VANESSA SENANG

1028 Words
Gerangan apa ini, tetapi yang pasti dia terlampau senang sekali. Yah siapa lagi kalau bukan wanita yang sudah lengkap dengan kemeja dan juga stoking yang dia kenakan, hak tinggi yang sangat menarik perhatian, di depan cermin dia melihat dirinya yang sangat cantik, dia juga semakin senang saat melihat bahwa ada satu pesan yang membuat dia terbang. [Aku akan menjemput kamu dan kita akan pergi ke restoran nanti malam] Hanya dengan kalimat itu saja sudah bisa membuat Vanessa terbang, apalagi kalau dia melihat ada pesan lainnya, bisa-bisa dirinya terbang ke langit ke tujuh, tetapi satu hal yang dia inginkan, dia tidak ingin terjadi kenangan buruk, dia juga tidak ingin melihat wajah lelaki yang menghancurkan dirinya dan juga sekolahnya. "Apakah ada hal yang membuat kamu terlihat bersedih Vanessa?" dia bergumam kepada dirinya sendiri sembari menyelipkan rambutnya di belakang daun telinganya. "Benar saja, kamu tida boleh menyerah rasanya itu adalah hal yang tidak mungkin," dia bertanya sembari menatap ke arah belakang. Beberapa menit kemudian di dalam kamarnya dia sudah tambah cantik dengan liptint yang kali ini menjadi satu hal yang membuat dirinya bersinar, dia menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati dan juga penuh kelembutan. Di sambut dengan ibu dan juga ayahnya dua juga mendapatkan perhatian dan juga pujian yang sangat besar bagi Vanessa. "Wow, apakah putri ayah yabg satu ini akan menjadi model ke Korea sana?" tanyanya kali ini menatap kagum ke arah Vanessa. Dia hanya bisa tersenyum dengan sendirinya dan menerima pujian itu,"apakah anak ibu akan pergi meninggalkan kami?" tanyanya sembari tersenyum mendapati putrinya dengan tulus. Di sisi lain tepatnya rumah yang terlihat seperti mainson utu, lelaki yang berada di depan cermin dia mengeratkan dasi yang ada pada lehernya, dan merapikan pergelangan tangannya yang ada jam tangan. Dia tidak terlihat seperti Miracle, dan memang iya, itu adalah lelaki yang sepertinya menjadi misteri selama ini, menjadi lelaki yang akan menjadi sebuah alasan kenapa Vanessa seperti ini. Setidaknya dia pernah mengisi hati dari wanita yang sudah memiliki kekasih, dia juga suda pernah merasakan pelukan serta ciuman dari wanita pertamanya. Tiba-tiba ada yang membuka pintunya dan berkata seperti ini,"Tuan, apakah kita aka pergi ke tempat biasa? atau saya saja yang pergi?" tanyanya sembari menundukkan kepala dengan sopan. "Kita berdua," mengatakan hal itu adalah satu kata yang bisa di syukuri oleh lelaki itu, dan pasalnya dia memang adalah supir. Terlihat dia sangatlah kata, mungkin ini akan menjadi salah satu tandingan dari Miracle, kalau memang mereka akan bertemu. Dan kalian tahu? supir itu sangatlah bersyukur ketika sudah menutup pintu dia legah karena saat ini bisa mendapatkan suara dari Tuannya, kalau tidak dia pasti akan bingung untuk melakukan sesuatu. "Kenapa dengan semua ini?" tanyanya datang membuka pintu dari wanita yang masih terlelap atau pura-pura terlelap itu. "Apakah dia sedang tidur?" Beberapa deretan pertanyaan menjadi satu hak yang membuat Zee benar-benar tidak tahu entah suara siapa itu, namun di satu sisi dia ingin juga tertidur, entah ini adalah reaksi dari beberapa pil obat yang dia minum ataupun apa itu. "Apakah kamu sedang tidur?" Wanita itu mengoyangkan bahu putrinya dan melihat ternyata benar saat ini putrinya sedang tertidur. Dari rumah tadi, dia berangkat mencoba