Badan mereka masih tetap saja merenggut satu sama lain, rasanya bila mata itu enggan untuk saling melepaskan.
Setelah sekian lama tidak bertemu dan bersentuhan seperti ini, seketika menjadi candu bagi lelaki tanpa nama itu.
Benar saja, entah dia harus bangkit dari wanita ini atau tetap seperti ini, mungkin seperti ini lebih baik, yah itu menurut Miracle.
"Apakah kamu rasa aku juga tidak mempunyai pacar?" tawanya dengan sedikit nada enggan.
"Yah, aku tidak peduli entah kamu mempunyai pacar tunangan, dan juga selingkuhan," mata mereka seketika menunjukkan ekspresi kesal sangat.
Setelah ada lamanya sepuluh menit mereka berdebat dengan posisi badan yang masih di tindih, akhirnya Zee bangkit lagi dia kesal melihat lelaki yang penuh dengan cerocosan bibir itu.
Dia akhirnya pergi tanpa mendapatkan izin untuk menginap di rumah itu, dia melangkahkan kaki tanpa menoleh sekalipun kepada lelaki itu.
***
Pagi ini terlalu cerah untuk lelaki yang belum mendapatkan di mana Zee, rasanya sedikit sepi hatinya kakak tidak melihat Zee berada di tempatnya, dia malas sekali bangun dia sungguh tidak mempunyai niat untuk bangkit dari tempat tidurnya, padahal hubungannya bukan dengan Zee tetapi dengan Vanessa.
Laki-laki memang buaya yang tidak tahu di untung, sudah di kasih bidadari tetapi dia malah meminta Dewi.
Suara ketukan pintu itu membuat kakinya mau tidak mau harus membuka pintu dan terlihat segar, yang datang membuat hatinya terjun ke pintu surga kalian tahu?
Dari percakapannya mungkin ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk bertanya di mana Zee.
"Apakah ada keperluan ibu?" tanyanya dan menatap ke depan.
"Saya hanya ingin mengambil cucian kotor, Tuan," bibirnya seakan tidak mau terbuka tetapi karena sudah di ajak mengobrol oleh Miracle mana mungkin dia menolak.
Dia masuk, Miracle meratapi punggung yang semakin hari semakin lemah itu, dia juga menatap ke depan semua pandangan dia cari agar tidak saling melihat dengan wanita tua itu.
Setelah semuanya selesai, Maya berhenti sejenak dia melihat ke depan ada beberapa bingkaian foto, dia menjamah dengan kedua jari kanannya dia juga hampir melepaskan mutiara matanya, dia takut kalau nanti air mata ini akan jatuh seiring masa lalu.
Miracle segera menutup foto itu, dan lebih parahnya Maya juga ternyata rindu kepada putrinya, lihat saja sikapnya kali ini membuang tangan Tuannya sendiri.
"Ada apa, ibu? apakah ibu ingin melihat wajah putri ibu?" tanyanya entah kapan dengan sebutan ibu.
"Saya sangat merindukan sosok ini," gumamnya dengan kepala yang menunduk.
Miracle tentunya bingung, kenapa merindukan? padahal setiap hari selalu saja melihat satu sama lain, dan bahkan mengobrol ria tetapi kenapa sia mengatakan merindu?
Miracle berjalan ke arah lemari besar yang di depannya, dan segera dia bertanya akan kelinglungan hati yang ada dalam hidupnya.
"Apakah kalian tidak bertemu? kenapa ibu merindukan dia?" tanyanya sekaligus.
Maha salah, dia keceplosan di depan lelaki yang membuat putrinya seperti ini, dia sungguh tidak tahu harus mengeluarkan kalimat apa lagi supaya nantinya Tuannya percaya.
"Tidak," hanya dengan kata tidak tanpa menoleh ke arah orang yang berbicara langkahnya segera pergi.
Namun, pergerakan dari Miracle lebih cepat dua kali dari pergerakan tangannya yang kekar segera mengunci pintu dan menyelipkan kunci itu ke dalam sakunya,itu membuat tidak habis pikir wanita yang saat ini sudah tegang pasti Tuannya tidak akan melepaskan diri ya selama pertanyaaanya itu belum di jawab.
Miracle bertanya namun tidak ada jawaban, Miracle sengaja menaikkan volume suara dan pastinya Mata takut sekali jangan sampai nanti semua pembantu terutama Mutiara berpikir hal yang aneh-aneh ini nantinya akan merusak potensi kerjanya.
Setelah sepuluh menit suaranya besar, kini tiba saatnya untuk Maya menjawab pertanyaan dari Miracle.
"Apa? kenapa ibu diam? di mana Zee?" tanyanya sekali lagi Engan pandangan mata seperti iblis.
"Apakah Tuan ingin mendengarkan langsung dari mulut ibunya?" tanyanya terdengar seperti nada mistis saja.
Dia tersenyum dan hanya menjawab biasa saja, dia sama sekali tidak melihat raut dan sorot mata yang diberikan oleh Maya.
"Saya hanya menyesal mengizinkan kalian bertiga pernah akrab, anda! Anda terlihat sangat egois," ucapnya hanya itu mampu membuat tegang wajah Miracle.
Selebihnya ibunya berhasil keluar karena ternyata sedari tadi pintu tidak di kunci, ini membuat Miracle ingin mengejar tetapi tidak mungkin karena dengan suasana yang kalut seperti ini pasti akan menjadi salah satu masalah yang besar..
Jangan buat hidupnya lagi tambah rumit, jelas-jelas sekarang ini Miracle sudah hampir putus asa mendengarkan kalimat sedikit itu tetapi maknanya membunuh hati.
"Apakah ada kesalahpahaman di antara kami?
Dengan wajah yang tampak lemas kali ini Zee melangkahkan kaki dari ranjang itu, tetapi bila matanya seketika cerah bak matahari yang bersinar di pagi hari pasalnya saat ini dia melihat ada lelaki yang tidak tahu malu dan dingin itu berada pada salah satu kursi di dalam kamarnya.
"Wah, apakah anda ingin sekali melihat wajah ini di pagi hari? percayalah aku tetap cantik tidak peduli itu malam dan siang, Jupiter berubah nama jadi.saturnus dan matahari kembali tenggelam, aku tetap yang tercantik," bibirnya sungguh komat-kamit dilihat oleh lelaki itu.
"Yah, kamu memang lelaki di gin tetapi itu tidak akan membuat aku sedikit kagum," dia tertawa sinis dan mengikat rambutnya.
Benar saja, tangannya yang dia lipat di atas d**a kali ini dia cengkram lengannya tetapi wajahnya masih saja datar pasalnya dia melihat bahwa saat ini masa lalu kembali lagi hadir.
Leher yang jenjang itu dan kuping yang terlihat imut itu membuatnya tidak tahan hanya ingin mengecup saja itu bahkan lebih baik, dan mengatakan siapa dirinya mungkin ini akan kembali mengurangi beban pikirannya.
"Apakah saat ini, ada hal yang membuat matamu melihat kecantikan ini?" dia berdiri dan hendak membuka pintu tetapi dia kembali lagi berhenti.
"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih," ucapnya benar-benar dengan nada yang tidak ihklas.
"Apakah anda tahu siapa nama saya?" dia membuka mulut membuat Zee juga penasaran, dia sudah berada di dalam rumah ini dua hari namun tidak tahu siapa nama gerangan ini.
"Ohw, anda benar siapa namanya?" gaya nya membuat gemas dan geram sekaligus hari lelaki itu
"Reyhan," dia membuat bungkam wanita yang saat ini memegang engsel pintu dengan erat.
Bola matanya seketika melebar, dia tidak tahu Reyhan siapakah itu?
Reyhan masa lalu atau Reyhan dengan nama dan kisah hidup yang baru? dia tentu ingin bertanya lebih dalam tentang hal ini, badannya seketika dia hempasakan dan saat itu juga bola mata mereka kembali menjadi candu di antara api yang sudah panas.