“Kamu nggak usah datang ke sini. Ibu nggak papa. Fokus aja sama pekerjaan kamu,” ucap Endang menyakinkan seorang laki-laki dengan rahang tegas, halis tebal dan wajah putih yang terlihat di layar handphone.
“Kenapa Ibu nggak mau aku pulang? Jahat banget, orangtua lain senang kalau anak dan cucunya pulang ini malah sebaliknya. Aku juga kan mau lihat makamnya Tendi.”
Layar handphone milik Endang menampilkan seorang anak laki-laki dengan wajah putih seperti bule, rambut cokelat dan mata biru seperti warna mata ibunya.
“Nenek nggak kangen sama Marvel?” tanya anak berumur empat tahun lebih karena beberapa bulan lagi usianya akan menginjak lima tahun.
“Nenek kangen banget sama kamu, kalau Marvel boleh ke sini yang nggak boleh itu Daddy kamu,” jelas Endang dan membuat Theo yang ada di sebrang sana terpaksa memasang wajah datar.
“Marvel itu masih kecil Bu, aku nggak mungkin membiarkan Marvel ke Indonesia sendirian.”
“Tahun depan aja kalau gitu. Kenapa harus sekarang?” Endang sudah berjanji kepada Jihan jika Theo tidak akan pulang ke Indonesia dia juga tidak mau nanti Airin keluar dari rumah karena Theo ada di sana.
“Yaudah gini aja, kamu anterin Marvel dulu terus langsung pulang. Kalau bisa nggak usah nginap di rumah di hotel aja.”
Theo memandang ibunya dengan tatapan tidak percaya. Dia mengakui jika ia jarang pulang ke Indonesia akan tetapi reaksi ibunya yang seperti ini membuatnya sakit hati.
“Pokoknya aku akan pulang. Ibu mau senang atau nggak aku nggak peduli.”
**