Bab 21

1057 Words
Hari senin adalah hari yang sibuk di rumah ini, karena semuanya adalah pejuang uang. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi dan Airin sudah selesai memandikan Marvel dan memakaikan baju. Sejak pertama anak itu datang ke rumah ini ia dan Airin selalu tidur bersama dan itu membuat Airin bahagia karena ada teman tidur. Di meja makan semuanya terlihat sibuk. Theo sedang sibuk dengan Ipad nya membaca presentasi yang akan ia bahas di rapat hari ini, Bakti sedang sibuk membaca koran sampai koran itu dibuang oleh Endang marah karena ini waktunya makan dan bukan waktu membaca. Untungnya Marvel menjadi anak baik ia dengan senang hati membuka mulutnya ketika Airin memasukkan nasi dan sayur bayam untuk dimakan olehnya. Hanya saja ketika Airin akan berangkat kerja, Marvel menjerit dan merengek ingin ikut dengannya. “Marvel, Tante mau bekerja dulu nanti setelah Tante pulang baru kita main ya?” Marvel menggelengkan kepalanya. Dia ingin ikut bersama Airin, kemana pun! Airin sudah dianggap Ibu kandunya dan dia tidak mau kehilangan ibunya lagi. “Marvel ingin ikut dengan Tante,” ujar Marvel sambil mengeratkan pelukannya di leher Airin. Endang yang ada di belakang berusaha memisahkan mereka berdua akan tetapi selalu gagal karena mendadak anak itu mempunyai kekuatan besar. “Theo! Anak kamu!” Endang sudah tidak bisa menahan kesabarannya. Dia sudah pusing berhadapan dengan cucunya sendiri. Mendengar hal itu Theo berlari ke depan dan berkacak pinggang melihat drama keluarga ini. “Kita antar aja Tante Airin ke kantornya, nanti pas pulang kita jemput juga. Tante Airin nanti dimarahi sama atasannya karena nggak masuk kerja. Marvel nggak mau kan Tante Airin dimarahin orang?” Marvel menggelengkan kepalanya. Theo mengambil anaknya dan segera ia gendong. “Maaf ya baju kamu jadi kotor.” “Nggak papa. Tapi aku nggak merepotkan Kak Theo kan?” Theo menggelengkan kepalanya. “Nggak lah, Ayok kita anterin Tante Airin!” Endang dan Bakti mengikuti Theo dan Airin dibelakang, mereka tersenyum simpul melihat kedekatan mereka berdua, melihat ini Endang seperti melihat Tendi dan Airin yang selalu berangkat kerja bersama. “Kayaknya pakai mobil aku aja.” Tidak mungkin kan mereka menggunakan Lamborghini yang muat untuk dua orang saja. Airin menyerahkan kuncinya kepada Tendi. Sebelum masuk ke dalam mobil ia berpamitan terlebih dulu kepada Bakti dan Endang. “Maaf ya Airin jadi merepotkan kamu.” Airin menggelengkan kepala. “Airin malah senang Bu karena Marvel mau anterin aku bekerja.” Ia mengecup pipi Marvel. “Aku berangkat dulu ya Bu,” sambungnya. Airin duduk di belakang karena sudah bisa ia tebak Marvel ingin duduk bersama dengannya. Kursi depan pun kosong hanya ada Tendi sebagai pengemudi. Kedua mata Tendi melihat ke arak kaca spion belakang dan tersenyum simpul karena Marvel memeluk Airin dengan erat. Sepanjang jalan Airin dan Marvel bersenandung riang, menyanyikan lagu balonku, burung kakak tua kadang anak itu akan menceritakan pengalamannya tinggal di singapur Theo juga merasa malu karena anaknya menceritakan tentang Theo yang tidak bisa memasak dan membuat mereka berdua harus makan diluar setiap jam makan. Setibanya di depan kantor Airin, kedua mata Marvel sudah berkaca-kaca Airin kembali memeluknya dan menenangkannya. “Marvel mainnya sama nenek dulu, Tante janji pulang kerja nanti kita bakal main lagi.” ucapan Airin berhasil, anak itu tersenyum dan mengecup sebelah kanan pipi Airin. Airin keluar dengan wajah bereri-seri. Hidupnya seperti kembali normal setiap anak tangga dilaluinya dengan wajah cerita tanpa u*****n yang biasanya ia keluarkan. “Selamat pagi,” sapanya kepada Revan yang sedang duduk di kursi kerjanya. “Kenapa kemarin nggak jawab telepon gue ?” Airin terdiam kemudian duduk dengan manis di kursi kerjanya. Dia langsung menyalakan komputer dan membaca laporan terbaru hari ini. “Tadi di anter sama siapa? Kayaknya bukan Pak Bakti.” Revan terus saja melayangkan pertanyaan kepadanya seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi penjahat. Airin berdecak kesal. “Kamu itu kenapa sih? Bisa nggak jangan ikut campur?” “Memangnya aku salah tanya semua itu?” Airin mulai meninggikan suaranya dia ingin menjelaskan dengan benar bahwa Revan tidka boleh mengusiknya lebih dalam. “Iya!” Revan terdiam begitu juga dengan Airin. Mereka berdua sukses menjadi pusat perhatian di divisi keuangan. Luna juga kaget baru pertama kali ini Airin menunjukkan muka marahnya ke semua orang. Revan memutuskan untuk berdiri dari kursi kerjanya dan melangkah ke luar, ia butuh air dingin untuk menenangkan otaknya agar tidak meluapkan amarahnya kepada Airin. Dia tahu siapa yang ada di dalam mobil itu, Theo dan Marvel. Kenapa mereka berdua harus pulang ketika keadaan seperti ini? Menurut informasi dari Tendi, Theo sudah bercerai dan memilih tinggal di Singapur, dan sekarang statusnya ada duda. Dia takut bagaimana jika kakak Tendi itu menikahi Airin? Apalagi Bu Endang sangat menyayangi sahabatnya itu. Revam harus bergerak cepat jika tidak dia akan kehilangan kembali wanita yang sangat ia cintai. Setiap divisi di kantor ini memiliki dapurnya masing-masing. Fasilitas di dapur terbilang sangat lengkap. Ada mesin kopi, microwafe, kompor untuk masak. Pokoknya karyawan di sini di jamin tidak akan kelaparan. Airin juga sekarang tengah membuat kopi untuk mencerahkan otaknya agar bisa dengan lancar mengerjakan laporan hari ini. “Kak Airin tadi berantem sama Kak Revan kenapa?” tanya Luna dan membuat Airin berbalik untuk menatapnya. “Biasalah.” Airin tidak mau semua orang tahu masalahnya. “Jarang lihat aku marah ya?” Luna mengangguk. Biasanya Airin selalu ceria dan positif tidak pernah mereka melihat karakter negatif. Maka dari itu Luna sangat senang bekerja dengan seniornya yang satu ini karena jika ia melakukan kesalahan Airin tidak pernah memarahinya dia akan dengan sabar mengajarinya sampai mengerti. “Di mobil aku lihat Kak Airin dianterin sama laki-laki yang mirip sama Kak Tendi, dia siapa kak?” Bukan Luna jika ia tidak bisa mendapatkan informasi yang masih membuatnya penasaran. “Kakaknya Tendi. Kata siapa mirip? Beda banget.” Airin sangat setuju jika Theo dan Tendi tingkat kemiripannya sangat jauh berbeda, Tendi pemalu sedangkan Theo sangat pemberani seperti itu. Tendi setia dan Theo dari informasi yang ia peroleh dari mertuanya kakak iparnya itu sangat playboy dan mereka bersyukur karena Theo menikah walaupun mendapatkan istri yang anti mertua. Luna tersenyum senang karena bisa mengorek lebih dalam dia sekarang memiliki bahan untuk membuat Revan meradang dan memutuskan untuk menyerah dalam mendapatkan Airin. Mereka berdua tidak menyadari bahwa Revan sedari tadi mendengarkan percakapan keduanya. Dia sangat panas mendengarkan bahwa benar Theo yang mengantarkan Airin ke sini. Dia tidak akan mneyerah Airin harus menjadi miliknya dan ia akan mendapatkannya. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD