Lokasi cafe yang dekat kampus dan searah dengan jalan pulang, memudahkan mereka berdua untuk cepat sampai di apartemen Mahesa melalui jalan tikus.
Mahesa juga patut bersyukur karena mobilnya dapat masuk di jalan tikus yang mereka lewati, walaupun ia harus mencucinya besok karena jalanan yang begitu becek dan kotor.
Asha sedari tadi hanya diam mengikuti Mahesa yang berjalan di depannya menuju kamar apartemen. Ia masih kesal karena lelaki itu tadi tidak memberikan pujian atau kata-kata mutiara sebagai hadiah.
Setelah terdengar bunyi pintu apartemen terbuka, Mahesa menempelkan kartu identitas yang otomatis membuat lampu di dalam apartemen itu menyala.
“Masuk aja, biar gue ambil dulu bukunya.” Ujar Mahesa melepas sepatu dan menatanya di rak yang berada di samping pintu.
Asha mengangguk, mengikuti gerak Mahesa dan masuk ke dalam apartemen yang ia nilai cukup luas untuk dihuni sendiri. Setidaknya, Mahesa harus mempunyai satu atau dua teman sekamar.
Ah, mungkin lelaki ini juga sering mengajak gadis-gadis ke apartemen miliknya, seperti di beberapa cerita yang pernah Asha baca.
Mahesa berjalan masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Asha yang duduk di sofa, dan masih setia melihat kondisi apartemen Sang senior yang ia rasa cukup bersih dengan barang-barang yang tertata rapi.
“Di luar hujan deras, lo mau disini dulu sampai reda?” Ucap Mahesa ketika keluar dari kamar sembari membawa 1 buku yang pernah ia hilangkan kala itu.
Asha melihat ke arah luar melalui jendela kaca besar yang setengahnya tertutup oleh gorden berwarna hitam. Terlalu asik menilai interior apartemen milik Mahesa, membuatnya tak sadar bahwa hujan deras telah membasahi bumi.
“Langsung pulang aja deh, Kak. Kakak ada payung?” tanya Asha, ia takut akan khilaf jika berlama-lama dengan Mahesa disini.
Pria itu menganggukkan kepala dan berkata, “Oke, gue pinjem payung ke sebelah dulu, ya. Lo tunggu sini.” Lalu berjalan keluar.
Asha ternganga saat mengetahui bahwa Mahesa tidak mempunyai payung.
Interior mahal ditambah dengan satu set etalase berisi action figure, membuat Asha kembali dibuat tak percaya bahwa Mahesa tidak punya payung yang mungkin harganya tak sampai setengah dari harga mainan black panther miliknya.
Gadis itu berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan menuju dapur. Sebenarnya, Asha tidak mau berbuat tidak sopan seperti ini. Tetapi dirinya sangat haus karena sejak tadi tidak diberi minum oleh pemilik rumah. Sungguh, lelaki itu sangat buruk dalam menyambut tamu.
Belum sampai Asha meminum air yang baru ia ambil dari meja makan, tiba-tiba suara petir dan lampu yang padam membuat gelas itu terjatuh dari pegangan Si gadis.
Hujan ternyata semakin menggila. Bahkan, Asha bisa mendengar suara angin yang cukup kencang dari luar.
Ia terduduk di bawah meja makan dengan lemas. Berusaha mencari penerangan, namun sial! Ponselnya tertinggal di ruang tengah.
Gelap. Suara petir kembali terdengar. Asha yang panik berusaha untuk merangkak ke ruang tengah. Namun tangannya tak sengaja mengenai pecahan gelas yang ia jatuhkan beberapa saat lalu.
"Enggak. Asha nggak boleh panik. Ayo tenang!!"
Asha membenci hal ini. Ketakutan dan perih di tangan menjadi satu. Otaknya dengan cepat kembali memaksa gadis itu untuk memutar kejadian 10 tahun lalu, yang membuatnya trauma dengan suara petir.
Asha menangis. Semakin kencang suara petir diluar, semakin kencang pula tangisan Asha hingga ia bisa merasakan sesak di dadanya.
Tak lama kemudian, bunyi pintu terbuka membuat gadis tersebut semakin panik. Ia berharap bahwa itu Mahesa, tapi bagaimana jika ternyata yang membuka pintu tersebut bukan Sang senior, melainkan orang jahat yang berniat untuk membunuhnya?
Dengan sekuat tenaga, Asha berusaha menahan isak tangisnya agar tidak keluar.
“Asha,” panggil Mahesa lirih saat ia hanya menemukan ponsel milik Asha yang tergeletak di ruang tengah.
Petir kembali datang membuat Asha ikut meloloskan tangisannya.
Samar, telinga Mahesa menangkap isak tangis dari arah dapur. Dengan segera, ia berjalan menuju ke sumber suara. Dan benar saja, lelaki itu menemukan Asha terduduk di bawah meja, dengan bahu yang bergetar kuat dan kepala yang menunduk.
“Hei ini gue, Mahesa." Ucapnya sembari berjalan mendekati gadis itu.
Setelah tau bahwa lelaki yang di depannya ini benar-benar Mahesa, ia langsung memeluknya erat berusaha untuk mencari ketenangan.
“Kak Mahesa, Asha takut,” suara isak tangis semakin keras terdengar, membuat lelaki itu mau tak mau ikut mengeratkan pelukannya.
"Tenang, ya. Kak Mahesa ada disini buat Asha," sahut Mahesa menggunakan gaya bicara yang biasa ia lakukan kepada beberapa anak kecil.
Lampu kembali menyala, hujan di luar sana mulai reda. Mahesa yang sudah berniat berdiri dan menuntun Asha untuk duduk di ruang tengah, dibuat terkejut saat melihat pecahan gelas dilantai serta tangan yang penuh darah.
“Asha, tangan lo!"
Dan detik berikutnya, gadis tersebut langsung tak sadarkan diri.
***
Wajah Mahesa jelas menyiratkan bahwa ia sangat cemas dengan kondisi Asha saat ini. Gadis yang ia temukan menangis di bawah meja, gadis pengganggu yang kini dengan lemah terbaring di atas kasur klinik kampus.
Bahkan, Asha sempat menangis histeris hingga membuat dokter jaga terpaksa untuk memberikannya obat tidur agar sedikit tenang.
Suara pintu yang terbuka membuat Mahesa memalingkan wajah. Ia melihat Brian dan Maya dengan raut wajah yang tak ada bedanya dengan dirinya, berjalan mendekat.
“Lo apain Asha sampai kayak gini?” Brian menatap tajam Mahesa serta menaikkan intonasi suaranya.
“Gue nemuin Asha nangis di dapur waktu mati lampu,” jawab Mahesa sekenanya. Ia rasa tidak perlu menceritakan secara detail kejadian tadi, karena hal itu cukup melelahkan baginya.
“Lo boleh pergi, gue udah disini,” timpal Brian. Sementara Mahesa hanya menganggukkan kepala, menatap Asha yang masih tertidur pulas, lalu keluar dari kamar.
“Asha punya trauma sama suara petir,” lanjut Brian membuat Mahesa berhenti sebentar di dekat pintu, kemudian kembali berjalan meninggalkan ruangan itu.
Kepalanya kembali berisik. Ia merasa bersalah kepada Asha karena meninggalkan gadis itu sendirian di apartemen miliknya.
Tetapi di sisi lain, itu juga bukan sepenuhnya salah Mahesa. Ia sendiri tidak tau bahwa Asha memiliki trauma.
Lagi pula, dirinya juga tidak bisa memprediksi kapan datangnya petir. Mahesa bukan peramal. Ia hanya laki-laki dengan sejuta rahasia yang siap memberi luka di hati siapapun.
***
Kejadian kemarin cukup membuat kepala Mahesa berisik hingga saat ini, ia sendiri tidak mengerti kenapa mencemaskan kondisi Asha.
Pagi tadi, Mahesa menyempatkan diri pergi ke klinik kampus hanya untuk sekedar melihat kondisi adik tingkatnya.
Namun, ranjang yang Asha tempati telah kosong. Dan seperti biasa, Mahesa juga enggan bertanya kepada dokter jaga karena egonya yang masih selangit.
Lelaki itu sekali lagi menengguk kopi Vietnam pesanannya, lalu kembali memperhatikan jalanan di luar cafe. Menghiraukan dua orang pemuda yang sedang asik menggoda satu sama lain.
“Oh iya, Hes, tadi gue ketemu Asha sama Brian di klinik,” ucap Yeremias membuat Mahesa langsung menoleh.
“Terus?” tanyanya penasaran.
“Waktu gue tanya mau kemana, jawabnya pulang ke rumah Bunda,” jelas Yeremias. Ia sendiri juga bingung yang dimaksud rumah bunda itu rumah Asha atau Brian.
Mahesa yang mengerti dengan cepat memakai jaket jeansnya lalu berdiri. Belum sempat ia berjalan, tangan Banyu sudah lebih dulu menghalangi.
“Lo yakin sama Asha?” tanya Banyu dengan nada serius, lalu mendapat anggukan kepala dari Mahesa.
Mereka berdua hanya menatap kepergian Mahesa dengan Vespa maticnya yang baru saja selesai di servis , tanpa ada minat untuk menghalangi atau memberi peringatan kepada lelaki itu.
Jujur saja, Banyu dan Yeremias sudah lelah menghadapi tingkah aneh Mahesa.
“Sampai kapan dia mau kayak gitu,” gumam Yeremias.
“Sampai kita nikah kali,” celetuknya yang dihadiahi jambakan keras dari Yeremias.
"Ih, Si b**o!" cerca lelaki manis itu.
30 menit kemudian, Mahesa sudah sampai di depan rumah Asha. Ia berusaha mengetuk pagar besi rumah dua lantai tersebut. Dan tak lama kemudian, keluar seorang pemuda yang Mahesa tau betul siapa dia.
Brian berjalan keluar dengan tatapan tak biasa. Ia membuka pagar itu, namun tetap berdiri di tengah hingga membuat Mahesa tidak bisa memasukkan motornya ke dalam.
“Ngapain?” tanya Brian. Seharusnya, Mahesa juga mengatakan hal seperti itu kepada Brian. Kenapa lelaki bule ini selalu berada di samping Asha?
“Kak Mahesa?” ucap seorang gadis yang terlihat berjalan mendekati keduanya. Asha sendiri juga sama terkejutnya seperti Brian saat melihat Mahesa datang.
"Eh masuk dulu, Kak!” ajak Asha saat dirasa tidak etis bila mereka bertiga berdiri di depan pagar rumah seperti ini.
Mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam rumah. Mahesa sedikit melirik tangan Asha yang masih dibalut perban. Gadis seceria Asha ternyata memiliki trauma yang cukup memilukan walaupun Mahesa belum tau pasti apa penyebab traumanya.
Kemudian tunggu, kenapa Mahesa jadi peduli dengan Asha seperti ini? Ia menggelengkan kepala berulang kali, dan kembali mengikuti langkah kaki dua juniornya.
"Wah, ada tamu. Temennya Asha sama Brian, ya?" tanya Bunda ketika Asha membawa Mahesa ke ruang makan.
“Kak Mahesa, Bun. Kakak tingkat Asha yang waktu itu pernah nganterin Asha pulang".
Mahesa berjalan mendekat ke arah bunda Asha dan mencium tangannya sebagai bentuk perkenalan yang sopan. Tak lupa, ia mengulas senyum terbaik yang hanya ia berikan kepada seseorang yang lebih tua.
Bunda Asha tersenyum, ia lalu mencoba mengingat-ingat sesuatu. Sepertinya, beliau pernah mendengar nama Mahesa sebelumnya. Bukan dari Asha, melainkan dari informan terbaiknya, Brian.
“Oh kamu Mahesa yang nyuruh Asha buat keliling lapangan 20 kali itu ya? Bunda tau dari Brian, sih,” ucap Bunda membuat suasana dapur yang tadinya ramai menjadi canggung.
Mahesa melirik Brian, dan yang dilirik justru kembali menatap Mahesa seakan tidak takut dengan tatapan maut lelaki itu.
“Nggak apa-apa, nak Mahesa. Hukum aja Asha kalau nakal. Dulu, bunda juga sering hukum Asha lari keliling kompleks kalau dia buat salah,” lanjut Bunda sangat jauh dari ekspetasi Mahesa dan Brian.
Mahesa kira, dirinya akan mendapat wejangan seperti yang ia dapat dari dekan dulu.
Namun bunda dengan senang hati setuju dengan sikap Mahesa yang menghukum Asha seperti waktu itu. Dan akhirnya, ia tau dari mana sikap ajaib Asha berasal.
Mereka berempat kemudian duduk di meja makan yang telah disiapkan.
Rencananya, siang ini Bunda akan memasak sup ayam. Tetapi Brian tiba-tiba datang lalu merengek seperti anak kecil meminta dibuatkan sandwich, dan memaksa Bunda untuk mengganti menu makanan.
Mengenai ucapan Brian yang berkata bahwa sandwich bunda ini paling enak sedunia, Mahesa rasa itu benar.
Baru kali ini ia memakan sandwich yang enak bahkan rasanya belum pernah ia temui dimana pun. Tetapi ada sedikit hal yang mengusik pikiran lelaki itu, yaitu kedekatan Brian dengan Asha dan Bundanya.
Mahesa sempat berpikir untuk menjadikan Brian sebagai tokoh antagonis.
Tapi, bukankah sosok antagonis sebenarnya sudah ditentukan sejak awal? Atau, haruskah tokoh antagonis yang tercipta sejak dulu kini mendapat peran protagonis?
Sepertinya itu tidak pantas, dan Mahesa akan memikirkannya nanti.