FLASHBACK

2010 Words
Merindu? siapa yang tidak pernah merindu? bahkan orang yang sama sekali tidak tahu apa arti rindu, dia akan memikirkan hal itu. *** Tepat waktu, saat ini Zee sudah akan istirahat, jam memang sudah menunjukkan waktu yag sangat baik untuk semua kelelahannya satu hari ini,"Arg, ini bahkan lebih baik," dia merebahkan tubuhnya dengan napas yang sungguh dia tarik dalam-dalam. "Kenapa kamu?" Zee terkejut dia berusaha untuk menetralkan sikapnya di depan ibunya"tidak apa, Bu," senyumnya manis.di malam yang dingin ini. "Lantas kenapa kamu seperti kelelahan?" "Tidak, aku hanya menarik napas saja." "Apakah menarik napas berbayar sehingga kamu harus menarik napas seperti itu?" mata ibunya menatap sengit wajah Zee yang mulai linglung. Zee tidak bisa berbuat apa, dia hanya mencoba mengalihkan pandangan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatel sama sekali,"apakah hal yang ada di bahas," reflek kata-kata itu keluar dari mulut Zee,"tidak ada, ini akan pergi, tetapi kamu harus tidur dahulu," perintah ibunya sembari merapikan tempat make-up dari putrinya. "Kenapa harus tidur secepat ini, ibu aku masih mau bermain ponsel,"dia mengerutu, karena tidak terima dengan ucapan ibunya,"tidak bisa, kamu tidak boleh bermain ponsel sekarang, lihatlah waktu," ibunya menggeleng kepala keras."perasaan baru jam sepuluh malam, dasar emak-emak ngegas," dia berbicara sedikit ngayur. Lelaki itu membuka perlahan satu persatu kemeja yang dia pakai, rasanya sangat lelah satu hari ini, dia duduk di tepi ranjang yang berada di belakangnya, sembari dia mencoba mengingat pandangan,"benarkah?" teringat dia kembali akan hal yang di katakan oleh mantannya. "Rasanya sangat sulit untuk membuka hati kembali kepada dia" benar-benar kalau kali ini Miracle yang tidak lain adalah lelaki itu kembali lagi memejamkan matanya,"aku juga tidak ingin memaafkan dia," pintanya menggaruk kepalanya dengan kedua tangan secara kasar. *** Pagi telah datang, suara ricuh dari mobil semakin besar saja, mungkin hal ini yang membuat tuan muda dengan paras serta wajahnya yah di jemur oleh terik matahari, seakan dia menandakan adalah dewa. Lihatlah, wajahnya putih kukus, sangatlah putus, dan juga hidungnya yang terlihat sangat mancung."betapa indah ciptaan Tuhan," suara wanita datang, siapa lagi kalau bukan Zee. Dia duduk di tepi ranjang, bagian yang paling pinggir,"Tuan, mati kita sarapan ini sudah pakai," suaranya yang sangat halus, jelas membuat Miracle tergebu-gebu,"masih tidak mau tidur?" Zee orangnya tidak pemaksa, namun ketika ia ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain, maka Zee hanya bisa menerima apa yang di katakan oleh orang. "Apakah ini yang membedakan antara anak kaya dan miskin?" dia membelakangi majikannya sendiri,"bangun tuan, apakah anda tidak terlambat untuk bekerja nantinya?" Zee menggoyangkan bahu Miracle yang bertujuan untuk kembali lagi mengambil kesadarannya. Mata Miracle terbuka wajah yang dia lihat pertama sekali, adalah sedikit asupan di pagi hari. Segera tanpa berlama-lama di duduk di atas ranjang, memandangi wajah pembantu dengan sangat santai. "Apakah kamu sudah lama berada di sini?" dia membuka mulut,"sepertinya kamu ingin bertemu dengan saya?" Zee membalikkan sekali lagi pertanyaan yang serupa dengan Miracle, mereka berdua sama-sama tertawa, entah apa yang mereka tahu akan hal itu"entahlah, tetapi Tuan lebih baik bangun, dan kita akan lebih mudah lagi untuk berinteraksi," ucapan yang di keluarkan oleh Zee membuat Miracle terdiam. Benar saja, Miracle segera bangun, dia seperti hewan yang penurut saja, tangan lengan dari bajunya dia gulung ke atas, dan setelahnya membuka percakapan lagi," apakah ayah ibu sudah berada di bawah?" keningnya mengerut,"mereka sudah lama berada di bawah tuan," dia menatap ke bawah dengan kedua jari-jemarinya di gusap kasar."ada apa dengan kamu, Tidka biasanya seperti ini," Miracle tertawa kecil, melihat sikap dari wanita itu,"emmmm," dia menggeleng kepala kuat, dengan kedua bibir yang dia juga ikut goyangkan,"baiklah, mari kamu sudah bisa turun, aku akan mandi," usirnya dengan halus,"baiklah," dia membuka engsel pintu. Sesampainya Zee berada di dapur, dia memegangi jantungnya dengan bantuan kedua tangannya,"apakah ini?" dia menarik napas,"tidak-tidak ini tidak boleh terjadi," dia menarik napas sekali lagi dengan hitungan yang sudah berbeda, kali ini lebih panjang. Tiba-tiba datang suara yang mengguyurkan semua hal yang dia lakukan saat itu,"kenapa kamu seperti itu, cepat angkat semua ini ke depan," ibunya meminta Zee bergerak,"baiklah ibu," hanya kata itu yang bisa dia keluarkan. Mereka terlihat bercanda ria, dengan pakaian yang sudah sangat rapi, dan juga kening dari wajah yang tampak sempurna, jelas membuat wanita itu.sedikit cemburu, akan keakraban keluarga mereka. Keluarga yang indah, lengkap dengan cinta kasih, dan kekayaaan dan jangan lupa untuk hak yang satu lagi, Miracle adalah anak tunggal, kekayaan itu akan jatuh kepada tangannya, beruntung sekali wanita yang akan dia persunting. "Hey, kenapa kamu bengong?" Miracle membuat Zee tersadar, ternyata sedari tadi dia hanya bengong di samping ayah dan ibunya,"tidak apa-apa, maaf saya akan segera pergi," dia berjalan menuju dapur, tempat yang memang sudah selayaknya dia tempati,"ada-ada aja dengan Zee, tetapi dia cukup manis bukan?" pertanyaaan itu lontar membuat Miracle yang tadinya minum, sekarang ini harus keselek. Byurrrr... Air itu mengenai ibu Miracle, dengan wajah yang tenang tetapi wajah ayahnya yang terlihat sangat khawatir,"astaga kamu kenapa, Nak," ayahnya berdiri membersihkan saat ini wajah dari istrinya yang terkena air itu,"maaf, maaf ayah, lagian kenapa kalian bahas pembantu itu di pagi hari, apakah tidak ada topik lain," wajahnya tidak sama sekali merasa bersalah,"ibu apakah aku perlu mengantarkannya?" Zee meraih nampan, karena sedari tadi ibunya hanya diam dengan mata yang sudah membendung air. Wajahnya yang capek dan lelah itu, hanya bisa tambah capek saja, matanya tidak bisa berbuat apa-apa, ingin menyembunyikan air mata itu juga, tetapi dia tidak bisa, satu hal yang dia lakukan, dia tidak boleh membiarkan putrinya untuk mendengarkan apa yang dibicarakan oleh sosok Miracle. "Tidak apa, kamu pergi saja ke dalam kamar." "Tapi Bu___" "Pergi saja, saya sudah bilang pergi, yah kamu harus pergi," "Kenapa dengan ibu?" Zee mengerutuk kesal, dia tidak seperti biasanya di perlakukan seperti ini oleh ibunya, dia bingung mengapa dengan sikap ibunya yang tiba-tiba dingin seperti ini. Dia menuruti kemauan ibunya, dia menaruh harapan yang besar semoga untuk saat ini, hanya dia yang mengetahui apa yang menjadi beban hidupnya. "Baiklah ibu, aku akan pergi." "Cepat bersihkan kamar, sepertinya ini akan menjadi libur yang panjang bagi ibu." "Benarkah?" wajahnya cemerlang,"tidak, cepatlah kamu hanya perlu membersihkan itu, bukan mengerjakan hal yang lain." "Argggg.... ibu kenapa dengan sikap ibu hari ini?" rasa kesal semakin bergejolak seiring saat