untuk memastikan keadaan dari putrinya, pasti belakangan ini tidak ada yang menemani putrinya, kesepian dan juga bau formalin yang menemani dirinya membuat Maya sangatlah cemas sekali. Dan benar saja dia pergi karena pekerjaan yang dia punya sudah selesai, dua akhirnya memutuskan untuk pergi. Sepuluh menit kemudian dia telah sampai ke tempat di mana dia mengiginkan putrinya, yaitu rumah sakit. Zee yang sudah merasa berada di alam bawah sadar, kali ini dia sudah tidak mengeluarkan reaksi apapun itu. Ketika Mata yang ingin pergi ke kamar kecil dia mendapati ada seorang lelaki yang datang dengan jubah putih yang dia kenakan dan juga kacamata putih polos yang terlihat dari luar. Dia segera mengejar Dokter itu dan bertanya kapan putrinya yang malang ini bisa pulang,"Dokter, kapan putri saya bisa pulih dan kembali ke rumah kami," dia bertanya seolah-olah sudah mempunyai rumah yang sah. Dokter itu hanyalah diam dan melihat ke arah wanita yang menutup mata itu, dan satu menit kemudian dia hanya pergi tanpa menghiraukan wanita itu. Sedangkan untuk Maya dia sangat kesal dengan pelayanan yang ada di rumah sakit ini, katanya rumah sakit ini adalah rumah sakit yang sangat berkelas namun apa buktinya saat ini dia terlihat seperti sampah di tengah-tengah sampah saja. "Kenapa dengan semua orang yang aku temui, baru dia saja yang berbuat seperti ini kepada kami? apakah dia mengetahui bahwa kami adalah pembantu di rumah orang kaya!" Seandainya ada orang yang mendengarkan hal itu mungkin dia akan tertawaan, ohe tidak, ternyata di sisi sana petugas yang memeriksa rekaman CCTV itu tertawa tak kuasa menahan gairah kelucuan yang di lemparkan oleh wanita malang itu. Dia membuat temannya yang berada di samping dengan pekerjaan yang lain, seketika merinding mendengarkan tawa yang khas itu. "Apakah ada sesuatu ataupun setan yang datang menganggu anda di siang hari yang sangat terik ini?" sindirnya karena sekarang siang hari tetapi matahari tidak tampak. Yah, saat ini dia mendapatkan pandangan dari orang yang membuat tawanya berhenti, dia juga mendapatkan beberapa tonjokan yang membuat badannya seketika memar, dia salah mengatakan seperti ini di depan orang yang sedang tertawa. "Apakah kamu sudah bangun?" tidak terasa, ketika dia tidak menginginkan malam, malam begitu cepat datang membuat dia ingin sekali rasanya pergi dari rumah sakit ini. "Apakah aku tertidur satu hari ini ibu?" Zee menatap ke balkon dan benar saja, dia mendapatkan malam dan juga bintang sudah bersatu. "Iya, kamu sangatlah nyenyak membuat ibunya khawatir," dia menghapus beberapa kotoran yang berada pada kening putrinya. Tidak ada percakapan sekecil apapun terdapat pada mereka, melainkan hanyalah pandangan perawat yang datang memberikan makanan pada Zee. Ternyata di sisi lain Dokter itu berdiri dengan membelakangi pintu dia menyelipkan tangannya pada saku celananya yang terlihat bagus itu. Seseorang perawat datang mengetuk pintunya, dia tidak ingin melihat siapa itu namun yang pasti dia tetap berada pada pendiriannya, yaitu menatap ke depan, namun dengan apa yang dikatakan oleh perawat ini membuatnya sedikit merasa tertantang. "Pasien atas nama Zee, tadi meminta saya untuk bertanya kepada Bapak, kapan dia pulang, rasanya dia ingin pulang dan pergi dari rumah sakit ini, katanya sepeti itu, Dok," jelaskan wanita itu seperti apa yang tadi di katakan oleh Zee.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD