Minggu ini terasa berbeda, rasanya sangat banyak teka-teki yang di alami oleh Zee, dia bahkan di tidak tahu jalan apa yang datang menghampiri dirinya sehingga masalah datang bertubi-tubi.
Dia menyapu halaman, dan benar saja Miracle membuat bola matanya kala melihat ada wanita yang dia cari selama satu Minggu terahkir ini.
"Wah, bukankah itu Zee!" tanyanya pada diri sendiri.
Dia keluar dari kamarnya kebetulan tadi dia hanya menatap dari arah balkon, sehingga pandangannya jelas hanya menjadi keraguan pada dirinya.
Langkah kakinya benar-benar cepat sekali melewati anak tangga itu, dia takut kalau itu hanyalah sebuah bayangan.
"Mau kemana kamu?" tanya Mutiara yang melihat anaknya tergesa-gesa.
Tanpa ada penolehan sama sekali, dia tidak menghiraukan ibunya Miracle hanya berjalan tetapi serasa berlari, dia tidak mau kehilangan wanita ini lagi dalam hitungan detik.
Sedangkan Zee, dia merasakan hawa yang tidak enak lagi dia pergi dan mencoba ke dapur lewat pintu belakang rasanya tenggorokannya bisa kering seperti di Padang shauna.
Dia melewati Miracle yang sedang berjalan dari pintu depan, sedangkan dirinya dia berjalan dengan santay dan jangan lupa keringat yang sudah bercucuran pada keningnya melewati pintu dapur.
"Ah, sial jangan bilang aku hanya melihat bayangannya?" kakinya mulai menendang pot Bungan mawar yang berada di depannya.
Dia kalut, pasalnya dia sama sekali tidak melihat di mana saat ini posisi dari Zee. Dia kembali menaklukkan hatinya dengan mengajak berbicara baik-baik dan pergi ke dalam kamar.
Sesampainya dia di dalam kamar, Zee sudah terlebih dahulu melampirkan nasinya ke dalam kamar dia tidak mengetahui bahwa sudah ada sarapan yang di sediakan. Akhir yang pahit dia memutuskan untuk mandi dengan rasa penasaran yang masih menggebu-gebu di dalam hatinya.
Beberapa menit berlalu, dia sampai di dalam rumah dan hendak membuka mulut untuk makan, namun Vanessa melihat walpaper ponselnya betapa senangnya hatinya ketika melihat wajah lelaki ceria itu.
Dia mencium ponselnya dan kembali memeluknya rapat-rapat di selipkannya pada d**a miliknya dan kemudian kembali menciumnya lagi.
"Apakah yang kamu lakukan?" tanya ibu Vanessa melihat kegilaan yang dilakukan oleh Putrinya.
"Tidak," jawabnya otomatis dan meletakkan ponsel di atas meja sembari melihat ayah dan ibunya yang telah memandang dia dengan tatapan intimidasi.
Vanessa menelan savilanya dengan pelan bola matanya seakan meminta dia untuk diam saja dan benar saja dia melakukan hal itu, sehingga kedua orang tuanya bisa makan dengan tentram dan nyaman.
"Wah, mereka terlihat paparazi yang selalu mendominasi," gumamnya seperti tidak terjadi sesuatu hal.
"Sepertinya dia rindu kepada pacarnya padahal setiap hari bertemu dan melakukan itu," ucap ibunya dengan nada yang menyindir.
"Apa maksud ibu?" tanya Vanessa sembari meletakkan sendok makan yang tadinya sudah berada di tangannya.
Setelah beberapa jam, mereka kali ini sudah bisa makan, yah para orang kantoran mereka akan makan dan kembali lagi bekerja.
Seperti biasa Vanessa akan makan siang bersama Miracle, tetapi kenapa Miracle saat ini tidak mau makan siang ke kantin? Miracle, apakah dia merasa mood boster? atau apakah dia ingin membuat Vanessa berjalan sendirian ke kantin seperti orang gila?
Vanessa terdiam di depan Miracle yang sedang bekerja, dan dia membuka pertanyaan yang sangat sensitif membuat jari-jemari dari Miracle seketika berhenti pada tombol keyboard itu.
"Apakah kamu merasa kehilangan atas Zee?" tanyanya seolah dia mengetahui apa yang dipikirkan lelakinya.
Mereka berdua saling tatap menatap sorot mata yang sudah tajam menjadi salah satu asumsi yang besar.
"Apakah kamu tahu di mana Zee?" tanyanya tanpa memikirkan perasaan wanitanya.
Dengan berat hati dia menjawab,"apakah dia pergi dari rumah?" nada suaranya sudah sangat berat, namun lelaki ini benar-benar sama sekali tidak peka, dia malah berdiri dan memohon kepada Vanessa memberikan kejelasan te tang keberadaan dari Zee.
"Aku mohon, tolong beritahu aku di mana Zee saat ini," ucapnya dengan pandangan mata yang benar-benar meminta tolong.
Di sisi lain kini terlihat Mutiara yang sedang meminta Zee untuk mengantarkan makanan kepada Miracle, pasalnya tadi pagi dia tidak mood makan.
Ada niat awal pada benak hati Mutiara saat mengatakan kepada Zee untuk mengantarkan makanan ini, dia ingin melihat bagaimana nanti reaksi dari Zee saat melihat anaknya dan juga Vanessa bermesraan di kantor.
"Cepat antar ini ke kantin Miracle,dia pasti sudah lapar," titahnya sembari memberikan bingkisan itu.
"Baik, saya akan segera mengantarkan," dia pergi tanpa menoleh sama sekali ke arah Mutiara.
Mutiara sedikit kesal dengan sikap wanita sialan ini, bagaimana mungkin dia bertindak seperti Nyonya dalam rumah, dia menggeram kuat rasanya ingin sekali membunuh hidup-hidup wanita itu, namun hanya untuk alat dia masih bisa mempermainkannya.
"Lihat saja siapakah nanti yang akan terbunuh saat berada di dalam kantor."
"Kamu akan merengek-rengek meminta tolong kepada saya untuk tidak meyuruhmu datnag ke kantor lagi," tawanya seakan menandakan di tidak akan pernah tertawa seperti ini lagi.
Sesampainya di dalam kantor Miracle, Zee dengan sandal jepit yang dia pakai sama sekali tidak peduli dengan pandangan orang yang berada di sana, dia dengan santay nya menenteng bingkisan itu dengan pandangan lurus ke depan.
Sesampainya di depan eskalator itu, dia masuk dan sama sekali tidak memikirkan pekerja wanita yang berada di dalamnya.
Ada deheman yang dikeluarkan oleh wanita dengan kemeja putih dan make up yang natural itu, dia bahkan terlihat sopan dengan gaya rambutnya yang tidak diberikan warna apapun.
"Ada apa?" reflek mulut Zee tidak dapat lagi tertahankan.
"Saya rasa, saya pernah melihat anda sebelum saat ini," dia sepertinya memberikan kode kepada wanita itu.
"Yah, saya memang sering data g ke sini, kenapa anda baru mengenal saya?" tanya Zee dengan nada ayang tidak terima.
Wanita itu terdiam melihat bagaimana sikap dari Zee, namun dia melihat ada bingkisan berada di tangannya benar saja itu membawa dampak dan aura positif akan wanita itu.
"Wah, lagi-lagi apakah anda perhatian kepada pacar orang?" tanyanya dengan nada yang bersahabat sungguh.
"Apakah itu merugikan beras di rumahmu dan uang yang berada di dalam saku mu?" dia membuat wanita itu kena mental, rasanya ingin pergi saja ke luar yang terdalam dan samudra yang terluas.
"Tidak, tetapi akhir-akhir ini mereka hanya makan di kantin bersama Vanessa."
Kini Zee berada di depan kantor Miracle, dia hanya memastikan apakah benar yang dikatakan wanita tadi, dia tidak mengetuk pintu dengan menguatkan hati semoga matanya sehat sampai nantinya.
"Dimana dia aku mohon beritahu," ucapnya seketika melihat pintu yang terbuka dengan gagang serta deretan yang mulai terbuka.