Bab 22

1069 Words
Revan terus saja menatap Airin yang sedang fokus membaca laporan di laptopnya. Dia sangat mengakui bahwa Airin wanita yang paling cantik di dunia ini. Rambut hitamnya yang panjang sebahu, hidungnya yang macung, mata yang bulat dan bulu mata yang lentik. Menatapnya saja membuat Revan merinding kagum apalagi Airin berhasil menjaga berat badanya dari SMA sampai sekarang tidak gendut dan tetap langsing. Tendi sangat beruntung mendapatkan wanita seperti Airin, yang enak di bawa kema pun dan pintar mencari uang tidak menyusahka dan mandiri. Harusnya yang menjadi suami Airin adalah dirinya bukan Tendi. Dulu mengetahui mereka berdua pacaran hatinya sangat sakit, ia merasa dikhianati oleh Tendi. Pasalnya dia yang pertama kenal dengan Airin dan berkat dia Tendi bisa berteman dengan sahabatnya itu lalu mereka tiba-tiba pacaran. Semua yang mendengar kisahnya pasti akan mengasihani dirinya, sampai sekarang Revan menyesal karena tidak bisa menyatakan cintanya kepada Airin. Sebenarnya sedari tadi Revan sudah selesai mengerjakan laporannya hari ini. dia sedang menunggu Airin yang masih berkutat dengan laptop dan kalkulator miliknya. Ketika Airin meregangkan kedua tangannya ke atas Revan menyadari bahwa ini sudah waktunya sahabatnya itu pulang. “Airin. Gue minta maaf soal yang tadi ya,” ujar Revan dengan raut wajah menyesal agar Airin memaafkannya. Airin menganggukkan kepalanya, ia juga tidak ingin terus-menerus bertengkar dengan sahabatnya. “Lo baru beres? Tumben?” “Lagi nggak fokus,” dalih Revan kemudian ia membereskan semua barang-barangnya dan tidak lupa mematikan komputernya. “Gue traktir makan ya? Udah lama kan kita nggak jalan bareng. Ada cafe baru loh dekat kantor.” Airin yang sedang memasukkan laporan keuangannya ke dalam tas terpaku mendengar ajakan Revan. Dia menghela nafas dan menatap lekat kepada Revan. “Nggak bisa sekarang Van, gue udah minta jemput.” Revan terpaku dia tidak ingin jika Airin mengatakan bahwa dia akan dijemput oleh Theo. Amarahnya sudah memuncak ketika wanita itu menolaknya. Sekarang dia tidak akan pernah menerima penolakan lagi. “Tinggak cancel aja Rin, lo tuh masih anggap gue sahabar nggak sih?” Airin hanya terdiam kemudian langsung berdiri dan meninggal Revan begitu saja. Kenapa akhir-akhir ini Revan berubah? Dia sudah janji kepada Marvel dan mana bisa ia membatalkannya begitu saja. Ia mempercepat langkahnya menuju lift agar Revan tidak bisa megejarnya. Revan yang akan mengejar Airin tertahan oleh tangan Luna yang menghentikannya. “Kakak mau kemana? Makan sama aku aja?” Dia menghela nafas kesal dan menghempaskan tangan Luna agar tidak menahannya. “Lo belum pulang?” Revan masih bisa menahan amarahnya. Dia berusaha tidak meluapkan semuanya kepada Luna. “Nggak aku dari tadi denger semua percakapan Kak Revan sama Kak Airin. Udah makan malamnya sama aku aja. Kayaknya Kak Airin lagi sibuk sama kakak iparnya.” Sepertinya Revan tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia memasang tampang sangar dan berjalan mendekati Luna. “Jaga ucapana lo ya. Untung lo cewek kalau cowok udah gue hajar dari tadi!” Airin berjalan tergesa-gesa kedua matanya mencari mobil Honda Jazz miliknya dan ketika melihatnya terparkir di sebelah kanan dia langsung berlari dan segera membuka pintu belakang. “Loh? Marvel nggak iku kak?” Theo menahan tekanan jantungnya karena ketika dia sedang fokus membaca koran tiba-tiba pintu belakang mobilnya dibuka. Untung saja dia tidak mempunyai penyakit jantung jika punya dia sudah meninggal di tempat. “Kamu kenapa Rin! Ketemu hantu?” Theo melihat keringat dingin muncul di dahi dan pelipis Airin dan wajah wanita itu sangat pucat seperti orang yang habis melihat hantu. Airin menggelengkan kepalanya kemudian memalingkan wajahnya ke belakang dan melotot ketika melihat Revan sedang menuju ke sini. “Kak Theo! Cepat jalan!” Theo pun segera menjalankan mobil dan meninggalkan kantor Airin. Dari kaca spion tengah ia bisa melihat dengan jelas ada seorang laki-laki yang tengah berlari menuju mobilnya. Siapa dia? Apakah lelaki itu yang membuat Airin seperti ini? Theo ingin sekali menanyakannya hanya saja ia tahu batasan, dia akan membiarkan Airin yang menceritakan semuanya sendiri kepadanya. Tidak ada paksaan dan tekanan. “Marvel udah tidur di kamar kamu. Nggak papa kan?” Theo ingin membuat suasana menjadi kembali biasa dia tidak tahan melihat Airin yang tertekan seperti itu. “Nggak papa Kak. Aku malah senang karena ada teman.” Theo tersenyum sembari memutar setir mobil belok ke kanan. Jalanan Jakarta tidak pernah sepi bahkan banyak cafe dan pedagang kaki lima yang masih buka. Dia sengaja tidak memainkan music agar Airin bisa lebih menenangkan diri. “Di mana-mana tuh divisi keuangan pasti selalu pulang malam ya?” Airin mengangguk sambil menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Duduk seharian membuat punggunya pegal dan biasanya ia sepulang kerja ia akan menyetir dan baru bisa istirahat setelah sampai di rumah. Ini momen langka dan ia harus memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. “Kenapa sih lo nggak mau kerja di perusahaan Tendi aja? Sekarang perusahaan itu malah diurus sama Ayah.” “Aku nggak bisa jadi CEO. Mending jadi karyawan biasa aja.” Theo tertawa terbahak-bahak. “Lo tuh memang unik, jarang loh ada cewek kayak lo. Kebanyakan kalau suaminya udah CEO milih untuk diam di rumah. Kayak ibu gue contohnya.” “Ibu ngak gitu kok! Menurut cerita Ibu dia bekerja sebagai guru, terus pas hamil kakak dia harus bedrest. Jadi ibu diam di rumah itu salah kakak!” Theo semakin tertawa. Dia tidak tersinggung dengan perkataan Airin karena memang cerita itu benar. Ia malah kagum karena Airin sangat membela Ibunya, beda dengan mantan istrinya dulu yang selalu mengeluh jika Ibu melakukan hal yang membuatnya tersinggung. Mobil Honda Jazz pun terparkir rapih di halaman rumah. Ketika membuka pintu Theo kaget melihat Endang dan Bakti yang masih setia menonton televisi. “Ibu dan Ayah kok belum tidur?” tanya Theo sambil duduk di sebelah ibunya kedua tangannya dengan cekatan merebut kaleng keripik kentang yang sedang dimakan oleh ibunya. “Ibu takut kamu bawa kabur Airin!” Tatapan Ibunya melembut ketika menatap Airin yang baru saja masuk ke dalam rumah. “Airin kamu makan dulu ya. Ibu udah masakin asin cumi dan sayur katuk.” Melihat interaksi itu membuat Theo merasa heran. Ibu sangat baik sekali kepada Airin sangat berbeda ketika berbicara dnegannya. “Ayah, Ibu dari kapan baik seperti itu kepada anak orang?” Bakti memukul kepala Thep menggunakan remot di tangannya. “Airin itu putri Ayah! Bukan orang lain.” Theo merasa tertegun mendengarnya. “Ibu dan Ayah juga dulu sangat baik memperlakukan mantan istri kamu, tapi istri kamunya aja yang kurang ajar sama kami. Makanya Theo cari istri itu kayak Airin! Baik, soleh dan tentunya baik kepada mertua!” **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD