Seleraku mulai berbeda, ditemani dengan canda tawa yang mulai dia keluarkan.
Bentuk rahangnya sungguh mempesona, bak dewa yang turun dari surga, dengan tujuan hanya mencari diriku seorang.
Kalian tahu bukan? melihat tulang perutnya saja, membuatku merasa tidak yakin bahwa dia benar-benar dewa, tetapi kalau melihat dari posisi rahangnya sungguh dia adalah dewa.
Jujur! Aku dilema sekarang, bodoh memang, bagaimana mungkin seorang hamba yang begitu polos nan mungil bisa dilema oleh cinta?
***
Pagi ini matahari mulai datang, menyinari taman tepatnya tempat dimana sekarang aku berdiri.
Mataku mendongkak ke atas, seolah ingin melihat lebih matahari itu, tetapi tidak bisa, karena sekarang ini cahayanya terlalu cerah, untuk diriku yang terlalu padam ini.
Tanganku ku angkat keatas, mungkin ini bisa juga untuk menjaga Indra pengelihatanku.
Meskipun demikian, aku harus tetap mengerjakan pekerjaan rumah ini, soalnya hanya inilah yang selalu harus kukerjakan, mulai dari memasak, menyapu, mencuci piring, mencuci pakaian, sungguh ini membosankan.
Tidak tahu, rasa ini sedikit gemetar, mata seolah oleng ketika melihat paras lelaki yang kali ini telah berdiri tepat satu meter di depanku.
Astaga. Seolah diriku ingin berteriak namun takutnya nanti dia malah terganggu, karena suaraku yang sangat indah, melebihi bidadari surga yang datang ke belahan bumi.
Celana jeans yang dia kenakan, jelas menggoda pemandangan ku, tingginya yang kira-kira satu seperempat meter, jelas itu sangat menggoda.
Parah, sekarang ketika aku menyirami bunga, tidak terasa bahwa bunga itu telah kebanjiran di daerah yang tidak ada air.
Mataku yang salah, selalu melihat lelaki itu, padahal kasihan sekarang bunga yang sudah tenggelam ditelan kebodohanku.
"Hiks, jahat kamu, Zee."
"Bisa-bisanya, aku membunuh dia yang sama sekali tidak bersalah."
"Bodoh, tidak ada pengetahuan."
Aku hanya mengumpat seperti orang yang tidak tahu sopan santun, kemungkinan besarnya, sekarang diriku benar-benar dilema.
Segera aku beranjak ke arah belakang, pintu yang sudah terbuka dahulu, menyukseskan cara kaburku dan membawa bunga itu kabur.
Wajahku terasa lebih segar, saat kali ini aku memutuskan untuk melakukan ritual seperti semua wanita di belahan bumi yang sangat luas ini.
Tapi, meskipun luas, bumi ini masih tidak ada bandingnya dengan luasnya cintaku pada dia yang sekarang entah berada pada kurasi waktu yang berbeda.
"Menyingkirlah, duhai engkau para wanita yang selalu memanjakan dirinya, sebab cintanya hanyalah untukku seorang," aku mengatakan hal itu sembari membuka pakaianku perlahan.
Yah, kamar mandi kami tidak seindah kamar mandi dari Miracle, namanya juga pembantu, babu, sudah jelas semua perlengkapannya berbeda jauh bukan?
Aku mulai membuka pakaianku, jelas setelah kaos kubuka, sekarang giliran dari BH, namun sebelum aku membuka itu, aku meminta kalian untuk menutup mata.
Terutama untuk kaum lelaki, meskipun diriku jauh dari sini, kalian pasti akan mengintip buah dadaku bukan?
Baiklah aku tahu kalian tidak akan menutup mata, oleh karena itu, aku yang harus menutup mata.
Tapi eits__, kenapa aku yang menutup mata, apakah ada untungnya bagi diriku? Sungguh aku terlalu bodoh kali ini.
Kaki panjang yang kumiliki sekarang sudah berendam pada tempat mandi kami, ditemani dengan busa serta gelembung membuat diriku semakin aktif untuk bermain air.
Rambut yang kuncir serta wajah yang penuh dengan sabun, jelas membuat mataku terasa perih, oleh karena itu segera aku berusaha menyalakan air.
Saat tanganku berusaha untuk mendapatkan aliran kran, naasnya sungguh susah, entah dia sudah pergi ke timur laut, tetapi sekarang tolonglah, semoga dia berpihak padaku.
"Arg__, Ibu," panggilku dari luar, dengan suara yang sangat keras.
"Tolong, aduh ibu dimana sih?" Kesal ku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Karena kran yang sungguh benar pergi ke Afrika timur, tepatnya di pulau Antartika, aku hanya bisa mendengus nafas kesal sembari menunggu bala bantuan datang.
Mataku sungguh amat perih, semoga kalau berteriak kali ini, ibu telah datang dengan bala bantuan yang dia bawa.
Entah itu membawa gantungan kunci, entah itu membawa gayung, atau air, tetapi yang terpenting ibu datang.
Tetapi sebelum saatnya terjadi, aku menghirup nafas panjang, dan mengeluarkan suara yang begitu dahsyat luar biasa besar di sore hari yang indah ini.
"Ibu, mata, Zee sakit, tolong datang," teriakku sembari memukul pahaku.
"Aww, sungguh bodoh, kenapa jadi paha yang menjadi sasarannya," gerutuku dengan mulut yang sudah memakan sabun.
Tidak, semuanya tidak bisa kukendalikan lagi, bagaimanapun caranya, bantuan harus datang kepadaku.
Ingin berteriak sekali lagi rasanya, tetapi tidak. Karena sekarang aku sudah mendengar adanya gerakan tangan yang membuka pintu lalu sudah datang menuju tempatku sekarang.
Bagai mendapat emas, aku segera tersenyum dengan kondisi mata yang masih saja tertutup, sudut bibirku kembali lagi terbentuk.
Rambutku yang tadinya aku kuncir, sekarang sudah tergerai karena suaraku yang amat kencang, serta gerakanku yang tidak bisa diam.
Jujur aku senang, sembari kuangkat tanganku ke atas dengan tujuan agar menerima apa bala bantuan yang diberikan oleh ibuku.
Saat merasakan bahwa belum ada reaksi dari ibu, aku mulai mengepal tangan, dan juga akan bersiap berdiri.
Tetapi ... Benar, suara itu bukan suara dari ibu, what! Omegets! Aduh bibirku malah kepleset lagi, saat mengatakan OMG.
Aku tidak berdiri lagi, melainkan mulai menutup semua tubuhku termaksud mataku dengan bantuan bisa tadi.
Perihnya tidak terasa lagi, tetapi malunya sekarang ini sampai ke urat nadi, jangan-jangan tadi dirinya telah melihat sebagian dari buah dadaku, saat tadinya aku mengangkat tangan.
Remuk sudah pertahananku, selama ini aku hanya mencoba untuk menjaga image didepannya tetapi ternyata, sungguh ini memalukan.
Aku mendengar sekali lagi suaranya, dan itu benar, dia bukan ibu aku tetapi lelaki yang aku sukai diam-diam.
"Apakah kamu ingin menguji adrenalin dariku?"
"Sungguh ini terlalu mempesona, kamu benar membuatku jatuh dalam perangkap."
Mendengar itu membuat aku seperti perempuan murahan saja, jujur ini adalah suara dari Miracle, segera aku mengigit ujung lidahku, entah mengapa tidak lagi terasa sakit.
Aku meminta dia untuk memberikanku sedikit saja air, untuk membuang rasa perih yang sudah kembali hadir menemani nuansa kisah cinta ini.
Jujur, dia terlalu baik, dia memberikan air kepadaku dan duduk ditepi tempatku mandi sekarang ini.
Aku mulai membuka mata, matanya terpancar dan jelas sekali hanya melihat wajahku.
Aku mengeram kuat, sembari memukul sekali lagi lengannya, karena tidak cukup puas dengan memukul segera aku mencengkram lengannya.
Setelah dia keluar dari kamar mandi, jujur rasanya ingin tertawa sembari menangis sekarang, dimana sekarang ini waktunya aku bisa merasakan kesenangan yang berlipat ganda.
Ini termaksud ditemani mandi oleh calon kekasih.
'Pikiranku sudah traveling.'