MULAI JAHAT

1018 Words
Ini adalah saat-saat yang sangat buruk pada wanita yang saat ini telah memungut pecahan kaca yang terlihat seperti kain, dia menangis dalam diam, meratapi dirinya dan mencoba tetap menahan semuanya. *** "Apakah kamu rasa saat ini dia berbeda dari yang lain?" mulut Mutiara kali ini terbuka dengan sedikit,"iya, dia terlihat sangatlah baik, lihat saja dari pergerakannya," ucap lelaki itu sembari melihat wajah dari wanita yang sedang mengutip dengan pelan dan penuh perhatian kepada Zee. Zee menatap ke depan dia mencoba tetap tabah, dengan semua keyakinan yang dia yakini, dia merasa bahwa akan ada marah bahaya yang akan lebih berat dari hal ini. "Tidak, kamu pergi saja, kamu lebih baik duduk," ucapnya dengan seutas senyum yang dia paksakan,"baiklah," ucap wanita itu dengan baik. Setelah saat itu, Miracle juga menatap dengan bangga wanita itu, dia bahkan meminta kepada wanita itu agar dia duduk saja, dan benar saja ini adalah hal yang sangat penting untuk Vanessa, dia seakan sudah bisa mendapatkan hati dari kedua orang tua itu, dia juga cantik, feminim, dan jangan lupa untuk saat ini dia bekerja sebagai sekretaris dari Miracle, ini akan menjadi pendukung untuk bisa mendapatkan hati dari mertua. "Siapakah nama kamu?" tanya Mutiara dia memberikan senyum untuk pertama kali kepada orang yang baru saja dia kenal,"Vanessa, ibu," mulutnya terbentuk mengucapkan namanya,"nama yang indah," dia memuji wanita itu," trimakasih," singkat tapu padat, hal ini adalah yang terbaik. Mereka berbincang-bincang, saat ini dengan efek yang sangat besar bagi hati wanita yang berada di sofa dengan deretan gigi yang tersenyum, dia mampu menjadi hal yang besar. Tidak di sangka, dia menutup mulutnya tidak berdaya, dan menangis sejadi-jadinya, ibunya yang melihat di seberang sana, juga ikut merasakan apa yang di rasakan oleh putrinya, sudah dia ketahui sejak lama, bahwa putrinya menaruh perasaaan untuk majikan, apa hal yang harus dia lakukan, ini terlalu perih, dan yang pasti, hatinya terasa di tusuk oleh ribuan belati. Wajahnya penuh dengan kesedihan yang sangat membara, kakinya dia goyangkan ke kanan dan ke kiri, dia juga merasa bodoh, kenapa seperti ini? bahkan dia belum mengetahui siapa dan apa maksud kedatangan dari wanita itu, tetapi hanya melihat dia saja yang seperti berpendidikan hal itu benar menunjukkan bahwa dia adalah wanitanya. "Arg... jangan menangis, kenapa kamu bodoh, dia bukan siapa-siapa kamu," dia tersenyum memaksakan,"argg.. kenapa, kenapa?" dia berteriak di dalam kamarnya. Segera dia mencoba untuk menarik napas, ini terlalu sakit bagi dirinya, di permainkan tetapi tidak mengajak untuk main. Ternyata rasanya seperti ini mencintai dalam bayangan, hanya bisa memeluk dia dalam jauh, bahkan ini lebih sakit dari mencintai dalam diam, mengihklaskan adalah hal yang sangat luar biasa, dan mencoba untuk tetap tenang di depan orang yang kita sukai, adalah hal yang sangat baik. Dia berdiri dan berjanji agar tetap kuat, dan tepat dia berdiri namanya telah di panggil, dia mencoba untuk tetap sangat dan terlihat biasa-biasa saja di depan Miracle dan juga wanita itu. Miracle terdiam di tengah rawa yang mengiringi ruangan itu, dia melihat kedatangan dari Zee dengan wajah yang sangat cemerlang, dan lebih tepatnya ibunya juga heran mengapa wajah putrinya bisa berubah secepat itu. Maya berjalan di seberang putrinya, dia seakan tidak tahu apa yang menjadi persoalan dari wanita itu, dia terlihat senang dan menjauhkan segala pikiran buruk tentang putrinya," hai, apakah kamu cemburu dengan dia?" dia ibunya dan mencuil pipinya yang sangat gembul. "Argg... kenapa ibu seperti ini, aku tida mempunyai perasaan kepada dia," benar saja Zee sangat pandai untuk berakting, dia membuat dirinya sendiri untuk terlihat senang dan bahagia. Ibunya berjalan satu langkah lagi," Arg.. Benarkan?" ibunya mempraktekkan gaya yang tidak percaya. Di tengah mereka bercanda, Mutiara menganggu hal itu, dia tidak mau melihat Zee tertawa tiada beban, dia bahkan tidak mau melihat itu,"Zee, apakah kamu bodoh dan juga tuli," ucapnya benar-benar sangat marah, Miracle heran. "Apa?" Miracle membuka mulut tidak percaya,"kenapa dengan Tuan?" tanya Vanessa sembari melihat ke arah wajah Miracle. Miracle memperbaiki sikapnya,"tidak, itu hanya bawaan kurang tidur saja," ucap Miracle membuka senyum kaku, karena dia tidak mau membuka hatinya di depan Vanessa. Vanessa mengangguk kecil, dia juga menggaruk tengkuknya yang tidak gatel sama sekali. Saat makanan sudah terpapar dengan baik di depan mereka semua, mata Miracle menuju ke arah Vanessa, dan itu membuat hati dari Zee sedikit miris, tetapi yang pasti dia kuat, dia bisa menahan rasa sakit itu. "Apakah perlu saya tuangkan?" tanyanya manis dan heran juga,"baiklah, kelihatannya anda terlihat sangat semangat," dia memberikan air teh itu,"sepertinya anda sangat peduli kepada saya, sampai-sampai saya semangat dan tidak semangat anda memperhatikan setiap hal yang saya lakukan," dia senang membuat dia sedikit bingung,"apakah kalian berdua sangat dekat?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah Vanessa. "Seperti yang anda lihat?" Mulutnya bagaikan jarum yang sangat tajam,"waw, apakah kamu adalah seorang yang penting, kamu hanyalah seorang pembantu," sirik Mutiara jelas-jelas hal itu terlihat sangat mendukung Vanessa. Karena Vanessa juga melihat hal itu, dia tidak mau ribut, dia menenangkan seperti kain sutera yang lembut,"tidak apa-apa ibu, kita lakukan saja hal yang terbaik, apakah ini suka berbelanja?" yah sekarang Mutiara masuk dalam daftar Vanessa,"berbelanja, apakah kamu seorang penyihir, atau penguntit, kamu benar tahu apa kesukaan ini," tawanya seakan membuat senang Vanessa dan tawa yang satu lagi jelas membuat Zee merasa ingin mual. Zee berbalik badan, dan saat itu Mutiara mengatakan satu hal yang sangat menyakitkan, baik untuk Zee dan untuk Maya,"sebagai pembantu kiranya, bekerjalah sebagai pembantu, jangan bekerja sebagai wanita yang menggoda anak dari majikannya," duar, entah ini akan membuat Maya dan Zee merubah nasib atau sebaliknya. Zee sempat berhenti, dia tertawa kecil dan sebaliknya dia juga menahan amarah, tangannya dia kepal kuat dan senyumnya telah berbuah menjadi smirk. Ekspresi dari Vanessa karena dia baru saja tiba, dan baru mengenal rumah ini, dia bertanya-tanya dalam hati. Sedangkan Miracle, dia benci kalau ibunya mengatakan hal seperti itu, dia juga tidak ingin kalau ibunya mengatakan hal itu, untuk ayahnya ekspresi yang sama dengan Miracle. "Apakah ibu ada masalah dengan Zee?" mulut Miracle seakan tidak terima dengan perkataan ibunya tadi,"tidak, hanya saja dia yang cari masalah," bibir Mutiara seakan menjadi jahat dalam seketika. Zee yang mendengarkan hal itu, menenangkan hati dan juga pikirannya, dia tahu pasti Mutiara benci kepada dirinya hanya karena hal yang mereka bicarakan dan lihat juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD