Zee bukan sekedar nama, dia mempunyai makan yang penting di balik itu dengan kekuatan yang datang saat masalah banyak menghampiri dirinya.
Sekarang sudah terbukti benar saja di bahkan mendapatkan kekuatan untuk melawan wanita tua yang berada di depannya dengan wajah yang tampak tengik dan juga leher yang dia pendek kan membuat Mutiara sedikit kesal kepada dirinya.
Mata mereka berdua saling menatap, dengan emosi yang membara satu sama lain. Tangan mereka terlihat santai saja dan ingat saat ini mereka mengeluarkan smirk khas masing-masing.
"Kenapa dengan kalian?" Alexander yang datang segera bersiteru.
"Ohw tidak Tuna, hanya saja Nyonya meminta saat untuk istirahat tetapi saya tidak mau," ucap Zee benar-benar ambis membuat drama di pagi hari yang terik cahaya sinar mentari ini.
Alexander semakin mendekat dia tahu bahwa saat ini ada kesalahan di antara mereka berdua, dan lebih tepatnya kali ini dia datang di tengah-tenfah mereka berdua.
Sepertinya saat ini mereka akan berbincang-bincang lebih dalam lagi, mungkin akan sedikit membantu jika Zee sedikit terbuka dengan Mutiara yang mulutnya terus saja cerocos.
Mereka membuka mulut secara bertiga dan memandang satu sama lain, selebihnya hanya ada hawa diam yang menyemangati hidup mereka.
"Yah, apakah kalian masih marah atau mempunyai sedikit permasalahan?" Alexander kini bertanya dengan napas yang di lepaskan gusar.
"Tidak, siapa yang marahan? bukankah begitu Zee?" Mutiara membuka mulut dan mencoba untuk meyakinkan lelaki yang sempat curiga itu.
Zee benar-benar terharu pasalnya dia bisa mengajak kompromi wanita itu, dia bisa dengan senang hati membuka pikirannya dan juga asumsinya kepada Zee.
Zee membuka mulut menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh Nyonya dan juga Tuannya, dan tiba saatnya mereka memperbincangkan akan Vanessa dan juga Miracle di depan Zee.
Dengan rencana Mutiara yang sangat sederhana, dia berniat akan membuat wanita pembantu itu sedikit iri atau lebih tepatnya membuatnya sedikit sakit hati.
"Kenapa? apakah Miracle dan juga Vanessa akan datang?" tanyanya kepada Alexander saat melihat ada panggilan masuk ke ponsel Alexander.
Alexander terdiam sebentar namun satu detik kemudian dia melayangkan senyuman itu dan dengan kepalanya yang dia layangkan pertanda iya.
Dia membuat Zee tidak habis pikir, pasalnya mungkin dia pikir dia sudah berhasil membuat Zee menangis dalam hati, dan di tambah saat ini Mutiara dan Alexander sangat kompak untuk membicarakan kedua orang yang pantas di sebut satu pasangan itu.
"Mereka sangat sosweet bukankah begitu?" tanya Mutiara dengan gayanya yang sedikit alay.
'Wah? romantis? sebenarnya dia ingin menurunkan harga dirinya sendiri atau siapa?' wanita itu membatin dengan sorot mata yang tadi dia perlihatkan kepada Mutiara.
"Kenapa kamu mengatakam seperti itu?" tanya Alexander kepada Mutiara.
Mutiara sedikit membulatkan suaranya dan dia melihat dengan sirik wajah dari Zee dia mengira bahwa sudah benar dan tepat untuk saat ini membuat Zee marah dan memilih untuk pergi dari rumah ini.
"Tidakkah kamu lihat bahwa saat ini mereka selalu berdua kemana saja? dan bahkan aku juga melihat mereka berdua bersama-sama sewaktu di kantor," itulah yang dikatakan oleh Mutiara, menurutnya itu bisa menyayat hati seorang pembantu yang kasar itu.
"Wah benarkan? itu sangat baik untuk hubungan mereka berdua dan semoga saja mereka bisa bersama sampai ke pelaminan nantinya," ucapnya sembari memegang telapak tangan dari Mutiara.
"Bagaimana menurut kamu Zee?" Mutiara mulai beraksi.
Zee terdiam sejenak dia memikirkan apa saja kalimat yang membanting Mutiara, agar dia tidak menyepelekan semua hal yang berkaitan dengan kehidupan Zee.
"Ohw, benar kalau mereka jadi sampai ke pelaminan aku akan membantu dengan segenap tubuh dan juga kerja kerasku, supaya mereka bisa melangsungkan acar pernikahan itu dengan lancar," ucapnya juga beraksi, dia bukan Zee kalau tidak pandai melawan.
"Kamu memang sungguh berhati mulia, Nak semoga kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih mantap dari lelaki mu sekarang kalaupun itu ada," katakanlah bahwa saat ini Alexander mendoakan kepada Zee agar dia mendapatkan lelaki yang lebih dari Miracle.
Miracle tersenyum di seberang sana sepertinya dia juga mengiyakan apa yang dikatakan oleh ayahnya, yah meskipun mereka semua berada di tempat yang berbeda namun ikatan itu benar-benar saling bertaut-tautan.
Malam telah tiba dan benar saja sosok dari sepasang calon itu sudah datang mereka duduk di meja yang telah dia sediakan. Dengan makanan yang sudah tersedia di meja makan segera Vanessa duduk dan memberikan salam kepada kedua orang tua Miracle.
Ini yang membuat suka Mutiara kepada Vanessa selain dia cantik dia juga mempunyai kepribadian yang sangat bagus, dia mempunyai segalanya lihat saja cara makan dan duduk dari padanya, jelas-jelas dapat memukau perhatian dari semuanya yang berada di tempat itu.
Di tengah mereka makan malam, Zee sengaja datang memberikan teh itu dia memasang strategi agar terlihat lebih suci di depan Alexander dan mereka bertiga.
Jelas-jelas di pandangan pertama yang di berikan oleh Vanessa masih pandangan yang bersalah pasalnya saat itu dia benar-benar merasakan bahwa Zee adalah orang yang tidak pantas di sebut salah, dia bahkan lindungi pacarnya dari orang lain.
"Permisi Tuan, Nyonya ini minuman kalian," meletakkan gelas berisi air yang sudah di campur dengan gula itu, dia terlihat sangat manis berjalan.
Setelahnya saat dia sampai di dapur, Miracle memikirkan jalan jalan dari Zee tadi karena tidak seperti biasanya dia bersikap sangat baik di depan semua orang yang terlihat penting, tetapi dia juga bingung adakah orang yang penting tadinya di tempat itu?
Vanessa permisi pasalnya dia ingin meminta maaf secara resmi kepada Zee, dia juga mencoba untuk mencari waktu yang tepat karena dia juga sungkan untuk permisi saat makan seperti ini.
"Maaf, apakah saya boleh ke belakang sebentar saja," dengan pandangan matanya yang dia buat sendu dia terlihat menundukkan lehernya.
"Boleh silahkan, Nak," Alexander memberikan izin.
Mutiara tidak sedikitpun curiga pasalnya dia juga sudah tahu bahwa Vanessa tidak mungkin melakukan hal-hal yang tidak-tidak, dia percaya kepada wanita yang satu ini selain dengan sisi kecantikan dia pasti akan memiliki seribu satu rahasia yang unik.
Sementara itu ketika Vanessa membersihkan dapur, dengan nyanyian kecil yang selalu menjadi ciri khasnya ketika bekerja. Tiba-tiba nada suaranya berhenti seiring dengan waktu yang dia lewati dan juga suara pintu yang terbuka dapat menghentikan aktivitas yang dia lakukan.
"Wah kenapa, Mbak Vanessa datang ke sini? ini bukanlah tempat yang baik untuk anda, lebih baik anda segera kembali saya akan mengantarkan apa keperluan dari, Mbak," dia berbicara seakan menyindir habis-habisan nyawa dari Vanessa.
Vanessa terdiam, dia bahkan hanya bisa melipat tangan di atas d**a dengan pandangan yang beralih ke tempat lain.