itu ibunya memperlakukan dirinya seperti orang asing. *** Keadaaan kantor sudah sangat ramai, yah dan seperti biasa beberapa karyawan akan selalu menyapa atasan mereka, entah itu cari perhatian, atau semacamnya, namun yang pasti itu hanya membuat seorang yang bernama Miracle sedikit risih. Di berjalan melewati semua karyawan yang bekerja itu, dengan wajah dingin, aroma parfum yang khas, itu membuat dirinya sedikit lebih nyaman, dan menghilangkan bau yang ada di sekitar dirinya,"selamat pagi, Pak," wanita itu menundukkan kepala. Miracle bukannya membalas sapaan itu, tetapi dia sekarang hanya diam, sembari mengambil ponsel yang berada di dalam ponselnya. "Hallo Tuan kita aka mengadakan meeting hari ini," saat sekretaris yang dia punya telah berbicara, otomatis langkah kaki Miracle berhenti,"di mana dan kamu hanya perlu mengatur semuanya, ruangan jangan sampai ada yang kotor, dan kamu kabari jam berapa," Miracle tidak mau membuang-buang waktu, maka dari itu pertanyaannya membludak. "Sepertinya Tuan dalam keadaan tidak baik." "Apa?" "Tidak-tidak Tuan, hanya.salah dengar tadi." "Segera persiapkan hal-hal yang perlu, saya akan masuk." "Baiklah Tuan." Dia mengelus dadanya pelan, bersyukur kalau yang tadi Tuan Miracle tidak memperjelas semua itu,"argg... bisa gila aku, kalau tadi suaraku yang sangat besar," dia kembali lagi mendengus dan mencoba untuk duduk. Beberapa saat kemudian, sekretarisnya telah mempersiapkan matang-matang tempat dan juga hal yang perlu dengan kegiatan mereka sebentar lagi,"siap, sebentar lagi saya akan memberikan semua penjelasan kepada tuan Miracle," dengan rok yang dia kenakan di atas lutut, sedikit terlihat celah pahanya,"Tuan?" dia mengetok pintu beberapa kali. "Apakah Tuan tidak berada di dalam?" dia bertanya kepada dirinya sendiri,"tidak mungkin, hanya saja mungkin tuan Miracle sedang mendengarkan handset-nya." dia positif thingking. Zee tidak habis pikir mengapa dengan kondisi ibunya, di juga tidak mengerti perasaaan ibunya sekarang ini bagaimana. Yah, keadaaan dari ibunya sedikit parah, tadi pagi masih terlihat sangat vit dan juga segar bugar, namun setengah hati kemudian, ibunya sangat lesu. Zee hanya bisa memberikan minum ibunya, dengan sedikit suapan nasi, karena sedari tadi pagi ibunya belum makan apapun,"apakah ini akan terus seperti ini?" Zee mencoba menyemangati Ibunya,"...." diam tanpa alasan. Mata ibunya memang terbuka, namun ada pandamgan kasat mata, tidak mau bergerak dan hanya membaringkan tubuhnya di atas ranjang Zee. "Ibu, ayolah, apakah ada hal yang membuat ibu seperti ini?" "...." masih tetap diam, dengan tenggorokan rasanya yang sudah ingin berbicara kepada putrinya. "Baiklah, sekarang ibu hanya perlu makan, ayo," Zee memang wanita yang sabar," aaaaaa," dia berusaha melayangkan satu sendok makan dengan isi nasi kepada ibunya, tetapi usahanya tidak menghasilkan satu pun hal yang lebih baik. "Baiklah, aku akan istirahat saja," dia berjalan seolah zombie ke arah dapur mereka,"ibu tidak asyik, mengapa ibu menyakiti perasaan Zee, jangan seperti ini ibu," dia mulai menitikkan hal yang sangat berharga untuk dirinya sendiri. Air matanya yang tadi sempat ingin terjatuh kali ini sudah dia tarik kembali lagi, mana mungkin hanya karena hal yang sangat sepele itu, dia bisa menangis, Zee adalah wanita wanita, seorang wanita yang sudah tahan banting oleh segalanya. Firasat memang benar, lelaki sekarang yang sudah berkutik tangannya di atas keyboard hitam, pandangan tajam, tidak ada satupun yang bisa menggangu konsentrasi yang telah dia bentuk ini. Tangannya sangat lihat, berbagai dokumen telah dia periksa satu-satu, hasil meeting yang selalu dia jalankan, itu membawa dampak yang sangat positif bagi dirinya terutama perusahaan yang dia pegang. Tidak sia-sia selama ini, dia bekerja keras, tidak tidur sampai malam, dan bahkan untuk sarapan saja dia lupa, dan untungkan ada selalu wanita yang berada di sampingnya, wanita yang selalu memberikan semangat dan juga dukungan, yah siapa lagi kalau bukan Zee. Miracle merasa bersyukur karena dia telah mengenal sosok Zee, mulai kecil, pertemanan mereka sudah terbentuk dengan sangat baik, ini bahkan lebih baik. Telepon yang ada di atas meja itu, seketika berdering, dan yah konsentrasi yang dia bentuk sudah musnah, dia mengalihkan pandangan mata dengan pegang melirik siapa yang sedang menghubungi dirinya. "Argg... Kenapa lagi dengan dirinya, aku mohon lepaskan aku dari belati yang kau susun sendiri," dia mencengkram kuat tangannya dan melonggarkan sedikit dasinya. Udara sudah panas, di tambau wanita itu kembali lagi menghubungi dirinya, benar-benar membuat soal hari dari Miracle, kalau tahu seperti ini Miracle akan memblokir nomor ponsel dari wanita yang tidak tahu malu itu. "Dasar muka tembok," dunianya mengabaikan panggilan itu. Panggilan yang kedua kali masuk itu membuat dia hampir saja meledak kesabaran yang telah dia bentuk saat wanita itu selalu menghubungi dirinya. "Bagaimana?" Satu hal yang dia ucapkan saat sambungan sudah tersambung. "....." Diam seribu bahasa tanpa tahu apa sebabnya wanita itu selalu menghubungi dirinya. Ingin mematikan sambungan itu, namun ada rasa yang tidak tega di dalam hati Miracle, bagaimana pun juga dia adalah wanita yang telah mendapatkan satu malam dengan dirinya. Setelah wanita itu berbicara sekian lama, hati dari Miracle akhirnya tergerak juga, Miracle mulai membuka mulut serta memberikan pengharapan kepada mantan kekasihnya. Eittss sebenarnya bukan mantan kekasih, tetapi yang benarnya adalah hubungan mereka yang belum bisa di definisikan, mereka belum putus. Flashback off. "Apa?" suara yang kasar keluar dari mulut Miracle. "Miracle," saking terkejutnya wanita itu lupa menutup pakaiannya sendiri. "Jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku selama ini!" gertaknya dengan tangan yang di kepal erat-erat. 'tidak, dia tidak boleh mengetahui semua ini, aku sangat mencintai dirinya lebih dari apapun,' dirinya membatik takut kalau nanti benar di akan kehilangan lelakinya sendiri. "Baiklah kalau ini yang kamu mau__" ucapnya terhenti seiring suara dari lelaki yang datang dari kamar mandi. "Siapakah dia, apakah kalian mempunyai hubungan?" dia bertanya dengan handuk yang menutupi daerah rawannya. "Tidak," dia hampir berbohong dan kehilangan dua lelaki sekaligus dalam waktu yang cukup dekat. Suasana semakin mencengkram, hawa yang tidak diinginkan mulai datang dan lebih tepatnya kini perasaaan dari Miracle telah hancur babak belur, dia menyerah untuk semua ini dia merasa telah di bohongi oleh waktu dan keadaan. "Aku pergi, tolong jaga dirinya," pesan Miracle, dia terlihat sangatlah tegar, namun siapa sangka bahwa di dalam hatinya kini sudah remuk. Dia seolah mengihklaskan wanita yang ke berapa kalinya singgah dan memberikan luka pada hatinya, menusuk, dan bahkan mencerai berai, mungkin ini semua adalah bahan pertontonan untuk wanita yang berada di luaran sana, yang pernah dia tolak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD