Mine

1715 Words
Pernahkah kalian berpikir bahwa kehadiran kalian di dunia hanya menimbulkan masalah bagi orang lain? Pernahkah kalian berpikir bahwa jika kalian tidak hadir di dunia ini, mungkin orang-orang yang berada di dekat kalian tidak akan merasa terbebani? Asha pernah, bahkan mungkin sudah mengalaminya berulang kali. Gadis itu kembali menengguk s**u merah muda yang berada di dalam botol minumnya. Sebenarnya ia butuh segelas kopi, namun Brian melarang dan malah membuatkannya s**u strawberry. Meskipun Asha menyukai rasa minuman ini, tapi americano tetap numero uno. Pikirannya kembali berkelana. Perkataan Mahesa tempo lalu, yang mengatakan bahwa lelaki itu hanya menimbulkan kesialan bagi Asha mungkin salah. Mungkin sebenarnya Asha lah yang menimbulkan kesialan serta masalah bagi lelaki tersebut. “Masih buruk suasana hatinya?” tanya Mahesa datar. Lelaki itu kini telah duduk di samping Asha. Membawa gitar berwarna coklat tua, sambil menatap area taman yang mulai ramai pengunjung baik pedagang maupun orang biasa. Sore ini, mereka berdua —lebih tepatnya ada enam orang tetapi saling berpencar— berada di taman kota. Setelah kejadian senar gitar yang salah pasang pagi tadi, Mahesa mengajak Asha untuk mencari dana dengan cara mengamen di tempat-tempat yang ramai. Jujur saja, sebenarnya Asha merasa enggan karena suasana hatinya masih buruk. Tapi jika bersama Mahesa, tentu saja ia mau diajak kemana saja. “Kak Mahesa dua hari ini kenapa nggak ada chat aku? Kemarin juga mau nanya udah dipotong aja,” Asha balik bertanya dengan bibir yang mengerucut lucu, membuat Mahesa ingin mencubit pipi berisinya. “Sibuk ngurus tempat magang,” jawab Sang senior sengaja berbohong. Ia bahkan belum menentukan dimana tempat magangnya nanti. Mahesa hanya sengaja menghindar dari gadis tersebut, karena peristiwa ciuman yang batal waktu itu selalu berputar di pikirannya saat melihat Asha. “Yang penting kan sekarang gue ada di sini sama lo,” lanjutnya. Tangan lelaki tersebut dengan ringan mengarah ke puncak kepala Asha dan menepuknya pelan, berharap gadis itu kembali melunak. Asha yang merasa kepalanya ditepuk pelan otomatis menoleh. Ia dapat melihat wajah datar Mahesa yang hanya berjarak sejengkal darinya. Wajah datar tanpa seulas senyum yang anehnya tetap indah dipandang. Dengan cepat, gadis itu menjauh dan menyingkirkan tangan Mahesa lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Berharap Sang senior tidak melihat rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya. Tak lama kemudian suasana lebih ramai dari sebelumnya. Banyak anak kecil bermain bersama orang tua mereka, dan beberapa pasangan kekasih yang sengaja saling memberi perhatian membuat Asha sedikit iri dibuatnya. Mahesa mulai memetik senar gitar sesaat setelah salah satu anggota klub musik meletakkan sebuah kardus di depan lelaki itu. Ia bukan orang yang cukup percaya diri untuk tampil di depan umum. Tapi entah kenapa, hari ini Mahesa seakan mendapat stamina khusus yang membuatnya semakin bersemangat. Mungkin karena kehadiran Asha disampingnya. Mungkin juga karena ini bagian dari cerita yang akan ia tulis nanti. Lagu dari Fiersa Besari yang berjudul "Pelukku Untuk Pelikmu", kini mulai terdengar di pusat taman. Semua orang menikmati lagu yang Mahesa nyanyikan tak terkecuali juga dengan Asha yang kembali terpesona. Ini adalah kali pertama gadis itu mendengar Mahesa bernyanyi dengan jelas. Menurutnya, suara Mahesa sangat candu. Membuat mata serta telinganya enggan berpaling dari sosok tampan yang berada di depannya. Segala sesuatu yang pelik, Bisa diringankan dengan peluk .... Jika didengar dengan saksama dan penuh penghayatan, lagu tersebut memiliki makna yang dalam untuk membuat orang selalu bersyukur akan apa yang mereka dapat di dunia ini. Lirik itu menyudahi aksi bernyanyi Mahesa. Suara tepuk tangan menyatu dengan pekikan beberapa wanita yang sepertinya baru kali ini melihat lelaki setampan Mahesa. Saat pertama kali melihat rupa lelaki tersebut, pasti semua orang akan menyukainya. Mahesa yang tampan dan jangkung dengan rambut legam, serta pakaian melekat sempurna di badannya. Semua orang seolah terhipnotis, persis ketika hari pertama Asha bertemu dengan lelaki itu. Tetapi Asha berani bertaruh. Ketika sudah mengenal Mahesa lebih jauh, Asha yakin mereka semua mungkin lebih memilih menjaga jarak, daripada harus didamprat oleh lelaki berparas malaikat namun berperilaku iblis ini. *** “Dua mie ayam untuk Mbak dan Masnya yang ganteng, hehe.” Goda seorang perempuan di sebuah kedai mie ayam yang berada di dekat taman, sembari meletakkan dua porsi mie ayam ke atas meja makan. Setelah selesai mengamen, Mahesa memilih untuk berpisah dengan rombongan anggota musik yang lain dan mencari makan bersama Asha. “Aku bisa request gak lagu yang nanti kak Mahesa nyanyiin?” tanya Asha, mereka berdua saat ini sedang membahas acara konser kampus yang beberapa hari lagi akan dilaksanakan. Mahesa menggeleng pelan, “Udah ditentuin sama panitia dari jauh-jauh hari.” Mendapat gelengan kepala dari Mahesa membuat Asha ber’oh’ ria. Sebenarnya, ada sedikit rasa kecewa karena ia ingin Mahesa menyanyikan sebuah lagu kesukaannya. Tapi tidak masalah, selagi Mahesa bersikap seperti ini, Asha sudah merasa sangat beruntung dan melupakan kejadian yang lalu. “Tapi gue yakin lo bakal suka sama lagu yang gue nyanyiin nanti.” Lanjutnya tersenyum samar. Tanpa sadar, ibu jari Mahesa tiba-tiba bergerak membersihkan noda makanan yang berada di ujung bibir Asha, membuat gadis itu seketika mendapat sengatan listrik berskala kecil dari ujung bibir, lalu menyebar ke seluruh bagian tubuhnya. Perutnya kembali merasakan banyak kupu-kupu atau bahkan laron yang berterbangan. Asha kira Mahesa akan berhenti sampai di sana. Namun kalimat selanjutnya dari lelaki itu justru membuat jantungnya kembali tak karuan. Asha bisa merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, bahkan mungkin Mahesa bisa mendengar detakan itu. “Bibir lo indah, nyesel waktu itu nggak jadi gue cium," celetuknya ringan. Dimana kamera? Asha sudah tidak kuat, ia ingin melambaikan tangan ke arah kamera sekarang juga. Setelah adegan bak dalam drama tadi, mereka berdua memutus tatapan masing-masing. Kembali fokus untuk menghabiskan mie ayam yang sempat menjadi saksi bisu dua makhluk Tuhan itu. Seusai mengetik kalimat terakhir, Mahesa kemudian menutup laptopnya dan mengarahkan pandangan ke sekitar kampus, lebih tepatnya di belakang panggung. “Romantis banget,” celetuk Banyu dengan nada yang sengaja dibuat-buat. Sedari tadi, ia memang sengaja menemani Mahesa untuk mengetik, serta memberi petunjuk jika ada kalimat yang salah pada deretan cerita yang lelaki itu tulis di dalam laptopnya. “Cerita yang berdasarkan kisah nyata emang lebih romantis, Bay,” jawab Mahesa cuek. Banyu hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. Entah sudah berapa kali ia menasehati Mahesa, tapi lelaki itu tetap kekeuh dengan keputusannya. Saat ini Banyu hanya bisa berdoa agar Mahesa tidak mendapat tamparan dari perempuan lagi seperti waktu itu. “Lo grogi ya?” selidik Banyu saat melihat tingkah laku Mahesa yang melirik sana sini dan menggosok tangannya. Benar, sekarang adalah hari dimana konser klub musik diselenggarakan. Mahesa sendiri tidak mengerti kenapa dirinya se-gugup ini. Pikirannya selalu memikirkan kemungkinan terburuk. Seperti senar gitar yang tiba-tiba rusak, suaranya yang menghilang, atau lebih parahnya panggung yang tiba-tiba ambruk. “Gue juga bakal gugup kalau mau tampil, terus pacar gue nonton,” lanjut Banyu membuat Mahesa langsung menoleh ke arahnya, dan memberikan isyarat pukulan tangan yang dibalas dengan senyuman meledek. “Mahesa siap-siap ya, habis ini lo tampil,” ucap Yeremias yang menjadi panitia sebagai perwakilan anggota BEM dari samping panggung. "Kok aku nggak disapa sih, Yer? Cemburu nih aku!" Timpal Banyu memajukan bibirnya. Tidak peduli, Yeremias memilih untuk melengos pergi meninggalkan Banyu beserta seluruh ekspresi kecewanya. Seusai menganggukkan kepala, pikiran Mahesa masih tetap kemana-mana. Sekali lagi, ia kembali mengecek ponsel pintarnya. Namun sayang, tidak ada pemberitahuan apapun dari seseorang yang ia tunggu sejak tadi. Sedangkan, di tempat lain. “Brian, ayo!!” teriak Asha di depan Brian, ia tidak tahan dengan kelakuan lelaki yang sangat lelet seperti ini. Sungguh, Asha sangat menyesal karena telah setuju menemani lelaki itu berlatih basket sebentar sebelum datang ke acara konser. Kini Brian terlihat masih memakai sepatunya sembari berusaha berlari menyusul Asha yang sudah uring-uringan di depan. Sebenarnya, Brian memang sengaja ingin mengulur waktu agar Asha tidak dapat menyaksikan Mahesa bernyanyi. Mungkin terkesan egois. Tapi dirinya tak mampu membendung semua kekesalan saat mendengar Asha dengan penuh semangat, menceritakan bagaimana kerennya Mahesa ketika bernyanyi. Brian tak hal suka itu. Menurutnya, ia sendiri juga tak kalah tampan dan kaya dari Mahesa. Tapi kenapa Asha tidak pernah memujinya? Namun, kali ini semesta seakan tidak merestui keegoisan Brian. Mereka berdua sampai di depan panggung tepat pada saat Mahesa baru naik. Brian mengerti bahwa ada jutaan manusia di dunia, tapi tidakkah semesta sekali saja mengabulkan keinginannya? Lelaki itu benar-benar muak melihat wajah congkak Mahesa. Saat batin Brian bergejolak mengeluarkan segala u*****n untuk Mahesa, lain lagi dengan batin Asha yang secara terang-terangan memuji Mahesa berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya. Lelaki yang berada di atas panggung itu memakai sebuah jas flanel berwarna coklat, dengan dalaman putih polos serta celana kain berwarna cream yang membuatnya terlihat jauh lebih lembut dari sebelumnya. Tak lama kemudian Mahesa duduk di kursi yang sudah disediakan. Menyetel mic agar sejajar dengan bibirnya. Mendengarkan sorakan penonton serta memetik gitar yang ia mulai dari kunci C. Girl your heart, girl your face is so different from them others. Jika kalian mengerti makna lagu yang dibawakan Mahesa saat ini, walaupun lelaki itu berkata bahwa lagu tersebut mewakili dirinya sendiri, tetapi itu adalah sebuah kebohongan. Karena faktanya, Mahesa tidak pernah terlihat culun maupun konyol. Tersipu pun sepertinya tidak ada di kamus hidupnya. Di sela-sela nyanyian, Mahesa sengaja menatap Asha lebih lama daripada menatap orang lain. Asha tidak bodoh, ia tau arti lirik lagu tersebut. Dan seperti perkataan Mahesa waktu itu, Asha pasti menyukai lagu ini. Bibir Asha tertarik ke atas. Pipinya tiba-tiba memerah seperti buah ceri segar hanya karena lirik lagu yang Mahesa nyanyikan. Lagu berjudul 'mine' yang diciptakan oleh seorang musisi ternama bernama Petra Sihombing memang seakan tidak pernah habis termakan zaman. Liriknya selalu mewakili semua orang yang tengah jatuh cinta, serta mampu membuat suasana hati menjadi lebih bahagia saat ini. Iya, Asha bahagia bahkan sampai tidak memperdulikan perasaan seorang lelaki yang berada di belakangnya. And I want you to be mine .... Selesai. Suara riuh para penonton mengiringi lagu yang Mahesa nyanyikan. Bahkan sampai selesai pun mereka sepertinya enggan untuk berhenti berteriak. Asha sendiri sudah tidak bisa membendung senyuman. Matanya menatap Mahesa seakan jika ia sekali saja berkedip, maka pemuda tersebut akan segera menghilang dari hadapannya. Di sisi lain, lelaki yang sedang berada di sampingnya dapat melihat dengan jelas apa arti tatapan yang Asha berikan kepada Mahesa. Tatapan itu jauh berbeda dengan tatapan yang ia terima sebelumnya. Tanpa sadar, tangannya mengepal kuat dan hatinya kembali porak poranda. Asha jatuh cinta. Brian sakit hati entah untuk yang ke berapa kalinya. Dan Mahesa, berhasil melancarkan aksinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD