PELANGI

1066 Words
Ini bukan sekedar gurauan saja, melainkan sedikit persepsi akan masalah cinta antara Zee, Vanessa dan juga Miracle, mereka terlihat seperti mentari dikelilingi orbit-orbiy yang menyesuaikan, nada suara yang berdesis jelas saja menjadi salah satu pertanyaan untuk kudua orang tua yang berada di ruang tamu. “Ada apa dengan mereka berdua? Atau bertiga kah?”tanyanya ibu Miracle dengan nada suara yang sedikit bingung. Semenjak Zee mengatakan bahwa dia akan membantu pesta dari Miracle dan juga Vanessa nantinya jikalau mereka ingin menikah, sudah jelas terlihat bahwa Zee sama sekali tidak mau terlihat lebih down, dia pandai untuk semua ini, akal-akalan yang dia ciptakan adalah salah satu keunikan yang membuat mentalnya kuat seperti baja ini. Beberapa mingggu yang lalu,mereka jalan bersama dengan Zee yang di bawa ke tempat yang rame, sepi seperti taman dan juga maal, yah ini sama sekali tidak ada apa-apanya untuk Vanessa dia hanya mengiginkan cinta yang tulus dari Miracle seorang tidak lebih dan tidak kurang. Kalau untuk kekayaaan? Dia bahkan sudah hidup mewah sedari lahir dan tumbuh berkembang, dan menjadi dewasa saat seperti ini, dia mencoba memberikan apa yang dia punya untuk semua yang dia miliki. Saat I ni Miracle benar-benar pusing pasalnya dia selalu bersama Zee, pusing bukan karena dia dekat dengan Zee melainkan dia hanya sedikit risih saat melihat bahwa Zee mendapatkan sambungan dari seseorang yang dia berikan nama panggilan Reyhan. Saat ini juga mereka bersama menuju Maal, Miracle mengajak Vanessa dan juga Zee pergi berbelanja karena ini hari sabtu dan dia bebas untuk tidak pergi ke kantor, yah dia sesuka hatipun. “Siapa lagi itu,Zee?” dengan nada suara yang terdengarkan sangat bengis, lelaki itu menyetir mobilnya dan sesekali menatap ke samping tempat duduk Zee. Dia menganguk kecil dan membulatkan bibirnya, pikirnya ini akan lebih seru jika ada sebuah adegan yang panas, dan membuat wajahnya yang putih sekarang berubah menjadi pucat ini bahkan lebih baik. Dia mengarahkan ponselnya kea rah Miracle, dan jelas saja raut wajah darfi lelaki itu seketika muram dia hanya bisa menstandarkan semua perasaaan yang dia miliki. “Bolehkan saya mengangkat sambungan ini?” “Angkat saja, tidak apa kalau kamu tidak lagi menghargai saya sebagai Tuan mu di sini maka kamu lakukan apa yang menurut kamu baik, itu mungkin membuat perasaan kamu teenang,”ucapnya dengan nada tanpa babibu dan bersiterang di depan wanita yangb sudah tangannya ingin mengangkat sambungan itu. Sekarang bukan waktunya akan masalah menghargai ataupun tidak namun kita lihat saja apakah Zee akan berbuat yang semestinya atau tidak sekalipun. Di sisi lain kini hari yang dia nantikan telah tibawanita dengan dress yang dia kenakan berwarna putih menjadi salah satu warna yang di sukai oleh Miracle, hari ini hari yang special dengan nada suara yang dia ayun-ayunkan dia sedikit bercakap dengan dirinya sendiri di depan cermin yang besar dan juga lebar itu. “Apakah kamu tidak melihat bagaimana cantiknya aku memakai gaun ini”dia berputar dan melihat di depan kaca itu wajahnya yang sudah berbalut dengan make-up natural. “Yah aku memang lebih dari bidadari yang turun dari khayangan,”gumamnya menyemangati dirinya sendiri lebih dari itu dia kembali tertawa kecil lagi dan menutup mulut tidak percaya ketika beberapa kali memutar balikkan badannya yang memang sangat cantic elok itu. Mereka kembali membuat sorot mata dari Zee semakin malas untuk memutar, siapa lagi kalau bukan sepasang kekasih yang tiba-tiba saja meminta kepada dirinya untuk mengambil foto, dia mengucapkan satu dua tiga dan mengambil foto, entah apakah itu dari tatapan dan juga hati yang ikhlas jelas-jelas mereka berdua tidak mengetahui itu, mereka hanya tertawa dan melihat foto yang sudah di ambil oleh Zee. “Hai,”nada suara itu timbul seiring raut wajah kesal dari Zee seketika sirna dan berubah menjadi hal yang paling cerah sekali. Pandangan bola mata sepasang kekasih tadi kini melotot karena siapa yang mereka lihat adalah lelaki yang tak kalah tampan dengan ketampanan yang di miliki oleh Miracle seorang,wajah Zee cerah tetapi tidak untuk Miracle dia sedikit muream dan mencoba mengalihkan pandangan ke sembarang arah, tampaknya dia belum mengenali siapa gerangan tadi, dan untuk Vanessa dia sedikit terkejut tadinya namun setelah mengingat bahwa dia akan menjadi calon menantu daei keluarga yang besar dia memalingkan wajahnya. “Apakah kamu bolos bekerja sehingga saat ini bisa sampai di tempat yang aku beritahu tadi?”tanya Zee datang kea rah Reyhan dengan langkah yang sedikit melompat-lompat. Dan untuk yang tadi dia memang sengaja untuk mengangkat sambungan itu di depan Miracle dia hanya ingin membuat Miracle sangat cemburu, dan juga cemburu satu hal yang dia lakukan dia harus membalaskan semua dendam yang selama ini dia tahan-tahan. “Tidak, aku bahkan tidak anak sekolah sehingga bolos, aku pemimpin di sana jadi bebas sangat untukku keluar masuk,”{jelasnya dengan mengucek pelan rambut Zee. Ingin rasanya saat ini juga Zee menendang keluar mereka berdua, bisa-bisanya tanpa ada rasa malu merela melakukan hal yang romantic, tetapi dia tidak bergerak melainkan hanya dengan deheman yang keras dan juga suarnya seketika memanggil Vanessa agar datang ke arahnya. “hmmm, tolong datang ke sini sayang,” wah dia benar-benar mengajak Zee untuk beradu romantic. Zee bukan wanita yang bodoh dalam masalah percintaan bahkan dia melakukan hal yang lebih yang terjadi di luar nalar mereka berdua, saat Vanessa bertanya kepada dirinya. “Apakah dia pembantu kamu Tuan?”tanya Vanessa membuat Zee tertawa dalam hitungan waktu yang sangat singat. Melihat itu jelas-jelas membuat kedua lelaki itu sedikit heran, mereka saling tatap menatap dalam hitungan detik, tetapi satu detik kemudian mereka saling menjatuhkan tatapan yang sangat merah itu. “Apakah saya salah bertanya Zee?”nada yang angkuh menjadi salah satu ciri khas dari sosok yang bernama Vanessa entah juga dia saat ini menatap wajah dari kedua orang itu secara berganti-ganti. “Tidak, hanya saja bahasa kamu dalam menilai aku terlalu rendah sekali, sampai-sampai saya yang sebagai pembantupun merasa enggan untuk menjawab,”jujurnya dan menahan tawa kembali, dia melakukan siasat yang dapat membunuh mentah-mentah di tempat Vanessa. Seketika Miracle terdiam dia juga tidak tahu apa maksud dari Zee seorang namun untuk yang satu frekuensi dengan dirinya Reyhan tentunya tahu apa maksudnya, dengan suara yang dia buka mampu membuat Miracle dan juga Vanessa terdiam di tempat dengan ponsel yang berada pada gengaman masing-masing. “Apakah ini Tuan dan Nyonya yang berperilaku seperti yang kamu ceritakan saat malam kita bersama di café?” Deg, jantung berdegup lima kali lebih cepat dari sebelumnya, mata dari Miracle segera memandang dengan jelas tubuh dan juga mata dari Reyhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD