Mahesa dan Obatnya

2647 Words
Pukul setengah satu dini hari, terdengar bunyi telepon yang sangat nyaring membuat seseorang yang berada di dalam selimut itu bergerak gusar, siapa orang yang berani-beraninya menelpon di tengah malam dan mengganggu aktifitas tidurnya seperti ini, batinnya. "Halo, Banyu?" Suara berat di seberang sana seketika membuat nyawa Banyu terkumpul sempurna, pemuda itu langsung terduduk di atas kasur lantainya dan kembali melihat nama si penelepon yang hampir membuatnya mengumpat tadi. “Halo, iya om ini Banyu, ada apa ya?” tanyanya sesopan mungkin walaupun kepalanya masih pening karena tidurnya diganggu, ia mendengarkan dengan baik kata-kata yang diucapkan oleh orang yang ia panggil 'om' itu. Setelah mematikan telepon, Banyu dengan cepat menyambar jaket dan celana training miliknya lalu pergi keluar dari kamar kost untuk membeli segelas kopi di supermarket yang terletak di dekat kampus, sepertinya malam ini ia akan kembali begadang karena mengurus seorang bayi besar dan besok mungkin Banyu akan melewatkan kelas pagi. Letak kost yang dekat dengan supermarket membuat Banyu memilih untuk berjalan kaki walupun jalanan terlihat sangat sepi, setelah mendengar berita simpang siur tentang mahasiswa yang membonceng kuntilanak saat pulang malam hari, Banyu tidak ingin mengambil resiko dengan memakai sepeda motornya. Padahal jika berjalan kaki membuat suasana seram semakin terasa. Lelaki itu sekali lagi merapatkan tangannya yang berada dalam saku jaket berusaha untuk mencari kehangatan, kalau bukan untuk teman mana mau ia keluar tengah malam seperti ini, seharusnya tadi ia membawa sarung atau selimut sekalian. Saat langkahnya hampir sampai, mata lelaki itu menatap sebuah mobil hitam yang terparkir tepat di depan supermarket. Banyu hafal betul, pemilik mobil ini tidak lain dan tidak bukan adalah Mahesa. Banyu berpikir sahabatnya ini dalam keadaan baik-baik saja, ia mungkin akan membeli kopi, menyapa Mahesa lalu kembali ke kostnya. Namun, sejurus kemudian lelaki itu dibuat terkejut karena melihat sosok Mahesa yang tergeletak tepat di depan mobilnya. “Mahesa!" *** Terik matahari menyadarkan laki-laki yang sedang asik bermain di alam mimpinya, membuatnya mau tak mau harus membuka mata. Ah, Mahesa pikir dirinya sudah berada di surga bersama sang mama, tapi apakah dirinya masih layak masuk surga? “Bangun juga lo,” ucap seseorang yang berada di sofa seberang kasur Mahesa. Itu Banyu, sejak dini hari sampai pagi ini ia sama sekali tidak bisa tidur karena Mahesa tak kunjung sadar, bahkan Banyu sempat menampar pipi Mahesa namun lelaki itu tetap enggan membuka matanya. Saat melihat Mahesa pingsan kemarin, Banyu langsung memasukkan Mahesa menuju mobil dibantu dengan pegawai minimarket. Badannya yang besar dapat dengan mudah menggendong Mahesa sampai kamar apartemennya walaupun lelaki itu sempat mendudukkan Mahesa saat berada di dalam lift. Ia masih ingat betul bagaimana dirinya dituduh sebagai penculik yang akan membunuh Mahesa hanya karena cara Banyu yang menggendong Mahesa layaknya karung membuat lelaki itu dengan sangat terpaksa memperlihatkan foto mereka saat bersama agar ia tidak dikira sebagai pembunuh. “Lo pasti disuruh papa gue kan,” tebakan Mahesa selalu benar, Banyu tidak akan keluar di tengah malam hanya untuk mencari temannya yang tidak tau diri ini jika tidak disuruh oleh Pak Tio, papa Mahesa yang menelponnya kemarin malam. “Gue beliin bubur ayam dulu.” Di waktu yang sama, seorang gadis yang sedang duduk di lobi kampus terlihat mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang menghilang dari sisinya sejak kemarin. Mahesa tidak mengiriminya pesan sejak lelaki itu pergi meninggalkan asrama Brian, Brian sendiri ketika ditanya hanya mengangkat kedua bahunya dan berkata tidak tau, sungguh tidak bisa diandalkan. “Jam lo ganti?” tanya Brian yang memang sengaja menemani Asha menunggu kedatangan Mahesa, hatinya agak ngilu tapi tidak apa-apa, ia masih kuat menahan semua sakitnya. “Jam yang kembar sama gue mana?” lanjutnya membuat Asha kelabakan. Gadis itu tau, pasti Brian akan marah saat Asha bilang jam ini pemberian dari Mahesa. Brian selalu memperingatkan Asha agar tidak memakai barang pemberian orang lain, padahal Brian juga termasuk orang lain dalam kehidupan Asha. “Ini gue baru beli kemarin, jam yang sama kayak lo baterainya abis,” jawab Asha mencoba beralibi sembari berdoa dalam hati agar Brian percaya dengan perkataannya. “Lah kan kita baru ganti baterai dua minggu yang lalu, kok udah abis duluan punya lo,” Brian memang cocok dalam hal seperti ini, membuat Asha kembali mencari alasan yang tepat. “KW kali baterainya, liat aja punya lo abis ini pasti juga mati." “Lo beli jam kenapa nggak beli baterainya aja? Lebih murah kan daripada beli baru?" pertanyaan Brian kali ini tidak mendapat jawaban dari Asha, gadis itu benar-benar kesal melihat Brian yang banyak tanya serta penuh selidik seperti saat ini. Dewi Fortuna mungkin kali ini sedang memihak kepada Asha, matanya menangkap sosok Yeremias yang berjalan sendirian sembari membenarkan letak kacamatanya menuju lobi kampus, tempatnya dan Brian kini berada. “Kak Yere!!” teriak Asha tak menghiraukan tatapan risih dari beberapa orang. Yeremias yang merasa dipanggil kemudian berjalan mendekati dua orang juniornya itu, “Ada apa, Sha?” tanyanya. “Kak Mahesa kemana deh kak? Dari kemarin aku chat nggak dibales,” tanya Asha to the point, gadis itu memang tidak suka berbasa-basi. “Kemarin kata Banyu, Mahesa pingsan di depan supermarket. Tapi sekarang anaknya udah di apartemen sih,” jelas Yeremias yang seketika membuat Asha merubah mimik wajahnya menjadi khawatir sekaligus terkejut. “Makasih ya kak Yere atas informasinya, Asha mau langsung ke apart kak Mahesa dul— aduh!!" Asha menghentikan perkataannya saat kepala gadis itu dipukul lirih dengan kunci mobil milik Brian. “Lo ada kelas, ayo kuliah dulu!” ujar Brian sembari menyeret tas punggung Asha dengan tangannya membuat gadis itu berjalan sempoyongan menghadap belakang sambil sesekali mengumpat kesal. Yeremias hanya tersenyum kecil saat melihat kelakuan Asha dan Brian, ia senang melihat kisah cinta segitiga seperti ini. *** Beruntung hari ini Asha hanya ada satu mata kuliah, gadis itu dengan cepat segera pergi dari kelas bahkan sebelum sang dosen mengucapakan salam dan keluar dari kelas terlebih dahulu, sangat tidak sopan. Namun Asha rela mengesampingkan kesopanannya hanya demi bertemu dengan Mahesa yang katanya sedang sakit, dengan segera ia berlari keluar area kampus dan memesan ojek online tak lupa membawa satu bungkus bubur ayam yang sempat ia pesan tadi sesaat selesai kelas. Sesampainya di depan gedung apartemen, Asha langsung melepas helm berwarna hijau tersebut, ia sempat berkaca sebentar di spion motor milik ojek online itu lalu memberinya beberapa lembar uang kertas sebagai bayaran. “Kembaliannya balikin kalau kita ketemu lagi ya pak!” teriaknya lalu segera berlari menuju kamar dimana pangerannya berada. Tukang ojek itu menatap kepergian Asha tanpa minat, ia melihat uang yang diberi oleh gadis itu tadi pas, tidak kelebihan bahkan ada sisi yang robek. Dalam hatinya ia berdoa agar dirinya dan Asha tidak lagi dipertemukan karena sikap Asha yang rusuh membuatnya hampir menabrak seekor kucing di jalan. Tok! Tok! Tok! Pintu apartemen Mahesa diketuk pelan oleh seseorang dari luar membuat kedua lelaki yang tadinya saling diam akibat Mahesa enggan disuruh makan itu bertatapan, mencoba menerka siapa tamu mereka hari ini. “Bukain dong,” perintah Mahesa membuat Banyu melengos pelan lalu beranjak dari sofa empuknya. Pintu terbuka, menampilkan sosok perempuan yang tanpa salam langsung masuk menuju kamar Mahesa membuat Banyu sekali lagi mengembuskan nafasnya lelah, ia harus ekstra sabar menghadapi dua jenis manusia ini nantinya. “Kak Mahesa sakit apa?” suara khas wanita yang jelas Mahesa hafal siapa pemiliknya itu membuat ia menoleh, Asha berjalan pelan sembari membawa satu bungkus makanan yang ia yakini berisi bubur ayam, karena Banyu tadi juga sempat membelikannya. “Kebanyakan pikiran aja,” jawab Mahesa sekenanya, membiarkan Asha duduk di samping dirinya yang sedang rebahan di kasur. “Mau makan nggak? Asha bawa bubur ayam buat kak Mahes,” tawar Asha sembari mengangkat tinggi-tinggi bubur ayam itu. “Mana ada orang yang siang-siang makan bubur Sha, bubur ayam tadi pagi aja gak mau dia makan,” sela Banyu saat tiba-tiba masuk lalu kembali duduk di sofa dan kembali fokus pada game yang berada di ponsel pintarnya. Mendengar perkataan Banyu, Asha langsung menoleh kepada Mahesa dengan raut wajah kembali khawatir, “Kakak belum makan dari pagi?” “Dari kemaren malem malah,” Banyu kembali menyela membuat Mahesa mendengus kesal, sepertinya lelaki itu marah karena kejadian bubur yang jatuh tadi. Mahesa melihat ke arah bungkus bubur ayam yang masih terbungkus rapi. Jujur saja sekarang ia merasakan lapar dan ingin mencicipi bagaimana rasa bubur yang dibeli oleh Asha, padahal rasanya sama saja dengan yang dibeli Banyu. “Mau makan, tapi lo suapin ya,” mendengar hal itu membuat Asha dan Banyu menengokkan kepalanya. Asha yang senang mendengar hal itu segera membuka bungkusnya lalu mengangkat bungkus bubur ayam tersebut ke pangkuannya. Gadis itu memastikan dahulu apakah bubur itu masih panas atau tidak. Setelah dipastikan aman, Asha langsung menyuapi Mahesa. “Enak nggak?” tanya Asha membuat Mahesa mengangguk setuju. Banyu yang melihat hal itu hanya tersenyum meledek, ia ingin muntah sekarang juga saat melihat sahabatnya bersikap sok lemah. Padahal tadi Mahesa dengan kuat mendorong bubur ayam yang Banyu beli membuatnya jatuh berserakan di lantai, hal itulah yang membuat lelaki itu sempat marah dengan kelakuan Mahesa. “Gue pulang dulu deh ya, nggak enak ganggu orang lagi pendekatan,“ ujar Banyu lalu berdiri memakai jaket dan pergi kembali ke kostnya dengan Mahesa dan Asha yang nampak tidak memperdulikan lelaki itu, mereka berdua masih asik dengan kegiatannya saat ini. Setelah acara mari menyuapi bayi besar selesai, punggung tangan Asha tanpa sadar ia tempelkan ke dahi Mahesa untuk mengecek suhu badan lelaki tersebut panas atau tidak. “Kak Mahesa gak panas tuh, terus apanya yang sakit? Kepalanya?” Kemarin memang kepalanya sakit, bahkan pagi tadi juga kembali sakit karena Banyu terus menerus memaksanya memakan bubur ayam. Bukannya Mahesa tidak mau, tetapi Banyu sudah terlanjur mengaduk bubur itu hingga membuat Mahesa yang berada di sekte bubur tidak diaduk merasa mual. “Kan gue udah bilang kalau lagi banyak pikiran, butuh sesuatu yang menyegarkan pikiran aja sih ini,” jelas Mahesa yang justru membuat suatu ide di kepala Asha muncul. “Mau jalan-jalan gak? Aku tau tempat yang bikin tenang, tapi jajan dulu nanti di taman ya!” ajak Asha dengan menggebu-gebu, Mahesa yang melihatnya jadi tak tega jika harus menolak ajakan gadis itu. *** Saat ini mereka berdua sudah berada di taman kota untuk membeli beberapa jajanan pinggir jalan, sebenarnya Mahesa enggan makan makanan seperti ini karena takut dirinya akan sakit perut, tapi melihat Asha yang dengan lahap memakan cireng membuatnya kembali tergoda. “Kakak gak pengen bayarin ini semua?” tanya Asha sembari mengangkat sebuah sosis yang tadinya di bakar oleh seorang penjual. “Miskin lo?” jawab Mahesa sinis yang sudah pasti tidak akan di ambil hati oleh Asha karena tabiat lelaki itu memang seperti iblis, kalau Mahesa berubah jadi baik justru tidak sehat untuk jantung dan seluruh jiwa raganya. Jika yang sekarang bersama Asha adalah Brian, pasti dengan senang hati Brian membelikan semua makanan yang dijual di area taman itu seperti saat mereka berdua berburu makanan di pasar malam. Namun, meskipun Mahesa tidak sama seperti Brian, Asha tetap bahagia bisa kembali jalan-jalan dengan lelaki tersebut. Setelah membungkus cimol dan beberapa buah sosis jumbo, Mahesa dan Asha kembali melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat yang menurut Asha sangat cocok dijadikan tempat untuk merilekskan pikirannya. Vespa matic berwarna hijau army itu memasuki sebuah area gedung yang cukup luas dengan sisi kanan dan kiri jalannya dihiasi oleh taman kecil berisi berbagai warna dan jenis bunga, Mahesa sempat ragu saat memasuki gedung tersebut, apakah Asha salah jalan atau memang disini tempatnya, ia masih tak mengerti. Di depan terpampang sebuah pilar besar berwarna coklat muda yang senada dengan warna temboknya lalu dihiasi oleh pintu-pintu besar dengan ujung melengkung yang berwarna coklat tua, tak lupa juga sebuah patung air mancur bernama Mozart yang dibangun di depan gedung itu sehingga membuat kesan klasik semakin kentara. Ya, mereka berdua sekarang berada di depan gedung orkestra. Mahesa tak menyangka bahwa gadis itu akan membawanya kesini, melihat interaksi Asha dengan sang penjaga gerbang tadi membuat Mahesa menarik kesimpulan bahwa Asha sering mengunjungi tempat ini. Namun apakah sekarang mereka berdua akan masuk ke gedung itu dengan pakaian yang terlalu santai seperti saat ini? Mahesa tidak yakin dan tidak akan mau jika hal itu sampai terjadi. “Ini lo nggak salah tempat kan?” tanya Mahesa berusaha memastikan sembari memarkirkan motornya. “Iya, ayo, mau dimulai!” jawab Asha bersemangat lalu menarik tangan Mahesa yang membuat Mahesa terpaksa ikut berlari menyamakan langkahnya dengan langka kaki Asha. Dugaan Mahesa salah, dan ia patut bersyukur atas hal itu. Mereka berdua tidak memasuki gedung musik, melainkan pergi ke belakang bagian gedung tersebut. Mahesa juga tak mengerti kenapa Asha mengajaknya ke belakang gedung ini. Bagian belakang gedung ini tidak bisa dibilang bersih dan terawat, ada sebuah kursi memanjang dengan cat yang mengelupas dan beberapa rumput liar tumbuh subur menyentuh kaki mereka berdua. Lambat laun suara alunan dari biola dan terompet berbunyi, tidak begitu keras namun telinga mereka berdua berhasil menangkap