini sungguh tidak bisa dikendalikan lagi. Rasanya aku ingin memeluk sekarang pembersih lantai yang berada di genggamanku, namun apa kata dari penggemar yang ada di i********: dan juga Twitterku nanti? Aku wanita sosial, yang ingin bangkit karena followers, dan juga ingin mati jika tidak ada followers. Memang ini tidaklah baik, tetapi apalah daya dari seorang biduan cantik, yang terlahir sebagai seorang babu. Aku babu yang jelas sangat berbeda, karena untuk sekarang ini aku tidak pernah menangis, menangis untuk hal yang sangat bodoh. Aku babu yang berkualitas, dan juga tidak ingin memiliki pacar dengan standar yang rendah. Jika kalian mengatakan bahwa diriku sungguh amat kejam, dan durhaka, itu urusan kalian bukan? *** Pagi ini terasa berbeda dari pagi yang terjadi sebelumnya, karena pujaan hati telah berada didepan mata. Jaketnya yang hitam, dan juga parfumnya yang semerbak bunga raflesia Arnoldi yang berada di hutan belantara sana, justru membuat diriku semakin tergoda kepada dirinya. Aku mendekat karena tangannya mengarah memangil diriku, kebetulan juga aku sengaja lewat untuk cari perhatian pada tuan muda yang satu ini. Kuselipkan poniku yang cantik membahana ulalala, melebihan kecantikan Dewi persik artis Indonesia, aku datang dengan sangat percaya diri dan muka-muka tak berotak yang sangat lebay. Seolah tidak mengenal apa-apa, aku berdiri di depannya, aku kira dia akan menyentuh pundak ku,. otomatis aku menoleh kebelakang sembari berbisik sesuai kata hati. 'Apakah aku belum mandi?' 'Ohh__, sialan aku belum mandi, pakai parfum dan juga pakai Rexona, bisa-bisa Miracle merasa dengki kepadaku,' aku mengumpat sendiri di dalam hati. Aku kira benar diriku dipanggil olehnya, tetapi tidak. Itu membuat aku hanya bisa menahan amarah dan juga merasa sesal, mengapa aku sangat percaya diri untuk hal yang tidak pernah aku inginkan. Lelaki itu tampan mengeluarkan sepatah kata, jelas aku bisa mendengarkannya karena tujuan dua tadi memegang pundakku, hanyalah untuk bertanya. "Mengapa kamu datang?" "Apa?" aku heran sembari kututup mulutku karena belum bisa percaya ini. Lantas? Jika bukan diriku yang dipanggil oleh lelaki k*****t yang bikin jatuh cinta ini, siapa lagi wanita dan orang yang berada disekelilingku. Sialan!! lelaki yang satu ini jelas membuat jantungku berdegup tak karuan, tidak pernah melihat waktu, naasnya ketika ingin diriku berpaling pergi dari hadapan Miracle sekarang__. Sekarang memang benar, bahwa bukan diriku ternyata yang dipanggil oleh dirinya, wanita itu lagi-lagi menatap mataku. Perlahan namun pasti sekarang wanita itu menatap mataku dengan tatapan tajam, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena dia adalah atasanku. Yah!! wanita dengan lipstik yang sangat tebal dan juga sepertinya dia iri sangat melihat kedekatan antara diriku dan anaknya. Hanya bisa menundukkan kepala, serta berperilaku pura-pura bersalah, seperti sinetron yang bergenre romance, pembantu, serta yang lainnya. Kali ini aku merasa kesal, sudah keberapa kali ini Miracle melakukan hal konyol seperti itu pada diriku yang mungil, tidak tahu apa-apa. Bagaimana Miracle bisa menyiksa hati ini? apakah Miracle benar, tidak ada rasa kepada diriku seorang? Beberapa jam telah kulewati masih dengan wajah yang tampak kesal. Wajahku saat ini masih saja suram, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan, sepertinya wajahnya adalah wajah diera pandemi covid. Bisa aku jelaskan lebih detail? Aku pernah melihat wajah dari emak-emak yang super super kelewat suram, karena apa? Karena namanya tidak terdaftar dalam bantuan Covid-19. Aku tertawa saat itu meskipun ibuku melamar anaknya yang imut ini tertawa, jelas aku malah tertawa, tidak peduli apa kata ibuku. Sekarang aku telah mengerti perasaan dari ibu itu, dan sekarang ini, seperti itulah tampaknya wajahku, yang sangat lesuh, letih, serta tidak ada kehidupan. Miris rasanya kalau sempat masalah itu datang kepadaku, sesak sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD