Seperti deretan baris tanpa judul, wanita yang sedang berbelanja ini sangatlah ganas, dia terlihat sangat lelah pasalnya saat ini membawa semua bahan makanan dan juga belanjaan ke rumah, dia juga tidak tahu siapa orang yang harus dia panggil untuk mengangkat semua beban ini, dia menatap ke depan tepatnya tukang sayur mayor dengan beranekaragam sayur-sayuran yang amat segar, bahkan pikirannya yang tadi kusam telah kembali menjadi segar, dia tampak bergumam.
“Ini lebih dari yang aku duga," ucapnya dan melangkahkan kaki menuju tukang sayur yang lama-kelamaan menjadi sangat ramai.
“Bu… tolong geser sedikit saya ingin sayur itu,” dia menunjuk ke arah sayur putih yang besar tanpa noda sekecil pun.
Mereka adalah orang kaya, tetapi kalian pasti bertanya-tanya, mengapa harus pergi berbelanja ke pasar kumuh seperti ini? Dan mengapa harus berbelanja makanan yang sudah penuh dengan debu dan segala kotoran lainnya, yah termaksud juga lalat.
Sebenarnya Mutiara adalah orang yang sangat polos, dahulu dia tidak mau berfoya-foya dan sam[pai sekarang, maka dari itu Mutiara selalu saja mau berbelanja ke pasar, bukan karena dia pelit, tetapi dia suka gaya hidup yang sederhana namun indah, akhirnya Zee mendapatkan sayur yang dia inginkan setelah melewati beberapa ibu-ibu dengan suara yang sangat besar,sampai-sampai tukang sayur menjadi kewalahan,”trimakasih, pak,” ucapnya dan melangkahkan kaki kembali menjinjing kedua rentetan yang penuh dengan belanjaan itu,”aw…”dia mendesah seiring merasakan ada sesuatu yang baru saja mendorong tubuhnya untungnya dia termaksud manusia kuat, dia bisa berdiri, dia ingin memarahi orang yang menabrak badannya tadi, namun dia tidak bisa main hakim sendiri, pasalnya ini adalah pasar, yah dia main logika, karena harus menghargai semua orang yang berdesak-desakan, dia menoleh ke belakang, samping, kiri dan juga kanan tetapi tidak ada orang yang mencurigakan, maka dari itu dia menghembuskan napas dan berjalan menuju angkot pulang.
Dia menghembuskan napas, untung saja tadi dirinya cepat untuk pergi menghilang dari hadapan wanita tadi, dia tidak habis piket seberapa berdebar jantungnya ketika mendorong bahu yang terlihat sangat lelah itu, dia tadinya berniat membantu, namun kalau nanti mereka saling menatap wajah satu sama lain, ini akan bahaya dia akan mengetahui siapa yang selama ini membuntuti dirinya,”ah… kenapa aku tidak bisa langsung melihat wajahnya?’ kesalnya dan menyenderkan bahunya sembari menutup pelan matanya,”lain kali kamu harus berani,”dia bertekad dan mengepal tangan perlahan serta jiwa yang dia mampukan.
Akhirnya, setelah mengamati semua orang-orang yang berada di tempat itu, dia kira sudah aman, maka dari itu dia memilih untuk keluar dari zona yang dia buat, dia berjalan dengan kemeja yang tadinya dia pakai, dan memukau beberapa anak gadis yang sedang melintas, mengapa begitu tampan? Semua sorot mata melihat dirinya yang berkilau di tengah kegelapan, namun dia tidak merespon semua itu, dia hanya berjalan dan berusaha keluar dari tempat yang sangat kumuh dengan semua penghuni yang terlihat sangatlah kumuh.
“Apakah ada penjual di pasar ini yang begitu tampan,” tanya salah satu wanita yang juga ikut melihat wajah dari lelaki tadi,”apakah kamu bodoh? Kalau dia tampan bagaimana mungkin mau berjualan di tempat yang sangat kumuh ini?” geram wanita yang satu lagi serta mengetok kepala wanita dungu itu, mereka berdua terlihat seperti pembeli saja, dari gaya pakaian yang sangat membahana, dengan tujuan siapa tahu ketemu jodoh nantinya di pasar, benar saja mereka bertemu dengan jodoh, tetapi bukan jodoh mereka.
“Atas dasar apa kamu mengatakan hal seperti itu?” wanita tadi belum percaya, dia bertanya agar mendapatkan jawaban yang lebih pasti.
“Yah… anak remaja sekarang sudah sangat pembangkang, apakah saya harus menjelaskan dengan sangat detail sekali, alasan saya?” tanya wanita itu sembari tertawa kecil dengan deretan gigi putih.
“Yah, saya ingin sekali kepastian. Berikan saya satu bukti saja yang mendorong untuk mempercayai apa yang kamu katakan,” dia menatap ke arah wanita tadi.
“Baiklah deng’arkan dengan baik-baik aku tidak mau mengulang pernyataan ini dengan suaraku yang sangat mahal,” wanita itu terlihat menjijikan di mata temannya.
“Pertama, apakah kamu tidak pernah berpikir untuk wajahnya yang pasti tidak murahan? Lihat saja wajah lelaki yang burik saja tidak mau menginjakkan kaki di sini, apalagi wajahnya yang terlihat seperti dewa di alam yang ketujuh. Dan yang kedua, apakah kamu tidak lihat dari cara dia berpakaian,” ucap wanita itu dan dia segera membayangkan cara bicara lelaki yang mereka lihat dan jangan lupa untuk wajahnya yang sudah mulai ketar-ketir.”apakah kamu masih mau mengelak dan membantah perkataan ku?”tanyanya dengan senyum smirk yang dia bawa.
Di seberang sana, dia sedang berteriak histeris pasalnya dia sangat malu, di depan umum yang seperti ini ramainya, kenapa Miracle harus membopong badannya, dia malu namun kalau tidak seperti ini kapan lagi waktu mereka berdua terlihat romantis, Vanessa malah mengeratkan kedua pegangan tangannya pada leher lelaki itu, dan dia menyembunyikan wajahnya pada d**a bidang dari lelaki itu,”kenapa mereka terlihat sangatlah romantis, ini masih pagi dan kalau sampai seperti ini sampai sore, mungkin aku akan pergi ke rumah sakit meminta oksigen mereka, ini sesak bagi orang jomblo,”terdengar suara yang seperti itu datang ke kuping Vanessa.
Semua orang melihat mereka dan tidak bisa berbuat apa-apa, karena itu adalah hak mereka, lagipula ini adalah kantor dari orang yang pacaran itu, bagaimana bisa mereka menganggu keromantisan yang tengah terjadi? Di dalam ruangan dari Miracle, dia kembali membuat jantung dari Vanessa berdebar tidak karuan. Dia menyelipkan rambut Vanessa yang tadi sempat rusak dan menyembunyikannya di belakang kupingnya, dia hanya terdiam dan tidak bisa mengeluarkan ekspresi apapun, pasalnya setiap hari kalau mereka bersama, mereka pasti terutama untuk Miracle, dia pasti memiliki seribu satu cara yang membuat Vanessa tidak bisa hidup tenang, karena dia terlalu senang.
“Apakah kamu boleh bekerja atau membutuhkan sesuatu, sayang?”tanya Miracle dan pergi duduk ke bangkunya,”tidak ada lagi yang aku butuhkan,”ucapnya dan duduk di hadapan dari Miracle, dengan kedua tangan yang dia buat pada bawah dagunya,”benarkah?”dia menggelengkan kepala sepertinya tidak percaya dengan jawaban Vanessa tadi,”jangan buat iblis datang kepadaku, kamu sangat menggemaskan,”sekilas dia mengecup bibir dari Vanessa, ahk ini sudah di luar batas wajah Vanessa berubah menjadi merah, di tambah dia adalah orang yang sangat putih, dia malu kenapa tiba-tiba lelaki ini mengecup bibirnya, dia melangkah keluar menutup mata dan kedua pipinya yang selebar daun talas,”kenapa dengan wajah kamu,”tawa Miracle membuat dia tambah malu saja,”kenapa kamu mengecup bibir aku di sini?”dia tampak belum siap,”memangnya ada peraturan ketika mengecup bibir kamu harus malam-malam dan berada di tempat gelap?”tanya Miracle dan sekarang dia tengah tertawa iblis,”sudahlah aku ingin bekerja,” dengan mengeluarkan seutas senyumnya dapat membuat hati Miracle merasa tenang.
Tangan yang sangat lihai dan juga benda tajam yang telah menyayat semua sayuran serta tomat dengan cabai itu, bergerak dengan lihai, tangan yang Putri mulus dan juga wajah yang tampak ceria, siapa lagi kalau bukan Zee dan juga Maya serta anak-anak lainnya,”cepat, nanti Tuan muda pasti akan makan di rumah ini, saya juga melihat bahwa dia sering membawa pacarnya ke rumah,”ucap wanita tertua yang berada di depan dan mengintruksikan semuanya,”iya, ayo kita harus cepat menyelesaikan semua ini,” gumam mereka tampa memikirkan apapun perasaan dari Zee. Wajahnya sudah terbiasa untuk mengatur semua ekspresi ini, dan dia juga sudah mempunyai kuping yang tebal untuk semua yang dia dengarkan, kakinya melangkah perlahan, kedua tangannya membawa nampan yang berisi air putih.
“Apakah kamu yang akan mengantarkan semua ini?” tanya wanita tadi sembari meranggut nampan itu,”dimana pembantu yang tidak tahu sopan itu,”smirknya terbuka dengan jelas, itu pertanda bahwa dia sedang melecehkan wanita itu,”apa yang kamu maksud?”tanya wanita itu sembari menatap kearah wanita dengan smirk tadi,”iya, apakah kamu tidak tahu bahwa saat ini ada pembantu yang tidak tahu sopan santun di sini?” tanyanya dan memakan makanan itu,”apakah kamu sedang menyindir sesuatu,”tanyanya sekali lagi sembari mengangkat dagunya,”iya, nanti aku akan panggilan dan juga kamu harus melihat apa yang dia lakukan, wajahnya sungguh sangat munafik dan tentunya dia jatuh cinta kepada,” ucapnya tergantung dan menatap ke arah lelaki yang baru duduk di sampingnya,”apa?” tanyanya dan melihat teman Ayahnya,”baiklah, kamu tahu kan bahwa sekarang ini tidak baik untuk membuat pertanyaaan itu?” wanita tadi bertanya kepada lelaki itu.
Beberapa hari yang lalu, Alexander menghubungi saudaranya dan juga temannya, mereka berniat untuk berkumpul-kumpul dan hanya mengobrol, pasalnya mereka juga tidak pernah lagi bersama-sama, ini adalah saat yang teman karena tidak lagi repot hanya karena semua ini. Beberapa hari yang akan datang mereka semua akan berada di tempat ini, berbagai sifat yang mereka punya dikeluarkan di depan Alexander,”ayo, silahkan kita makan dan pergi jalan-jalan,” ucap Alexander datang dari tangga itu dan melewati deretan sofa itu.
Maya senang karena saat ini putrinya tidak lagi menangis dan juga bersedih, terlihat semuanya dari berbagai aktivitas yang dia lakukan, bekerja dan bernyanyi serta menertawakan semua lelucon yang dia lihat. Zee yang saat ini sedang menyapu dan juga memakai handset, dia juga mengerakkan bibirnya sembari mengikuti suara dari lagu itu.
“lalala, kenapa?” tanyanya dan menoleh ke belakang,”apakah kamu tidak makan? Ayolah ini sudah larut siang namun kamu belum makan?” tanyanya dan menatap ke arah Zee,”tidak, ini masih tanggung sekali dan sepertinya perutku belum meminta apa-apa, kamu lebih baik makan sendiri,” ucapnya dan memberikan senyum yang tidak kalah bersinar.
Yah… saat ini mereka berdua telah berpisah, satu orang berjalan kearah dapur dan satu lagi masih membersihkan lantai itu. Zee masih tetap membersihkan dan bernyanyi dari jauh Miracle melihat dia, sungguh miris nasibnya karena mendapati kisah percintaan putrinya yang sangat pahit.