Hug

2819 Words
“May, coba deh gue tanya. Bibir gue kurang menggoda?” Maya seketika melotot mendengarkan pertanyaan Asha yang menurutnya sangat tidak masuk akal itu. Sejak kemarin malam hingga pagi ini, gadis tersebut terus-terusan mengerang seperti kucing betina yang sedang heat, serta memukul-mukul bantalnya hingga membuat Maya mau tak mau harus bertanya apa yang sebenarnya menimpa gadis malang ini. “Jawab, May. Jangan malah melotot!” Protes Asha sembari mengguncang bahu Maya. “Ya kalau gue bilang menggoda berarti gue nggak normal!” jawab Maya. Seketika Asha menggelengkan kepala karena berpikir yang tidak-tidak. “Jujur deh, Sha. Lo sebenarnya kenapa, sih?” kini ganti Maya yang bertanya. Ia sudah menanyakan pertanyaan ini berulang kali dari kemarin, dan selalu dibalas dengan erangan tidak jelas oleh Asha seperti saat ini. “Oke gue mau ngomong, tapi jangan bilang siapa-siapa ya,” ujar Asha membuat Maya mengangguk, dan mulai mendekatkan diri ke arah gadis tersebut agar bisa mendengar cerita dengan jelas. “Gue kemarin mau ciuman sama kak Mahesa,” belum sempat Maya mengeluarkan teriakannya karena terkejut, Asha langsung menutup mulut gadis itu. Berusaha menahan teriakan Maya agar tidak keluar karena dinding asrama yang tipis. “Tapi belum sempat nempel, Kak Mahesa malah buka pintu mobil seakan ngusir gue." Detik berikutnya Maya justru tergelak setelah mendengar penuturan gadis itu, membuat Asha sedikit memajukan bibirnya kesal. “Lo ada buat salah, nggak? Kayak salah makan atau apa gitu?” Pikiran Asha berputar mengingat kejadian kemarin malam. Benar, ia dan Mahesa sebelumnya makan sate ayam. Tapi Asha yakin setelah memakan sate ayam, ia langsung minum banyak air mineral dan memakan permen penghilang bau mulut. Asha yakin bukan itu alasannya. Beberapa menit kemudian, terdengar pintu asrama yang digedor pelan. Suara Brian terdengar jelas dari luar. Menyuruh mereka berdua untuk segera keluar. “Jangan ngomong Brian, ya. Ini rahasia besar kota berdua,” ujarnya lalu berdiri dan pergi membuka pintu, mendahului Maya yang hanya menggelengkan kepalanya. *** Asha menatap nanar ruang obrolannya dengan Mahesa. Sejak pagi, lelaki itu tidak membalas bahkan membaca pesan Asha sama sekali. Saat Mahesa mengajar dikelasnya sebagai pengganti dosen yang berhalangan hadir, lelaki itu sama sekali tak menatap wajah Asha seakan memang berniat untuk mengindari dirinya. Bingung. Adalah satu kata yang bisa Asha berikan saat ini. Ia tidak tau dimana letak kesalahannya, bahkan Mahesa sendiri yang memajukan diri untuk menciumnya kemarin. Tetapi kenapa malah kini Mahesa yang menjauh? Asha itu korban, loh! batinnya kesal. “Ngelamun aja gue lihat-lihat dari tadi,” ucap Brian menyadarkan kegiatan melamun gadis itu. Mereka berdua kini sedang berada di lapangan basket. Asha sengaja menemani Brian bermain basket untuk mengasah kemampuannya sembari menunggu jam ekstrakulikuler musik dimulai. “Nggak saling tukar pesan sama Mahesa?” tanya Brian. Lelaki itu sudah sangat hafal jika Asha bermain ponsel sambil tersenyum sendiri, berarti ia sedang bertukar pesan dengan Mahesa. Namun kali ini wajah Asha sangat muram dan terkesan banyak pikiran. “Lo nggak apa-apa kan, Sha?” Lanjutnya sembari mengelus puncak kepala Asha, tak sadar ada yang mengawasi perilaku mereka berdua sejak tadi. Asha lalu menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap Brian, “Gue ke ruang musik dulu, ya. Nanti kalau pulang gue kabarin,” ujarnya lalu pergi begitu saja, meninggalkan Brian yang sebenarnya masih penasaran dengan perubahan sikap Asha. Sesampainya di ruang musik, Asha cukup terkejut saat ruangan itu sudah ramai mengingat jam mulai masih sekitar 10 menit lagi. Tidak, sebenarnya dirinya tidak terkejut akan hal itu, tetapi ia terkejut saat ada Mahesa di sana. Mata mereka berdua bertemu, hanya sebentar kemudian Mahesa memalingkan wajahnya sembari bermain gitar. Namun Asha masih setia menatap Mahesa. Tatapan yang menyiratkan arti ‘kenapa’, tatapan yang membutuhkan alasan. Tetapi Mahesa sepertinya tak peduli akan hal itu. Mungkin bukan tidak peduli, tetapi Mahesa sendiri juga bingung dengan apa yang ia lakukan kemarin. Ia bahkan baru tertidur pukul 3 pagi setelah menghabiskan hampir 7 batang nikotin yang sebelumnya jarang ia hisap. “Oke, jadi itu ya pembagian seksi-seksi buat acara amal minggu depan,” ucap seseorang di depan. Ah, Asha yakin ia terlah ketinggalan sesuatu. Gadis itu tau bahwa minggu depan klub musik akan mengadakan kegiatan amal, tapi ia tidak tau akan menjadi seksi apa nantinya. “Loh, Asha baru dateng?” lanjut orang itu membuat beberapa mahasiswa menatap Asha yang masih berdiri. Asha tidak telat, dia hanya tepat waktu. Tapi mungkin tepat waktu disini sama dengan telat. Entahlah dirinya tidak tau dan tidak ingin tau untuk saat ini. “Iya, Kak, baru selesai kelas,” jawabnya. Tidak mungkin Asha memberi alasan bahwa sejak tadi ia sibuk dengan pikirannya dan menemani Brian di lapangan basket, sedangkan hari ini adalah hari pembagian seksi kegiatan amal klub musik, kan? Mahesa yang tadinya duduk di pojok kemudian berdiri saat mendengar alasan Asha. “Bohong,” bisik lelaki tersebut tepat di telinga gadis itu, kemudian pergi keluar dari ruang musik. Asha tak tau pasti apa alasan Mahesa berkata seperti tadi, atau jangan-jangan Mahesa tau bahwa dirinya sedang berbohong? Bukan, bukan itu yang seharusnya Asha pikirkan sekarang, ia kini merutuki kebodohannya karena tidak mencegah Mahesa pergi. “Lo bantu-bantu disini aja, ya. Serabutan gitu.” Setelah mendapat perintah, Asha akhirnya mulai membantu para anggota lain menyiapkan segala kebutuhan untuk acara amal minggu depan. Dimulai dari membuat desain selebaran, membuat proposal, membeli beberapa properti sebagai hiasan panggung, sampai membersihkan ruangan musik. Asha juga bingung kenapa ia berakhir disuruh-suruh seperti ini. “Asha!” teriak seseorang yang langsung membuat Asha berdiri dan meninggalkan pekerjaannya sebentar. “Pasang senar gitar ini ya buat danusan besok, kalau nggak tau caranya bisa googling,” ujar senior tersebut sembari menunjuk dua bungkus senar gitar, beserta dua gitar yang tergeletak di atas meja dan langsung pergi tanpa mau mendengarkan jawaban Asha terlebih dahulu, membuat gadis itu mendengus kesal. Asha kini memegang dua bungkus senar gitar, lalu mengalihkan pandangannya kepada dua gitar berwarna coklat tua dan coklat muda. Senar yang mana untuk gitar yang mana, Asha lupa bertanya. Tak lama kemudian, ia kembali melihat Mahesa membawa beberapa kardus yang ia yakini untuk meminta sumbangan besok. Lelaki itu melewati Asha begitu saja tanpa menatap sedikit pun, dan mungkin keberadaan Asha di sana hanya dianggap sebagai angin lalu oleh Mahesa. “Kak,” cegah Asha saat Mahesa ingin pergi, membuat pemuda tersebut mau tidak mau harus menoleh ke arahnya. “Aku mau–“ “Gue mau rapat, sorry.” tukas Mahesa. Pergi meninggalkan Asha yang belum menyelesaikan perkataannya, lagi-lagi kata maaf keluar dari mulutnya. Asha hanya terdiam. Ada apa dengan semua orang hari ini? Kenapa semuanya menyebalkan? Terlebih lagi, Mahesa yang tiba-tiba kembali berubah dingin dan sangat tidak acuh seperti hari pertama mereka berkenalan, membuat Asha benar-benar yakin bahwa lelaki itu memiliki kepribadian ganda. Pukul 7 malam, Asha masih berada di ruang musik sendirian untuk memasang senar gitar. Ia sempat mengirim pesan di grup musik namun tidak ada yang membalas. Ada pula beberapa orang yang menjawab tidak tau, membuat gadis itu yakin bahwa tak masalah memasang senar di gitar mana saja. Lelah, sudah pasti. Bukan hanya fisiknya, tetapi juga perasaan Asha sangat lelah. Entah kenapa, hari ini menjadi hari yang tidak ingin Asha lewati lagi kedepannya. Semua ini hanya karena Mahesa, lelaki yang kini juga sedang dilanda kebingungan dengan dirinya sendiri sehingga harus menjauh dari Asha. “Oke, selesai." Serunya sembari berdiri dan merapikan kedua gitar untuk kembali ke tempat semula. Setelah meregangkan kedua tangannya, Asha kemudian berjalan keluar ruangan untuk pulang, sudah ada Brian yang menunggunya di luar. “Sendirian aja, Neng? Mau kemana sih emangnya?” goda Brian saat Asha menghampirinya. Membuat gadis itu memberikan sebuah pukulan di bahu Brian yang lagi-lagi tidak memberikan efek apapun bagi lelaki itu. Brian masih memakai celana training warna hitam dan jaket untuk menutupi pakaian basketnya yang tanpa lengan. Lelaki itu tidak akan pernah pulang duluan sebelum Asha ikut pulang, kebiasaan. “Mau makan dulu gak?” ajak Brian sembari menyamakan langkah kakinya dengan kaki Asha menuju parkiran luar. Mobilnya memang sengaja ia parkir di luar karena menurut Asha, parkiran bagian dalam kampus kalau malam cukup menyeramkan, dan Brian cukup bodoh hingga menuruti semua perkataan gadis yang lebih pendek darinya itu. “Drive thru aja ya. Sambil beliin makanan buat Maya,” jawab Asha. Brian mengangguk mengacak puncak kepala gadis itu pelan. Tak lupa kembali mencuri satu ciuman di kepalanya singkat, dan langsung berlari sebelum Asha berhasil menjambak rambut Brian. “Anjing,” umpat Mahesa yang lagi-lagi melihat kejadian itu Sejak tadi, Mahesa dan kedua temannya sedang duduk di tangga yang mengarah ke laboratorium komputer. Tempatnya yang cukup gelap membuat orang lain tidak tau bahwa mereka bertiga berada di sana. “Cemburu nih?” kali ini ganti Yeremias yang menggoda Mahesa. Tanpa menjawab pertanyaan atau lebih tepatnya godaan dari Yeremias, pemuda itu langsung menginjak batang rokoknya dan berjalan keluar kampus, perasaannya benar-benar kacau hari ini. *** Suasana pagi yang cukup cerah, sinar matahari dengan percaya diri masuk melalui celah-celah gorden sebuah asrama membuat seorang gadis yang sedang nyenyak dalam mimpi indahnya terusik. Sayangnya, kehidupan Asha tidak seperti di cerita-cerita novel yang ia baca. Tidak ada matahari yang masuk lewat celah gorden, melainkan gorden sekaligus jendela kamar yang dibuka paksa oleh Maya membuat gadis itu terpaksa bangun dari mimpi buruknya. Membangunkan Asha ibarat seperti membangunkan orang yang dibius. Maya yakin jika tidak ada dirinya, Asha sudah pasti lupa untuk bangun. Tidak heran bundanya dulu sempat melarang gadis itu untuk tinggal di asrama. “Sha, ponsel lo bunyi mulu. Bangun dulu!!” Protes Maya sembari menarik tangan Asha berusaha untuk mendudukkannya di kasur. Mau tak mau, Asha akhirnya memaksakan diri untuk membuka matanya yang masih terasa berat. Ponsel pintar yang sedari tadi berdering di meja kecil samping ranjang, ia angkat tanpa melihat siapa nama si penelpon. “Halo?” suara serak khas bangun tidur keluar dari mulut gadis itu. "Lo gimana, sih? Harusnya senar elixir dipake buat gitar warna coklat muda. D’Addario buat gitar warna coklat tua! Kenapa bisa salah gini!?” teriak seorang wanita dari seberang sana, membuat nyawa Asha langsung bangkit sepenuhnya. Ia lalu melihat sebuah nama senior perempuan sekaligus ketua klub musik di layar ponselnya, “Kak maaf, tapi saya kemarin tanya kakak dan nggak kakak jawab.” Jawab Asha sehalus mungkin, sembari memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing setelah mendengar ucapan senior itu. "Ya harusnya lo cari cara dong biar tau! Kalo kayak gini, siapa yang mau ganti rugi senarnya? Waktu kita juga mepet, dasar gak becus!" Sambungan telepon itu dimatikan sepihak oleh si penelpon. Maya bisa mendengar teriakan serta bentakan yang diberikan untuk Asha dengan jelas walaupun tanpa loud speaker. Asha terdiam, ia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Baru kali ini ia mendengar kata-kata tidak becus dilontarkan sangat keras untuknya. Asha merasa bersalah. Asha takut. Asha kalut. Selama ini, tidak ada yang pernah memarahinya sekeras itu bahkan Sang bunda sekalipun. Tubuhnya kemudian bergetar hebat dan suara Isak tangis mulai terdengar. “Sha, lo nggak apa-apa?" ucap Maya saat mendengar isak tangis Asha yang semakin keras. “Gue ... takut,” ucapnya lirih membuat Maya langsung memeluknya erat sambil mengelus punggung Asha. Maya tidak banyak bicara dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Ia tau bahwa yang Asha butuhkan sekarang adalah pelukan sekaligus kata-kata penenang. Bukan tuntutan untuk menceritakan kejadian yang justru akan membuatnya kembali menangis. Tak lama kemudian, suara Brian ditambah dengan ketukan pintu yang terkesan terburu-buru terdengar dari luar. Maya sempat mengirim pesan kepada lelaki itu untuk membeli sarapan serta memberi kabar tentang keadaan Asha. Brian masuk untuk melihat Asha yang menggulung dirinya sendiri dengan selimut. Terdengar beberapa kali suara isak dari Asha, menandakan bahwa gadis itu masih menangis hingga membuat Brian mengepalkan tangannya marah. “Kenapa?” tanya Brian kepada Maya dengan setengah berbisik, namun dijawab gelengan kepala oleh gadis itu. Dengan pelan, Brian duduk di samping kasur milik Asha. Ia mengelus pelan kepala gadis yang masih sepenuhnya terbalut selimut seperti seekor kepompong raksasa. Brian bahkan sempat takut Asha pingsan karena tidak adanya oksigen yang masuk lewat selimut itu. “Asha makan dulu yuk, Brian mau dengerin Asha cerita,” layaknya anak anjing, Brian menangkap sebuah anggukan kepala dari Asha. Gadis itu mulai membuka selimutnya dan duduk berhadapan dengan Brian, terdapat sisa air mata di pelupuk matanya. “Asha mau cerita?” tanya Brian selembut mungkin. Ia sudah hafal betul bahwa Asha akan bertingkah seperti anak kecil saat ia menangis, dan hal itu membuat Brian harus ekstra sabar menghadapinya. Asha kembali mengangguk lalu mulai bercerita dari awal apa yang sebenarnya terjadi. Brian dan Maya hanya mendengarkan cerita Asha sambil sesekali memenangkannya jika ia mulai menangis. Sebenarnya, Asha tidak sepenuhnya salah disini, karena ia sendiri tidak diberi tau oleh Sang senior yang memberinya tugas. “Udah lega belum? Makan yuk, Brian bawa nasi uduk kesukaan Asha,” ajak Brian yang sekali lagi masih ia buat selembut mungkin. “Mau!” jawab Asha bersemangat sembari memeluk Brian. Di tempat lain, lebih tepatnya di ruangan musik. Mahesa berdiri di depan dua orang yang menjabat sebagai ketua serta wakil klub musik. Sebelumnya, ia telah mendengar percakapan atau yang lebih tepatnya sentakan keras dari ketua klub yang jelas-jelas ditujukan untuk Asha. “Jadi gak ada yang mau jelasin?” ucap Mahesa dengan suara rendahnya, aura yang tadinya panas kini berubah menjadi dingin saat Mahesa berbicara. “Asha salah pasang senar kak,” ucap Nisa selaku ketua klub setelah beberapa menit terdiam. “Terus kenapa nggak ada yang mau jawab di grup? Lo juga katanya di chat, tapi kenapa gak bales?” Mahesa tak berniat membela Asha. Tapi di sisi lain, mereka juga salah karena tidak membalas pesan dari Asha kemarin. “Kita sibuk, kak." “Cuma bales chat yang nggak sampai satu menit nggak bakal buat kesibukan lo terganggu! Kalau kejadiannya kayak gini, malah bikin waktu kita makin lambat kan!?” bentak Mahesa membuat dua orang itu terdiam dan menundukkan kepala. Mahesa tidak ingin merusak suasana hatinya sepagi ini. Ia berjalan menuju dua gitar yang masih tergeletak di atas meja, lalu memotong senarnya dengan gunting. Membuat seisi ruangan melongo tak percaya dengan apa yang lelaki itu lakukan. “Ini buat ganti senar itu,” ujar Mahesa sembari memberikan dua lembar uang berwarna merah, lalu pergi dari ruangan musik. Kakinya melangkah pasti keluar lingkungan kampus yang mulai terlihat ramai. Baru sehari ia meninggalkan Asha sendirian, dan gadis itu langsung membuat ulah. Mahesa tidak marah, ia justru khawatir Asha kenapa-kenapa setelah mendengar bentakan yang cukup keras dari Nisa. Dalam hati, Mahesa mengutuk Asha beberapa kali karena telah sukses membuatnya khawatir, ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dan sekarang, Mahesa kembali merutuki perbuatannya yang tiba-tiba berdiri di depan kamar asrama milik gadis itu. Tangan lelaki tersebut terangkat. Mengetuk pintu berwarna coklat. Tidak terlalu keras, namun jelas terdengar dari dalam. Membuat salah satu dari tiga orang yang berada di kamar tersebut berdiri dan membuka pintu. Pintu kemudian terbuka, menampilkan sosok perempuan dengan rambut dibiarkan tergerai kusut, serta wajah yang sama kusutnya. Gadis bermata sembab itu sukses membuat hati Mahesa mencelos seketika. “Loh, Kak Mahesa!?” pekik Asha yang kali ini kembali terkejut, bahkan lebih terkejut dari yang sebelum-sebelumnya. Keterkejutan Asha masih berlanjut ketika lelaki yang membuatnya uring-uringan kemarin tiba-tiba memeluknya erat. “Lo baik-baik aja, kan? Nggak apa-apa, gue disini,” ujar Mahesa masih merengkuh tubuh kecil itu. Asha mematung dalam pelukan Mahesa. Tangannya masih ia biarkan menggantung di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Bukannya ia tidak berniat membalas pelukan Mahesa yang semakin erat, Asha hanya masih merasa terkejut sekaligus terharu di waktu yang sama. Sepasang netra yang baru saja berhenti memproduksi air mata kini kembali memanas. Bulir bening kemudian tumpah membasahi pipinya, disusul dengan isak tangis yang tertahan. Karena bagaimanapun, ia masih tau bahwa mereka berdua kini berada di depan kamar, Asha tidak ingin membuat keributan dengan tetangganya. Tak sampai sejenak, masih dalam sesi berpelukan, Mahesa tiba-tiba mendengar sebuah benda jatuh dari dalam kamar asrama. Ia membuka matanya yang entah sejak kapan tertutup. Lelaki itu pikir saat membuka matanya, ia akan menemukan teman sekamar Asha. Tapi yang ia lihat sekarang justru seorang lelaki dengan kaos tanpa lengan sedang duduk di tempat tidur milik Si gadis. “Lo abis ngapain sama Brian?” tanya Mahesa membuat Asha melepas pelukannya, dan menoleh kepada Brian yang kini malah menyuapkan sesendok nasi uduk ke mulutnya. Wajar saja, melihat rambut Asha yang berantakan dan Brian yang tidak memakai kaos normal membuatnya berpikir yang tidak-tidak. “Kakak jangan salah paham. Brian kesini mau minta makan aja!” ucapnya cukup keras. Sebenarnya, alasan Brian yang hanya memakai kaos dalam adalah karena saat menangis tadi, Asha tanpa malu membuang ingusnya di kaos milik Brian yang mau tak mau membuat lelaki itu harus melepasnya. “Eh kakak mau ikut makan nggak? Brian tadi bawa nasi uduk kelebihan satu, ayo makan bareng! Asha gak nerima penolakan!” seru gadis itu langsung menyeret Mahesa masuk ke dalam kamar. Kini, mereka berempat duduk melingkar di lantai asrama sambil memakan nasi uduk yang tadi di beli oleh Brian. Maya dapat merasakan aura permusuhan yang keluar dari tatapan mata Brian dan Mahesa. Sedangkan Asha hanya senyum-senyum tidak jelas. Demi tuhan, Maya ingin pergi saja dari sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD