Hari terlalu cepat berjalan, ini sudah seminggu berlalu saat kejadian itu terjadi. Yah kejadian di antara semuanya.
Kini untuk wanita yang sedang bernyanyi-nyanyi kecil dan dengan wajahnya yang terlihat lebih damai dari sebelumnya dia menatap ke arah p****g kaca yang dia cuci dan dan juga dengan meja yang dia lap.
Sejak saat kejadian itu dia bahkan tidak mau lagi merespon semuanya, bahkan untuk Vanessa yang selalu cari muka kepada dirinya, dia sudah pernah meminta maaf kepada Zee namun Zee bukanlah wanita yang terlalu gampangan untuk diberikan kata maaf.
Zee bergumam sendiri dengan tangannya yang dia letakkan di bawah dagunya seolah berpikir dengan kritis.
"Apakah aku menghubungi Reyhan saja yah?" dia berpikir keras sepertinya.
"Ahk, tidak usah nanti dia pasti kebaperan," gumamnya dan melanjutkan cuciannya kembali.
Selebihnya dia bekerja dan berhenti setelah itu beristirahat ke dalam kamar, namun ada-ada saja masalah yang selalu datang menimpa dirinya sorot matanya dan juga segalanya benar-benar dia hanya ingin mati saja sebelum orang yang dia pandang datang ke arahnya.
Sebelum tangan kanannya membual engsel pintu itu, dia sudah mendengarkan bahwa namanya telah di panggil oleh lelaki yang tidak lain adalah Miracle.
Miracle dengan wajah yang hangat mencoba untuk mengajak berbicara wanita yang sedikit judes itu. Yah belakangan ini dia tambah sensitif dengan semua hal yang terjadi di sekelilingnya dia mencoba untuk tetap tenang tetapi naasnya tetap juga tidak bisa.
"Apa?" waw saat ini Miracle menutup mulutnya tak percaya melihat sikap dari Zee.
Zee menatap mulai dari bawah sampai atas lelaki itu, tidak ada yang salah hanya itu yang berada pada pikiran Zee namun kenapa dengan bibirnya yang komat-kamit seperti pria sialan saja.
"Wah, hidup mu ternyata lebih tenang dari pada pengusaha di luaran sana yang sudah terkenal yah?" dia membuat Miracle sedikit ambigu.
"Apakah maksud kamu?" dia mulai menyenderkan bahunya ke dinding putih bersih itu.
Zee terkekeh dia harus menjelaskan lebih dalam ternyata hal-hal yang seperti ini, Zee mengarahkan pandangannya lebih tahan kepada Miracle dengan badannya yang mendekat jaraknya tinggal satu centi lagi dan itu berhasil membuat jantung Miracle berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
"Apa-apaan kamu Zee, kenapa kamu sangat tidak sopan?" wah sekarang karena posisi dia sedang tercekik oleh wanita dia malah mengatakan sopan.
"Jangan membahas masalah sopan atau tidak sekarang, tetapi apa tujuan anda datang ke tempat ini hanya itu pertanyaan saya," jawabnya singkat tetapi dapat membuat kesadaran dari Miracle meningkat secara otomatis.
Bola mata mereka saling berhadapan, dan kali ini lebih ironis nya Zee telah berbalik arah dengan Miracle tubuh dari Zee telah di tindih oleh Miracle seiring tangan dari Miracle membuka pintu dengan perlahan sesampainya di dalam kamar Zee benar-benar wanita itu telah terhipnotis oleh tipu daya muslihat lelaki itu dia mulai mendekatkan hidungnya ke hidung Miracle.
Miracle sepertinya adalah pecandu yang sangat haus sehingga kita lihat saja bagaimana dia sangat rakus menjilat leher dari Zee, sedangkan untuk wanita itu dia tidak bisa menahan semua gejolak yang datang ini dia tahu bahwa lelaki ini sudah menjadi milik orang tetapi apakah ini menjadi tolak ukur saat dia berusaha untuk mendapatkannya dengan cara halus?
