Airin temenung di dalam kamarnya. Pertanyaan Endang tentang hubungannya dengan Revan membuatnya terasa terganggu. Apakah mereka terlihat seperti sepasang kekasih? Rasanya interaksi mereka berdua sama tidak berbeda walaupun suaminya sudah tidak ada di dunia ini. Jangan-jangan Luna juga cemburu kepadanya karena Revan terlihat lebih dekat kepadanya?
Selama ini Tendi tidak pernah cemburu atas pertemanan Airin dan Revan, bahkan mereka sempat menghabiskan waktu bertiga, dan tidak ada pertengkaran setelahnya.
Dering Handphone membuat Airin merogohnya dari dalam tas dan termenung ketika melihat siapa yang meneleponnya. Kenapa Revan meneleponnya? Dia memilih untuk membiarkan panggilan itu apalagi setelah Endang menanyakan hubungannya dengan Revan. Mereka memang tidak ada hubungan apa pun selain pertemanan dan Airin juga tidak mau mereka berdua berubah menjadi sepasang kekasih.
“Bu, kalau Airin adopsi anak boleh nggak?”
Endang dan Bakti langsung terdiam ketika mereka sedang asyik menonton acara televisi di kamar mereka berdua. Airin sudah menganggap mertuanya sebagai ayah dan ibu kandung sendiri jadi ia tidak pernah merasa canggung ketika berdiam di kamar keduanya.
“Kayaknya nggak bisa deh Rin. Adopsi anak itu ribet, nggak segampang yang ada di tivi. Kenapa kamu mau adopsis anak?”
“Adopsi anak saudara aja. Saudara yang kurang mampu.” Airin terus saja meencari solusi agar keinginannya terkabul.
Bakti menggelengkan kepala. “Kenapa kamu mau adopsi? Kamu masih muda bisa mengandung anak kamu sendiri. Adopsi anak itu nggak mudah apalagi anak itu kan bukan anak kandung kamu tantangannya akan lebih susah darpada mengurus anak sendiri,” jelas Bakti mencoba memberikan penjelasan yang masuk akal gara Airin sadar dan mengurunkan niatnya untuk mengadopsi anak.
Airin hanya terdiam tidak berniat untuk mengeluarkan kata lagi, apalagi melihat Endang yang sudah memijat kepalanya karena mendadak terasa pening ketika ia bertanya tentang keinginannya mengadopsi anak.
“Kamu juga harus izin dulu ke Mamah dan Papah kamu Airin. Jihan akan mengomel jika kamu melakukan adopsi anak tanpa diskusi dulu dengan mereka. Kamu pasti tahu bagaimana sifat dari Mamah kandung kamu Rin.”
Airin mengangguk setuju. Jihan sangat cerewet bahkan sebelum ia selesai berbicara mamahnya akan langsung memotong perkataannya dan dengan keras berseru menolak tindakan gilanya.
“Merawat anak itu nggak gampang. Ayah nggak menyepelekan kemampuan kamu mengurus anak ya. Anak itu manusia dan mereka tidak bisa kita atur dengan seenaknya. Contohnya Theo dia anak pertama dari keluara ini dan dia yang kabur dari rumah ini sedangkan yang selalu bersama kita adalah Tendi.”
“Kalau kamu mau adopsi anak kamu harus siap jika suatu saat nanti mungkin anak kamu nggak akan menuruti permintaan kamu, walaupun menurut kamu permintaan itu sangat gampang. Balik lagi agar kamu nggak marah kamu harus ingat bahwa anak itu manusia, dia mempunyai akal sendiri yang tidak bisa kita tebak,” sambung Bakti sambi mengelus kepala Endang dengan lembut.
“Kalau kamu mau merasakan bagaimana mengurus anak, kamu bisa datang ke panti asuhan, di sana kamu bisa menyumbangkan ilmu, materi dan tenaga,” ujar Bakti, dia akan terus mencari solusi agar Airin tidak mengadopsi anak. Sebenarnya Bakti tahu kenapa Airin seperti ini, permintaan terakhir Tendi yang membuat Airin terus kepikiran. Jika Tendi masih hidup ia akan memukul kepalanya karena telah membuat anak perempuan kesayangannya menjadi sedih seperti ini.
Setelah perbincangan serius antara Bakti dan Airin yang membahas tentang adopsi anak, menantunya itu sudah kembali ke kamarnya mungkin merenungkan kembali keinginannya untuk mengadopsi anak. Endang juga sedari tadi tidak iku berbicara karena pusing di kepalanya semakin parah bahkan sekarang panas badannya kembali naik.
“Kamu tadi kenapa diam saja? Sepertinya Airin ingin mendengar pendapat dari kamu.”
“Besok, badan aku lemes banget. Kalau maksa bicara sekarang takut membuat Airin memilih pilihan yang salah.”
Endang yang sedang berbaring di samping Bakti mendekat kepada suaminya dan memeluknya erat. Berbagi panas tubuhnya yang kembali naik. Suaminya membalas pelukan darinya dan mengelus lembut punggung Endang dengan lembut. Mengecup dahinya dan ia merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh istrinya.
“Beso kita berobat lagi ya.”
Endang menggeleng. “Nggak. Besok juga udah sembuh.”
“Jangan terlalu banyak pikiran. Kalau ada sesuatu langsung kasih tahu aku, jangan dipendam sendiran.”
“Tadi Airin di antar pulang oleh Revan. Ibu takut mereka ada hubungan serius, karena penasaran Ibu tanya ke Airin dan dia jawab nggak ada hubungan spesial tapi Yah, Ibu bisa lihat dari gelagat Revan sejak Tendi meninggal dia tuh seperti menaruh hati kepada Airin. Ayah juga merasakan apa yang Ibu rasakan kan?”
Bakti terdiam kemudian memorinya kembali ketika hari pemakaman Tendi. Revan begitu setia menemani Airin yang menangis di kuburan Tendi tanpa memaksanya untuk segera pulang. Kemudian selama proses pemakaman Revan juga banyak membantunya. Bukannya Revan adalah sahabat Tendi juga? Dia menganggap semua itu bentuk peduli anak itu kepada Tendi.
“Ibu nggak papa kok Airin menikah dan pergi dari rumah ini. Hanya saja nggak harus dengan cara mendadak, Ibu mau dari sekarang Airin memberitahukannya jika memang dia mendapatkan lelaki yang baik kepadanya.”
Bakti mengerti dengan maksud ucapan Endang, istrinya tidak mau menantu kesayangan mereka seketika pergi dari rumah ini dan meninggalkan mereka berdua.
“Airin tidak mungkin seperti itu, dia akan memberitahukan kita jika memang ada lelaki yang ia cintai.”
Endang setuju kemudian mempererat pelukannya dan memejamkan kedua matanya. Besok dia akan membujuk Airin untuk tidak mengadopsi anak, ia tahu bahwa menantunya pasti masih teringat keinginan terakhir Tendi.
Wangi masakan menguar dari dalam dapur. Endang dengan lincah ke sana kemari membuat dapur sedikit berantakan agar bisa menyajikan makanan lezat pagi ini. Irisan bawang merah dan putih yang telah digoreng di masukkan ke dalam sayur ayam.
“Ibu udah sehat?” tanya Airin ketika melihat ibu mertuanya kembali aktif di dalam dapur. Dia mengambil segelas air minum dan meminumnya sampai habis.
“Alhamdulillah sehat.”
“Kamu mau makan atau mandi dulu?”
“Mandi,” jawab Airin sambil terkekeh karena tidak mungkin ia makan sebelum mandi.
Airin pun naik ke kamarnya sedangkan Endang mematikan kompor dan pergi menuju kamarnya untuk membangunkan Bakti, suaminya itu sudah beberapa kali dibangunkan tetap saja setia bergelung hangat di dalam selimut.
“Ayah! Bangun! Nggak akan kerja?” Endang menyibakkan selimut dan menampilkan Bakti yang sedang meringkuk seperti orang kedinginan.
Tangan kanan Endang langsung memegang dahi Bakti dan terkejut merasakan suhu tubuh suaminya meningkat seperti suhu tubuhnya kemarin.
“Maaf Ayah, kamu ketularan aku ya? Atau gara-gara semalam?”
Bakti hanya diam, walaupun jasmaninya sakit seperti ini ia tetap bahagia karena istrinya sudah bisa cerewet seperti biasa.
***