Wanna try?

1953 Words
Ucapan seseorang yang entah sejak kapan berada di hadapannya, sejurus kemudian membuat Asha mengangkat kepala dan melihat Mahesa yang kini tengah menatapnya dengan tajam. “Apa?” Asha balik kembali. Ia kurang paham dengan perkataan Sang senior beberapa saat lalu. “Mau gue ajarin gitar? Nada lo nggak ada yang bener semuanya,” kritik Mahesa santai. Sedangkan Asha yang mendapat cibiran hanya bisa mengelus d**a. Agaknya, mulut lelaki ini memang tidak pernah diajari untuk berkata sopan sedikitpun. Dan tunggu, Asha sampai berkali-kali mengorek telinganya setelah mendengar bahwa Mahesa akan mengajarinya bermain gitar. Kejadian di ruang musik tadi cukup meyakinkan dirinya bahwa Mahesa tidak akan suka jika Asha masuk klub musik, tetapi kali ini pria itu malah menawarkan diri untuk membantunya bermain gitar. “Gue tau lo gak tuli, ayo ikut gue ambil gitar di rumah." Ucap Mahesa seraya menarik tangan Asha yang masih setia memegang gitar, membuat gadis itu tertarik dengan paksa. Jarak rumah Mahesa dengan kampus ternyata hanya sekitar 5 kilometer. Tetapi Asha tidak mengerti kenapa pemuda itu lebih memilih untuk tinggal di apartemen yang biaya sewanya lebih mahal, ketimbang setiap hari pulang pergi dari rumah. Mungkin lelaki tersebut bingung bagaimana caranya harus menghabiskan uang yang ia miliki, pikir Asha. Setelah tertekan dengan suasana hening yang mereka berdua ciptakan di dalam mobil. Akhirnya kuda besi milik Mahesa berhenti di sebuah rumah yang cukup megah, bahkan lebih pantas disebut dengan mansion. Gerbang yang otomatis terbuka, memperlihatkan sebuah bangunan bercat putih yang sangat luas dengan tiga lantai di atasnya. Asha sempat berpikir bahwa ia sekarang berada di gedung putih. Mahesa kemudian turun dari mobil, diikuti oleh Asha yang masih setia dengan kegiatannya mengagumi bagian luar rumah Mahesa. “Loh, Den Mahesa,” sapa seorang wanita yang hanya memakai pakaian biasa dengan rambut memutih ketika membuka pintu. Asha bisa menebak bahwa sosok perempuan paruh baya tersebut adalah pembantu di rumah ini. Namun bukannya membalas sapaan perempuan itu, Mahesa hanya menganggukkan kepala kecil dan berlalu pergi. “Kebiasaan buruk,” desis Asha melihat perilaku Mahesa, lalu memberi senyum ramah kepada pembantu itu dan kembali membuntuti Mahesa menuju kamarnya. Suasana di dalam rumah Mahesa cukup sepi. Asha bahkan tidak menemukan orang lain selain ia dan seniornya sekaligus pembantu tadi. Ketika berada di ruang tengah, ia sempat melihat sebuah foto keluarga yang Asha yakini adalah keluarga Mahesa. Namun anehnya, tidak ada Mahesa di sana. Hanya seorang laki-laki tua, perempuan muda, dan satu anak kecil. “Lo mau ngikut gue ke kamar apa gimana?” lamunan Asha kemudian terpecah karena ucapan Mahesa. Gadis itu baru sadar bahwa ia kini sudah berada di dalam sebuah kamar bercat hitam, dengan bed cover yang senada. “Ah, aku tunggu di luar kamar aja, Kak,” jawab Asha lalu berjalan mundur keluar dari kamar itu dan menutup pintunya pelan. Sekitar 5 menit menunggu, akhirnya Mahesa keluar membawa sebuah gitar berwarna coklat tua di tangan kanannya. Mereka berdua turun dari lantai atas, dan berakhir di saung taman yang cukup luas dengan taman mawar kecil yang menghiasi sisi bagian samping saung tersebut. Asha menyadari mimik wajah Mahesa sedikit berubah saat melihat jejeran bunga mawar itu. Terlihat lebih lembut, namun di waktu yang bersamaan rahangnya juga mengeras. Setelah selesai mengamati bunga mawar miliknya, Mahesa kemudian menyusul Asha yang sudah lebih dulu duduk di saung. Membuat gadis itu sedikit memundurkan dirinya agar Mahesa bisa leluasa bermain gitar. “Senar gitar buat pemula yang bagus itu biasanya extra light gauge. Karena ketebalannya yang cukup tipis, bisa menghasilkan suara halus sekaligus low tension,” Tutur Mahesa menyetel gitar yang sepertinya sudah lama tak pernah ia pakai. Asha yang mendengar penjelasan Mahesa hanya ber’oh’ ria sembari mengagumi betapa pintarnya makhluk Tuhan yang satu ini. Mahesa benar-benar sangat mahir dalam hal akademik maupun non akademik. Menurutnya, lelaki ini terlalu sempurna. Namun sayangnya, ia tidak tau bahwa Tuhan memberikan Mahesa hati yang beku serta masa lalu yang cukup suram. “Waktu pengumpulan video 2 hari lagi.Lo bisa belajar kunci dasar dulu, dan gue saranin buat pilih lagu yang kunci gitarnya nggak susah-susah amat." Lanjutnya menatap wajah Asha yang tersenyum ceria seperti biasa, matanya kemudian turun untuk melihat tangan Asha. “Tangan lo gimana?” tanyanya. Asha yang ditanya ikut mengalihkan atensinya dari wajah Mahesa menuju tangannya sendiri. Masih ada bekas luka akibat pecahan gelas minggu kemarin. Tetapi rasa sakitnya sudah hilang sejak Mahesa menjenguknya kala itu, aneh memang. “Udah nggak sakit, tinggal olesin salep buat penghilang luka aja,” jawab Asha membuat Mahesa mengangguk, lalu memberikan gitarnya kepada gadis itu. Sementara gitar milik Asha sendiri, sengaja ia tinggalkan di dalam mobil karena Mahesa yang menyuruhnya. “Pertama kunci C." Lelaki itu mengarahkan jari telunjuk Asha di senar kedua fret 1, jari tengah di senar keempat fret 2, serta jari ketiga di senar ke lima fret 3. Kondisi mereka yang cukup menempel membuat Mahesa dapat merasakan detak jantung Asha yang terpacu sangat cepat. Ia tau bahwa gadis ini sedang merona di depan sana. Setelah mempelajari beberapa kunci dasar dan menghabiskan waktu sekitar 30 menit, Mahesa kemudian mengambil alih gitar itu dan membiarkan Asha berisitirahat sejenak. Ia tidak ingin kembali melukai tangan Asha dengan senar gitarnya. Mahesa mulai memainkan gitar tersebut serta bersenandung lagi seperti di ruang musik tadi. Nyanyian yang keluar dari mulut Mahesa terdengar lebih jelas, namun sayangnya Asha tidak mengerti apa judul dari lagu yang lelaki itu nyanyikan. Suasana sore hari yang cukup berangin membuat rambut Asha berantakan. Gadis itu beberapa kali mencoba menyingkirkan rambut yang dengan nakal mencoba menghalangi pandangannya dari wajah tampan Mahesa. Lelaki yang melihat gerak-gerik menggemaskan dari seseorang di sampingnya kemudian terkekeh dan menghentikan aktifitasnya. Tangan kanannya ia bawa untuk menyelipkan anak rambut Asha ke bagian belakang telinga, membiarkan gadis itu menatapnya terkejut. Bagi Mahesa, wajah terkejut Asha adalah hal favoritnya. “Rambut lo warnanya bagus,” ucap Mahesa beropini dengan tangan yang masih berusaha menahan agar rambut Asha tidak kembali menerpa wajah manis gadis itu. Perlakuan Mahesa yang terlalu mendadak membuat Asha tidak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun. Bahkan berkedip saja ia tidak mampu. Asha belum siap mendapat perlakuan seperti ini dari Mahesa, ia merasa jantungnya telah terjatuh hingga turun sampai lambung. “Iya gue ganteng, nggak usah sampai kayak orang d***u gitu ngeliatin gue." Celetukan Mahesa sukses menyadarkan Asha dari kegiatan mengaguminya. Ia lalu mencubit pelan lengan Sang senior dan mengalihkan pandangan dari lelaki itu. Berusaha sekuat tenaga untuk menahan rona merah di pipinya walaupun percuma, karena Mahesa sudah melihat itu sejak awal. Mahesa yang mendapatkan cubitan dari Asha hanya tertawa singkat, namun tawanya justru membuat jantung Asha kembali melemah. Baru kali ini gadis itu mendengar suara tawa Mahesa yang ia rasa sangat indah. Otaknya memang selalu bereaksi aneh jika berurusan dengan Mahesa. “Mahesa?” Pemilik nama sontak menghentikan tawanya tatkala mendengar sapaan dari ambang pintu. Asha menatap seseorang yang memakai setelan jas itu. Pria tersebut terlihat sangat mirip dengan Mahesa. Bedanya, terdapat beberapa guratan keriput yang menghiasi wajah beliau. Asha yakin orang ini adalah papa Mahesa, pria yang berada di dalam foto berbingkai besar yang terletak di ruang tengah tadi. “Ayo, Sha, kita pulang,” ajak Mahesa yang lagi-lagi menarik tangan Asha dengan paksa dan membawa gitarnya, kemudian pergi melewati lelaki tua itu begitu saja. “Mahesa, kita perlu bicara." Seolah tak mendengar suara apapun, Mahesa tetap berjalan dan enggan untuk menoleh. Dalam hati, Asha dapat menyimpulkan bahwa hubungan mereka berdua sepertinya tidak berlangsung dengan baik. Setelah sampai di depan pintu dan baru saja Mahesa ingin membukanya, tiba-tiba kaki pemuda itu dipeluk oleh seorang anak laki-laki berumur sekitar 5 tahun yang entah sejak kapan telah berada disini. “Kak Mahesa mau kemana? Ayo main sama Gema,” ucap anak laki-laki itu. Mahesa melepaskan gandengannya terhadap tangan Asha dan berjongkok, berusaha menyamakan tingginya dengan tinggi anak laki-laki yang diketahui bernama Gema. “Kakak mau kuliah, mainnya lain kali aja ya." Jelas Mahesa sembari mengelus puncak kepala Gema yang memajukan bibirnya kesal. Tak berapa lama kemudian, muncul lagi seorang wanita muda yang buru-buru menggendong Gema dengan wajah khawatirnya. Asha baru sadar bahwa wajah Gema dan wanita ini sama persis dengan wajah dua orang lainnya yang berada di pigura ruang tamu. "Maafin Gema ya, Mahes,” ucap wanita itu lirih. Nada bicara serta raut wajahnya menyiratkan perasaan takut kepada Mahesa. Mahesa hanya mengangguk namun tidak menatap wajah wanita itu. Melainkan menatap Gema yang sepertinya ingin menangis, dan kembali menarik tangan Asha agar cepat-cepat keluar dari rumahnya sebelum Sang papa menyusul. Di perjalanan pulang, suasana kembali hening. Apalagi ditambah dengan kejadian yang kurang mengenakkan tadi. Asha menjadi sungkan untuk membuka suara. Gadis itu takut Mahesa sedang dalam keadaan emosi, dan dirinya akan menjadi korban kepedasan mulut lelaki tersebut lagi. Atau lebih parahnya, ia akan diturunkan dengan paksa seperti beberapa hari yang lalu. Senja yang mulai menyelimuti langit membuat Asha tersadar bahwa ia harus segera menghubungi Brian. Sang sahabat tadi sempat mengirim pesan kepada Asha bahwa ia akan pulang sore, namun Asha lupa membalasnya. Ashafile: Brian, gue belajar gitar sama Kak Mahesa. Ini udah jalan pulang, kok. Setelah yakin pesannya terkirim, Asha buru-buru menonaktifkan data di ponselnya karena tak ingin menunggu Brian membalasnya, atau ia akan membaca deretan pesan panjang berisi ceramah karena pergi tanpa berpamitan. “Sha." Asha yang tadinya menatap jalanan lewat kaca samping, kini beralih menoleh penuh ke sumber suara. “Maaf ya, kayaknya tiap sama gue, lo selalu dapet kejadian yang nggak disangka-sangka," ucap Mahesa. Matanya tetap menatap jalanan yang lengang, membuat hati Asha sedikit nyeri mendengarnya. Namun tak dapat pula ia pungkiri bahwa memang setiap Asha bertemu Mahesa, selalu ada saja kejadian buruk seperti tadi, atau Asha yang terkena sial. Mungkin saja mereka tidak jodoh, atau mungkin semesta yang sengaja ingin bermain-main? “Cuma kebetulan kali, Kak. Nggak perlu minta maaf karena kakak nggak salah,” jawab Asha yang ia buat sesantai mungkin agar Mahesa tidak kembali merasa bersalah. Sejujurnya, Asha lebih senang jika melihat Mahesa yang apatis daripada melihat Mahesa versi lembut seperti ini, jantungnya sangat lemah. “Mau coba?” ucap Mahesa. Kali ini ia bisa menatap mata gadis itu secara penuh, karena mobil yang mereka tumpangi berhenti di lampu merah. “Mau nyoba deket sama gue, nggak? Biar bisa buktiin gue ini pembawa sial apa cuma kebetulan aja,” lanjutnya membuat Asha kembali mematung. Dua kali. Dalam satu jam terkahir, sudah dua kali Mahesa sukses membuatnya seperti ini. Jantung Asha kembali berdetak cukup kencang, sedangkan perutnya seakan mengeluarkan banyak kupu-kupu. Asha mengangguk sebagai bukti bahwa ia mengiyakan perkataan Mahesa sekaligus mau mencoba lebih dekat dengan lelaki tersebut. Ini tidak terlalu cepat, bukan? Senyumnya kembali mengembang lebih lebar, dan wajahnya yang kini semerah tomat membuat Mahesa dengan gemas mencubit pelan pipi itu. Asha meninggal. Perjalanan kemudian diiringi dengan canda dan tawa mereka berdua. Sebenarnya, hanya Asha yang tertawa. Sedangkan Mahesa tetap bertahan dengan senyuman yang ia buat setipis mungkin, agar gadis itu tidak kembali berteriak kesetanan karena tawa Mahesa yang menurut Asha dapat membuatnya berkali lipat terlihat lebih tampan. Tak terasa, Mahesa dan Asha kini telah sampai di depan asrama. Asha sempat terkejut saat melihat Brian yang masih memakai pakaian basketnya, berdiri di depan pos satpam sambil melipat kedua tangan. Persis seperti seorang ayah yang tengah menunggu anak gadisnya pulang sekolah karena tidak ingin dijemput. “Lama banget sih, udah jam 7 nih,” omel Brian saat Asha telah turun, disusul dengan Mahesa yang membawakan gitarnya. “Asha bukan anak kecil, dan lo bukan orang tuanya,” sahut Mahesa membuat Brian mendelik kesal. Tak ingin membuat suasana menjadi runyam, Asha kemudian berpamitan kepada Mahesa dan mengajak Brian masuk ke dalam asrama. Mahesa melihat itu. Mahesa melihat bagaimana interaksi Asha dengan Brian yang sangat dekat. Mahesa melihat bagaimana Brian merangkul pundak Asha, sedangkan gadis itu membalas merangkul pinggang Brian. Mahesa melihat semuanya hingga tanpa sadar tangannya mengepal erat. Brian adalah sosok antagonis yang akan Mahesa buat patah di ceritanya nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD