Bab 24

1058 Words
Pagi ini Theo menjadi orang pertama yang bangun, Endang juga kalah darinya dan ia tidak akan membangunkan Ibunya. Biar saja semuanya kesiangan ia suka melihat ibunya kalau sudah cerewet. Rasanya kangen sekali dengan omelan ibunya mungkin ini karena ia sudah lama tidak pulang. Dia sedang menikmati teh panasnya sambil membaca laporan dari karyawannya yang berada di Singapur. Ketika meneguk teh buatannya kedua mata Theo tidak sengaja menatap foto dengan ukuran besar terpampang di tengah ruang tamu. Foto itu adalah foto pernikahan Tendi dan Airin. Waktu itu ia tidak bisa datang karena tengah galau dengan perceraiannya, dan pusing ketika harus merawat anak berusia tiga tahun. Theo sangat sedih mendengar kabar kematian Tendi, bahkan ibunya tidak tahu jika ia langsung memutuskan untuk pulang dari Amerika dan pergi ketika rapat baru saja dimulai. Ia merasa sebagian dari hidupnya menghilang meskipun Theo jarang untuk pulang ke Indonesia akan tetapi komunikasi diantara mereka berdua tetap lancar. “Theo! Bangun!” suara Ibu menggema di seluruh rumah. “Theo udah bangun!” jawabnya sambil berteriak. Endang pun melangkah dari dapur ke ruang tamu sambil berkacak pinggang. “Kamu kenapa nggak bagunin Ibu! Ayah kamu tuh ada rapat penting pagi ini. Untung aja nggak terlalu telat!” Theo hanya menatap Ibunya dalam diam kemudian meneguk tehnya dengan tenang. “Makanya Bu kalau alarm bunyi tuh langsung bangun. Gara-gara Ibu aku jadi yang bangun pagi.” “Alasan saja kamu ini ya.” Endang bergegas kembali ke dapur. “Bangunin Airin dan Marvel!” sambungnya dengan suara keras. Theo yakin Airin dan Marvel sudah bangun dan itu bukan karena dirinya tapi suara keras Ibu. Ketika berada di depan kamar Airin, Theo tidak bernai untuk langsung membukanya bagaimana pun kamar ini adalah kamar seorang wanita jika di dalam adik iparnya sedang mengenakan baju dan dia tidak sengaja melihatnya akan jadi masalah besar. Apalagi Ibu dan Ayah kandungnya lebih menyayangi Airin daripada dirinya. Theo pun memilih untuk berdiri di samping pintu, menunggu Airin dan anaknya keluar. Dari luar juga ia sudah mendengar suara anaknya maka itu menyimpulkan bahwa dua manusia yang ada di sana sudah bangun. “Daddy!” Marvel langsung berlari ke gendongan Theo ketika membuka pintu kamar. “Kita sarapan dulu ya,” ujar Theo sambil menggendong Marvel dan bergegas turun. Berat badan anak itu sudah bertambah membuat ia sedikit mengeluarkan tenaga lebih di pagi hari. “Nenek udah berubah jadi Lucifer ya?” Airin yang berjalan di belakangnya seketika tertawa mendengar perkataan Marvel. Theo mendadak langsung membekap mulut Marvel menggunakan tangan kananannya. “Jangan berbicara seperti itu di depan Nenek! Nanti Daddy yang dimarahin.” Marvel seketika menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak mau mendengar Neneknya memarahi Daddynya di pagi hari ini. Endang dan Bakti sudah duduk di kursi masing-masing. “Sarapan pagi ini bubur ayam, nggak papa kan Rin?” Selalu saja Airin yang selalu utama dan itu membuat Theo berdecak pelan. “Theo nggak mau bubur. Ibu kan bisa goreng ayam. Tadi pagi Theo lihat di kulkas masih banyak persediaan ayamnya.” “Yaudah kamu saja yang masak. Ibu, Ayah dan Airin akan makan bubur.” Theo memilih untuk duduk dan memangku anaknya di atas pahanya. “Kayak orang sakit aja, makan bubur pagi-pagi.” “Theo! Makan atau Ibu suruh kamu keluar dan cari makan sendiri!” Setelah sarapan Theo akan mengantarkan Airin karena Marvel terus merengek ingin mengantar Tante kesayangannya bekerja. Dia juga lebih tenang jika adik iparnya ia antar apalagi ketika melihat kejadian semalam. Membuatnya selalu khawatir dan merasa kalau Airin sedng dalam bahaya. “Theo jangan ngebut! Patuhi lalu lintas. Kalau ada apa-apa sama Airin kamu yang Ibu hajar!” Perintah Ibu itu harus dilaksanakan sayangannya petuah itu untuk menantunya bukan untuk dirinya. Endang dan Theo sedang berada di depan mobil milik Airin. Endang bersikeras untuk mengecek keadaan mobil ia takut jika di tengah jalan remnya blong atau banny kempes semua itu kan bisa menyebabkan kecelakaan dan ia tidak mau kehilangan salah satu anggota keluarganya lagi. Ketika menatap gerbang Endang menyipitkan kedua matanya karena merasa hapal dengan mobil yang sedang berjalan menuju ke dalam rumahnya. Lelaki dengan tinggi yang tidak lebih dari Theo keluar dari sana. Theo memincingkan mata merasa pernah melihat wajah itu sebelumnya. Dimana ya dia bertemu dengan lelaki ini. Di mall? Di diskotik? Atau di hotel? “Selamat pagi Tante. Airinya sudah siap Tan?” tanya Revan dengan wajah simpul yang menghiasi wajahnya. “Ada. Ada apa ya kamu cari dia? Udah janjian?” Revan mengangguk yakin. Dia tidak boleh gagal, ia harus berhasil dalam misi menjemput Airin dari Theo seorang duda yang tidak tahu diri dengan mendekati wanita yang sangat ia cintai. Airin terpaku ketika ia keluar dan melihat Revan yang sudah berada di depan rumahnya. Bakti yang sedang menggendong Marvel juga heran dengan kedatangan Revan pagi ini. Wanita itu menghampiri Endang dan berdiri tepat dibelakang mertuanya. Ia takut jika sahabatnya ini memaksanya untuk pergi dengannya. “Airin, kamu sudah janjian dengan Revan?” tanya Endang sambil berbalik ke belakang. Airin menggelengkan kepalanya. “Nggak bu. Airin nggak janji apa-apa ke Revan.” Seperti teringat sesuatu Theo kembali menatap Revan dari atas sampai ke bawah. Lelaki ini terbilang cukup tampan dengan lesung pipi di kedua pipinya dan kulit putih yang dia miliki. Bukannya lelaki ini yang kemarin mengejar Airin? “Lo itu yang semalam kejar Airin kan?” tanya Theo dengan penuh rasa curiga. Benar! Theo sangat yakin jika lelaki yang ada di hadapannya adalah orang yang mengejar Airin semalam. Revan hanya terdiam, bisa gawat jika Endang dan Bakti tahu. Bisa dipastikan ia tidak diizinkan lagi untuk datang ke rumah ini. “Nggak! Tanya aja ke Airin!” “Lo paksa gue buat makan malam sama lo ya!” Airin tidak terima bisa diintimidasi oleh Revan seperti ini. Ini hidupnya dan dia yang harus memegang kendali. Theo tersenyum miring. “Nah lo! Airin udah ngaku!” Revan berdecak kesal dan memilih untuk masuk ke dalam mobilnya. Ia memukul setir mobil dan menatap nyalang kepada Airin dan Theo. Kenapa laki-laki itu datang disaat waktu yang tidak tepat seperti ini? Endang memandang Airin dengan wajah khawatir. “Revan kok jadi begitu Rin. Dia nggak akan lukain kamu kan?” Airin menggelengkan kepalanya. “Nggak akan Bu, Airin kan bisa bela diri jadi Ibu tenang aja.” “Meskipun kamu bisa bela diri dia tetap laki-laki kekuatannya lebih besar dari kamu. Atau sekarang kamu nggak usah kerja aja? **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD