“Emang yang nganterin lo kemaren lusa siapa, Sha?” tanya Brian. Mereka baru saja keluar dari kompleks perumahan Asha menuju jalan besar.
Pagi tadi, ketika baru saja datang, Bunda sempat bercerita kepada Brian bahwa anak gadisnya pernah diantar pulang oleh laki-laki.
Awalnya, Bunda pikir itu Brian. Tetapi melihat sikap Asha yang tak biasa, membuat Sang bunda kembali berpikir bahwa tidak mungkin anak kesayangannya begitu senang jika diantar pulang oleh Brian.
Selain itu, sesibuk apapun ia, Brian pasti selalu menyempatkan dirinya untuk mampir ke rumah bunda setiap mengantar Asha pulang.
Bunda hanya khawatir jika Asha bertemu dengan laki-laki tidak baik. Maka dari itu, beliau menyuruh Brian untuk bertanya lebih dalam kepada Asha.
“Kak Mahesa.” Jawab gadis tersebut sambil bermain ponsel, hingga membuat Brian terkejut dan mengerem mobilnya secara mendadak.
“Beneran?” tanya Brian sekali lagi. Sekedar memastikan serta berharap telinganya salah dengar.
“Iya Bri. Emang kenapa, sih?” Asha balik bertanya. Seluruh badannya ia putar 90° untuk menatap Brian dengan kesal.
Lelaki yang mendapat pertanyaan hanya menggelengkan kepala. "Lain kali, nggak usah sungkan buat hubungi gue kalau nggak ada teman pulang. Lo bikin repot orang lain tau, untuk Mahesa mau anter," celotehnya.
"Kak Mahesa, Bri. Dia lebih tua dari lo," sahut Asha mengoreksi.
Tak peduli, Brian kembali fokus pada jalanan ibu kota yang lumayan ramai. Tangannya terulur, menghidupkan sebuah lagu dari tape mobil yang sebelumnya telah ia tancapkan flashdisk berwarna putih.
Lambat laun, lagu dari Kaleb J yang berjudul It’s Only Me kembali terdengar di telinga mereka berdua. Sudah tak terhitung berapa kali Brian mendengarkan lagu ini, Asha bahkan sampai hafal liriknya di luar kepala.
“Lagu ini lagi,” keluh Si wanita yang hanya dihadiahi tawa kecil dari lelaki berambut kecoklatan tersebut.
Lagu yang cukup populer ini memang hampir setiap hari dinyanyikan oleh Brian. Entah lewat tape musik saat bersama Asha di dalam mobil, atau hanya menyanyikan sebagian liriknya saat ia dan Asha sedang bersama.
Setiap ditanya, Brian selalu beralibi bahwa lagu tersebut sangat enak didengar. Tetapi untuk urusan hati, hanya dirinya dan Tuhan yang tau.
***
Tak butuh waktu lama, keduanya kini telah sampai di kampus untuk mengikuti kelas pagi. Asha duduk di meja paling depan sembari meminum satu cup americano yang sempat Brian belikan di cafe sebelah kampus.
Jarak dari rumah menuju kampus yang cukup jauh, memaksa Asha untuk harus berangkat lebih pagi agar tidak terlambat. Dan hal itu sukses membuatnya dilanda kantuk.
Lima belas menit berlalu, kelas mulai terlihat ramai dengan para mahasiswa semester satu dan beberapa mahasiswa yang mengulang kelas.
Ketika tengah asik melihat sekeliling ruangan bernuansa putih tersebut, Asha dikejutkan oleh kedatangan Mahesa, lengkap dengan laptop dan beberapa tumpukan buku di tangannya.
“Kak Mahesa ngulang?” bisik Maya yang jelas-jelas akan dijawab dengan gelengan kepala oleh Asha. Mana Asha tau, Mahesa kan misterius.
Mahesa yang tadinya berdiri di pintu, berjalan masuk dan meletakkan laptop beserta buku-buku yang ada digenggamnya menuju meja dosen.
Ia kembali melihat ke arah sekitar. Mengedarkan pandangan seolah sedang menghitung berapa jumlah mahasiswa yang hadir hari ini.
“Kak, masih ada kursi kosong di belakang. Duduk aja," celetuk Asha. Mengarahkan Mahesa yang mengerutkan kening agar segera duduk di belakang.
Mahesa yang sepertinya mengerti isi kepala Asha, kembali bersikap seperti semula. Ia menuruti permintaan gadis itu untuk duduk di kursi yang dituju, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Asha sendiri kembali sibuk dengan pikirannya. Ternyata, sosok yang menurutnya paling sempurna dan menyeramkan itu juga bisa mengulang kelas, batinnya.
Di sisi lain, ada mahasiswa semester 3 yang juga mengulang kelas, kini menatap Mahesa dengan bingung.
Sebelum mereka bicara, Mahesa sudah lebih dulu menempelkan jari telunjuknya ke bibir untuk memberi isyarat agar tetap diam. Ini akan menarik, pikir lelaki itu.
Tak sampai sejenak, datang seorang lelaki berumur sekitar 30 tahunan. Memakai jas rapi, lengkap dengan wajahnya yang kaku dan dingin. Asha begitu yakin bahwa lelaki itu adalah dosennya.
“Baik kelas akan kita– Loh, Mahesa, kenapa kamu duduk di situ?” ucap dosen tersebut membuat Asha kembali dilanda kebingungan.
“Adq mahasiswa semester satu yang suruh saya duduk di sini, Pak." Jawab Mahesa, sembari berjalan ke depan dan berhenti tepat di samping Sang dosen.
Sekarang, Asha justru semakin kebingungan saat melihat keakraban yang terjalin diantara mereka berdua. Dosen itu bahkan tertawa dan memukul pelan pundak Mahesa.
“Perkenalkan, nama saya Gemilang. Dosen mata kuliah pemrograman dasar. Dan di samping saya ini Mahesa, asisten saya yang akan bertugas memberikan kuis dan presentasi,” jelas pak Gemilang.
Seketika itu juga Asha meneguk ludahnya, antara terkejut dan takut menjadi satu. Terdengar suara cekikikan di belakang. Menandakan bahwa mereka tau siapa Mahesa yang sebenarnya, tetapi enggan untuk memberitahu gadis tersebut.
Kelas kemudian dimulai, namun Asha tetap sibuk dengan pikirannya. Matanya berulang kali melihat dosen dan melirik Mahesa yang sedang melaksanakan presentasi di depan.
Wajah mereka memang sangat berbeda. Namun aura dingin dan penuh dengan tekanan bisa Asha rasakan keluar dari tubuh mereka berdua.
Dosen killer biasanya akan memiliki asisten yang supel dan akrab. Dengan maksud agar mahasiswa bisa santai ketika bertukar pikiran.
Tapi jika dosen dan asistennya sama-sama menyeramkan seperti ini, pantas saja banyak mahasiswa yang mengulang, pikir Asha.
“Jadi apa saja elemen utama penyusun HTML, Ashafa?” tanya pak Gemilang membuyarkan lamunan Si pemilik nama.
Bukannya menjawab, Asha justru menatap wajah Pak Gemilang dan Mahesa yang menunggu jawaban darinya.
“Apa ya, Pak?”
Bodoh.
Asha sadar dirinya sangat bodoh saat balik bertanya kepada pak Gemilang. Tapi ia benar-benar tidak tau harus menjawab apa, Asha sama sekali tidak menguasai mata kuliah pemrograman dasar ini.
Pak Gemilang berdeham pelan, sukses membuat suasana semakin mencekam. Persis seperti hari pertama mereka melaksanakan kegiatan ospek kala itu.
"Buka buku materi kamu yang dari senior itu,” perintahnya.
Asha ingat bahwa ia belum mempunyai buku yang dimaksud. Atau lebih tepatnya, Mahesa belum mengganti buku tersebut, dan ini bisa menjadi alasan Asha untuk mempermalukan Mahesa.
“Bukunya dihilangkan sama Kak Mahesa, Pak. Sudah saya minta pertanggung jawaban tapi Kak Mahesa gak mau!" Asha berkata cukup keras, menunjuk Mahesa yang terkejut dengan keberaniannya.
Pak Gemilang mengacak rambutnya frustasi. Sudah cukup ia mendapat tekanan batin hingga stres dengan masalah rumah. Dan sekarang, dirinya kembali dihadapkan dengan mahasiswa perempuan yang menjengkelkan.
“Selesai kelas, kalian berdua Bapak tunggu di ruangan,” ucapnya lalu pergi meninggalkan kelas.
Kini, hanya tersisa Mahesa yang melanjutkan materi sembari sesekali menatap Asha dengan tajam. Sedangkan yang merasa ditatap hanya memberikan senyuman mengejek.
***
Gadis yang menurut Mahesa sangat menjengkelkan sekarang tengah berada di “Blue Cafe”, sebuah cafe berukuran lumayan besar yang terletak di dekat kampus tempatnya kuliah.
Tempat ini memang selalu menjadi langganan para mahasiswa untuk melepas penat atau mengerjakan tugas kelompok bersama. Karena selain tempatnya yang luas dan nyaman, harga makanan disini juga cukup murah.
Setelah kelas tadi, Asha dan Mahesa langsung menuju ruang kerja Pak Gemilang.
Di sana, Asha merasa sangat puas karena melihat Mahesa mendapat wejangan dari pak Gemilang yang terkenal bermulut pedas. Melihat Sang senior yang hanya bisa diam saja, membuat Asha semakin merasa bahagia di atas penderitaan lelaki itu.
Tak sampai disitu, Pak Gemilang juga menyuruh Mahesa untuk memberikan Asha bimbingan belajar, sebagai bentuk pertanggungjawaban karena telah menghilangkan buku pemrograman dasar.
Maka dari itu, sekarang Asha sudah menunggu Mahesa yang berjanji akan menjadi guru privatnya selama dua jam di cafe ini.
Sembari menunggu Mahesa yang sedang asik berbincang dengan temannya di bar, Asha meminum satu gelas strawberry smoothies miliknya.
“Jadi, tools yang dibutuhkan untuk coding antara lain ada Notepad, Sublime, Eclipse, dan masih banyak lagi,” ucap Mahesa yang tiba-tiba duduk seraya membuka laptop. Tak peduli gadis di hadapannya kini tersedak akibat terkejut karena kedatangannya.
“Lo udah punya semuanya, kan?” tanya Mahesa memastikan. Asha mengangguk mengiyakan.
Gadis itu sempat memaksa Maya untuk meminjamkan laptopnya. Karena laptop milik Asha sendiri tidak memiliki aplikasi yang sempat disebutkan oleh Mahesa. Asha benar-benar tidak punya persiapan materi untuk bergabung di fakultas ini. Ia hanya mengikuti pilihan Brian.
Mahesa memutar laptop miliknya. Menarik kursi agar bisa duduk di sebelah gadis itu, sembari membuka modul bertuliskan HTML di dalam benda pipih berukuran besar tersebut.
"Buka aplikasi di laptop lo yang mendukung buat bikin script HTML,” ucapnya. Dengan cepat Asha langsung membuka aplikasi berlogo bunglon berwarna hijau.
Setelah dirasa siap, Mahesa mulai menggeser modul itu dan berhenti disebuah source code dengan tulisan level 1 yang berada di pojok halamannya.
“Bahasa HTML terdiri dari 4 elemen utama. Ada tag, head, title, dan body. Udah gue kasih garis kuning, lo bisa baca dulu." Jelasnya mengarahkan panah dari mouse yang ia pegang menuju tulisan di dalam modul tersebut.
Bagi Asha, Mahesa dengan mode dosen seperti ini terlihat seratus kali lipat lebih tampan dari biasanya.
"Kalau udah paham, sekarang coba buat 1 source code sederhana," perintah Mahesa.
Asha hanya mengangguk. Ia mulai mengetik di notepad miliknya, sembari sesekali memperhatikan Mahesa yang juga sibuk membuat sebuah script. Untuk persentase besok pagi, katanya.
Setelah selesai, Asha mencoba untuk membuka dokumen HTML yang ia buat. Namun malang, yang muncul hanyalah satu layar berwarna putih tanpa tulisan apapun, hal itu sontak menimbulkan tawa dari pemuda di sisinya.
“Ada masalah di script lo,” ujar Mahesa sedikit menempelkan bahunya ke bahu Asha, agar dapat membenarkan script elemen yang salah.
Sebenarnya, bisa saja Mahesa mengambil alih laptop itu. Tapi entah mengapa, justru ia yang mendekat bahkan terkesan menempel ke arah Asha.
“Selesai buat, kasih tag lagi di bawah. Tapi ditambah sama simbol slice sebagai penutup, ngerti?”
Asha yang melihat Mahesa dari dekat kini hanya terdiam. Aroma mint menguar dari surai hitamnya.
Wajah sempurna ditambah dengan kacamata yang entah sejak kapan bertengger di hidung, membuat lelaki itu lebih terlihat sempurna. Ah, dan jangan lupakan bahwa Asha sempat melihat Mahesa tertawa.
"Kakak sengaja buat hati aku nggak karuan? Jangan dekat-dekat, gantengnya kelewatan,” celetuk Asha.
Sepersekian detik kemudian Mahesa kembali menarik tubuhnya menjauh. Mimik muka yang sempat terlihat santai, kini berubah menjadi lebih serius seperti sedia kala.
Kurang lebih 10 menit mereka kembali dengan tugas masing-masing. Tak lama kemudian, Asha bertepuk tangan dengan heboh layaknya telah mendapat lotre.
Ia menatap yang lebih tua dengan penuh semangat. “Kak, udah selesai nih! Coba cek!” serunya membuat Mahesa beralih dari laptop miliknya, dan mulai menjalankan source code buatan Asha tersebut di browser.
Formysenior.html namanya, cukup unik hingga isinya pun sukses membuat Mahesa terdiam, dan Asha yang masih setia tersenyum berharap mendapat pujian dari pemuda tersebut.
"Oke. Buku pemrograman yang hilang, sekarang udah ketemu di apartemen gue,” ujar lelaki itu sesaat setelah memasukkan laptop ke dalam tas.
Ia beranjak pergi keluar dari cafe. Diikuti dengan Asha yang mendengus kesal karena tidak mendapat respon bagus dari Mahesa. Padahal, gadis itu sangat yakin bahwa source code yang ia buat pantas untuk mendapat pujian.