CELANA DALAM MERK BARBIE

1016 Words
Rasa itu hadir menemani diriku di setiap penghujung malam, bermain dengan air mata dan juga ranjang. Aku cukup waras untuk hal yang tidak lain dapat kalian ketahui, bahwa hal itu sangatlah jauh dari kata sempurna, seperti pepatah mengatakan tidak ada yang lebih sempurna daripada dirimu, dan tidak ada yang lebih munafik dari pengorbanan yang terlalu besar. Jika itu memang benar, lantas apakah sesuatu yang harus aku lakukan? Menyerah? Atau selalu singgah di hatinya? Pertanyaan itu selalu menempati posisi pertama dalam pikiranku, ketika melihat dia selalu bersama dengan wanita lain. Wanita lain yang kumaksud adalah wanita yang selalu menyakiti diri nya, wanita yang kerap memanfaatkan Miracle di setiap saatnya. Butuh uang hubungi Miracle, butuh dana asupan hubungi Miracle, butuh kasih sayang masih tetap hubungi Miracle. Aku sempat berpikir apakah Miracle masih mempunyai otak untuk hal yang bisa menyakiti dirinya? lepas dari semua itu, aku juga berpikir bahwa Miracle adalah seorang yang bisa ditipu layaknya seekor binatang kerbau. *** Sebentar saat itu ranjang yang menjadi tempat tidurku kali ini berubah menjadi ranjang yang menjadi tempat aku berdusta, bersama dengan atasanku sendiri tentunya membuat aku merasa bahwa harga diriku menjadi babu sudah sirna. Untung saja. Apa? masih sanggup mengatakan untung saja? Yah! karena aku pintar saat itu, aku memakan kondom agar menjaga-jaga kalau suatu saat waktu tidak bisa dihentikan dan juga saat itu aku tidak kehilangan rasa keperawanan yang kumiliki. Memang sesaat itu aku memejamkan mata sebentar, berdoa agar tidak ada siapa-siapa di sampingku, dan juga berdoa bahwa apapun yang kami lakukan tadi malam adalah hal yang sangat keliru, itu sangat tidak benar. Mataku terpejam, buku kudukku sekali lagi naik merangkak ke depan, dan tanganku sungguh kali ini sudah aku gunakan untuk kembali menutup mata yang kupejamkan. Pagi ini sungguh pagi yang terjadi di luar dugaanku, dimana aku juga tidak mengetahui mengapa dan kenapa aku bisa terlena seperti biang keladi yang mau diperintahkan kemana saja dan kapanpun. Jelas aku juga tidak akan mengetahui kalau sewaktu-waktu, ibu dari Miracle datang dan melihatkutelanjang tidak ada sehelai baju pun yang melekat pada tubuhku. Benar saja, kali ini suara dari pintu depan kamar Miracle sungguh membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat seperti mompa yang akan meluncur. Aku bergerak dua kali lebih cepat membawa semua pakaianku, celana dalamku yang berwarna pink, sungguh norak ada gambar Barbie di belakangnya. Sungguh aku tidak tahu lagi kalau memang Miracle sadar dan mengejekku akan gambar celana dalamku. Apa yang harus kulakukan sekarang ini padahal suara dari kaki itu semakin dekat saja, membuat Indra pendengaran yang kumiliki semakin menjemu-jemu pertanda bahwa dia juga mendengar detak dari perjalanan itu. Sungguh hari ini masih juga pagi tetapi aku sudah mendapatkan sial yang membara? Bagaimana untuk kedepannya? mataku membelalak saat merasakan bahwa pintu itu sebentar lagi akan terbuka. Karena posisiku yang sekarang ini masih berdiri menutup kedua p******a yang aku punya dengan bantuan selimut kecil itu, aku hanya bisa memerankan mata sembari mencoba tabah akan pidato hari ini. Aku cukup atau memang bisa dikatakan bandel, karena apa? Siapapun yang mencoba memarahiku aku akan mencoba mendengar dari telinga kanan dan dipergantikan detik langsung keluar ke telinga kiri. Aku hebat bukan? Tetapi tidak__ Sekarang ini kalau sempat siapapun yang berada di sana melihat diriku bersama dengan majikan, maka habis sudah pertahananku. Usir. Mungkin itu adalah hal yang paling pasti keluar dari mulut majikanku, dan nantinya ibu akan tinggal dimana? Satu ... Dua ... Tiga .. Hitung batinku sembari memejamkan mata, mencengkram erat selimut tipis berwarna putih itu. Jelas untuk saat itu aku membuka mata yang tadi aku pejamkan, karena sedari tadi tidak ada yang membuka. Aku menoleh mencoba melihat Miracle apakah benar dia sudah bangun atau aku yang bermimpi. Benar saja, ini sungguh membuatku malu, aku tidak bisa lagi menatap matanya, karena remot otomatis terkunci telah dia gunakan untuk membantu hambanya dalam keadaan yang sulit. Aku malu. Takut. Gerah. Segala rasa itu telah kumiliki aku hanya bisa berlari ke kamar ganti ruang spesial yang dimiliki oleh Miracle. Celana dalam yang berwarna pink dan bernuansa Barbie itu jelas membuat diriku geli. Geli karena mengapa bisa wanita yang sudah berumur memakai merk yang sangat murahan ini. Aku bergumam sebelum memakai lebih dekat celana dalam itu, pertama aku tersenyum dan hal yang kedua adalah tersenyum sipu. Setelah selesai memakai segalanya, kini aku meminta kepada Miracle agar membuka pintu itu, Miracle seperti ghosting aku lagi, ingin melemparkan sandalku, tetapi nantinya dia mengingat celana dalam pink itu. Serba salah, adalah hal yang kini telah merenggut segalanya isi hati dan juga pikiranku, jelas kali ini aku tidak akan bisa lagi melawan, sampai dia bisa melupakan perihal celana dalam Pink mereka Barbie. Aku kembali melewati masa itu dengan tenang, aku mencoba menghembuskan nafas agar bisa terlihat lebih fresh, jelas saat ini aku juga segera pergi ke taman depan, mencoba agar bekerja, kalau nanti aku datang dari pintu belakang, ibuku pasti akan mengucapkan isi dari Pancasila dan diganti oleh aturan yang dimilikinya. Benar saja kali ini aku melihat ibuku sudah berada di depan rumah yang besar dan mewah itu, jelas aku tidak bisa lagi berkata apa-apa, karena dengan ini aku tidak mengetahui apakah masih ada kata maaf kepadaku? Segera aku mempunyai ide yang brilian, bagai para peri bayangan yang mempunyai seribu satu cara agar menghindari peri jahat yang selalu mengangu setiap kesabaran dari mahluk pribumi mereka. 'Aha,' batinku seolah-olah aku penemu dengan jari manis yang aku tojongkan ke depan. Aku mempunyai ide, mungkin ini akan menjadikan diriku selamat dari terjangan maut di daerah yang sangat tenang ini, segera kulangkahkan kakiku ke arah belakang, pertanda ada sesuatu di belakang rumah yang membuat diriku selamat. Jelas! Apa yang selalu berada di belakang? Jemuran! Yes! Tuhan memang adil untuk aku yang sering meniadakan keadilan, segera aku mengangkat jemuran yang terlihat banyak itu dan juga bertindi. Kukira dengan semua ini akan berhasil, tetapi Pancasila akan berkumandang dan menjadi santapan pikiranku di setiap penghujung aktivitas yang selalu kulakukan. Baru juga satu langkah, melintasi ibu yang sekarang menyirami bunga, tetapi sudah keluar saja sila pertama yang terbaru. Aku mendengar sila itu sudah berapa kali, kalian ingin mengetahuinya? Yukk .... Simak di bab berikutnya ... Aku tunggu kalian, saksikan Zee yang malang namun bernasib baik ini selalu ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD