Ini bukan mimpi? Miracle benar-benar menampar pipinya dengan kedua tangannya dia takut akan terjadi hal yang sama seperti tadi pagi.
"Dimana dia?" tanyanya sekali lagi berusaha untuk meyakinkan.
"Hai," ucapnya gugup dengan tentengan yang berada di tangan nya sedikit mencengkram.
Kedua bola mata mereka reflek menegang, terutama untuk Vanessa dia merasakan akan ada air mata setelah kejadian ini. Dan benar saja bada Zee terhuyung ke belakang pasalnya saat ini dia dipeluk oleh Miracle.
Zee tidak tahu apa yang harus dia lakukan entah membalas pelukan itu atau pun sebaliknya, dia melihat bola mata dari Vanessa ada raut yang tidak terima di dalamnya, arah pandang matanya seketika berbalik saat melihat bola mata dari Zee.
Miracle sangat enggan sekali untuk melepaskan pelukan itu, dia masih rindu kepada badan dan juga tawa yang pernah mereka lewati bersama.
Dengan cepat, Miracle memegang kedua pundak dari Zee dan membuka mulut dengan ada yang sungguh khawatir.
"Why?"
"Apa?"
"Kenapa kamu tidak ada di rumah satu Minggu terahkir ini?'
"Hah?"
"Kenapa kamu tidak pernah datang menjumpai aku?"
Wah ini benar-benar menjadi pisau di antara benda tajam lainnya, ini menjadi hal yang sulit diterima oleh Vanessa, kakinya mengatakan lebih baik pergi dari sini daripada melihat mereka yang saling terharu seperti tidak pernah berjumpa.
Dia layaknya hanya bisa menatap ke langit-langit kantor dari Miracle dan mengalihkan pandangannya dari Zee yang sedari tadi dia tatap.
Zee merasakan Tidka ada sama sekali penolakan terhadap Miracle, dia seakan tidak mengerti posisi dari Vanessa tetapi mau bagaimana lagi? dia juga mempunyai rasa kepada Miracle tentunya dia merasakan harus ada nilai keimpasan dalam hal ini.
Zee mulai menjawab salah satu pertanyaan dari Miracle yang sedari tadi dia suguhkan.
"Apakah kamu merindukan aku?" ahk Zee terlihat seperti wanita yang tidak memiliki akal sehat, dia mengatakan seperti itu tanpa memikirkan wanita ya g sudah menahan perihnya saat ini situasi.
Kepada Mutiara dia berniat akan menghubungi Zee, dia berhasil bergumam dengan nada yang sangat senang memikirkan bagaimana Zee saat ini sudah menahan sepi dan menahan air mata kala melihat Miracle yang benar-benar mencintai Vanessa.
"Lebih baik aku hubungi saja mereka," ucapnya dengan ponsel yang kini berada di tangannya.
Sebentar lagi, kali ini dia akan memencet tombol hijau namun dia hentikan pergerakan itu pasalnya dia mau menerima jawaban nanti dari Vanessa bahwa Zee menangis tersedu-sedu di pinggiran kantor dengan sandal jepitnya yang murahan tanpa mereka itu.
Semua berbanding terbalik akan angan dari Mutiara dan juga pemikiran dia yang selalu menyudutkan Zee.
Sedangkan untuk Vanessa saat ini dia bahkan ingin pergi namun Miracle meminta kepada dirinya untuk tetap berada di tempat itu dan akan makan bersama, Zee benar-benar seorang aktor yang luar biasa dalam permainan itu dia membuat situasi yang runyam tambah runyam sekali
Tidak apa-apa jahat sekali ini hanyalah pemanasan bagi sosok Zee, ini mungkin merupakan salah satu titik balas bagi dirinya.
"Tapi apakah nanti Vanessa tidak marah jika kita makan di tempatmu ini secara bertiga, aku seakan seperti pengan__" bibirnya terhenti saat salah satu jari-jemari dari Miracle menempel pada bibir tanpa liptint tadi.
'Apakah ini? apakah aku telah di permainkan?' batinnya sembari mengepal tangan kuat di atas pahanya yang berada di bawah meja itu.
Hatinya sudah sangat rapuh tetapi untuk senyum yang dia berikan masih terlihat netral, dia masih bisa menjaga semua kelakuannya di depan Miracle, jangan sampai Miracle mempunyai pandangan yang salah kepadanya.
"Apakah kamu sehat-sehat saja, kenapa dengan wajahmu yang sepertinya ingin memakan aku hidup-hidup?" tanya Zee sengaja di depan Miracle dan membuat pandangan Miracle segera memandangnya.
"Kenapa? Siapakah yang kamu maksud?" Miracle meletakkan sendok makannya dan melihat bola mata dari Vanessa sekarang.
Vanessa masih bisa baik-baik saja kalau sikap mereka masih seperti ini, namun kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dia akan pergi dari kantor ini.
"Tidak apa, tetapi kenapa ada nasi di dekat bibirmu," ucapnya dan kembali lagi membuat panas hati Vanessa.
Bola mata Zee benar-benar sangat sulit untuk di damaikan, tidak tahu juga mengapa seolah ada pergerakan yang membuat dia ingin pergi dari situasi ini, di lain sisi dia juga ingin merasakan posisi dari Vanessa yang beberapa hari diperlakukan sangat baik oleh Mira le dan juga Mutiara.
Datang ke rumah dengan seenaknya dan juga makan dan jangan lupa untuk atau malam yang paling menyedihkan bagi sosok Zee, dia diminta untuk memberikan minuman ke ma.ar Miracle, matanya benar-benar ternodai saat itu dia bahkan tidak bisa mengelak saat melihat bibir itu saling menyentuh dan tangan yang sudah merenggut ke segala arah ini membuat hidup Zee hampir putus asa waktu itu.
Tetapi Zee berhasil bangkit saat dia memutuskan pergi ke restoran yang tidak terlalu mahal, dan dia bertemu dengan sosok Reyhan, yang membantunya mencoba untuk mengihklaskan.
"Ada apa, Vanessa kenapa kamu terlihat begitu marah?"
"Tidak," dia menjawab dengan nada yang sangat terpaksa.
"Siapa yang marah, jelas-jelas tidak ada yang marah kalau kamu berada di sini menemai aku Zee," Miracle benar-benar lelaki yang tidak peka.
Dalam hatinya sekarang ini dia sudah ingin membunuh perlahan Zee,Vanessa benar-benar tidak sanggup lagi, benar saja kini hentakan kaki ya benar-benar membuyarkan lamunan mereka berdua.
"Hey, apakah kalian di sini adalah sepasang kekasih?" emosinya keluar sepeti larva yang sudah ingin meledak tetapi di tahan-tahan sedari tadi.
Miras berdiri dia benar-benar tidak suka akan sikap dan juga cara yang diberikan oleh Vanessa kepada Zee sekarang ini.
"Dan kamu, kamu hanyalah pembantu tetapi kenapa kamu seolah menempatkan posisi kamu seperti pasangannya saja?"
Zee memasang aktingnya dia benar-benar suka akan drama yang satu ini, bola mata ya dia buat memerah dan tentunya dengan tangannya yang sudah meraba rambutnya agar terlihat frustasi di depan Miracle.
Miracle tidak terima akan semua ini, dia memilih untuk melakukan suatu hal kepada Vanessa.
Plak... suara tamparan yang pertama sekali di rasakan oleh Vanessa dalam hidupnya dia termenung dan meratapi Miracle yang masih menatap dirinya dengan tatapan tidak bersalah.
"Kenapa sikap kamu seperti itu kepada dia?" tamparan itu benar-benar menjadi peringatan pada mereka bertiga yang mengalami perselisihan.
"Aku?" tanyanya dengan membendung air mata yang sudah tak kasat mata lagi.
Saat ini Zee kembali merasa bersalah, dia tidak tahan kalau sampai ada kekerasan, bagaimana pun dia hanya ingin memberikan pelajaran pada Vanessa tidak lebih dari itu,tetapi Tuhan berkehendak lain.