KEPEDULIAN NYONYA

1004 Words
Miracle bukanlah sosok yang dingin untuk orang yang sudah lama dia dekati, bahkan untuk Vanessa sekalipun dia tidak lagi terlihat dingin saat merasakan ada getaran yang indah datang kepadanya. Kini bola matanya masih tetap menatap Zee yang sedang berbincang-bincang melalui ponselnya di seberang sana, di masih melihat apakah itu benar adalah kekasih Zee atau sebaliknya. "Wah, apakah kamu bercanda sayang? malam ini?" dengan nada suara yang tidak percaya dia membulatkan matanya dan suaranya yang dikeluarkan secara berlebihan. "Ais, apakah dia pamer pacar atau apa?" geram Miracle dengan wajah yang kini tampak muram. "Eits, tunggu-tunggi sekarang Bos ku ada di sini tidak baik kalau kita seperti ini, lebih baik nanti kita saling mengkonfirmasi tahu, bye-bye sayang," ucapnya dan membuat bibirnya seperti memberikan kiss jauh pada Reyhan. Reyhan yang berada di posisinya tentu merasakan ke gelian yang sungguh hakiki bahkan di sama sekali tidak akan pernah tahu kalau wanita garang itu bisa terlihat sangat polos seperti orang bodoh saja. Tetapi dia senang karena bisa melihat dan merasakan kembali pertemuan ini adalah awal dari pertemanan mereka. Pagi ini terlalu cerah sekali banyak orang terutama untuk Vanessa kini dia sedang keluar mobil dengan buku yang dia buat di atas kepalanya dia segera berjalan menuju kantor, beberapa orang yang melihat itu juga melakukan hal yang sama, tidak ada sama sekali penghinaan yang gila atau semacamnya. "Hey, kenapa kamu baru sampai? saya sudah lama menunggu," ucap Miracle ternyata dia sudah berada di kantor Vanessa. Vanessa terdiam namun satu menit berlalu dia kembali tersenyum ramah kepada lelaki itu, mereka pandai bercakap-cakap dengan petugas yang datang membuat minuman kepada mereka. Miracle benar-benar tidak mempermasalahkan kejadian beberapa hari yang lalu bahkan wajahnya terlihat tenang untuk sekarang ini, dia tersenyum dan mulai membuka obrolan yang hangat lagi. "Bagaimana?" tanyanya dengan nada yang tanggung membuat Vanessa juga berpikir ke mana arah percakapan ini. "Ada apa?" dia menggelengkan kepala sembari menaikkan pundaknya tanda dia juga bingung. "Em, maksud aku bagaimana kabar kamu Vanessa," dia mencubit pipi Vanessa dan dengan geramnya mengecup kening wanita itu. "Owh, saya baik-baik saja ini," ucap Vanessa dan tersenyum balik kepada Miracle. Di sisi lain kini dedaunan yang tampak rindang itu dengan air yang berada di depannya sudah menjadi salah satu makanan pokok untuk wanita yang bernama Zee dengan statusnya yang masih belum bisa dia lepaskan secara mudah. Dia masih harus mengabdi agar bisa makan, selalu saja bernyanyi kecil adalah kesukaan dari dirinya dengan wajah yang tampak ceria akan menambah suasana yang sedikit hangat. "Lalalalala," gumamnya dan terus saja menyirami pokok bunga itu. Dia berjalan dari arah barat sampai timur dan hanya untuk menyirami pokok batang bunga itu yang sangat mewah-mewah terlihat dari harganya saja itu pasti sudah mahal. Setelah satu jam berlalu benar saja, kali ini Zee benar-benar capek untung saja ibunya cukup perhatian kepada dirinya, dia memberikan minuman yang pastinya adalah sisa-sisa buah dari keluarga besar itu. Mereka minum bersama dan memulai percakapan yang baru. "Zee," panggil Maya dengan nada yang polos. "Ada apa Ibu?" sorot mata Zee kembali berpaling pada ibunya. "Sepertinya ibu akan bertanya kepadamu akan sesuatu, kamu harus menjawab dengan jujur,"ucap Ibunya dan menoleh ke sekeliling takut ada yang melihat mereka. Sepertinya ini adalah percakapan yang rahasia Zee meletakkan jus yang tadi berada di tangannya dan memperbaiki tempat duduknya, dia menoleh ke arah ibunya dan mengambil kedua tangan Maya menaruhnya di atas pahanya. "Ada apa ibu?" tanyanya. "Apakah kamu tidak bisa di rumah ini? dan apakah kamu tidak sakit hati ketika melihat Nyonya Mutiara selalu saja mempermainkan kamu?" tanya nya jelas saja membuat Zee terdiam. Dia tidak bisa menjawab ini, pasalnya pertanyaan ini terlalu berat sekali untuk dia jawab bahkan untuk memikirkan jawabannya saja jelas tidak terlintas di pikiran dan sarafnya. Dia tertawa kecil jelas ini membuat suatu pertanda buruk untuk Maya selebihnya saat ini Maya terdiam setelah mendengarkan jawaban yang telah diberikan oleh anaknya seorang. "Apakah ibu pantas mengatakan hal ini?" "Ayolah ibu, kita sudah terbiasa hidup di bawah kekuasaan dari keluarga ini, mereka mau semena-mena kepada kita tidak apa-apa yang penting kita mempunyai tempat tinggal dan juga makanan itu sudah membuat aku bahagia ibu," ucapnya sembari memeluk ibunya. Maya benar-benar bersyukur sangat dia patut bahagia akan kondisi dari keluarga mereka yang sedikit tetapi bisa hidup bahagia. Yang berada di bawah kekuasaan majikan mereka tetapi bisa bahagia. Zee sebenarnya tidak terima kalau keluarga mereka benar-benar di kucilkan namun dia tidak boleh egois dia juga harus memikirkan hal yang akan terjadi di masa depan kalau mereka berniat untuk mengundurkan diri di tempat ini. Zee menahan air mata itu dia masih memeluk ibunya dengan erat dengan leher yang saking bertaut-tautan. "Apakah kamu menangis Zee?" tanya Mutiara datang dari arah belakang. Mereka berdua reflek melepaskan pelukan itu dan berdiri dengan wajah yang di tundukkan di depan Mutiara. Mutiara bersikap acuh tak acuh kepada mereka berdua, sepertinya ini akan menambah beban untuk Maya seorang saja. "Tidak, ada yang bisa saya bantu Nyonya?" Zee memasang strategi, dia bahkan tidak mau terlihat bodoh di depan wanita tua ini. Untung saja wanita tua itu kaya, kalau tidak bagaimana mungkin keluarga mereka masih menampung segitu banyak karyawan dari yang terpenting sampai tidak penting mereka sewa. Kadang Zee hanya berpikir rumah ini seperti panti untuk orang yang tidak mampu saja, dia tertawa dalam hati ketika melihat pandangan yang diberikan oleh Mutiara kepadanya seperti petir saja. "Wah, apakah ibu tadinya tidak mempunyai tugas memasak di dapur?" tiba-tiba suara dari Zee membuyarkan lamunan kedua orang tua itu. Jelas-jelas Mata segera bergegas ke dapur tetapi terlebih dahulu dia pamit kepada majikannya,"bagaimana? apakah anda ingin mempermalukan saya di depan ibu saya?" dengan nada yang sedikit melawan dan kasar Zee membuka mulut. Mutiara berjalan perlahan dan menjawab pertanyaan dari wanita itu. "Iya, kamu salah sangka tadinya aku hanya ingin memberikan tissue ini kepadamu saja, tetapi kamu kembali menarik air mata itu," dia mulai membuat pikiran Zee terkecoh. Zee seketika membuat drama lagi dia berpura-pura heran, pasalnya dia juga ingin membalikkan situasi yang sama. "Wah, benarkah Nyonya? kenapa Nyonya sangat peduli kepada saya? apakah hanya saya saja yang terlihat sangat menonjol di mata Nyonya?" ini benar-benar sebuah penistaan di depan Mutiara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD