Tidak ingin hancur kalau seperti ini jadinya.
Air mata masih terus mengalir diiringi dengan nada sesenggukan yang keluar dari mulut wanita yang sudah merasa lemah itu, entah mengapa tiba-tiba ketika dia mendapatkan pesan itu rasanya sekujur tubuhnya mendadak lemas. Dia menatap ke arah bawah, dan yah balkon adalah tempat dia untuk menenangkan pikiran saat ini juga.
Ibunya yang berada di luar tidak bisa berbuat apa-apa, hanya karena satu lembar papan yang di jadikan sebagai pintu dan sekaligus pembatas bagi kamar wanita yang di balkon itu, dia menatap dengan sendu semoga cepat datang hal yang membuat dia senang.
Miracle yang baru saja tiba segera di persilahkan oleh lelaki yang kekar tubuhnya dengan pakaian hitam semua, membuka pintu rumah untuk Miracle, dia berlari ke depan dengan lurus, sepertinya sudah menjadi hal yang serius yang dia alami saat ini.
"Apakah terjadi sesuatu kepada Vanessa ibu?" dia terlihat kentara saat mendapati ibu Vanessa yang sudah takut di depan pintu dengan bibir yang mulai pucat dan wajah yang terlihat sudah ingin memerah.
"Kenapa kamu sangatlah lama," ucapnya sembari memeluk lelaki itu,"kenapa? apakah terjadi sesuatu kepada dia?" pertanyaan yang sama kali ini di utarakan oleh Miracle.
Ibu Vanessa segera menatap ke arah depan pintu itu, sembari dia menunjuk gerakan tangannya segera diikuti oleh mata Miracle, segera Miracle mencoba untuk mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga namun naasnya tidak ada yang bisa dia lakukan.
Bruk, itu adalah bunyi badan dari Miracle dia mendorong dengan sekuat tenaga tetapi untuk hitungan satu dan dua tidak ada perusahaan, dia melepaskan jas hitam yang tadinya dia kenakan dan menatap ke arah depan dengan penuh percaya diri.
"Kali ini pasti bisa," dia bergumam dan kembali mendapatkan apa yang dia inginkan.
Setelah pintu terbuka, terlihat keadaan kamar dari Vanessa sangatlah sepi, entah apa yang terjadi, dan di mana sekarang ini Vanessa, raut kekhawatiran tambah besar lagi saat melihat jendela besar yang berada di balkon itu terbuka besar.
"Ohw tidak," ibunya segera menarik napas panjang dengan tangannya yang kali ini menjadi tuntutan tempat dia berdiri.
"Jangan panik ibu," ucapnya seketika pandangan matanya tertuju ke arah wanita yang saat ini berada di dalam kamar mandi dengan heandsheat yang dia pakai.
Astaga, ini semua adalah bagian rencana atau memang ini adalah kejadian yang sebenarnya, apakah ini adalah labirin, apakah ini adalah permainan yang sedang tren, ini semua tidak benar. Segera kesadaran dari wanita yang hampir pingsan tadi terbuka lagi matanya, dia menatap ke arah kaki panjang dengan setelah gamis putih, dia rasa dia sudah berada di dalam sorga.
"Indahnya alam ini," dia bergumam tanpa kesadaran diri.
"Apakah dia adalah malaikat yang menanti aku, ini adalah surga?" ucapnya terpotong kala mendengar dan merasakan bahunya di goyangkan oleh seseorang.
"Apakah ibu bercanda! ini kamar saya, Ibu kenapa dengan sorga?" tanyakan Vanessa melihat ibunya dengan tatapan yang bingung.
Ibunya sadar, dia segera berdiri dan mencoba menetralkan sesuatu, di rapikan nya pakaiannya dan mengatur posisi berdiri dia sekarang.
Vanessa terlihat seperti tidak melakukan kesalahan apa-apa, lantas Miracle ingin bertanya sebenarnya apa yang terjadi, mungkin saat ini hal yang dia lakukan adalah pindah dari kamar wanita itu dan membicarakan apa yang ada di dalam pikirannya ke ruang tengah sana.
Wajahnya segera berubah menjadi seram, bahkan ini yang pertama kalinya di lihat oleh Vanessa dan juga ibunya,"saya ingin penjelasan dari kalian berdua," ucapnya melangkahkan kaki dan pergi begitu saja.
Beberapa menit setelah kepergian dari Miracle ke ruang tengah, wajah dari Ibu Vanessa dan juga Vanessa seketika berubah menjadi pucat, apakah ada hal yang sangat mereka takutkan,"kenapa tadi kamu menangis?" tanya ibunya berusaha untuk mencairkan suasana yang tadinya sangatlah dingin.
"Maaf," satu kata keluar dari mulut dan menunduk kepalanya.
"Apakah kamu tahu? hanya karena ulah yang kamu lakukan, ibu sampai khawatir kamu menangis dan menjerit-jerit dan jangan lupa sekali lagi jangan menutup pintu," geram ibunya dengan bola mata yang saat itu sangatlah tajam.
Tiba saatnya dengan suasana yang tambah seram, Miracle memang adalah pemimpin yang sangat setia, dia hanya ingin menyelesaikan semua masalah yang tidak ada batasnya ini, dengan kedua wanita yang sudah duduk di depannya dengan kepala yang menunduk.
"Apakah kamu ingin mengatakan sesuatu, Nak?"
Dengan nada yang tidak bersalah, wanita itu bertanya dan masih berani menatap wajah Miracle, dia habis pikir dan seketika meluruskan pandangannya ke arah depan, waktunya adalah hal yang paling berharga, apakah di terlihat seperti pecundang, yang bisa di permainkan?
"Apakah ibu mempunyai waktu yang tepat untuk semua ini? saya tadi hampir saja kehilangan kendali saat mendengar dia ingin melakukan hal bodoh," dia berdecak kesal sembari menatap mata Vanessa yang sempat melihat dirinya.
"Apakah, saya meminta maaf itu semua ternyata hanyalah halusinasi ibu," entah dia percaya atau tidak namun mulai saat ini sudah ada keraguan pada hati Miracle.
"Apakah kamu juga ingin menghabiskan waktu bersama dengan tangis yang konyol itu?" geram dia sembari menatap kali ini ke arah Vanessa.
Vanessa tidak bisa berbuat apa-apa dia jelas salah, di melakukan semua ini karena rasa cemburu sudah menguasai hatinya, dia mencintai lelaki itu, dia tidak ingin kehilangan lelaki untuk yang kedua kalinya.
Aur matanya mengalir dan mulutnya sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dan yang pasti kali ini Miracle tidak bisa berbuat apa-apa kecuali untuk memeluk dan menenangkan wanita itu.
"Baiklah aku meminta maaf untuk semua ini," dia mencium kening dari wanita itu dengan tenang sehingga membuat perasaan Vanessa kembali lagi hangat.
Mereka berdua terlihat sing menenangkan hingga ibu Vanessa memutuskan untuk meninggalkan kedua belah pihak yang sedang dilanda asmara itu.
Jam ternyata tidak boleh bohong, dia sangat jujur terlihat jelas untuk Zee yang masih mencoba agar jam itu berubah dengan cepat, sehingga dia boleh pulang dari rumah sakit yang penuh dengan segala kebencian ini.
Dia menatap ke depan tepatnya ke arah jam yang berdentang, dia juga tertawa miris dan menoleh ke samping ternyata lelaki yang memperdulikan dirinya beberapa hari yang lalu saat kecelakaan saat ini tidak berada di sampingnya.
"Untuk apa aku mengharapkan lelaki yang memang bukan di takdirkan untukku?" dia menoleh dan mencoba untuk menghapus bekas aliran mata yang entah sejak kapan hadir itu.
Dia mencoba menahan air mata tetapi sungguh dan sungguh sangat sulit, dia menarik napas dalam ketika merasakan ada gerakan yang akan datang membuka gang pintunya sendiri.