BAGIAN YANG TIDAK PENTING

1034 Words
Mengingat bagaimana rasa senangnya diriku ketika dipanggil oleh Miracle membuat hatiku terasa lebih berdenyut dua kali lebih cepat. Yah, kali ini aku telah dipanggil oleh sang dambaan hati yang tidak bisa aku dekap dengan hati yang tenang. Mimik wajahku berubah seperti Bungan matahari, tatapan wajahku juga berubah saat itu, segera aku berlari menuju kamarku dan berusaha permisi kepada ibuku dengan alasan bahwa Miracle kali ini menghubungi diriku. Tidak menyangka dengan alasan menggunakan kata Miracle, sekarang aku bisa keluar bebas dari rumah ini, tetapi memang benar saat ini aku keluar hanya untuk Miracle. *** Dedaunan dan udara saat ini telah bercampur aduk, hatiku terasa sejuk dan juga senang. Di jalan itu aktivitas telah berjalan seperti semula. Ada banyak ragam pakaian dan juga profesi yang aku lihat, berbagai ekspresi yang aku lihat, dan juga semuanya yang berbeda. Daun kering itu telah kupijak, hal yang bisa ku lakukan yaitu menunduk karena sangat sempurna daun itu untuk diriku. Kulihat dengan mata telanjang dan kuacuangkan sedikit lebih tinggi tepat di depan mataku. Perlahan untuk waktu yang cukup dekat saat itu, aku juga merasakan aroma parfum siapa yang kali ini berada tepat di depan wajahku. Aroma parfum itu sungguh jelas sangat khas, aku tahu aroma parfum siapa itu, yang jelas untuk saat itu aku masih tetap melihat apa yang seharusnya aku lihat. Perlahan arah mataku sungguh tidak bisa aku jauhkan dari aroma parfum itu, segera dia lelaki yang memakai topi hitam itu juga mendekat ke arahku. Di bawah pohon yang rindang itu, pertemuan antara aku dan juga dirinya, lelaki yang tidak aku bisa dekap sama sekali kali ini telah datang menemui diriku di bawah pohon rindang tempat kami berjanji akan bertemu. Yah. Aroma parfum dari Miracle jelas membuat diriku terlalu bersemangat untuk sekarang, aku tidak tahu mengapa aku dipanggil tetapi yang pasti aku harus menuruti semua apa maunya. Aku terkejut ketika bola matanya menatapku lebih tajam dari tatapan yang pernah aku temui, aku juga tersadar bahwa untuk kali ini dia pasti akan marah. Mengingat bahwa kali ini aku tida melakukan kesalahan apapun, jelas ekspresi wajah pasaranku seketika berubah menjadi ekspresi yang paling dingin. Tatapan mata yang aku berikan juga dingin, dan berusaha menolak melawan pandangan mata yang diberikan oleh Miracle sekarang ini. Hati yang hampa dan juga pikiran yang kalut, membuat diriku terasa sangat lelah, berbagai pertanyaan telah kulanturkan kepada Miracle kenapa dia bisa seolah bersikap acuh tak acuh kepada diriku. Miracle yang aku lihat sekarang sungguh berbeda dengan Miracle beberapa tahun yang sudah aku kenal. *** Tangisku pecah saat itu melihat bahwa sekarang Miracle dengan tidak ada beban menampar pipiku. Mengumpat. Satu hal yang aku lakukan saat ini yaitu mengumpat dalam hati, hanya karena masalah ini aku telah ditampar oleh lelaki yang menjadi atasanku. Yah, Miracle menampar diriku saat ini tepatnya di rumah sakit, pada salah satu ruangan inap itu, aku ditampar di hadapan wanitanya. "Apa alasan Miracle menampar aku di depan wanita?" "Apakah Miracle di tuduh selingkuh dengan diriku?" "Apakah semua ini hanya mimpi?" Point pertama hal itu adalah salah, Miracle menampar aku didepan wanitanya karena satu hal yang belum tentu menjadi kesalahan diriku sepenuhnya. Point kedua, hal yang aku ragukan. Yang aku ragukan adalah wanita yang terbaring di atas ranjang itu, bagaimana mungkin dia bisa menuduh pacarnya selingkuh dengan pembantu. Dan point' yang terahkir, jelas ini bukan mimpi. Melainkan ini hanya kenyataan yang sangat pahit menampar diriku, jelas aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi kalau seandainya ini mimpi, jelas aku akan bersyukur. Inti dari semua pertanyaan itu adalah wanita yang aku pukul satu hari yang lalu, dengan ketua pimpinan mereka kali ini telah terbaring di atas ranjang. Salah satu dari mereka, tepatnya wanita yang memakai tujuh warna rambut itu, adalah wanita dari Miracle. Wanita sungguh pengadu, mereka tidak tahu kalau hal itu adalah hal yang paling bodoh jika dilakukan di depan semua laki-lakinya. Yah, Miracle menampar diriku di pipi kanan dan juga kiri, itu semua hanyalah permintaan dari wanitanya yang menceritakan akan perlakuan diriku kepada mereka. Ingin menjelaskan sebenarnya kepada Miracle tetapi Miracle malah membentakku dan meminta agar cepat pulang. Jelas aku menatap mereka berempat dengan tatapan yang tajam, seolah mengatakan bahwa ini baru di mulai. Dan untuk Miracle, aku menatap dia sekali lagi, tersenyum parau dan jelas aku pergi dengan langkah yang sangat cepat dan suasana hati yang perih. Di tengah jalan, saat aku sudah keluar dari koridor rumah sakit itu, sekali lagi aku menangis, hujan turun dengan sangat deras, dan yah tuhan baik, aku menangis di bawah rintikan hujan dan berdiri di atas tanah. Hatiku terasa disayat saat melihat orang yang aku cintai sama sekali mungkin tidak menganggap keberadaanku, selalu diacungkan, dan dianggap hanyalah figuran diatas figuran. Aku tahu dia memang tidak pantas bagiku, tetapi tolong, hargai aku karena masih bisa hidup dengan uang sendiri, hargai aku karena masih menyimpan perasaan kepada dirinya. Kita mang berbeda, tetapi aku ingin menyatukan perbedaan itu, aku hanya ingin menyatukan tidak peduli sekarang apa profesi yang aku punya, entah itu sebagai pengemis, babu, babu seks, dan semuanya. Menangis saat itu, berteriak terlah aku lakukan demi kepuasan hati, aku hanya bisa tersenyum sekali lagi dan tertunduk di bawah rintikan hujan ini. "Aku menyesal" teriakku dengan suara yang sangat keras. "Aku menyesal, menyesal karena telah mengenal dirinya," "Aku menyesal karena telah menaruh rasa kepadanya," "Jelas ini adalah salah Tuhan, kenapa aku mengenal lelaki b******k seperti itu," Tangisku pecah untung saja tidak ada orang yang melihat diriku, kesepian yang berada di jalur lalulintas itu adalah kesepian yang sekarang berada pada hatiku. *** Malam hari telah tiba, aku yang kini berada di dalam kamar yang menangis kini menghapus air mata, sembari menoleh melihat siapa yang mengetuk pintu. Segera melangkah, dan yah kali ini aku jijik karena melihat dia berdiri di depan kamarku, aku juga ingin membuang matanya saja, karena untuk saat ini aku ingin memberikan dia sumpah serapah. "Ap__" ucapku terpotong kali ini dia menarik pergelangan tanganku lebih erat menuju kamarnya. Aku bingung karena ketika sampai di dalam kamarnya, dia mengunci pintu, dan lebih tepatnya membuat badanku tersandar pada dinding yang bernuansa hitam pekat itu. Dia mendekat aku melangkah mundur, tetapi karena hasratnya yang besar dan juga mungkin rasa bersalah dia mencium bibirku seperti seekor binatang. "Arg .. Arg .. Arg ...," Sergahku kali ini merasakan barangnya telah mendekat ke area sensitifku
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD