MEMINTA MAAF

1006 Words
Sudah dewasa, tidak menyangka rupanya seperti ini cobaan dalam dewasa bukan hanya untuk uang, melainkan mental dan juga segalanya harus berani kamu korbankan. Kini bola mata dari Vanessa seakan ingin memakan hidup-hidup wanita itu, dia mengepal tangan kuat sembari langkah kakinya ingin dia jalankan lebih cepat. Mata mereka sungguh beradu panas, ada rasa yang tidak terima antara Zee dan juga Vanessa. Panasnya udara di siang hari itu tidak lagi terasa panas, melainkan arwah-arwah gelisah sudah tambah dan kedinginan di antara wajah mereka menjadi salah satu puncak yang terbaik. Zee mencoba untuk membalingkan badannya dia tidak ingin seperti ini, dia tadinya hanya berbiaya untuk menguji kesabaran dari Vanessa tidak sampai seperti ini, di menundukkan kepalanya tetapi satu menit kemudian sungguh malang nasibnya, ada gejolak hati yang memintanya untuk tidak menyerah begitu saja. "Ingat, kamu itu memang pembantu di rumah besar itu tetapi apakah kamu yakin bisa merelakan lelaki sekata dan setampan Miracle?" tanyanya sendiri datang dari arah kanan suara itu. "Wah, benar aku tidak bisa seperti ini terus aku memang wanita pembantu di rumah ini, tetapi lihat saja dia bahkan berpihak kepadaku saat ini," gumamnya sama sekali tidak didengarkan oleh Miracle ataupun Vanessa. Miracle membuka mulut dan berjalan ke arah Vanessa yang sudah berada di gang pintu, tangannya sudah memegang saat ini engsel pintu serta air matanya yang sudah bercucuran keluar, Vanessa hanya mengharapkan nantinya Miracle datang dan membujuk dia untuk tidak marah. "Tuhan, aku mohon dengarkan kata hatiku," pintanya saat dia perlu. Rasanya kita manusia selalu saja munafik, kita selalu saja meminta saat kita ada perlu kepada Tuhan, nantinya setelah Tuhan memberikan kepada kita apa yang kita minta, jangankan untuk melihat Tuhan berdoa saja sudah sangat susah. Dan sekarang Vanessa benar-benar tidak tahu apa yang dia lakukan, semakin menangis dan semakin tidak tahan lagi kakinya sudah ketar-ketir menahan dan melihat bagaimana sikap Zee kepada dia, bukan hanya Zee tetapi yang lebih parahnya Miracle ikut membuat diri ya merasa tersudut. "Kamu boleh pergi dan tutup segera pintunya," perintah Miracle sembari ikut tertawa bersama Zee. Ini tidak mungkin,"apakah anda terlalu ambigu atau sebaliknya masih tida terima?" Zee benar-benar tertawa, rasanya kemenangan berada di tangan dia. Vanessa menangis keras di dalam ruangannya, tidak ada tempat dia untuk curhat, hingga kini dia meminta ibu Miracle datang ke kantor, dia melakukan rencana yang dia sukai, bukan hanya Zee saja yang memiliki rencana. Ponselnya berdering, menggangu tidur siang Mutiara saja, dia sangat malas mengangkat sambungan itu namun setelah melihat nama 'calon menantu' seketika rasa kantuknya sirna seperti angin saja, dia mengangkat dengan tergesa-gesa dan segera tertawa riang, pikirannya benar-benar sehat. "Hahah, apakah Zee kalian buat kalah? tentu saja bukan? dia hanyalah wanita biasa tidak mungkin kalah di buat Wanita luar biasa," belum sempat dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh calon menantunya, Vanessa dia semakin sakit hati lagi. "Kenapa kamu? ayo jawab," ucap Mutiara karena tidak ada respon yang dia dengarkan dari seberang sana. Naasnya kaki ini Vanessa benar-benar tidak tahan lagi, dia sangat tidak suka kalau menangis dengan cara yang seperti ini, dia mencoba untuk menenangkan emosi tetapi tidak bisa sama sekali, dia terpaksa harus terlihat lemah di hadapan ibu Miracle. "Tolong saya ibu, ini sangat sakit, hiks," ucapnya diiringi air mata yang melonjak turun. "Kenapa? apakah ada orang yang menggangu kamu? siapakah dia.cepat beritahu kepada Ibu sekarang," ucapnya seperti kasihan mendengarkan nada minta tolong dari Vanessa. "Anak ibu dan pembantu yang tidak tahu malu itu, dia membuat mata aku perih," ucapnya sembari mengingat kejadian tadi yang benar-benar menusuk hatinya bagai ribuan belati yang datang dari arah belakang. "Apa? apakah kamu tidak salah? bagaimana Miracle dapat membuat kamu sengsara dia sangat menyukai dirimu," gentarnya dengan nada yang tidak terima. "Itulah kenyataannya ibu, ini semua hanya karena perbuatan dari Zee, dia menghasut anak ibu," ucapnya kali ini sudah mengadu domba Zee. "Tunggu saja, aku akan datang ke sana kamu jangan pergi dulu kita selesaikan masalah ini sampai Clear," kakinya bergegas untuk keluar dan memangil supir pribadi. "Cepat, kita pergi ke kantor sekarang," dia segera mematikan sambungan ponsel yang satu lagi. Semua keadaan telah runtuh, Maya yang takut terjadi kepada putrinya hanya bisa berdoa dan bersembunyi di dalam kamar, pasalnya ketika dia melihat perubahan raut wajah itu hatinya terasa di sayat dia tidak mungkin bisa mengihklaskan putrinya untuk dianiaya majikannya namun apa boleh buat dia hanyalah satu debu diantara bebatuan yang tinggi. "Bagaimana ini, apakah aku suda boleh pergi rasanya akan ada hal buruk yang menimpa aku," ucap Zee saat dia mulai merasakan ada hawa yang tidak enak berada di sekelilingnya. Tetapi yang lebih parahnya kini Miracle malah menahannya, dia malah mengatakan masih rindu kepada Zee, benar-benar Zee menyukai perkataan itu namun apakah lelaki sialan ini tidak sadar bahwa dia hanyalah pelampiasan saja. Dia tertawa kecil membuat seketika raut yang tidak diinginkan terjadi di antara kerutan wajah Miracle. "Kenapa?" Miracle bertanya memegang kedua telapak tangan Zee. Zee menghempaskan itu dia malah menampar wajah Miracle saat itu juga Vanessa datang dan menyaksikan semua kegiatan sensitif itu dia datang dan memeluk Miracle. Zee benar-benar aktor yang luar biasa, kali ini dia membalikkan semua fakta yang ada, dia kembali merenggut kesucian dan pemikiran dari Vanessa, dan dia berhasil membuat Miracle seperti orang gila saja. "Kamu tahu aku itu siapa? sadar Tuan, Nyonya Vanessa adalah calon tunangan mu jaga dia seperti engkau menjaga Nyonya Mutiara," dia mencoba memasang drama. "Ada apa ini Zee?" tanya Miracle dia tidak terima dengan semua permainan yang dibuat oleh Zee. "Saya memang wanita yang tidak tahu malu, tetapi tida dengan wanita yang merebut tunangan orang lain, saya hanya berharap kepada Tuan cintai apa yang perlu anda cintai, dan ingat tidak ada karma yang salah orang," ucapnya sembari mengambil bekal itu pulang. Zee benar-benar kagum pada dirinya pasalnya kali ini dia bisa terlihat sangat dramatis di depan Vanessa, sekarang dia hanya menunggu respon yang Vanessa berikan. "Tunggu," yah Vanessa benar-benar masuk perangkap. "Kenapa, Nyonya?" tanyanya dengan nada yang terlihat bodoh, dan bola matanya ya g sendi membuat Vanessa merasa bersalah. "Aku meminta maaf, tadinya aku menilai kamu salah ternyata kamu memikirkan bahwa aku adalah tunangan Miracle," ucapnya sembari memasang wajah yang bersalah kepada Zee.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD