With Brian

1849 Words
Terhitung sudah 15 menit Asha berdiri di depan mading utama kampus yang terletak di dekat lobi. Matanya bergulir ke sana kemari. Membaca beberapa poster yang berisi visi, misi, dan kegiatan-kegiatan dari beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Gadis itu bimbang ingin masuk kegiatan ekstrakurikuler yang mana. Di atas mading terdapat tulisan “Pilih berdasarkan hobi kalian”. Tetapi tetap saja, Asha tidak bisa memilih karena hobinya sendiri sekarang adalah mengusik kehidupan Mahesa. Ah, tiba-tiba ia teringat dengan lelaki misterius itu. Sudah sekitar satu minggu setelah kejadian Mahesa menjenguknya di rumah Bunda, dan sekarang mereka tidak pernah lagi bertemu satu sama lain. “Mau masuk apa lo, Sha?” tanya Brian yang sedari tadi berdiri di samping Asha. “Nggak tau.” Jawab Asha mengangkat kedua bahunya. Sejak tadi, ia dan Brian hanya menatap mading yang dipenuhi dengan poster itu tanpa minat. Jika seluruh mahasiswa tahun pertama tidak diwajibkan untuk ikut kegiatan ekstrakurikuler, pasti sekarang Asha sudah makan ayam geprek di kantin. Netra Asha kemudian berhenti di satu poster yang cukup menarik perhatiannya. Di dalam poster tersebut, terdapat foto seorang lelaki dengan beberapa orang yang membawa alat musik di belakang. Ide di kepalanya tiba-tiba muncul begitu saja saat tau siapa lelaki yang berada di dalam poster itu. Asha mengulas senyum riang dan berlari meninggalkan Brian menuju aula kampus, tempat pengambilan formulir pendaftaran UKM. "Sha, mau kemana?" "Ke aula. Gue udah tau mau masuk mana." Selama perjalanan, gadis itu tak berhenti tersenyum. Ia memutuskan untuk masuk klub musik karena Asha tau dirinya memiliki suara yang cukup bagus, dan alasan yang kedua adalah karena Mahesa ada di sana. Ya, Mahesa adalah salah satu anggota klub musik. Dan dengan ini, Asha akan memiliki banyak waktu untuk menggali hati Mahesa. Sesampainya di aula, Asha dibuat bingung karena suasana yang ramai dan tidak tau dimana letak stand klub musik berada. Matanya kembali menelisik. Mencari sosok yang selalu menjadi pusat perhatian para mahasiswa, dan gotcha! Asha melihat Mahesa sedang berdiri angkuh di depan seorang senior wanita yang sedang membagikan formulir pendaftaran. Gadis itu sempat melambaikan tangan dengan heboh saat Mahesa menatapnya. Namun tak lama kemudian, pemuda tersebut kembali membuang muka, seakan tidak pernah melihat Asha sebelumnya. Setelah mengisi formulir pendaftaran, para mahasiswa kemudian memasuki ruang UKM masing-masing untuk sesi pengenalan. Klub musik tahun ini kembali mendapatkan banyak anak baru, dan itu membawa dampak buruk bagi para pengurus. Mereka cukup dibuat kesusahan karena kondisi ruangan yang kecil tidak dapat menampung para pendaftar. Dapat dipastikan, banyaknya pendaftar ekstrakulikuler musik tahun ini didominasi oleh para mahasiswa perempuan karena adanya sosok Mahesa. “Bisa bernyanyi saja nggak cukup, kalian setidaknya harus mahir memainkan minimal satu alat musik untuk menjadi anggota kami,” ucap seorang wanita yang diketahui bernama Nisa, ketua klub musik. “Jadi, saya ingin kalian membuat video bernyanyi menggunakan alat musik apapun itu untuk bahan seleksi kami. Durasi paling lama 4 menit, terima kasih,” lanjut senior itu lalu pergi bersama para pengurus inti klub musik. Kini, satu persatu mahasiswa baru yang tadinya mendaftar klub musik, mulai keluar mengundurkan diri dan menyisakan sekitar 20 orang mahasiswa termasuk Asha. Mata gadis itu kembali menangkap sosok laki-laki yang sedang bermain gitar di pojok ruangan seraya bersenandung lirih. Mengabaikan beberapa perempuan yang dengan terang-terangan merekamnya. Selain apatis, Mahesa ternyata juga muka tembok, cibir Asha dalam hati. Tak lama kemudian, lelaki tersebut menghentikan aktifitasnya dan berdiri mendekati Asha yang hendak berjalan keluar dari ruangan. “Lo sengaja mau jadi penguntit apa gimana?” lirihnya namun terdengar jelas di telinga Asha. Gadis itu menoleh, menampilkan ekspresi seakan meminta penjelasan lebih lanjut akan maksud perkataan Mahesa. “Pertama, lo tau kalau gue tinggal di apartemen samping asrama. Dan sekarang, lo daftar musik,” lanjutnya dengan tenang. Asha tidak habis pikir, Mahesa yang pernah menjenguknya seminggu yang lalu kini kembali berubah menjadi Mahesa yang menjengkelkan. Gadis itu bahkan memiliki asumsi bahwa senior tampannya ini memiliki dua kepribadian. “Kalau emang aku mau ngintilin Kakak kenapa? Nggak suka?” kini ganti Asha yang bertanya tanpa takut. Wajah Mahesa yang awalnya tidak menampilkan ekspresi sama sekali, sekarang justru tersenyum jahil menanggapi ucapan Asha. “Nggak apa-apa, tapi gue gak yakin sih kalau lo bisa lolos seleksi ini,” Jawab Mahesa kemudian berjalan keluar ruangan. Sementara Asha yang merasa dirinya ditantang, detik itu juga kembali bertekad untuk belajar alat musik agar bisa membuktikan kepada Mahesa bahwa ia juga layak masuk klub ini. Dan mendapatkan hati lelaki itu, tentunya. *** Selesai mendaftar ekstrakulikuler, Asha dan Brian kini berada di mall untuk membeli sebuah gitar. Ya, akhirnya Asha memilih untuk belajar bermain gitar karena ia tau Brian mahir dan mau mengajarinya. Asha juga sempat meminta agar Brian mengambil gitarnya saja di rumah. Namun, lelaki itu menolak permintaan Asha dengan alasan jarak rumahnya yang jauh. Ia justru menawarkan diri untuk membelikan gadis tersebut sebuah gitar. “Bri, bagusan yang mana?” Ucap Asha seraya membawa dua gitar di tangan kanan dan kirinya. Yang satu berwarna putih sedangkan yang di sebelah kiri berwarna coklat muda. “Yang coklat aja kali ya." Jawab Brian menunjuk gitar berwarna coklat itu. Brian tau bahwa Asha bukan orang yang rajin untuk bersih-bersih. Jadi, jika Si gadis memilih warna putih, sudah bisa dipastikan gitar itu tersebut akan cepat kotor. Setelah melakukan transaksi pembayaran, Asha dan Brian melanjutkan perjalanan menuju “Blue Cafe” untuk melepas penat mereka. Beruntung sekali dosen yang seharusnya mengajar keduanya siang tadi ada kendala untuk masuk, hingga membuat mereka berdua menyempatkan diri untuk berjalan-jalan lebih lama di dalam mall. Selesai memesan, Brian kembali duduk di hadapan Asha. Ia melihat gadis tersebut sangat semangat membuka gitar yang masih terbungkus kardus. Brian sendiri cukup dibuat bingung karena tiba-tiba Asha ingin belajar bermain gitar. Padahal, Asha sendiri bukanlah tipikal orang yang suka belajar hal baru. “Kenapa mau belajar gitar?” tanya Brian. “Syarat masuk klub harus bisa minimal satu alat musik, gue cuma bisa nyanyi,” jawabnya membuat Brian gemas tatkala melihat perubahan wajah Asha dari yang awalnya tersenyum, lalu berubah menjadi muram. “Ajarin ya, Bri,” lanjut Asha yang kembali merubah mimik wajahnya menjadi tersenyum memohon, lalu menampilkan puppy eyes-nya, kelemahan Brian. Lelaki itu hanya mengangguk kemudian mengelus puncak kepala Asha pelan. Gadis di depannya ini, entah kenapa selalu sukses membuat Brian rela melakukan apapun. Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Satu gelas strawberry smoothies yang akhir-akhir ini menjadi minuman favorit Asha. Satu cup ice coffee untuk Brian. Serta satu porsi besar kentang untuk mereka berdua. Dengan semangat Asha mulai memakan kentang itu sembari menatap jalanan yang tak begitu ramai, sejenak meninggalkan keinginannya untuk belajar gitar. Sedangkan lelaki yang berada di depan Asha masih betah menatapnya. Seakan tidak ada hal lain yang lebih indah daripada pahatan sempurna yang berada tepat di hadapannya sekarang. Asha itu cantik. Sangat. Brian tidak pernah bosan memuji gadis itu sejak umur 7 tahun hingga saat ini. Mungkin bagi sebagian orang, sedikit gila jika selalu menuruti apapun permintaan Asha. Tetapi Brian memang selemah itu, ia selalu lemah jika harus berhadapan dengan Asha. Asha yang manis. Asha dengan sejuta senyuman. Asha yang sangat menggemaskan dan selalu ceria. Pemuda itu sadar bawah dirinya telah .... “Bri, jangan liatin gue kayak gitu, dong!” Seketika, Brian yang tersadar dari lamunannya kembali memasang wajah senormal mungkin. Berulang kali sudah ia melihat wajah Asha sedekat ini, namun rasanya tetap sama, jantungnya selalu berdetak tidak normal. “Jadi ajarin gue, kan?” Tanya Asha sekali lagi, mengambil gitar yang sempat ia abaikan. Belum sampai brian mengiyakan perkataan Asha, terdengar notifikasi dari benda pipih yang berada di saku celana. Menampilkan sebuah pesan masuk dari group basket. Basket FT’21: Anak baru sekarang seleksi ya. Harap segera ke lapangan bagian dalam. Paling lambat 15 menit dari sekarang! —Banyu. Brian menghela nafas kesal ketika selesai membaca pesan tersebut. Baru saja ia meluangkan waktu bersama Asha yang akhir-akhir ini selalu sibuk kuliah, dan sekarang malah kembali disibukkan dengan seleksi basket yang mendadak. “Gue ada seleksi basket, nih. Maaf ya baru bilang,” ucap Brian hati-hati, takut membuat perasaan gadis di depannya kembali rusak. Asha yang mendengar itu hanya mengangguk dan tetap menampilkan senyuman di wajahnya, seakan hal tersebut bukan merupakan masalah besar. Ia rasa, dirinya juga bisa belajar sendiri tanpa bantuan Brian. Toh, nanti ketika di asrama, Brian pasti bisa mengajarinya juga. “Tunggu, ya. Tapi kalau lebih dari 1 jam, telfon aja. Nanti gue order go-jek atau izin Kak Banyu buat pulang duluan,” cerocos Brian membuat Asha tertawa. Brian selalu memperhatikan dan mengkhawatirkan Asha seperti dulu. Padahal, mereka berdua sudah sama-sama dewasa dan bisa menjaga diri masing-masing. Tetapi, Brian selalu beranggapan bahwa Asha adalah anak kecil yang wajib ia jaga. “Iya Brian, Asha juga bisa order go-jek sendiri kok,” jawab Asha. Brian selalu suka saat Asha menyebut dirinya sendiri dengan nama. Ah, semua yang Asha lakukan sepertinya lelaki itu menyukainya. Pemuda keturunan Amerika tersebut bangkit berdiri dan mengacak puncak kepala Asha pelan. Tak lupa, ia juga memberikan kecupan di punggung tangannya yang menempel di kepala Asha, membuat gadis itu langsung terkejut lalu mencubit pinggang Brian. “Brian!!” pekiknya lirih. Sementara Si pria langsung berlari pergi dan melambaikan tangannya. Asha yang masih terkejut mengedarkan pandangam ke sekeliling cafe. Beruntung kondisi cafe saat itu masih sepi. Dan ia rasa, tidak ada orang yang melihat kejadian tadi. Pasalnya, jika ada yang melihat kelakuan Brian, pasti Asha juga akan terkena imbasnya. Seperti mendapat teror, atau kata-kata hujatan dari para penggemar Brian yang mengatasnamakan diri mereka sebagai "Brian Wife". Sementara di satu sisi, ada tiga orang lelaki yang cukup dibuat terkejut dengan kejadian tadi. Mereka adalah Mahesa, Banyu, dan Yeremias yang berada di dalam bar cafe. Tempat itu memang cukup sulit untuk dilihat dari luar karena terhalang papan menu yang tertempel di atas. Tetapi mereka bisa melihat kejadian yang ada di luar seperti tadi. “Jadi, lo nyuruh gue buat majuin jadwal seleksi basket cuma biar bisa liat cowok itu pergi dari hadapan Asha?” tanya Banyu membuka suara sembari menampilkan raut wajah tak terima. Mahesa hanya mengangguk, tanpa mau melepaskan tatapan matanya dari gadis yang kini sedang duduk sendiri di depan cafe, seraya sesekali mencoba untuk bermain gitar. Banyu memutar bola matanya malas, berteman lama dengan Mahesa tetap membuatnya sulit untuk menebak isi pikiran lelaki itu. “Padahal gue masih mau pacaran,” celetuk Banyu sambil membuka apron hitam yang tadi sempat melilit tubuhnya. Kini ganti Mahesa yang memutar bola matanya. Ia jengah melihat temannya yang selalu bereaksi berlebihan seperti ini. “Kalau kata gue, mending sekarang lo pergi ke lapangan basket sebelum citra lo sebagai ketua tercoreng gara-gara telat,” balas Mahesa membuat Banyu lagi-lagi mendengus kesal dan meninggalkan mereka berdua. Mahesa kemudian memakai kembali hoodie miliknya dan mengambil tas yang tergeletak di meja bar, “Gue pergi dulu, Re. Tetap main aman ya," ucapnya ringan. Wajah menggemaskan Yeremias seketika merona ketika mendengarkan ucapan Mahesa. Ia kemudian mengangguk dan tertawa untuk menghilangkan rasa canggungnya. Setelah meninggalkan Yeremias yang sedang menunggu pesanan dessert untuk Sang mama, Mahesa berjalan mendekati Asha yang masih setia dengan gitarnya. Bahkan, gadis itu nampak tidak menyadari bahwa Mahesa kini sudah berada di hadapannya. Mahesa yang kesal karena Asha tak kunjung sadar pun membuka suara, “Mau gue ajarin?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD