SEDANG DITINJAU

1001 Words
Entah mengapa rasaku ini hanyalah pemanis buatan saja. Mengapa aku mengatakan hal itu? jelas aku mengatakan hanyalah pemanis buatan saja, karena memang yang manis itu hanya dia yang memberikan kepastian. Ihhw__, kenapa diriku berargumentasi sendiri didalam kamar mandi yang wangi ini. Ya, sekarang ini aku terlihat seperti seorang penyanyi dangdut yang tidak diberikan kepastian cinta akan dia yang mungkin tidak memiliki cinta kepadaku. Jiwaku meronta-ronta, hasratku mendebarkan saat mendengarkan lagu yang berputar pada ponsel yang tidak terlalu bagus milikku. Yah__, memang semua barang, tidak pernah bagus jika itu untuk diriku, apakah mampuku, karena hanya menonton video 21+ membuat ponsel juga merasa takut melihatku. Entah sejak kapan aku menyukai video 21+ tetapi mang benar otakku sangat licik dan juga bermain liar. Jam dua belas malam, aku masih berani menonton video 21+ ke atas? Waow, apakah nanti negara tercinta ini bisa bangkit? Aku rasa tidak bisa bangkit lagi, karena aku adalah generasi emas yang jatuhnya ke lumpur tanpa sebab-akibat. Di perosotan yang sekarang ini aku bermain tepatnya dibelakang rumahku. Eitsss__, Bukan, sejak kapan aku memiliki rumah, aku hanya memiliki dia yang belum pasti. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat, sangat mengingat bahwa masa kecilku ternyata suram, sehingga sekarang ini usia dua puluh tiga tahun, aku masih saja bermain perosotan. Jelas aku bisa mataku dalam bola mata berbinar yang sekarang ini milik anak kecil temanku bermain perosotan. Aku bisa melihat mataku sendiri dari tatapan bola mata yang berbinar itu akibat mata kami berdua saling mendekat. Aku tidak tahu juga mengapa dia melihat diriku saat itu, tetapi satu hal yang kusesalkan mataku rasanya sangat merah saat itu, pertanda aku kurang tidur. Aku bodoh, sudah tahu kurang tidur malah main perosotan, aku juga sedih karena kantung mataku sangat tebal, melampaui bedak artis yang berada di negaraku yang tebalnya mencapai lima sentimeter ketika bergerak dari rumah. Aku juga bodoh melihat bahwa sekarang ini wajahku tampak lesuh, dan hidungku tambah berkerut, sungguh aku bodoh, tetapi memang itu diakui oleh semua orang. Mendapatkan nama yang cantik, semua orang kira, aku juga cantik, tetapi ia, aku memang cantik, tetapi sadisnya aku tidak dikenal seperti wanita diluaran sana. *** Aku segera berjalan menelusuri jalan yang penuh dengan tikungan itu, berhenti adalah kebiasaan darimu, dan bernyanyi adalah hobiku. Bersiul kesukaanku ketika senggang waktu, dan menghalu waktuku ketika menonton video 21+ ke atas. Rasanya pahaku bergetar, aku segera berlari, mungkin dengan berlari rasa getar itu akan berhenti. Berlari sudah kulakukan, tetapi malah semakin parah getaran yang datang, ada apa dengan diriku? Aku mulai memutar kepala bak robot yang siap tempur, leherku juga kuputarkan seadaanya, dan lebih tepatnya mataku memincing untuk saat itu. Aku kira ada apa, setelah aku berlari seperti orang yang mengikuti perlombaan dan mendapatkan medali emas, tetapi itu adalah ponsel bututku, yang selalu bersama dengan diriku. Aku segera menghela nafas panjang, mulai menghirup udara dalam-dalam, mencoba untuk mengkondisikan waktu dan juga nafas. 'Semoga lelaki ini tidak meminta diriku untuk menemaninya pergi.' 'Apakah langkah yang aku kulakukan?' 'Aku ingin terlihat keren, dan dikejar-kejar, tetapi jari-jemariku ingin memencet tombol hijau ini.' Aku membatin serta mengumpat dalam hati, ingin rasanya diriku yang malang ini terlihat lebih beruntung dan sedikit dewasa, tetapi apalah daya wanita yang cantik ini. Menurut diriku jika cantik itu bisa tenang dan mendebarkan aku juga ingin cantik. Tetapi jika cantik itu melelahkan, aku juga masih berminat menjadi wanita cantik. Aku segera mematikan sambungan itu sepihak, dalam arti aku ingin menguji kesabaran dari lelaki itu. Eitss menguji kesabaran? aku bodoh atau memang pura-pura bodoh? bagaimana ceritanya seorang babu menguji kesabaran dari majikannya? Sungguh, aku adalah seorang babu dengan tingkat level yang sudah keterlaluan. 'Seharusnya diriku masih ditinjau apakah memang diriku layak menjadi seorang babu?' 'Seharusnya aku masih ditinjau apakah diriku layak menjadi seorang selebriti babu?' Dan lebih parahnya ... 'Apakah seharusnya aku harus ditinjau lebih dahulu, jika ingin menukar ponsel yang butut dan tua ini?' Aku masih belum sampai ke rumah, melainkan aku hanya bergumam, mengumpat, dan juga membatin di tengah jalan itu, ponsel bututku membantu diriku untuk melihat apakah sekarang sudah sore atau tidak? Wah!!! benar saja, sekarang ini waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, kakiku yang panjang ini segera aku tancap gas. Aku berjalan tapi seolah berlari, sungguh apakah ini kebodohan bilateral? Di satu sisi aku akan segera sampai kerumah sungguh sebentar lagi, aku akan mendengarkan pasal kedua kalinya dalam satu minggu ini. Undang-undang akan berkumandang, tetapi sebelum itu benar-benar terjadi, aku ingin merasakan nikmatnya makan setelah menahan dahaga dan juga rasa lapar. Kakiku melompat seperti katak saat itu, belanjaan yang kubelikan ternyata tidak seberat dugaanku. Aku akan berhasil masuk dengan aman saat itu, tetapi lelaki yang tadi menghubungi diriku, telah berdehem tepat didepan kepalaku sendiri. Deheman ini membuat punggungku yang tadinya menunduk, segera kembali berada pada posisi normal. Aku seolah tidak melakukan kesalahan, sedikit rasa sebal ketika melihat dirinya seperti pak polisi dengan Lawang satpol PP itu. Seakan dirinya bisa terlihat lebih cool dari situ, namun apa? aku semakin tidak suka dengan hal itu, hatiku terasa disobek saat melihat wanita yang keluar bersama dengan lelaki yang bernama Miracle itu. Tatapanku seolah tatapan tidak suka dan tatapan tidak menghendaki Miracle membawa seseorang ke dalam rumah ini, terutama P-E-R-E-M-P-U-A-N. Perempuan camkan itu. Kulangkahkan kakiku sebelum nantinya lebih jelas kulihat wajah dari wanita itu, tetapi ada juga teman-teman yang lain dari Miracle dirumah itu. Pikiranku tadinya yang sudah berbelok dan memencet tombol merah, putih, hijau, mudah, sudah berkelana, tetapi setelah masuk hatiku kembali sendu. Rasanya kekuatanku sudah asa yang baru melihat semuanya lelaki sedang mengerjakan tugas. Aku tahu aku cantik, tapi please, Miracle, tolong katakan kepada teman lelakimu ini untuk tidak menatapku seperti tatapan yang menakjubkan seperti ini. Aku mengibaskan rambut nak Dewi purnama kecantikan, jelas juga aku kira karena ada hal apa, ternyata lebih parahnya, sandalku ternyata berbeda warna. Saat itu juga, aku malu, masuk kedalam kamar, serta membawa sayur-sayuran yang hijau itu masuk kedalam kamar. Aku tidak layak untuk menjadi cantik, tetapi setidaknya aku dihargai, aku tidak menangis, karena dalam kamusku, tidak ada kata menangis, jelas itu adalah hal yang paling menjijikkan. jika aku harus menangis untuk hal yang murahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD