Happy Birthday

1773 Words
Hari ini merupakan hari yang cukup sibuk untuk seorang Mahesa, dari pagi ia sudah menelpon tukang ledeng serta cleaning servis apartemen agar membersihkan kekacauan di apartemen miliknya kemarin malam. Selesai memberi materi kelas pagi hingga sore, Mahesa buru-buru kembali ke asrama Brian karena melupakan kado ulang tahun Gema, dan tentu saja kembali mendapat tatapan sinis dari pemilik kamar asrama itu. “Mau ambil kartu akses atas nama Mahesa,” ucapnya pada resepsionis apartemen karena tadi ia sempat menitipkan kartu aksesnya kepada resepsionis itu agar cleaning servis bisa masuk ke dalam apartemennya. Membiarkan orang lain masuk ke dalam apartemen miliknya bukan berarti Mahesa tak merasa curiga, ia memasang hampir 10 kamera CCTV di setiap sudut ruangan dan mengawasi semua pergerakan tukang ledeng serta cleaning servis itu lewat laptopnya sembari memberi kuis di kelas. Setelah mendapat kartu aksesnya, lelaki itu bergegas masuk ke apartemen, berganti atasan dan celana yang lebih santai lalu kembali lagi keluar menuju parkiran bawah tanah untuk mengambil mobilnya, tak lupa sembari membawa bingkisan untuk Gema. Mobil hitam berplat 0412 tersebut berhenti di sebuah pemakaman, Mahesa turun sambil membawa satu buket bunga mawar dark crimson yang tadi sempat ia beli saat dalam perjalanan. Hidungnya menghirup tanah basah akibat gerimis di sekitar kuburan, kakinya kemudian melangkah dengan pasti menuju satu kuburan yang terletak paling jauh. Mahesa berjongkok tepat di samping batu nisan kuburan itu, membersihkan daun-daun serta bunga kering yang berada di atas rumput, serta mengelus pelan batu nisan bertuliskan “Alina”, sosok cinta pertamanya dan mungkin terakhirnya. “Mama, Mahesa datang,” katanya bermonolog. “Mahesa bawa bunga mawar buat mama, mawar di rumah papa tinggal sedikitpun ma, nggak tau siapa yang potong,” ujar lelaki itu kembali mengingat bunga mawar yang berada di taman samping rumahnya. “Mama apa kabar? Udah 9 tahun mama ninggalin Mahesa, mama gak kangen sama Mahes?” suara Mahesa terdengar bergetar, ia ingin menangis namun entah kenapa itu seperti hal yang sangat sulit untuk dilakukan. “Mahesa disini baik-baik aja ma, Mahesa deket sama seseorang. Namanya Asha, anaknya cerewet banget kayak mama, dia juga ceria kayak mama.” Ah tunggu, sejak kapan Mahesa menceritakan orang lain saat ia hanya berdua dengan mamanya? Mahesa bahkan tidak pernah bercerita mengenai sang papa atau teman-temannya di makam sang mama, ia tidak mengerti kenapa mulutnya dengan ringan menceritakan sosok Asha di depan makam ini. “Tapi Mahesa masih ngerasa sepi kalau nggak ada mama disini, kapan Mahesa bisa ketemu sama mama? Mahesa kangen ma,” sosok Mahesa yang sekarang sangat berbanding terbalik dengan Mahesa yang keras, dingin, dan bermulut pedas. Mata tajam itu berubah menjadi sendu, senyuman yang menyiratkan akan kesedihan terpatri jelas di wajah tampannya, Mahesa yang ditakuti semua orang berubah menjadi Mahesa yang lemah. Entah berapa lama Mahesa berjongkok tak menghiraukan rasa kesemutan yang menjalar di kedua kakinya, lelaki itu masih asik bertukar cerita dengan mamanya, atau lebih tepatnya hanya Mahesa yang bercerita. Tak lama kemudian notifikasi handphone Mahesa berbunyi, menampilkan beberapa pesan masuk dari sang papa yang menyuruhnya untuk segera datang ke rumah, lelaki tersebut melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore lalu kembali mengelus nisan sang mama. “Mahesa pamit dulu ya ma, pak tua udah rewel. Nanti Mahesa sering-sering mampir kesini lagi kok,” ujarnya kemudian mencium nisan itu dan berjalan pergi menuju mobilnya. *** Mobil Mahesa akhirnya sampai di tempat tujuan, baru satu kaki yang ia keluarkan tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang berlari menuju arahnya dan satu detik kemudian sudah merangkul kaki panjang Mahesa dengan erat, dia Gema, adik tiri Mahesa. “Kak Mahesa lama!” omel Gema membuat Mahesa gemas dan membawa anak laki-laki itu ke dalam gendongannya. “Sorry ya Gema, tadi kakak ada urusan sebentar. Omong-omong, selamat ulang tahun ya, bro!” ujar Mahesa sambil menciumi pipi berisi milik Gema membuat sang pemilik terkekeh geli. “Kakak bawain hadiah apa buat Gema?” tanyanya saat melihat sang kakak membawa bingkisan di tangan kanannya. Namun Mahesa justru menurunkan Gema dan berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah, membiarkan anak itu berlari mengejar dirinya sambil merengek penasaran. Saat membuka pintu utama, Mahesa disambut dengan banyaknya balon serta dua orang yang menghentikan aktifitasnya menancapkan lilin ke sebuah kue ulang tahun ketika melihat kedatangan lelaki itu. Ketiga orang dewasa tersebut hanya saling diam, tidak ada yang ingin membuka kata-kata atau sekedar basa-basi sampai Gema menabrak Mahesa dari belakang membuat lelaki tersebut sedikit memajukan badannya ke depan. “Kak Mahesa kenapa malah disini sih, ayo ikut mama papa di sana, kita tiup lilin bareng-bareng,” ucap Gema sembari berusaha menyeret Mahesa agar mau mendekat ke papa serta mama tirinya. “Makasih ya Mahesa kadonya, sebenarnya kamu nggak perlu repot-repot buat beliin Gema kado, kamu datang kesini saja Gema sudah sangat senang,” ucap perempuan muda yang berdiri di samping papanya, dia adalah mama dari Gema. “Saya tidak masalah jika direpotkan oleh Gema selama bukan anda yang merepotkan saya,” ucap Mahesa sinis. Mahesa tidak pernah memanggil ibu tirinya dengan sebutan mama, tidak ingin dan tidak akan. Baginya, ia hanya mempunyai satu ibu dan enggan untuk menerima orang lain yang mengaku sebagai ibunya. Jika ditanya apakah Mahesa benci dengan ibu tirinya walaupun wanita itu tidak melakukan kesalahan apapun jawabannya adalah iya, menurut Mahesa wanita itu ikut andil dalam hilangnya nyawa sang mama. Namun Mahesa tidak akan membenci Gema karena dia hanyalah anak lelaki kecil yang tidak tau apa-apa dan tidak pantas untuk dibenci. Satu hal yang Mahesa benci dari Gema adalah hari ulang tahunnya yang sama dengan hari dimana mamanya meninggal. Sesungguhnya Mahesa tidak ingin berada disini saat ini, namun ia tidak tega mendengar Gema merengek merayu Mahesa agar datang ke acara ulang tahunnya. “Kita tiup lilinnya ya,” ucap sang papa berusaha menengahi, lebih tepatnya berusaha untuk tidak mengindahkan perkataan Mahesa. Lagu happy birthday kemudian berbunyi, Gema dan kedua orangtuanya terlihat sangat bahagia sembari ikut bernyanyi, Mahesa hanya menatap keluarga kecil itu tanpa ikut bernyanyi. Tidak pantas baginya berbahagia di hari dimana mamanya meninggal, bahkan Mahesa saat ini seperti anak buangan yang dipaksa untuk melihat betapa harmonisnya keluarga itu. Di tengah-tengah lagu, lelaki jangkung itu mendadak merasakan pusing di kepalanya, ingatan memori satu persatu memaksanya untuk kembali berputar ke masa lalu. Tidak, ia tidak ingin terlihat kacau di depan papanya sekaligus Gema. Lagu itu berhenti tepat setelah Gema meniup lilin berbentuk angka 6, acara selanjutnya adalah memberikan satu potong kue untuk semua orang. Setelah menyuapi papa dan mamanya, Gema beranjak mendekati Mahesa yang berusaha mati-matian untuk menahan sakit di kepalanya. “Kak Mahesa ayo buka mulutnya,” perintah Gema. Tidak, Mahesa tidak mau membuka mulutnya, ia tidak mau menghianati ibunya, namun ia juga tidak ingin membuat Gema kecil merasa sedih. Pelan-pelan Mahesa mulai membuka mulutnya dengan pikiran yang masih berkecamuk. Namun, belum sempat Gema berhasil memasukkan potongan kecil kue itu ke mulut Mahesa, pemuda itu dengan segera menepis tangan kecil dihadapannya dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak di atas. “Gema sayang,” ucap sang mama sembari merangkul Gema yang terlihat sangat terkejut. “Nggak apa-apa Gema, Kak Mahesa lagi sakit,” imbuh papanya berusaha membuat Gema agar kembali tenang dan tidak memikirkan perilaku Mahesa tadi. Mahesa membanting pintu kamarnya lalu mendorong semua action figure semasa kecilnya yang tertata rapi di sebuah meja, beruntung kamarnya kedap suara membuat semua kericuhan yang ia buat tidak terdengar dari luar. Kepalanya terasa ingin meledak, jantungnya kembali berdegup tak karuan, dan keringat membanjiri tubuhnya. Otaknya kembali memaksa lelaki itu untuk mundur beberapa tahun ke belakang, membawanya di tahun dimana ia menemukan sang mama tak bernyawa dengan tali yang menjerat lehernya, menggantung, sendirian, dengan air mata yang masih membasahi pipi dan hanya Mahesa yang melihat itu. Nafasnya kembali terengah-engah, dengan sekuat tenaga Mahesa memukuli kepalanya agar ingatan itu cepat menghilang. Lelaki itu kemudian berlari membuka tas ransel yang sempat ia bawa, mengambil sebuah obat anti depresan dan menelannya tanpa air, hal ini memang sudah ia prediksi akan terjadi sejak pagi tadi. *** Dering alarm yang berbunyi dengan nyaring dari telepon pintar itu membangunkan sosok lelaki yang sedang tidur meringkuk di lantai kamar, rasa pusing masih menjalar di kepalanya namun sudah tidak sesakit tadi sore. Pukul 12 malam, dan ia akan segera pulang ke apartemennya. Sebelum tertidur, lelaki itu memang sengaja memasang alarm pukul 12 agar saat ia turun sudah tidak ada aktifitas orang di rumah ini. Selain itu, ia juga tidak ingin bertemu Gema karena anak kecil itu pasti akan menanyakan apa yang terjadi dengan dirinya tadi sore. Setelah memasukkan obat ke dalam tas ranselnya, Mahesa beranjak keluar dari kamar dan segera turun ke bawah. Ia sempat berhenti saat menemukan sang papa dengan santai menonton televisi di ruang tamu, Mahesa yakin pak tua ini sengaja menunggunya karena sebenarnya ada satu televisi di kamar utama. “Mau kemana kamu?” pertanyaan retoris keluar dari lelaki yang berusia sekitar 48 tahun tanpa menatap ke arah putranya. “Pulang,” jawab Mahesa, ia mengumpat dalam hati karena tak bisa menemukan kunci mobilnya, padahal Mahesa ingat kunci mobil tersebut ia taruh di dalam jaketnya. “Setelah perilaku kamu yang tidak sopan seperti tadi sekarang kamu mau mengendap-endap pulang berlagak seperti maling di rumah sendiri?” Mahesa hanya diam, ia tak ingin adu mulut dengan papanya di tengah malam seperti ini. Papa Mahesa kemudian berdiri mendekati anak sulungnya sembari membawa sebuah kunci, kunci mobil milik Mahesa yang tadi sempat beliau ambil dari dalam kamar anaknya. “Papa masuk kamar tadi?” tanya Mahesa tak percaya, ia tak menyangka sang papa akan melanggar privasi anaknya sendiri. “Kamu nggak mau sembuh? Kita ke psikolog ya?” perkataan itu sontak membuat emosi Mahesa kembali meninggi. “Aku nggak sakit ya, pah!” bentaknya kemudian mengambil kunci mobil miliknya dengan paksa dan berlari keluar dari rumah yang menurut Mahesa hanya berisi kenangan pahit itu. Mahesa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang mulai sepi, rintik hujan membasahi jalanan itu seolah mengerti perasaan yang ia alami saat ini. Mahesa memegang setir kemudinya dengan erat, wajahnya memerah, semua u*****n ia ucapkan khusus untuk sang papa. “Gue nggak sakit! Gue nggak papa!” ucap pemuda itu berusaha meredam emosinya sendiri. Kalian pasti pernah merasa marah saat mendapat kata-kata yang kurang mengenakkan dari orang lain, apalagi jika kata-kata itu terlontar dari mulut orang tua kita sendiri, rasa sedih, kecewa, dan marah menjadi satu dan itulah yang Mahesa rasakan sekarang. Mobil Mahesa kemudian berhenti tepat di depan minimarket 24 jam yang berada di dekat kampus, Mahesa berniat untuk membeli beberapa bungkus rokok dan menghabiskannya malam ini juga agar pikirannya kembali tenang. Belum sampai di depan pintu minimarket yang tampak sepi itu, kepala Mahesa tiba-tiba kembali terasa pening, pandangannya mulai buram dan detik berikutnya ia jatuh pingsan tepat di depan mobil miliknya. “Mahesa!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD