AKU SADAR DIRI

1017 Words
Jujur ini sangat lelah untukku, dimana aku harus selalu sigap membangun suasana dan juga menciptakan daya tahan tubuh yang luar biasa. Deretan mobil yang kulewati saat itu, sungguh menyesatkan mataku yang sama sekali tidak bersalah ini, bagaimana mungkin? Karena saat ini aku telah keluar, berbelanja dengan sandalku yang bisa dikatakan sangat berbeda dari biasanya setiap wanita yang berada di depanku. Yah, dengan pasangan masing-masing, dan juga rasa yang sama jelas membuat mereka bisa bersatu dan berjalan bersama. Aku berjalan melewati mereka semua pasangan yang bersama dengan pasangannya, aku kira aku bisa lewat melintas dengan tenang dari harapan mereka, sungguh ini membuat diriku ingin memakan mereka hidup-hidup. Mereka memanggilku, terdengar sangat jelas pada Indra pendengaran ku, aku menoleh kepada mereka dan yah merek benar menunjuk diriku. Aku rasa ini tidak benar lagi, mereka meminta diriku untuk membeli makanan dari dalam restoran itu? Apakah ini hanya mimpi? Aku menerimanya karena memang aku berniat membantu mereka walaupun satu kali. Aku berjalan akan pulang lagi dari tempat itu, tetapi sebelum lima langkah aku langkahkan kakiku, kali ini aku dipanggil lagi oleh mereka. Aku datang dengan tampang wajah yang pasti sudah muram, dan tanganku yang kukepal saat itu. Perlahan langkahku, semakin dekat saja, sayur tadi yang aku beli kali ini aku letakkan pada meja kosong itu dan yah aku mendengar dari mulut mereka mengatakan hal yang membuat diriku murka. “Lihat dulu sandalnya, apakah kamu yakin dia anak anak orang kaya,” “Apakah ini benar adalah kita bisa meminta dia agar segera membantu kita membersihkan sepatu kita?” Yah, aku mendengar bisik-bisikan mereka, tepat saat itu aku merasa geram dan datang kepada mereka semua, kakiku yang mengenakan sandal oplosan itu jelas aku angkat dengan angkuh ke atas kursi itu. Aku mulai menatap mereka perlahan, segera wanita yang berada di depanku, kali ini berdiri dan mencoba menamparku. Tetapi sebelum dia menang, kali ini aku sudah menampar dirinya sehingga terjungkal tubuhnya yang sangat ramping dengan rambut sepuluh warna itu. Temannya yang tiga lagi merasa tiga terima, jelas! Karena ini sebuah misi balas dendam untuk seorang tokoh figuran. Kaki panjangku kini telah membelah kerumunan itu, karena saat itu satu hal yang aku lakukan yaitu mengajari keempat perempuan itu yang ingin membully wanita miskin seperti ku. Kakiku melayang di udara, memukul pipi mereka bertiga dengan bantuan kaki dan juga terdampar oleh sakitnya rasa itu. Dan yah! Kali ini mereka bertiga telah merasakan rasa sakit yang sebenarnya itu, perlahan rambut yang aku gerai secara tiba-tiba terbuka, dan itu jelas membuat diriku tambah cantik saja. Semua orang aku lihat melonggo, tetapi sedetik kemudian mereka seolah melihat ke arah yang lain, ada yang bersiul seolah tidak mendengarkan apa saja keributan yang baru saja terjadi, dan ada yang bermain ponsel. Aku lelah karena pembullyan di negara ini sungguh diminati, siapa yang bisa menjaga diri, merekalah yang bisa selamat dari terjangan marah bahaya, siapa yang tidak bisa menjaga diri merekalah yang menjadi babu. Perlahan aku menguncir rambutku, sinar muncul jelas pada tatapan mata yang diberikan beberapa lelaki itu saat aku menguncir rambut. Segera aku menuju meja itu dan mengambil sayurku, hanya ada pilihan untuk wanita itu, terlalu mereka memilih untuk merasakan pukulan aku, dan yah aku merasa latihan sekarang cukup hebat jadi aku tidak akan menonton film sekarang. Pertama, sesaat ini aku telah sampai di depan rumah dari Miracle, aku melihat Miracle sendang berbicara dengan seseorang di seberang sana, dengan nada yang khawatir itu sudah biasa aku dengar keluar dari mulut Miracle. Ada saatnya aku bertanya dan tidak bertanya kepada Miracle, namun untuk saat ini kami berpapasan, hanya ada raut wajah khawatir yang tampak pada wajah Miracle. Miracle sama sekali tidak melihat diriku, yang ada dia pergi dengan kunci mobil yang sekarang berada di depannya. Aku tahu bahwa semua ini hanyalah sebuah persepsi aku jika menginginkan tuanku mencintai seorang pembantunya. Segera masuk adalah hal yang paling aku inginkan untuk sesaat ini. Aku sadar diri karena dia bukan tempatku untuk menaruh perasaan, aku sadar diri pembantu tidak akan pernah bisa menjadi milik tuannya. Aku sadar diri, bahwa dengan mengiklaskan dirinya adalah salah satu hal yang wajib aku lakukan. Masuk. Pintu mengeluarkan suara, aku lihat sekarang ini keadaan rumah masih sama seperti sebelumnya aku menuju dapur dan melihat bahwa ibuku berada di sana. Di balik tembok itu, aku tersenyum melihat ibu yang kewalahan, jelas karena aku adalah anak yang berbakti kepada orang tua. Perlahan aku mendekat berniat untuk mengejutkan dari belakang dirinya, tetapi di sini aku yang malah terkejut. "Ar__" ucapku terpotong "Tidak usah kamu kejutkan ibu, sekarang ini semua orang sedang tidak ada di rumah, kita harus segera membereskan ini," ucap ibuku tepat ketika aku ingin mengucapkan kata. Aku merasa lelah karena tidak bisa membohongi seorang ibu, bahkan memberikan ibu kejutanpun itu sangat susah, karena kejutan pada hidup kami selalu saja bergonta-ganti. Mulai dari kebangkrutan alami supranatural, dan juga Ayahku yang meninggal serta menjadi sekarang ini menjadi seorang pembantu agar dapat hidup di era yang sangat sengit ini. Bukankah itu adalah kejutan? Ya kejutan yang sangat luar biasa, kejutan yang tidak dimiliki oleh setiap orang yang berbeda. *** Pagi telah datang hatiku terasa kencut karena melihat kali ini tidak ada dia, orang yang tidak aku tahu kapan perasaan ini muncul. Jelas raut wajahku berubah seketika melihat bahwa dia tidak berubah. Menjadi seorang yang kurang kasih sayang, dan juga menjadi seorang berandalan yang sangat diasingkan di keluarga yang sangat berharga ini. Aku sudah melihat betapa tersiksanya dirinya ketika tidak mendapatkan kasih sayang dari majikanku keduanya, sibuk selalu dengan pekerjaan dan juga selalu mementingkan uang, uang, dan selalu uang. Mataku mengerjap, ketika merasakan pahaku bergetar tidak karuan, aku mencoba membuka ponsel yang sangat murahan itu, dan jelas saja dia sekarang menghubungi diriku. Ingin terlihat seperti selebritis, panggilan pertama aku coba acungkan, demi harga diri, agar aku tidak mengangkatnya aku segera pergi ke dapur untuk mencuci piring. Dan yah! Saat ini panggilan kedua telah datang, gejolakku sebenarnya ingin mengangkat sambungan itu tetapi, aku akan terlihat seperti orang yang sibuk jika tidak mengangkat sambungan itu. Segera untuk sambungan yang ketiga, aku mengangkat sambungan itu meskipun sudah di ujung terahkir detik penghubung dirinya. Dengan smirk yang kukeluarkan dan juga pandangan mata yang menatap layar ponsel itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD