Arga menghela nafasnya dengan pelan, dengan sabar Arga kembali bertanya dengan nada lembutnya."Dimana Crey?"
"Terserah."
"Dimana Cristy Eleanor?" Arga mengulang pertanyaannya dengan intonasi yang tinggi, Teresa yang menyadari kemarahan calon suaminya itupun seketika menelan salivanya, sungguh ia merasa takut jika Arga sudah mengubah nada bicaranya.
"TERSERAH TERSERAH TERSERAH" Teriak Cristy dengan amarah yang mulai memuncak, ia benar-benar di buat kesal oleh calon kakak iparnya itu."Aku sudah bilang terserah om, om ngerti bahasa manusia gak sih?"
Bukannya marah, Arga malah tertawa dengan sedikit kencang, baru kali ini ia melihat kemarahan seorang Cristy si gadis bar bar yang biasanya selalu nyerocos meskipun dirinya sudah membuat Cristy kesal."Ya Tuhan suaranya imut sekali kalau lagi marah, sayangnya aku tidak bisa melihat expresi wajahnya." Ucap Arga dalam hati, ia memukul setir kemudinya dengan sedikit kencang, tawanya kembali pecah seperti orang gila.
Teresa mengernyitkan keningnya bingung, ia menatap Arga dengan tatapan sedikit cemas, namun ia tidak berani membuka suaranya.
"Om sudah gila ya? Kenapa om tertawa sendiri? Memangnya ada yang lucu?" Tanya Cristy dengan kesal, ia menatap Arga dari belakang." Om mendingan pergi ke rumah sakit jiwa deh, sebelum gila om menular." Cristy kembali bersuara, sedangkan Arga tidak menggubrisnya sama sekali.
Arga kembali dengan expresi wajahnya yang seperti semula, ia menatap jalanan yang sedikit macet." Crey kamu benar-benar sudah membuatku gila" Batin Arga.
***
Saat ini Arga tengah berada di Villa miliknya, ia tengah duduk di sofa kesayangannya, matanya menatap sang asiaten yang saat ini tengah memberikan informasi penting kepada dirinya.
Arga menyeringai menakutkan, ia meraih wine yang ada di atas meja, kemudian ia meneguknya secara perlahan." Satu minggu lagi, kau akan menjadi milikku baby" Ucapnya dalam hati.
"Apa yang akan anda lakukan sekarang bos? Apakaha anda akan tetap melanjutkan pernikahan ini?"Tanya Sony dengan penasaran, namun ia heran kenapa bosnya malah memperlihatkan senyuman yang tidak biasanya, seharusnya bosnya itu marah atau paling tidak menyuruhnya untuk membuat Teresa menderita karena sudah membodohinya.
"Tentu saja aku akan melanjutkan pernikahan ini." Jawab Arga dengan santai, namun tidak dengan Sony yang terlihat terkejut mendengar jawaban dari bosnya itu.
"Bos anda yakin dengan ucapan anda barusan?"
"Tentu saja aku yakin, aku sudah bilang berapa kali Son, aku akan tetap melanjutkan pernikahan ini. Apa kau tidak mengerti juga."
"Saya memang tidak mengerti bos"
"Sudahlah kau hanya perlu mengikuti permainanku" Ucap Arga dengan kesal karena asistennya itu selalu mempertanyakan soal pernikahannya.
"Maafkan saya bos." Sony menundukkan kepalanya, ia tidak lagi mengeluarkan suaranya.
"Son kau itu sudah berapa lama berada di sampingku?"
"Eh emm saya lupa bos."Sony menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia benar-benar lupa sudah berapa lama ia berada di samping bosnya itu.
"Dasar pikun, sudahlah aku malas liat wajahmu yang sok polos itu, lebih baik kau pulanglah." Perintah Arga dengan sedikit kesal.
"Ck ,, saya memang masih polos bos, bahkan saya belum pernah menyentuh tubuh wanita sedikitpun." Batin Sony kesal."Kalau begitu saya permisi dulu bos." Pamit Sony dengan sopan, Arga hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan, setelah itu Sony langsung keluar membawa kakinya.
"Argh aku sungguh tidak sabar untuk memilikimu baby" Arga kembali tersenyum dengan bahagia, sebentar lagi rencananya untuk memiliki gadis cantik itu akan terwujud.
***
Saat ini Cristy tengah berada di salah satu cafe bersama sahabatnya Stela, mereka terlihat sangat menikmati cofe miliknya masing-masing.
Stela meletakan cofenya di atas meja, ia menatap sahabatnya dengan penuh tanda tanya," Crey tumben pengawal lo tidak ikut? Biasanya kan dia selalu berada di samping lo?" Tanya Stela dengan penasaran.
"Maksud lo Jastin?"
"Iya siapa lagi kalau bukan dia Crey"
"Oh dia lagi di luar negeri, katanya perusahaan papanya yang ada di Jerman sedang bermasalah."
"Oh pantesan dia tidak keliatan batang hidungnya." Ucap Stela.
"Kenapa lo kangen sama dia?" Tanya Cristy cuek.
"Astaga Crey, gila aja kalau gw kangen sama pacar orang, yang benar saja."Stela menggelengkan kepalanya dengan pelan, ia menatap Cristy yang kini tengah meminum cofenya." Eh ngomong-ngomong bukannya seminggu lagi pernikahan kakak lo ya Crey?"
"Hmm lebih tepatnya 5 hari lagi."
"Wah lo beruntung banget Crey, punya kakak ipar kaya raya plus tampan pula."
"Apanya yang beruntung, gw malah tidak beruntung karena memiliki kakak ipar seperti om sialan itu, dia terlalu menyebalkan untuk jadi kakak ipar gw."
"Loh memangnya kenapa?"Tanya Stela penasaran.
"Dia itu sangat nyebelin Stel, bahkan lebih menyebalkan di bandingkan dengan kucing yang mencuri ikan gw."
"Gw gak ngerti maksud lo apasih Crey? Coba jelaskan dengan detail sama gw, kenapa calon kakak ipar lo menyebalkan?"
"Iya pokoknya menyebalkan, dia itu selalu maksa gw buat ikut kemanapun kak Teresa dengan dia pergi, bahkan dia juga hampir mencium gw, dan lebih parahnya dia juga mengusap bibir gw dengan lembut, bayangkan saja Stel, dia itu calon kakak ipar gw, tapi dia memperlakukan gw seperti itu, gw rasa otaknya bermasalah deh." Crocos Cristy dengan menggebu-gebu, sedangkan Stela hanya bisa melongo mendengarnya.
"Ah pokoknya dia itu sangat menyebalkan Stel." Cristy kembali berucap setelah ia meneguk kopi miliknya.
"Stela lo kok bengong sih?" Cristy menggebrak mejanya dengan sedikit kencang, ia menatap kesal ke arah sahabatnya itu." lo gak lagi kesurupan si manis jembatan Ancolkan Stel?"
"Dih ngaco kalau ngomong, ya gak lah, gw cuma berpikir mungkin aja tuh si om tertarik sama lo, dan bisa jadi yang di nikahinya itu lo bukannya kakak lo." Ucap Teresa yang sudah kembali ke alam sadarnya." Tapi gw rasa kalian itu cocok deh Crey, lo itukan cantik, si om juga tampan ... emmmh.."
Cristy membekap mulut Stela dengan tangan kanannya."Gak lucu omongan lo Stel, sudahlah jangan ngebahas si om sialan itu, lebih baik kita bahas yang lain aja."
"Kenapa hoby lo sama si kupret Jastin sama sih, selalu saja membekap mulut gw saat gw berbicara. Menyebalkan." Gerutu Stela dengan kesal yang di tanggapi dengan kekehan sahabatnya.
***
Restauran xxx.
Disinilah Teresa berada, ia tengah menantikan kedatangan calon suaminya Arga dengan tidak sabar.
Beberapa menit kemudian, Arga datang dengan langkah kakinya yang elegan, hari ini ia memang sengaja meminta Teresa untuk datang sendiri tanpa di temani Cristy.
Melihat kedatangan Arga, Teresa langsung memperlihatkan senyuman manisnya, ia berjalan menghampiri Arga dan bergelayut dengan manjanya." Sayang tumben sekali kamu memintaku bertemu sendirian disini?" Teresa berucap dengan nada lembutnya, ia membawa Arga untuk duduk di sofa.
"Hmm kenapa? Apakah tidak boleh aku memintamu untuk datang sendirian?" Arga duduk dengan gaya khasnya, ia menatap Teresa dengan tajam.
"Oh tentu saja tidak, bahkan aku sangat senang sekali akhirnya aku bisa berduaan denganmu sayang."
Arga tersenyum sinis melihat kemunafikan calon istrinya itu." Aku memintamu datang sendirian karena ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu." Arga meraih minuman yang sudah tersedia di atas meja, kemudian ia meneguknya secara perlahan.
"Tentang apa sayang?"
"Tentang pernikahan kita."
"Kenapa dengan pernikahan kita?"
"Aku ingin kau pergi saat pernikahan kita berlangsung." Ucap Arga dengan santai.
"Ma .. Maksudmu?" Teresa terkejut mendengar ucapan Arga barusan.
"Ya aku ingin kau kabur saat pernikahan kita sedang berlangsung."
"Kamu becanda ya? Bagaimana mungkin kamu menyuruhku untuk kabur di hari pernikahan kita?"
"Aku tidak sedang becanda Teresa." Arga berucap dengan nada dinginnya, ia menatap Teresa dengan tajam." Kalau kau ingin kekasihmu selamat, turuti perintahku." Ucapnya kembali.
Teresa tertegun mendengar perkataan Arga, tubuhnya gemetar menahan rasa takutnya." Bagaimana mungkin dia tau soal Andra? Tidak, aku tidak boleh membiarkan dia membunuh Andra, aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi, argh sial, apa yang harus aku lakukan." Teresa membatin dengan cemas, ia tidak berani lagi untuk menatap Arga.
"Apakah kamu sedang mencemaskan kekasihmu yang kamu sembunyikan itu hmm?" Arga kembali berucap dengan nada dinginnya.
"Ba ,, bagaimana ka kamu bisa tau?" Teresa berucap dengan sedikit terbata-bata.
Arga tertawa menakutkan, ia menatap tajam Teresa yang kini tengah menundukkan kepalanya."Kamu pikir aku seorang Arga Putra Sanjaya dapat kamu bodohi hah?"
"A ,,aku ti, tidak .."
"Sudahlah lebih baik kamu turuti perintahku, supaya nyawa kekasihmu selamat." Ucap Arga tak terbantahkan.
"Bagaimana kalau aku menolak?" Kali ini Teresa memberanikan diri untuk menatap mata Arga.
"Kalau kau menolak maka nyawa kekasihmu akan melayang." Arga berucap dengan dingin, tatapan matanya yang tajam mampu membuat orang yang melihatnya bergidik ngeri, begitupun juga dengan Teresa yang seketika gemetaran, namun Teresa bersikap seolah dia tidak terintimidasi sama sekali.
"Aku tidak perduli itu, asalkan aku bisa menikah denganmu, apapun akan aku lakukan." Dengan tidak tahu malunya Teresa berkata, ia membuang semua cintanya terhadap Andra demi dapat menikah dengan Arga, bahkan ia mengorbankan nyawa kekasihnya sendiri.
Tawa Arga semakin menggelegar memenuhi ruangan VIP itu, ia menatap Teresa lebih tajam dari sebelumnya." Oh bagaimana kalau aku menghancurkan perusahaan papamu, menghancurkan kariermu, menghancurkan keluargamu hingga tak tersisa, bahkan aku akan membuatmu hidup di neraka jika kau masih tetap ingin menikah denganku, oh aku lupa, kalau aku masih punya club mewah yang berada di Jepang, mungkin saja kau bisa aku kirim kesana untuk menjadi seorang p*****r ..."
"STOP ... " Teresa berteriak dengan lantang," Aku akan menuruti permintaanmu, bahkan mulai dari sekarang aku akan pergi .." Ucapan Teresa tercekat di tenggorokkannya.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi sekarang hmm?" Arga menggoyangkan gelas wine yang ada di tangannya," Sudah ku bilang kaburlah disaat pernikahan kita di laksanakan. Mengerti." Ucapnya kembali setelah ia meneguk wine tersebut.
"Kenapa kamu melakukan ini kepadaku? Kenapa tidak kau batalkan saja perjodohan kita? Kenapa kamu harus menyuruhku kabur di .." Teresa berucap diiringi dengan tangisannya, namun uucapannya terhenti disaat Arga menaruh gelas wine itu dengan kasar.