Aku tahu tidak ada yang mudah di dunia ini, hanya saja tahu bagaimana caranya untuk mengahadapi semua hal nyatan yang telah terjadi di dunia ini.
Dibawah sinar rembulan, bersamaan dengan malam yang pekat, tidak ada kata menolak untuk melihat betapa sinarnya pencahayaan yang dia tebarkan.
Sesaat ini semua terasa berbeda, aku hanya melamun di bawah sinar rembulan dan juga di atas balkon itu.
Sengaja, aku pergi ke arah balkon, dengan tujuan agar bisa mendaratkan semua kenangan dan juga mendapatkan kesenangan jiwa.
Selaku pemeran utama, bukan figuran, aku terlalu banyak bersemangat menjalani hari yang penuh dengan luka-luka ini.
Sebagai penikmat dalam video 21+, diibaratkan sekarang diriku hanyalah seorang tokoh yang telah bermain panas itu.
Diseberang itu, mataku yang masih sangat pekat ini pengelihatannya, seolah mencoba untuk melihat siapa gerangan yang datang.
Nafasku seolah tidak mau keluar, karena lelaki itu, bagaimana tidak, sungguh sangatlah membuat kesal, karena kalian tahu bukan?
Lelaki itu ialah Miracle, lelaki yang selalu saja membuat keributan, dimana dan kapan saja.
Sesuatu yang mulai terjadi kali ini sangat menggangu, Untung saja tadi, aku tidak menyempatkan waktu untuk menonton video 21+.
Hanya ada keheningan karena Miracle hanya melihat ke atas, entah apa yang berada di atas?
Apakah ada wanita yang lebih manis dariku di atas? sehingga kelopak mata dari Miracle tidak pernah berhenti melihat ke arah atas?
Setelah beberapa menit berlalu, kini tiba saatnya Miracle telah membuka mulut, aku jelas melihatnya dari tatapan dia yang kebetulan mata kami berdua saling bertatapan.
Sekilas malu, hanyalah untuk menyembunyikan rasa malu itu, sungguh sangatlah susah.
"Apa?"
Aku memutuskan untuk bertanya lebih dahulu, karena ini mungkin sulit baginya, setara kan dia tidak ganteng, diriku yang saat masih sangat cantik.
Eitss__, salah ngomong. Miracle sangatlah tampan sehingga membuat diriku ingin terus bersama membuat kisah baru dengan Miracle.
Apakah kami berdua memang benar dijodohkan? Setara setelah aku lihat setiap persepsi masyarakat, kami berdua cukup cocok, tetapi sudahlah! hanya saja sekarang aku tidak mau menuruti permintaan mereka semua.
Karena apa? meskipun aku cocok dengan dia, mungkin karena perbedaan kasta telah berbeda, kami berdua tidak akan pernah bisa lagi bersama.
***
Satu hari berlalu tanpa adanya hal yang sangat menyenangkan, hanya bisa memasak, make-up an dan juga melakukan kebiasaan rutin yang tidak bisa lewat.
Tentu sekarang ini hanya.qda cipratan air yang keluar dari selang itu, menghindari semua apa nantinya yang terjadi pada diriku.
Sesaat untuk itu, bunga-bunga yang terkena air itu, rasanya sudah sangat segar, sehingga menjadikanku sangat bersemangat untuknya.
Hanya untuk mencoba berharap, bukan untuk mencoba harapan itu menjadi nyata, namun ada baiknya jika harapan itu menjadi suatu kenyataan nantinya.
Perasaan gundah gundala, sunyi senyap ruangan itu terasa sangat ngeri bagi pendengaranku. Hanya menduga saja, bahwa malam ini Miracle semoga saja mengajak keluar diriku.
Kebetulan sekarang ini tengah malam, dan tentunya arah jarum jam yang pendek menunjuk ke arah delapan dan jarum panjang menunjuk ke arah pukul sembilan.
Tepat sekali, melihat arah jarum jam itu berpindah ke arah dua belas, tepatnya sekarang sudah pukul sepuluh malam, jelas langkah kaki itu membuatku terasa dag-dig-dug.
Perlahan namun pasti, rasanya diriku ingin berteriak, mungkin itu adalah Miracle, tetapi bisa juga ibu.
Keinginan hanya satu yaitu, semoga apa nantinya dan siapa nantinya yang berada didepan pintu itu, adalah hal yang membuat hati ini bahagia.
Sebelum benar-benar aku keluar membuka pintu, jelas untuk saat itu cermin yang berada didepan saat ini, menjadi tempatku untuk merapikan rambut serta pakaian yang kupakai.
Sekarang untuk hati yang dag-dig-dug seperti drum yang dipukul setiap saat, hal itu sudah menjadi ciri khasku.
Benar saja, cantik. Itu sudah menjadi hal yang bisa kalian katakan kepada diriku, jelas karena sungguh malam ini semuanya terlihat sangat sempurna.
Tangan ini membuka engsel pintu perlahan, tidak dengan sembarang, dan juga kepala kukeluarkan sedikit melalui pintu yang tadinya telah terbuka.
Mataku segera menatap dengan jelas, siapa yang kini berada di depanku, jelas ini adalah sebuah keajaiban, ternyata harapanku telah menjadi sebuah kenyataan.
Miracle datang, kali ini dengan pakaian yang sudah sangat rapi dan juga parfumnya membuat keningku terasa lebih ringan.
Segera pintu itu telah terbuka lebar, untuk lelaki yang memang sudah menjadi ruang tunggu.
Untuk apa lagi?
Miracle masuk ke dalam kamar yang menjadi tempatku, kebetulan ibu sudah pergi berberes-beres untuk waktu yang malam ini.
Mata dari Tristan menatap ruangan itu dan tentunya menatap diriku, yang memang sudah sangat cantik.
"Ayo, apakah kamu mau minum?"
Heran. Ekspresi itu telah menjadi mimik pertama yang kukeluarkan saat mendengar ajakan itu.
Yah!!! aku bukan lagi ratu satu malam tetapi ini sudah menjadi ratu dua malam, dengan objek yang sudah berbeda.
Saat itu, percaya atau tidak percaya dirinya juga membawa sebuah bingkisan serta memberikannya kepadaku.
Jelas, mataku yang berbinar saat melihat apa yang berada didalam bingkisan itu adalah sebuah hal yang sangat indah.
"Wah ... apakah ini untuk membantumu yang cantik?" tanyaku sembari menatap Tristan.
"Apa-apaan ini buat elo biar malam ini tampil beda."
Itu adalah hal yang diucapkan oleh Miracle, dengan nada tertawa, jelas membuat hati ini terasa lebih hangat.
Langkah menuju garis finish belum sampai, ini masih belum berjalan, hanyalah permukaan saja, sebagai tempat untuk malam ini.
Mataku juga berbinar serta menyerta gigi ini mengertak, melihat bagaimana caranya diri ini terlihat lebih cantik?
Pantasen saja, diriku selalu dibilang dengan bunga desa, memakai sedikit saja make-up, sudah membuat para playboy bertekuk lutut.
Jujur, ini sangat cantik, wajahku tampak antusias saat melihat sekarang ini diriku bercermin di depan cermin yang besar itu.
Aku masuk, melangkahkan kaki ke luar. Jujur gaun ini sangat cocok sekali untuk diriku, dan yang lebih tepatnya untuk kali ini Miracle juga memuji diriku.
Segera untuk waktu yang tidak ingin terlewatkan kali ini,kami berdua telah sampai di dalam bar itu.
Miracle sama sekali tidak takut lagi membawaku ke tempat seperti ini, karena Miracle juga tahu aku pecandu miras.
Minuman keras, itu adalah salah satu keinginanku. Saat malam semakin pekat, mataku terlihat lebih berat untuk dibuka, sekarang ini rasanya ada benda yang menggores perutku.
Serasa kali ini ada tangan yang telah menggeliat di area perutku, hanya bisa tersenyum serta meminum sekali lagi minuman keras itu.
Aku rasa bahwa semua ini, sudah menjadi permainan dari pecandu Miras, menyentuh tubuh seseorang bahkan tidak sulit lagu, ketika miras berkata.