Sisi lain manusia selalu terbentuk saat alamnya sudah buruk, dia akan membuat satu sisi di mana dia tidak akrab dengan alam melainkan dengan siluman.
Saat ini dengan wajah yang memerah semua karyawannya melihat wajah dari Mutiara dengan takut, pasalnya ini sungguh di luar kendali, bagaimana bisa Mutiara semenakutkan ini?
Dia membuka suara, yah dia adalah pembantu yang dekat dan sangat dekat kepada Mutiara sehingga dia memilih untuk.ikit tadinya kepada Mutiara.
"Kenapa dengan Nyonya sepertinya ada masalah besar?" tanyanya sembari memegang kedua tangan Mutiara.
"Aku hanya kesal, pasalnya Zee berulah lagi dia membuat Vanessa menangis bersama anakmu," dia mengatakan itu tanpa melihat ke arah pembantu itu.
"Tidak mungkin, yang saya tahu Zee adalah wanita baik-baik dia selalu saja terlihat sopan di depan saya, bagaimana bisa dia berbuat hal keji seperti itu?" tanyanya dengan nada dan tatapan yang tidak percaya.
"Saya juga dahulu berpikir demikian, namun saya di tusuk dari belakang, rasanya saya ingin memecat mereka berdua dari rumah itu namun saya masih memikirkan di mana nantinya mereka akan tinggal," gelisah nya membuat pembantu itu tersenyum sedikit.
"Bagaimanapun kita lihat saja apakah hal itu benar atau tidak," percakapan mereka di tutup hingga tatapan mata tidak saling berurusan lagi.
Kini Reyhan merasa cemas pasalnya dia belum mendapatkan notifikasi apapun dari nomor baru yang dia simpan, yah nomor Zee saat itu mereka saling simpan nomor, dan tentunya ini menjadi pertanda baik bagi Reyhan, tetapi naasnya dia tidak akan bisa menghubungi Zee duluan dia masih mempunyai harga diri yang harus di pertaruhkan.
Namun kalau saat-saat seperti ini bagaimana bisa dia mengatakan bahwa dini adalah harga diri? dia telah menahan gejolak selama beberapa hari dan sekarang masih ada kata harga diri? wah dia ingin mengumpat saking kesalnya ingin menendang kursi yang ada di kantornya.
Yah, dia dingin kalau di luar terlihat seperti angin yang sangat lambat dan merambat di segala sisi dedaunan, ada suara ketukan pintu yang masuk membuatnya kembali menetralkan wajahnya dan duduk dengan kaki yang dia tahan rasa sakitnya.
"Apakah maksud anda datang?" dengan duduk dan sorot mata yang tidak bisa di asumsikan kini dia bertanya. Karyawan itu menunduk dan mengatakan ada seseorang yang mencari dirinya.
"Siapakah dia?" dengan nada yang masih netral dia bertanya dan membalikkan kursinya menghadap belakang.
"Sepertinya kalau tidak salah namanya adalah Zee, dengan pakaiannya yang seperti pembantu Tuan," duar dia segera berdiri dan merapikan rambutnya dia mencoba untuk bersikap tenang di hadapan karyawan yang tidak lain adalah sekretarisnya.
"Baiklah saya akan turun," ucapnya membuat bengong seketika sekretaris itu.
"Apakah Tuan tidak salah? biasanya mereka yang datang ke tempat ini tetapi sekarang dengan dengan Tuan?" sekretaris itu terlalu banyak pertanyaan membuat kesal seketika Reyhan.
Panggilan Tuan, mungkin beberapa dari mereka terlihat asing dengan kalimat itu namun memang sudah itu peraturan karena Reyhan masih terlihat sangat muda dan dia belum dikatakan Bapak karena masih singel dia belum menikah, jadinya hal yang seperti itu dapat terjadi.
"Apakah kamu bisa untuk pergi atau lebih baik saya pecat? pilihan ada di tangan kamu, pergi atau tidak," sepertinya dia mengancam wanita yang tidak tahu apa-apa itu.
"Baik Tuan, saya akan pergi," kakinya melangkah pergi.
Sesampainya di luar dia melihat wanita itu sedang duduk mendengarkan perintah dari sekretarisnya tadi jelas membuat Zee tidak bisa langsung menerobos masuk ke dalam.
"Hey, apakah kamu terlihat seperti orang asing?" dengan nada yang sedikit ceria dia mampu membuyarkan lamunan dari karyawan yang berada di sana dan mampu membuat Zee juga heran, kenapa dia bersikap seperti itu di depan karyawannya.
"Yah, apakah kamu mau mati?" Zee mengepal tangannya kuat dan membentuk senyum sinis dia benar-benar mengejar Reyhan.
Reyhan berlari dan masuk ke dalam kantor rasanya ini adalah hari yang dia tunggu, semua karyawan termaksud sekretaris yang melihat sikap Reyhan sungguh kagum pasalnya dia sudah bekerja selama beberapa tahun di tempat ini namun dia hanya satu sakali melihat wajah Reyhan tersenyum ini adalah satu mukjizat.
Untuk beberapa Karyawan yang lainnya benar-benar mereka harus membuat struk viral pada Minggu ini, wajah dari Reyhan selaku atasan mereka sangatlah tampan ketika tertawa apalagi kalau tersenyum benar-benar membuat hati para biduan seketika merangkak ingin memiliki lelaki muda yang kaya dan sukses itu.
"Yah, apakah itu Tian Reyhan, kenapa dia sangat tampan ketika tersenyum?" tangisnya dengan nada yang alay membuat getar semua perasaan dari lelaki itu.
"Yah, kenapa kalian bersikap seperti itu?" para lelaki seketika menangis melihat kebodohan dari pada wanita itu.
Semua mata wanita tertuju pada lelaki tadi, mereka sepertinya tidak terima kalau ada kalimat yang seperti itu dan benar saja tidak ada yang bisa dilakukan lelaki ketika wanita sudah berada pada ambang yang sangat emosi.
"Kalian tahu apa maksud ti arti senyum bagi kami?" tanya mereka semua dengan tangan yang mengepal sembari menatap ke depan ke arah lelaki itu.
"Sialan, apakah kita harus menyerahkan diri atau sebaliknya?" tanya mereka beberapa lelaki itu dan mencoba untuk tenang.
"Siapa yang mau menyerahkan diri, ayok kita lari menikah saja belum apalagi menikmati rasanya, ahk aku tidak mau mau lebih baik kita lari," ucap salah satu lelaki dengan kemeja hitam dan sisiran rambut yang bagus di pikiran dia hanyalah menikah dan menikah tidak ada yang lain.
Mereka berlari dan wanita mengejar tidak peduli dengan pekerjaan yang tadi mereka lakukan namun yang pasti mereka sudah berlari saat Reyhan dan juga Zee sampai di dalam kantor.
Beberapa karyawan yang lainnya yang sudah menikah hanya bisa tertawa, karena memang itulah Mada dewasa masa yang harus di kenang tidak ada masa yang lebih enak saat-saat seperti itu,masa sebelum menikah dan yah itu sangat membebani di mana semuanya harus di pertimbangkan dengan baik.
"Apakah kamu lapar?" tanya Reyhan dengan nada yang ngos-ngosan duduk di atas sofa pada ruangannya itu.
"Yah, apakah kamu bodoh? sudah jelas saya lapar makanya saya datang ke kantor kamu," kesal Zee dengan nada yang ngos-ngosan juga.
"Lah, apakah kamu bodoh? ketika kamu lapar kemanakah arah dan tujuanmu? kenapa datang ke kantor tidak ke warteg arau semacamnya?" tanyanya benar-benar membuat geram wanita yang masih lapar itu.
Dia menatap wajah Reyhan dengan ganas, sepertinya dia akan memakan segera Reyhan hidup-hidyp. Reyhan yang peka segera merenggut ponselnya dan memesan makanan.
"Tolong tiga porsi makanan dan lauknya atur saja" ucapnya da mematikan sambungan itu.
Zee tersenyum sangat senang sekali. Reyhan dia hanya menggelengkan kepala tidak percaya melihat wanita ini.