Dia tertawa sembari melepaskan ciuman itu, hampir saja tangan dari Miracle menyentuh kedua gunung dari Zee namun naasnya ini bukan malam keberuntungan dari Miracle dia harus merelakan kedua gunung dari Zee dan harus melepaskan hutan yang lebat itu dengan warna hitam dan pastinya halus.
Dia mengeluh kenapa dia beraksi lebih lama, ahk dia benar-benar sangat bodoh, dia tertawa dan memperbaiki dasi yang tadi sempat di buka oleh Zee, sedangkan untuk wanita yang telah duduk di tepi ranjang itu dia sendiri tidak tahu mengapa isi otak dan hatinya mengatakan hal yang berbeda.
Di satu sisi dia benar-benar di pukul oleh keadaan dia harus sadar bahwa lelaki yang tadi sempat membawa dia dalam jerumus yang tidak ada habisnya, dan satu sisi lagi dia memang benar masih mempunyai rasa kepada Miracle tetapi ketika dia melihat kondisi tubuh dan juga ekonominya, dia sudah menyerah.
"Kenapa?" tanya Miracle membuat pipi dari Zee seketika merah merona.
"Apakah kamu puas? sebenarnya aku bingung dengan hubungan semacam ini, sungguh mengapa kita melakukan ini?" dia bertanya dan mendekat ke arah Miracle lagi.
Miracle terkekeh dan meleburkan pertanyaan yang membuat Zee terdiam membeku,"apakah hak yang kita lakukan sehingga kami tidak terima?" Seketika jantungan berhenti berdetak rasanya dia kembali menundukkan wajahnya.
"Kenapa? tidak bisa menjawab?" tanyanya sembari menahan pergerakan dari Zee pada dinding putih itu.
Zee berusaha untuk melawan semua pergerakan yang dilakukan oleh Miracle saat ini namun dia tidak memiliki kekuatan lagi dia harus menyerahkan dirinya saat ini.
Saat bola mata dari Miracle membulat dan bibirnya sudah hampir menempel pada bibir wanita itu, dia mendengarkan bahwa ada getaran ponsel dari pahanya, benar-benar ini bukan waktu yang tepat bagi seseorang yang menghubungi dia.
Dia berusaha untuk membiarkan itu, dia juga tidak mau mengangkat sambungan itu, yang ada pada pikiran Miracle hanyalah bagaimana bisa dia menikmati setiap sudut bibir dari wanita yang sangat pintar membuat dia candu akan segalanya baik itu pagi siang dan juga malam, benar- benar itu membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Apa?" dia melemparkan tubuh dari Miracle dan mengangkat sambungan yang ada pada ponselnya.
Dia menatap ke atas nakas sedari tadi, ternyata itu adalah ponsel dari Zee dan lebih tepatnya kali ini mata Miracle sedikit sakit saat melihat nama panggilan itu.
"Reyhan," ulangnya dan benar sekali itu membuat salut hati dari Miracle.
Sepertinya ada raut wajah yang sangat senang ketika dia mengangkat sambungan itu.
"Kenapa Reyhan sayang, apakah kamu rindu kepada aku?" tanyanya di depan mata dari Miracle.
Miracle terkekeh dia rasa itu adalah perempuan, pasalnya baru kali ini dia melihat ada nama panggilan seperti lelaki saja.
"Dia pasti seorang perempuan bukan? makanya jangan terlalu lama untuk singel," kekehnya dari seberang sana di dengarkan oleh Reyhan.
Sengaja saat ini juga dia memencet tombol speakernya untuk membuktikan bahwa itu benar adalah seorang lelaki.
"Apa? apakah ada lelaki lain di sampingmu?"
"Jawab, Sayang mengapa kamu terdiam?"
Beberapa deretan pertanyaan itu benar sekali membuat Zee senang dia bahkan mendekatkan ponselnya ke depan Miracle membuat Miracle ingin muntah. Rasanya ini suatu penghinaan yang besar dia malu dan rencananya akan segera pergi dari kamar ini.
"Eitss, sayang kenapa kamu tidak menjemput aku?"
Deg, langkah kaki dari Miracle tiba-tiba berhenti saja dia menoleh dengan pandangan mata yang tajam.