Bab 20

1069 Words
Theo sangat kangen dengan masakan Endang. Apalagi ketika ia di Singapur dia tidak pernah bisa menemukan masakan yang enaknya sama seperti masakan Ibunya. Dengan lincah dia memasukkan ayam pepes ke dalam mulutnya, ikannya sangat empuk sekali bahkan Theo melupakan Marvel yang sedang sibuk menonton animasi di dalam gadgetnya. “Sayang, kamu makan dulu ya,” ujar Airin sambil menyuapi Marvel dengan pepes ayam buatan neneknya. Marvel dengan senangnya membuka mulutnya dan mengunyahnya dengan semangat. Endang yang melihat semua itu memukul Theo. “Kamu itu Daddynya harusnya kamu yang suapin dia.” Kedua mata Theo terpaku melihat interaksi keduanya. Selama ini Marvel selalu menolak jika pegasuhnya ingin menyuapinya bahkan ada yang sampai memutuskan untuk pergi karena keusilan yang dilakukan oleh anaknya itu. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh tapi anak berusia empat tahun itu belum menunjukkan tanda-tanda lelah sedikit pun. Airin sangat senang bisa menemani Marvel bermain di depan televisi hanya saja neneknya sudah lelah dan ingin segera tidur. “Marvel, kapan kamu tidur? Nenek udah ngantuk.” Marvel tidak mendengarkan dan anak itu masih saja setia bermain robot. Endang menatap Theo yang sedang setia membaca koran. “Marvel sering seperti ini? Tidurnya kok malam terus?” “Nggak, dia suka tidur di jam tujuh atau delapan. Mungkin karena ada Airin jadi dia ada teman untuk bermain.” “Marvel ingin tidur sama Tante Airin,” ujar Marvel sambil memeluk Airin dan memperlihatkan wajah sayu miliknya. Endang menggelengkan kepalanya. “Tante Airin itu baru pulang kerja, masih cape. Marvel tidurnya sama nenek dan kakek aja ya.” Marvel menggelengkan kepalanya dan mempererat pelukannya kepada Airin. “Aku maunya sama Tante Airin.” “Nggak boleh!” Marvel pun menjerit histeris karena tidak mau tidur dengan kakek dan neneknya. Anak itu ingin merasakana kehangatan pelukan Airin. Airin yang ada di dekat Marvel menenangkan anak itu. “Malam ini Marvel tidur bareng Tante, jadi jangan nangis ya.” Marvel menganggukkan kepalanya. Airin lantas menggendong anak itu dan berjalan naik ke kamarnya. Malam ini dia tidak akan kesepian, ia senang dengan kepulangan Marvel ke rumah ini. di selimutinya Marvel dan ia ikut tidur di sebelahnya, menepuk-nepuk badanya perlahan agar anak itu lekas tertidur. Seperti ini kah mempunyai seorang anak? JIka biasanya di pagi hari Airin hanya mengurus dirinya dan Tendi sekarang ia harus memandikan Marvel, memilih baju untuknya dan menyuapinya. Suasana rumah pun menjadi ramai untung saja hari ini hari minggu dan ia bisa bermain sepuasnya dengan Marvel. Dari pagi Marvel sudah merengek ingin berenang, dan sekarang mereka semua ada di belakang rumah. Bakti juga sudah sembuh dan bisa bergabung dengan mereka semua. Airin takjub melihat kemahiran Marvel dalam berenang. “Marvel pinter renang ya.” Puji Airin. Marvel dengan lincah ke sana kemari tanpa menggunakan pelmpung, tubuhnya melayang begitu saja tidak seperti dirinya yang sampai saat ini tidak bisa berenang. Saat ini juga Airin hanya berdiri saja sambil memegang pinggiran kolam ia takut tenggelam. “Tan, Daddy ikut renang juga.” Airin berbalik ke belakang mengikuti arah pandang Marvel dan membulatkan matanya ketika disajikan pemandangan roti sobek yang sangat menggairahkan. Dia jadi teringat kepada Tendi, kakak dan adik keluarga ini memang mempunyai tubuh yang bagus. Theo masuk ke dalam kolam lalu mendekati Airin dan Marvel. Wangi citrus menguar di indra penciuman Airin, dan anehnya suhu udara berubah menjadi panas. Endang yang melihat itu dari dalam rumah langsung keluar dan berkacak pinggang. “Theo! Ibu udah melarang kamu untuk nggak renang sama Arin dan Marvel! Kenapa kamu ada di sini sekaarang! Cepat keluar!” “Airin juga nggak keberatan, iya kan Airin?” Airin tersenyum simpul. “Nggak papa Bu, Airin juga udah selesai berenang,” ujar Airin sambil keluar dari dalam kolam, ketika dia berada di atas kolam air di dalam bajunya tumpah ke bawah untung saja dia memakai kaos dan celana selutu jadi tidak terlalu menampilkan tubuhnya. Marvel cemberut dan meninju papanya. “Gara-gara Daddy sih. Aku juga udahan.” Anak itu pun mwngikuti Airin meninggalkan Theo yang sendirian di dalam kolam. “Gara-gara ibu sih,” ucap Thep dan membuat Endang yang berada di atas melotot lebar. Dering handphone Airin terus menerus berbunyi. Pemiliknya sedang sibuk memandikan Marvel anak itu bersikeras untuk dimandikan olehnya dan menjerit jika Endang memaksa anak itu untuk dimandikan oleh neneknya. Dia kagum melihat Marvel sudah sebesar ini, waktu itu dia hanya bisa melihatnya dalam foto kata suaminya istri kakaknya itu sangat tidak suka kepada Endang bahkan terus menerus menolak jika Theo meminta untuk tinggal di sini. Kemudian ketika Marvel menginjak usia dua tahun keduanya berpisah. Endang meminta Theo untuk tinggal di Indonesia namun, kakak iparnya itu menolaknya sepertinya karena patah hati ia ingin menjauh dari orang-orang sekitar. Ketika Tendi dan Airin menikah pun Theo tidak datang mereka berdua tidak marah karena memaklumi perasaa kakaknya hanya saja Endang dan Bakti tidak terima dan marah-marah ketika menelepon Theo esoknya. “Revan?” tanya dia ketika melihat sang penelepon ternyata sahabatnya sendiri. Airin ragu untuk menganggkat sambungan telepon ini, kenapa lelaki itu meneleponnya? Ia tidak ingin membuat Revan berharap lebih kepadanya. Dia pun meletakkan handphonenya di atas meja dan menutupnya dengan kain. “Marvel sini di baju dulu,” panggil Airin sambil membawa baju Marvel yang masih berada di dalam koper. Ia sangat kagum melihat anak seusianya sangat patuh kebanyakan anak empat tahun sepertinya selalu tidak bisa diam jika disuruh untuk memakai baju dan Marvel malah sebaliknya. “Pintar,” puji Airin dia tersenyum ketika melihat Mavel mengenakan baju merah dengan gambar Spiderman besar di dadanya. Airin kembali menggendong Marvel, “Kita makan dulu, Nenek Marvel udah nugguin di bawah.” “Tante Airin cantik,” bisik Marvel dan itu membuat Airin tersenyum bahagia. “Marvel juga ganteng,” bisikkan itu lantas membuat keduanya saling tertawa. Endang yang melihat itu tersenyum simpul. Merasa bahagia karena Airin yang dulu telah kembali. Dia sangat tersiksa melihat menantunya selalu murung kadang menangis dalam diam, dan itu membuatnya sesak. Theo yang sudah duduk di kursinya pun tersenyum melihat tingkah mereka berdua. “Aku kira Airin nggak akan tinggal di sini, padahal aku pulang mengira ibu dan ayah nggak ada teman di sini.” Airin hanya tersenyum simpul, “Airin kan bukan kamu Theo. Dia nggak akan tega meninggalkan kami,” jawab Endang dan itu berhasil menusuk d**a Theo sangat dalam. “Aku nggak pulang kan karena ada perusahaan yang harus diurus Bu.” Endang berdecih, “Alasan!” “Pokoknya aku berterima kasih sekali karena kamu telah menemani Ibu dan Ayah.” **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD