Ibunya terlihat begitu bersalah saat menanyakan hal yang seperti itu kepada dirinya, jelas-jelas Zee hanyalah mengingat bahwa setelah dia sadar dia hanya melihat cahaya lampu dan juga suara yang datang menyapa dirinya.
"Apakah malam ibu tidak tenang, sehingga ibu bertanya demikian kepada diriku?" Zee sedikit marah, pasalnya pertanyaan itu rasanya sangatlah membuat dia muak untuk semua ini.
"Ahh, ibu tahu kenapa kamu marah," ucap ibunya sedikit memberikan kode dengan tunjukan tangan itu.
"Apakah itu ibu?" tanyanya sembari melunturkan raut kesal tadi.
Mereka berdua semakin asyik rasanya, sebenarnya Maya mengatakan hal seperti itu hanya karena dia tidak mau membuat putrinya merasa sunyi, dia hanya ingin merubah suasana, memang benar ibunya membuat mentalnya habis-habisan.
Setelah pagi datang, Miracle datang dari rumah menuju rumah sakit pasalnya dia mendengarkan bahwa Zee telah sadar, ini adalah berita yang sangat baik untuk dirinya, maka dari itu dia memutuskan untuk langsung pergi saja ke rumah sakit tanpa pergi menjemput calon tunangannya itu.
Mutiara yang melihat pergerakan dari Miracle, dia segera mencegah, bagaimana mungkin dia menjemput pembantu namun tidak melihat kondisi dari calon tunangannya?
"Apakah kamu tidak berpikir Miracle, ibu tahu pasti saat ini kamu berencana akan menjemput pembantu yang tidak tahu malu itu bukan," wanita itu menunjuk ke arah luar sepertinya dia sedang menghardik Zee yang sekarang masih tertidur dengan pulasnya.
Miracle sudah salah, selama ini dia hanya diam, dia tidak tahu kenapa dengan emosi ibunya yang selalu saja tidak beraturan, dia berjalan dan mendekat ke arah ibunya, serta menatap ibunya dengan tatapan tajam.
Tatapan itu jelas saja membuat jantung Mutiara berdegup dua kali lebih cepat, pasalnya inj adalah hari yang pertama setelah dia mempunyai Miracle dengan pandangan yang sangat membunuhnya.
"Apakah yang akan ibu lakukan jika saya adalah pelaku dari kecelakaan Zee?" dia melemparkan pertanyaan itu membuat terdiam Mutiara dengan seribu bahasa
Setelah menunggu untuk beberapa menit, kali ini Mutiara mendapatkan ide, dengan cepatnya dia mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya,"apakah kamu bodoh, saya akan memberikan uang kepada dia, karena mereka itu terlalu beda level dengan kita," kalimat sindiran itu membuat Miracle semakin merasakan rasa sakit yang mendalam.
Ekspresi Miracle berubah, dia hanya ingin memastikan sekali lagi ada apa dengan sikap ibunya yang saat ini.
"Aku mau ini jujur," dia mengatakan itu dengan suara yang sangat keras, sehingga beberapa pembantu yang berada di dalam dapur keluar untuk memastikan saja.
"Apa? apakah kamu sekarang sudah bisa melawan ibumu hanya karena wanita itu?"
"Saya bingung kenapa ibu selalu bersikap yang tidak adil kepada Zee, kenapa ibu selalu membuat sensasi di antara kami, aku mohon jangan seperti ini ibu," pinta Miracle kali ini melepaskan dengan sembarangan dasi yang tadinya telah dia rapikan.
Mutiara terdiam, berarti selama ini anaknya juga mempunyai perasaan kepada pembantu itu, pikirannya sedang buntu, siapa yang bisa menolong dirinya, dia segera menatap ke depan tetapi tatapan itu sedikit rabun tidak ada yang bisa Mura ke lakukan kecuali mencoba untuk menarik kembali napasnya.
"Ahh, kamu benar apakah kamu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan dirinya, sehingga ibu perlu untuk menjaga hubungan kalian?"
"Apakah ibu pernah memaksa kalian untuk berjauhan?"
Lanjut Mutiara dengan bola mata yang kali ini sudah hampir keluar,"oke, saya paham tetapi dari cara ibu memperlakukan mereka, ibu salah, semua perlakuan ibu salah di mata Miracle," dia membentak ibunya membuat Mutiaranya hampir habis pikir dengan semua ini.
Beberapa jam telah berlalu dan benar saja untuk saat ini sosok Zee sedang tertawa, kalian tahu kenapa? karena lelaki yang telah membuat dia seperti ini telah berada di depannya dan juga menghibur dirinya.
Lelaki yang mengenakan seragam hitam, itu adalah supir dari Miracle, dan karena itu jelas tanpa sepengetahuan dari Miracle. Damar, iya namanya adalah Damar dia datang ke rumah sakit dengan oleh-oleh yang ada di tangannya, dengan senyum dan rasa bersalah dia meminta maaf kepada Zee.
"Saya meminta maaf karena saya anda jadi begini," Damar meminta maaf dengan setulus hati terlihat jelas dari ekspresi yang dia berikan.
Zee tentunya merasa geli, dia tertawa sedikit dan membuat Damar sedikit heran, apakah ada yang salah dengan cara dia meminta maaf atau apa ada hal lain yang lucu menurut dirinya.
"Kenapa kamu tertawa, apakah wajah saya sangatlah lucu sehingga kamu membuat saya merasa ketakutan?" tanyanya sembari berdiri dengan wajah yang muram.
"Tidak, kamu hanya polos sekali, saya bahkan tidak mengatakan bahwa ini adalah sepenuhnya salah anda," dengan mengucapkan hal ini tentunya membuat Damar merasa senang, dan dia tidak sengaja memeluk wanita yang masih memakai selang infus kecil itu.
"Sakit," ucapnya sembari mencoba untuk tidak membalas pelukan itu.
Di saat ini pintu dengan gang yang sudah berisikan tangan yang kekar kali ini tambah mencengkram karena melihat apa yang baru saja terjadi, sia-sia semua waktunya datang ke tempat ini hanya untuk melihat pemandangan yang sangat tidak bagus ini.
Badan mereka kembali lagi terpisah, itu sedikit untuk meredakan rasa kesal antara lelaki yang berada di depan pintu itu.
"Lebih baik aku pergi saja, ini tidak baik untuk mentalku lagi pula dia bukan siapa-siapa aku," dia melangkah untuk pergi dari tempat itu dan mencoba untuk menenangkan isi hati dan juga pikirannya.
Di sisi lain kali ini Vanessa benar-benar marah, pasalnya sekarang ini dia baru mendapatkan pesan dari pacarnya yang mengatakan bahwa dirinya datang lebih terlambat.
"Apa yang membuat dia seperti ini, aku di anggap atau tidak?" tangisnya saat ini terduduk lemas di pinggiran kamarnya.
"Kenapa, ada apa dengan kamu?" tanya ibunya mengetuk pintu karena memang benar dia frustasi untuk saat ini.
Tidak ada sahutan sama sekali, dan itu benar-benar membuat ibu Vanessa sedikit takut, dia takut kalau nanti putrinya melakukan hal yang berada di luar pikirannya.
Sementara itu dengan secepat kilat Miracle mendapatkan panggilan dari ibu mertuanya, lebih tepatnya adalah calon mertuanya, suaranya begitu kasar, entah apa yang terjadi namun yang pasti kakinya dan hatinya mengatakan bahwa akan terjadi hal yang sangat buruk.
"Baiklah, saya akan segera datang, jangan biarkan dia sendirian," pesannya mematikan sambungan itu.
Mobil dari Miracle melaju dengan kecepatan tinggi, dia sangat khawatir dengan semua ini, mobilnya juga melewati beberapa mobil, dia seperti gila saja.
Beberapa menit berlalu dan kali ini kakinya melangkah ke arah rumah yang sangat besar itu, dia tahu bahwa Vanessa pasti melakukan hal yang bodoh.