Ini semua adalah awal dari kesengsaraan wanita yang berada di atas ranjang dengan pikiran yang sudah ke mana-mana.
Vanessa kali ini menatap ke luar, udara cukup dingin tidak ada yang bisa dia rasakan kecuali angin yang tadinya menguyur pada seluruh tubuhnya.
"Kenapa kamu belum tidur, Nak?" suara wanita dengan piyama pink datang memegang punggung putrinya,"apakah itu ibu, kenapa ibu belum juga tidur?" dia malah balik bertanya pada wanita itu.
Wanita itu tersenyum sekilas dan kemudian mengelus rambut hitam panjang itu dengan halus sembari berkata,"apakah kamu memikirkan lelaki yang menjadi tunangan mu itu?" dia tersenyum membuat malu anak gadis itu,"siapa yang mengatakan itu?" seperti nada yang tidak terima keluar dari mulut Vanessa.
"Tidak ada yang mengatakan, hanya saja ibu melihat dari wajah kamu ada raut kekhawatiran yang sangat besar," ucapnya dan benar sekali dapat menebak perasaan yang sekarang ini mengelimuti pikiran Vanessa.
Vanessa berjalan satu langkah di depan ibunya dan kemudian membuka suaranya, dia terlihat sangatlah lelah dengan semua ini, di satu sisi dia harus melupakan masa lalu dengan adanya Miracle dan di satu sisi lagi dia bingung apakah dia harus menerima Miracle lelaki dengan ketulusan yang sangat besar itu.
"Aku hanya bingung ibu, kenapa lelaki sebaik Miracle datang ke sampingku," dia menoleh sekilas ke arah ibunya,"apakah ada hal yang tidak mungkin bagi Tuhan?" tanyanya membuat Vanessa terdiam sejenak,"apakah aku salah jika mencintai lelaki yang tulus kepadaku?" dia bertanya sekali lagi,"tidak ada yang salah jika kedua belah pihak memang benar-benar ingin saling menyatukan," dia melemparkan senyum kepercayaan diri kepada anak gadisnya.
Malam menjadi saksi akan kedua manusia itu yang sedang curhat, sepertinya ini menjadi tanda bagi kedua orang itu bahwa semuanya akan menjadi hal yang sangat rumit, di tambah putrinya belum sama sekali melupakan masa lalu.
"Segeralah pergi tidur, ini sudah larut dan lagipula kamu sedang sakit, apakah kamu tidak takut jika nanti di marahi oleh Miracle?" Ibunya membuat Vanessa sedikit merangkak buku kuduknya,"siap ibu bos," dia berlagak seperti seorang pasukan yang sangat takut kepada pemimpinnya.
Di seberang sana, ruangan yang penuh dengan orang berjubah hijau serta bau formalin yang menyeruak ke segala arah, dengan ranjang biru yang sedikit lebar, di atasnya ada seorang wanita yang masih belum sadarkan diri sejak kejadian itu.
"Apakah terjadi sesuatu atas benturan itu, Dok?" tanya Miracle dengan nada kekhawatiran yang khas.
"Apakah kamu takut?" Dokter itu rasanya ingin mengajak lelaki yang sudah setengah mati ingin bermain."apakah saya terlihat sangat bercanda?" tanyanya merubah ekspresinya seketika menjadi seram sekali.
"Yah, dia baik-baik saja, untungnya kalian segera membawanya ke rumah sakit, pendarahan yang terjadi pada keningnya tidak terlalu parah," Dokter itu membuat berita yang bagus pada kedua lelaki yang sempat tadinya sudah merasakan khawatir yang cukup besar.
Flashback
"Apakah dia pingsan?" tanya lelaki itu sembari melihat lumuran darah yang sudah membuat wajah dari Zee tampak lebih berantakan.
"Astaga, ada apa ini, kenapa kamu sangat tidak hati-hati membawa mobil," geram lelaki itu sudah mengepal tangan kuat.
Yah, saat ini Zee memang tidak tahan lagi pikirannya kosong, tubuhnya rasanya seketika menjadi lemas dan yang pasti pandangannya sudah mulai buram, dan perlahan dia mulai tidak sadar lagi.
Mereka segera membawa Zee ke rumah sakit terdekat, kali ini kemeja dari Miracle yang tadinya bersih tanpa ada setitik noda, dan kali ini sudah bercampur lumuran darah dari Zee.
Sesampainya mereka di dalam rumah sakit itu, pihak rumah sakit segera melakukan perawatan nomor satu kepada pasien yang tidak lain adalah Zee itu, dan dengan sigap mereka melakukan hal yang seperti biasa.
"Anda boleh menunggu di luar," ucap perawat lelaki itu menutup pintu dengan rapat-rapat.
"Sial, kenapa dengan kamu," tangannya segera melayang untung saja tidak sempat melayang ke wajah lelaki yang suda ketakutan itu.
"Maafkan saya, Pak saya sungguh minta maaf," dia menundukkan kepala dan berlutut di depan Miracle.
Miracle hanya bisa mendengus napas kesal dan membuang tangannya yang tadi sudah sempat melayang ke udara,dia sekali lagi meminta kepada lelaki itu supaya lebih berhati-hati, karena tidak mungkin dia memukul orang yang tidak sadar di tempat ini, bisa-bisa dirinya di laporkan ke pihak berwajib.
Flashback on
Kini bola mata dari wanita yang sudah satu hari itu tertutup, kembali terbuka, hal yang pertama dia lihat adalah bola lampu yang mengeluarkan warna putih itu, dan yang kedua adalah aroma yang sangat sekali dia hindari, dia tidak ingin mendengarkan apapun untuk saat ini, kecuali untuk melihat wajah ibunya.
"Ibu," dia bergumam tetapi lehernya sungguh sangat susah untuk dia gerakkan ke arah kanan dan juga kiri.
"Apakah kamu sudah sadar, Nak?" benar saja ibunya adalah orang yang baik, ibunya menemani dirinya sampai saat ini telah sadar,"di bagian mana yang sakit, Nak" ucapnya sembari mengecup kening Zee.
Zee sama sekali tidak bisa mengeluarkan ekspresi apapun itu, pasalnya dia benar-benar merasakan sakit di sekujur tubuhnya, lalu dengan sekuat tenaganya dia bertanya kepada ibunya.
"Kenapa saya bisa berada di tempat ini, Ibu?" dengan polos dia bertanya," kamu mengalami sedikit kecelakaan kecil, Nak," ucapnya memeluk dengan erat wanita yang masih merasakan kesakitan itu.
"Sakit," sepenggal kata itu membuat Maya sedikit melepaskan pelukan dari putrinya itu.
Mereka kembali lagi bercakap-cakap dalam dimensi waktu yang cepat, hingga tidak terasa bahwa makan siang telah tiba, Zee sangat lapar sekali tidak tahu mengapa dia hanya lapar tidak lagi memikirkan sesuatu yang lain.
Maya tahu bahwa putrinya kali ini sudah sangat lapar, lihat saja dari cara dia memandang makanan yang berada di tangan perawat itu, segera Maya melakukan tugasnya demi kesembuhan dari putrinya dia bahkan rela untuk melakukan apapun.
Harta Maya yang paling berharga yang ada di dunia ini adalah Zee, hanya wanita dengan taraf sekolah yang masih sedikit, tidak bisa di bandingkan dengan yang lain, dia menatap putrinya dan kemudian hanya bisa tersenyum.
"Ayo, makan Ini adalah kesempatan kamu untuk memakan ini," ucap ibunya dengan satu suapan melayang ke mulut Zee.
Dengan cepat wanita ceria dan juga aktif itu menerimanya dan melahap dengan habis makanan itu, rasanya dia sudah tidak makan selama beberapa hari lamanya. Sehingga sudah jelas terbukti bahwa dirinya sangatlah terlihat menyedihkan sampai saat ini.
"Malammu apakah terasa sangat hening," deg, pertanyaan apa yang saat ini di berikan oleh ibunya, Zee kembali lagi berhenti mengunyah dia melihat ibunya dengan tatapan iba sekaligus penasaran.