Pagi ini sangat berbeda dari pagi biasanya. Retta kini sadar bahwa pandangan para murid kini sudah berbeda terhadapnya. Ia harus menerima keadaan yang tiba-tiba berubah ini. Padahal dirinya hanya merebut posisi Kak Arin sebagai peringkat pertama, tetapi mengapa para murid itu seolah-olah tengah menghakiminya karena telah melakukan sebuah kejahatan? Lagipula bukan maksud Retta juga untuk merebut posisi Kak Arin. Memangnya siapa yang mau berada di posisi pertama jika situasinya akan seperti ini? Retta sungguh tak menginginkannya. Tangan kirinya di genggam oleh seseorang, Retta menoleh dan menatap Naya yang kini tersenyum ke arah nya. “Nggak udah peduliin mereka. Anggap aja mereka nggak ada.” Ucap Naya pelan. Retta mengangguk mengerti. Mereka berdua memasuki gedung sekolah mereka dengan