suara itu. “Für Elise, dari Beethoven,” Mahesa langsung menolehkan kepalanya menghadap Asha saat gadis itu menyebut judul lagu yang sedang dimainkan di dalam gedung. “Tau nggak sih kak, setelah menggubah simfoni kesembilannya, Beethoven meninggal. Dan sejak saat itu dunia musik klasik seperti dikutuk, nggak ada komponis yang bisa menyelesaikan simfoni kesepuluhnya,” lelaki itu heran kenapa Asha bisa sangat mengerti dengan dunia musik klasik, atau apakah Mahesa yang memang tidak mengerti fakta sepele ini? “Lo suka musik klasik?” tanya Mahesa, namun Asha dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Ayah dulu suka ajak aku ke belakang gedung ini, dia fans nomor satu Beethoven. Jadi yang aku tau ya cuma Beethoven doang,” jelas Asha sambil tertawa pelan. Saat Asha masih kecil, ia selalu diajak ayahnya ke belakang gedung orkestra. Kata sang ayah, mendengarkan lagu tanpa tau siapa yang memainkannya itu lebih menarik, dan sampai sekarang pun Asha belum pernah masuk ke dalam gedung orkestra itu padahal Brian sudah berulang kali memaksanya namun ia tetap kekeuh tidak akan masuk sebelum ia bertemu dengan cinta pertamanya. “Ayah lo dimana?” Asha menolehkan kepalanya saat Mahesa bertanya, gadis itu lupa tidak memberi tau Mahesa. “Udah di surga, ayah meninggal tersambar petir karena nyelamatin aku,” jelas Asha yang langsung membuat perasaan Mahesa tidak enak, ternyata ini alasan Brian pernah bilang bahwa Asha trauma terhadap suara guntur. “Lo nggak sedih? Atau tiba-tiba keinget kejadian waktu dulu gitu?” bukannya meminta maaf, Mahesa justru memborbardir Asha dengan pertanyaan yang jelas-jelas membuat gadis itu kembali membuka luka lamanya. Asha menggeleng pelan, “Aku cuma trauma sama suara petir doang. Kalau sedih udah pasti, tapi bunda selalu bilang bahwa ada yang datang setelah pergi, dan habis itu ternyata si Joko lahir tepat setelah satu minggu kepergian ayah, dan Brian juga pulang dari Amerika lalu menetap disini, nemenin aku katanya,” tutur Asha panjang lebar membuat Mahesa mengangguk paham. Mahesa juga merasakan ada yang datang setelah pergi. Namun bedanya lelaki itu benci pada orang yang datang dalam hidupnya karena sosok itu adalah mama tirinya, Mahesa bahkan enggan untuk sekedar mengingat bahwa papanya sudah menikah lagi. Ia benci hal itu untuk sekarang dan selamanya. “Ah, maaf. Aku bicara terlalu banyak, harusnya kan kakak nenangin pikiran disini,” lanjut Asha dengan kekehan kecil. “Nggak masalah, gue udah nggak apa-apa kok,” jawab Mahesa santai, dirinya memang sudah merasa baik-baik saja sejak Asha datang ke apartemennya tadi, ditambah dengan jalan-jalan ke tempat baru membuat tenaganya seakan kembali terisi. Dan setelahnya hening, Asha tidak berniat membalas ucapan Mahesa karena memang menurutnya tidak perlu dibalas. Kini suara musik klasik dalam gedung itu terdengar semakin jelas, Asha kembali memejamkan matanya mencoba mencari kenyamanan disini, semilir angin menemani keheningan mereka, dan Mahesa juga sibuk mencari kenyamanannya dengan menatap pahatan sempurna disampingnya. “Kak,” “Apa?” “Terus senyum kayak waktu itu ya, kakak seratus kali lebih ganteng kalau senyum,” ucap Asha yang sontak membuat Mahesa tertawa, tak ada yang bisa membuat suasana hatinya membaik secepat ini kecuali Asha. Dan ya, lelaki itu telah menemukan obatnya, Asha adalah obat bagi Mahesa. Dan sebaliknya, Mahesa mungkin akan menjadi racun untuk Asha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD