Tanggal merah seperti sekarang ini membuat semua kantor tutup. Tidak ada satu pun karyawan yang akan dengan sukarela masuk saat hari libur seperti ini. Mereka semua lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga atau pasangan. Bahkan ada juga yang memilih untuk tidur sendirian sambil menunggu makanan yang dipesan datang.
Dulu Airin akan menghabiskan waktu diluar demi menemani Tendi yang ingin memakan rawon bumbu pecel. Kadang ia juga akan ikut memakannya dan rasanya memang sangat nikmat manis dan pedas dicampur menjadi satu dan membuat lidah melayang. Maka dari itu karena sekarang ada Theo dan Marvel ia akan mengajak mereka untuk mencoba makanan kesukaan Tendi.
“Kak Theo kapan rapatnya selesai?” tulis Airin dalam kertas karena tidak ingin mengganggu Theo. Dia menggeserkan kertas itu agar dibaca oleh kakak iparnya
Airin tidak menyangka di hari libur seperti ini Theo masih saja berkutat dengan komputer dan kertas, pantas saja Marvel sangat bosan tinggal bersama dengan Daddynya dan memilih untuk bermain sendirian di kamar.
“Masih lama.” Tulisnya di dalam kertas yang tadi Airin berikan. Mereka berdua sedang duduk saling berhadapan di meja makan. Suasana rumah sudah sepi Endang dan Bakti memilih untuk jalan-jalan. Sebelum pergi Endang sudah mengajak Airin namun ia tolak karena ia sudah janji akan mengajak Theo dan Marvel makan rawon di warteg langganan Tendi.
Airin menghela nafas kesal. Kemudian bersedekap sambil menatap Theo. Sebenarnya Theo itu ganteng hanya saja jika dia terus fokus bekerja bisa dijamin sampai tua kakak iparnya ini tidak akan memiliki seorang pendamping. Uang banyak tetapi tidak bisa meluangkan waktu untuk keluarga percuma! Tidak ada wanita yang mau kecuali wanita itu hanya menginginkan hartanya saja.
“Aku berangkat duluan aja sama Marvel. Nanti kakak nyusul ya?” Airin kembali memberikan kertas itu kepada Theo dan lelaki itu mengangguk setuju dengan usulannya. Astaga dia itu tidak peka atau bagaimana sih!
Airin pun membawa tasnya dan tidak lupa menggendong Marvel. Jika ia memilih untuk menunggu Theo entah jam berapa mereka akan berangkat. “Marvel kita berangkat berdua saja ya?” tanya Airin sambil mendudukkan Marvel dikursi depan tepat di sampingnya.
“Iya Tante,” ujar Marvel, wanita itu mengecup pipi keponakannya karena gemas dengan tingkah lucunya.
Kedua tangan Airin pun dengan gesit memasangkan sabuk pengaman untuk dirinya lalu ia dikejutkan dengan pintu belakang yang dibuka secara tiba-tiba.
“Kak Theo!”
Theo terkekeh kemudian menutup pintu belakang. “Rapatnya baru selesai tadi. Maaf ya udah tunggu lama.”
Airin tersenyum simpul dan mengangguk mengerti dengan kesibukan seorang pemimpin perusahaan. Tendi juga sering seperti ini bahkan dia sempat marah karena kesibukan suaminya maka dari itu setiap tanggal merah suaminya akan meluangkan waktunya dan menghindari berbagai pekerjaan di perusahaannya.
“Jadi aku yang nyetir?” tanya Airin siapa tahu Theo ingin menggantikannya agar ia bisa santai di kursi belakang bersama dengan Marvel.
“Kamu aja. Udah terlanjur duduk di depan kan?”
Suasana di depan warteg sangat ramai, ini tanggal merah sepertinya semua orang menghabiskan waktunya untuk makan rawon bumbu pecel yang berada dekat gereja ini. Warteg ini sangat enak bahkan pembeli rela mengantri untuk satu porsi rawon itu. Bahkan Theo dan Airin harus mengantri dan baru duduk setelah dua puluh menit menunggu.
“Jadi ini makanan yang Tendi sukai?” tanya Theo setelah memasukkan satu sendok rawon ke dalam mulutnya. Lidahnya merasakan rempah dan kaldu yang berasal dari kuahnya dan ada rasa pedas yang terasa sangat segar di dalam mulut. Lebih mantap lagi jika dipadu dengan nasi hangat. Nikmat sekali! Pantas saja Tendi sangat menyukai makanan ini, siapa yang memberitahu Tendi tentang makanan ini? Airin?
“Gimana kak? Enak kan?” Airin menatap Theo penuh selidik bahkan bibirnya menunjukkan lengkungan indah.
Theo memberikan dua jempolnya. Selama dia di Singapur tidak pernah menemukan makanan selezat ini. Dia mengutuk dirinya sendiri karena jarang pulang ke Indonesia, negara yang banyak akan makanan nikmat seperti ini.
Airin terkekeh pelan. Entah dari mana asalnya perasaan kembali memburuk. Dia teringat kepada Tendi. Jika suaminya masih hidup mungkin sekarang mereka berdua akan menghabiskan waktu di sini. Makan rawon sambil merencanakan program hamilnya. Jika dulu dia tidak menunda kehamilannya mungkin sekarang Tendi masih ada di sini, duduk di depannya dan dengan lahap memakan makanan kesukaanya.
“Tendi tahu makanan ini dari siapa? Ibu nggak pernah masak rawon,” ujar Theo dan dia terpaku melihat raut wajah Airin yang berubah menjadi sedih.
“Airin kenapa?”
“Tante kenapa?” Marvel yang mendengar ucapan Ayahnya segera meninggalkan ayam goreng miliknya dan menatap Tante kesayangannya dengan lekat.
Airin menggelengkan kepalanya namun, Theo dan Marvel tidak bisa melihat wajah Airin karena posisi wanita itu yang menunduk. Menyembunyikan kesedihannya dari mereka berdua.
“Aku mau pulang.”
“Marvel juga ingin pulang Dad.” Marvel tidak mau Tantenya bersedih dia langsung menuruti keinginan Airin dan mereka semua pergi dari warteg itu. Kenikmatan memakan rawon harus dihentikan terlebih dahulu, Theo harap suatu saat dia bisa ke sana lagi dan menghabiskannya sampai tidak tersisa.
Kesedihan Airin tidak bisa dibendung, bahkan ketika mobil tiba di depan rumah wanita itu langsung berlari meninggalkan Marvel dan Theo juga membuat Endang dan Bakti menatap nyalang kepada Theo.
“Airin kenapa? Kamu apakan dia?” tanya Endang sambil berkacak pinggang. Saat ini Theo duduk di depan kedua orangtuanya.
“Nggak usah alay kayak gini deh Bu. Kayaknya menantu kesayangan Ibu belum bisa melupakan Tendi.”
Endang mengangguk sambil menunjukkan wajah sedihnya. “Ibu juga bingung gimana agar Airin bisa ikhlas dan menerima semua musibah ini.”
Theo mengerti dengan keadaan wanita itu, meskipun ia hanya ditinggalkan dengan posisi wanita yang ia sayangi masih hidup akan tetapi lelaki itu tahu bagaimana rasanya ditinggalkan. Sesak, lemas dan tidak sanggup untuk berdiri. Jika bukan karena Marvel bisa dipastikan dirinya tidak akan menjadi Theo yang seperti ini.
“Airin butuh waktu aja. Lama kelamaan dia akan bisa merelakan Tendi.”
Endang mengangguk hanya saja sampai kapan? Dia tidak mau menantunya terus-menerus terjebak dengan perasaan cintanya kepada Tendi. Yang ia ingin kan Airin bisa menikah dengan lelaki baik dan hidup bahagia.
“Maka dari itu sebelum Airin benar-benar bisa berdiri sendiri. Ibu harap Marvel tinggal di sini dulu. Kamu tahu dia punya keinginan untuk mengadopsi anak. Ibu pusing memikirkannya, ibu takut Airin malah sibuk mengurus anak dan hidup sendirian selamanya.” Tangis Endang pecah. Dia tidak mau Airin menjadi janda dalam waktu lama. Dia ingin setelah satu tahun kematian Tendi Airin bisa menikah dengan lelaki yang baik.
**