bc

Di Balik Kursi Roda Sang Raja Bayangan

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
contract marriage
family
HE
age gap
forced
badboy
goodgirl
mafia
gangster
sweet
bxg
serious
city
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Demi menyelamatkan bengkel dan rumah peninggalan keluarganya dari ancaman rentenir, Titah Kesumawardani mempertaruhkan segalanya. Dengan keberanian luar biasa, ia menghadapi para preman yang datang menagih utang lima ratus juta rupiah dan berjanji melunasinya dalam waktu kurang dari sehari.

Kesempatan itu datang lewat sebuah pekerjaan berisiko tinggi sebagai perawat sekaligus asisten pribadi Afgansyah Reza Baskara, pria yang dikenal sebagai penguasa dunia gelap dan kini hidup di atas kursi roda setelah kecelakaan tragis. Berbekal tekad demi keluarganya, Titah menerima kontrak tersebut tanpa gentar.

Pertemuan pertama mereka berubah menjadi adu keberanian. Di tengah amarah dan ancaman sang raja bayangan, Titah menjadi satu-satunya orang yang berani melawan tatapan dingin Afgan. Tanpa disadari, keberanian gadis itu mulai membangkitkan sesuatu yang telah lama mati di dalam hati pria paling berbahaya tersebut.

chap-preview
Free preview
Bab 1 - Perisai Hidup untuk Sang Raja yang Terperangkap
Brakkk! Pintu kayu tua bengkel motor itu hancur berantakan, serpihannya beterbangan ke segala arah. Empat pria berbadan besar melangkah masuk tanpa permisi, lengan mereka berotot dihiasi tato ular naga yang melingkar mengerikan. Di tangan masing-masing, tongkat bisbol besi berkilat memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip-kedip seolah ikut gemetar ketakutan. Udara malam yang sejuk mendadak berubah mencekam, dipenuhi bau oli, bensin, dan aura ancaman yang kental menyesakkan. "Mana pria tua bangka itu?! Keluar, Sujatno! Jangan sembunyi di balik ketakutanmu!" teriak pria paling depan. Bertubuh gempal, luka parut vertikal membelah pipi kirinya — membuatnya tampak semakin bengis. Ia Benny, rentenir kelas kakap yang namanya sendirian sudah cukup membuat warga pinggiran kota Jakarta gemetar. Dari balik tumpukan ban bekas di sudut ruangan, seorang pria paruh baya melangkah keluar dengan tubuh bergetar hebat. Wajahnya pucat pasi, matanya menyiratkan keputusasaan yang tak terlukiskan. "B-Bang Benny... beri saya waktu seminggu lagi, saya mohon! Usaha sedang sepi, pelanggan pindah, dan uangnya—" "Cukup! Alasan basi!" Benny tidak membiarkan kalimat itu selesai. Dengan kasar ia mengayunkan tongkat besi ke samping, menghantam mesin bubut tua hingga dentang logam bergaung memekakkan telinga. "Utangmu sudah menumpuk jadi lima ratus juta rupiah beserta bunganya! Dan malam ini adalah batas akhir! Kalau tak lunas detik ini juga, sertifikat tanah bengkel dan rumah reyot di belakangnya akan menjadi milik kami!" "Jangan, Bang! Saya mohon... ini satu-satunya peninggalan untuk anak-anak saya..." Pak Sujatno jatuh berlutut di lantai semen yang berminyak, air mata mulai menetes saat ia mencoba meraih ujung celana pria kejam itu. Benny mendengus jijik. Ia mengangkat sepatu botnya, bersiap menendang d**a pria ringkih itu. Namun sebelum sepatu kotor itu sempat mendarat — sebuah bayangan melesat kilat dari kegelapan sudut bengkel. Sebuah kunci inggris berukuran besar melayang berputar presisi layaknya bumerang, dan— PLAKKK! Kunci inggris besi itu menghantam telak pergelangan tangan Benny yang memegang tongkat. "AAAAARGH!" Benny menjerit kesakitan, refleks melepaskan tongkat besi yang berdenting keras jatuh ke lantai. "Siapa pun yang berani menyentuh seujung rambut saja dari ayahku... akan kupastikan pulangnya merangkak tanpa membawa tangan!" Sebuah suara perempuan bergaung lantang, tegas, tak sedikit pun goyah, membelah ketegangan malam itu. Dari balik bayang-bayang mesin tua, muncullah Titah Kesumawardani. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu berdiri tegak, rahang mengeras penuh tekad. Rambut hitam panjangnya diikat kuda asal-asalan, menyisakan helai yang membingkai wajah cantiknya yang kini tercoreng noda oli hitam. Ia mengenakan celana jeans robek di lutut, kaos hitam sederhana, dan jaket kulit yang sudah mulai mengelupas di siku. Di tangan kanannya, sebatang balok kayu tebal dipukul-pukulkan pelan ke telapak tangan kiri — ritme yang menegangkan. "Titah! Masuk ke dalam, Nak! Ini urusan orang dewasa! Bahaya!" seru Pak Sujatno panik, berusaha bangkit melindungi putri semata wayangnya. Titah tak bergeming. Ia justru melangkah maju, berdiri tepat di depan ayahnya — menjadi perisai hidup yang kokoh. Matanya menatap tajam keempat preman itu tanpa kilat ketakutan sedikit pun. Sebaliknya, ada binar menantang yang berkobar liar di dalamnya. "Gadis sialan! Berani-beraninya kau cari mati!" Benny mengerang, memegangi pergelangan tangannya yang mulai membiru dan bengkak. "Kau bertiga! Hajar dia! Hancurkan tempat ini sampai rata dengan tanah!" perintahnya geram. Tiga pria kekar itu langsung merangsek maju. Yang di kiri melayangkan pukulan mentah ke wajah Titah. Dengan refleks luar biasa yang ditempa bertahun-tahun hidup di jalanan keras, Titah merunduk serendah mungkin. Balok kayunya melesat dari bawah ke atas — menghantam telak rahang pria itu hingga terdengar bunyi tulang berderak. Pria itu tumbang bak pohon ditebang, tak sadarkan diri. Melihat temannya jatuh begitu mudah, pria kedua berang dan menyergap dari belakang. Namun pendengaran Titah setajam elang — ia seolah bermata di punggung. Tubuhnya berputar cepat, tumitnya memutar momentum, lalu meluncurkan tendangan melingkar keras tepat ke ulu hati lawan. Pria itu tersedak hebat, terbatuk, lalu tersungkur memeluk perutnya yang terasa diremas dari dalam. Pria ketiga maju ragu-ragu, namun Titah tak memberinya celah — satu ayunan balok kayu tepat ke pelipis membuatnya ambruk tanpa suara. Kurang dari lima menit, tiga pria berbadan besar ambruk tak berdaya di tangan seorang gadis ramping. Titah kembali berdiri tegak, memutar balok kayu di tangannya dengan santai, lalu menatap Benny yang wajah garangnya kini pucat pasi — seakan melihat malaikat pencabut nyawa. "Jadi, Bang Benny..." Titah melangkah pelan mendekat, membuat rentenir kejam itu mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya membentur tiang beton. Ketukan balok kayu ke lantai berirama — tak... tak... tak... — menghantam mental Benny lebih keras daripada pukulan apa pun. "Tadi Abang bilang batasnya malam ini, kan? Dan utang Ayah lima ratus juta, lunas besok siang?" "K-Kau... monster perempuan sinting!" gagap Benny, keringat dingin mengalir deras. "Aku beri pilihan," senyum Titah manis — namun justru membuat bulu kuduk berdiri. "Angkat ketiga anak buahmu yang tak berguna ini... dan pergi. Atau aku akan mematahkan tanganmu yang satunya agar terlihat simetris." Ia melangkah setapak lagi. "Mengenai uang lima ratus juta itu — dengar baik-baik. Besok siang, sebelum jam dua belas, uang itu akan ditransfer lunas ke rekeningmu. Tak sepeser pun kurang. Tapi... jika kau berani menginjakkan kaki di sini lagi sebelum jam itu...." Ujung balok kayu diarahkan tepat satu sentimeter dari hidung Benny. "Kupastikan kau pulang terbungkus kantong mayat." Benny menelan ludah susah payah. Tanpa berani membalas sepatah kata pun, ia memapah anak buahnya yang masih mengerang kesakitan. Mereka lari tunggang-langgang, menghilang ditelan gelap malam. Begitu suara langkah mereka lenyap, kekuatan di tubuh Titah seolah luruh seketika. Balok kayu jatuh berdentang ke lantai. Ia menghela napas panjang, berbalik, dan langsung memeluk ayahnya yang masih terdiam syok. "Ayah tidak apa-apa? Ada yang sakit? Mereka menyakiti Ayah?" Nada tajamnya hilang, berganti lembut dan penuh kekhawatiran. "Ayah tidak apa-apa, Titah. Tapi..." Pak Sujatno menunduk, air mata jatuh kembali. "Dari mana kita dapat lima ratus juta besok siang? Bengkel sepi bertahun-tahun, tabungan habis untuk pengobatan Ibumu... Kita tak punya apa-apa lagi untuk dijual. Kita akan kehilangan rumah ini, Nak." Hati Titah terasa diiris ribuan silet melihat ayahnya — pria yang selalu kuat — hancur seperti ini. Ia menangkup wajah keriput itu, menghapus air mata dengan ibu jarinya yang kasar. "Ayah... jangan menangis," ucapnya tegas, matanya memancarkan keyakinan baja. "Serahkan semuanya pada Titah. Aku berjanji — besok siang uang itu lunas. Bengkel dan rumah ini aman. Ini milik Ayah dan Ibu... dan aku pertahankan dengan nyawaku kalau perlu." Meski bicara penuh keyakinan, di dalam hati Titah sendiri bingung luar biasa. Lima ratus juta dalam waktu kurang dari dua belas jam bukanlah angka yang bisa dicari dengan cara biasa. Ia butuh keajaiban... atau pekerjaan gila. Malam itu juga Titah tak tidur sedikit pun. Ia mencuci wajah, berganti pakaian, lalu menaiki motor bebek tuanya. Mesin menderu membelah gelapnya jalanan Jakarta. Tujuannya hanya satu: Distrik Perkantoran Elite — Kantor Agensi "Mitra Sejahtera". Kantor itu milik Pak Guntur, kenalan lama almarhumah ibunya. Orang yang dikenal menyalurkan tenaga kerja — asisten pribadi, pendamping, pengurus rumah — dengan bayaran yang fantastis, khusus untuk kalangan paling berkuasa di negeri ini. Dan malam itu, Titah Kesumawardani siap menerima pekerjaan apa pun. ** Keesokan paginya, tepat pukul tujuh saat matahari baru mengintip dari ufuk timur, Titah sudah duduk menyilangkan kaki di ruang kerja ber-AC dingin milik Pak Guntur. Sifatnya yang lugu tanpa tata krama membuat pria paruh baya itu berkali-kali mengusap kening yang basah kuyup keringat sejak gadis itu menerobos masuk. "Bapak BERCANDA?! Lima ratus juta sebulan?! Hanya untuk jadi perawat sekaligus asisten pribadi?! Dan aku bisa mengambil kasbon lima ratus juta itu — HARI PERTAMA KERJA?!" Titah nyaris berteriak. Ia mengebrak meja kayu jati itu hingga cangkir kopi Pak Guntur meloncat dan berdenting heboh di tatakannya. "Ya Tuhan, Titah! Jaga sopan santun! Ini kantor, bukan ring tinju!" Pak Guntur buru-buru membetulkan letak kacamata yang melorot ke ujung hidung karena guncangan meja. Ia menghela napas panjang, menatap gadis itu dengan perasaan campur aduk — kasihan, khawatir, sekaligus ngeri. "Uang itu nyata, Titah. Klien VVIP ini bersedia membayar berapa pun. Bahkan, ia sudah memerintahkan kami menyerahkan uang muka lima ratus juta — tunai — sekarang juga. Asalkan ada satu orang yang berani menandatangani kontrak dan bertahan di rumahnya lebih dari tujuh hari tanpa kabur." Titah menyipitkan matanya. Rasa curiga langsung menyeruak tebal. Terlalu manis untuk kenyataan. "Ini pasti jebakan, kan? Kliennya psikopat? Pembunuh berantai? Atau om-om hidung belang yang suka meraba-raba perawat saat dimandikan?" tebaknya tajam. "Maaf ya, Pak. Aku memang butuh uang untuk menyelamatkan rumah Ayah siang ini, tapi aku tidak sudi menjual harga diriku!" "Bukan harga dirimu yang terancam, Titah... melainkan kewarasanmu. Dan mungkin — nyawamu!" keluh Pak Guntur frustrasi, menyandarkan tubuhnya ke kursi lalu mencondong ke depan, merendahkan suara seolah takut didengar dinding. "Klien ini bukan orang sembarangan. Ia memegang kendali bisnis raksasa... dan desas-desusnya, ia juga penguasa dunia bawah tanah. Namanya — Afgansyah Reza Baskara. Seorang pemimpin mafia, Titah!" Titah hanya mengangkat sebelah alis. Wajahnya tak berubah sedikit pun. "Afgansyah Reza Baskara? Terdengar seperti nama tokoh film aksi murahan. Lalu kenapa tak ada yang betah? Gaji sebesar itu seharusnya membuat orang rela membersihkan kakinya pakai lidah." "Delapan bulan lalu, Tuan Afgan mengalami kecelakaan mobil yang mengerikan. Kakinya lumpuh total — selamanya. Sejak saat itu, sifatnya yang sudah sedingin es dan sekejam iblis, berubah menjadi monster yang tak lagi terkendali. Ia tak bisa menerima kenyataan: pria paling ditakuti, kini terkurung di kursi roda dan bergantung pada orang lain. Ia melampiaskan amarah pada siapa pun yang mendekat. Bulan ini saja, dua puluh perawat sudah mundur! Ada yang histeris, ada yang trauma berat, bahkan ada yang pingsan karena dilempar vas keramik sejuta!" Pak Guntur mengusap wajah lelahnya. "Dia memang lumpuh kakinya, Titah. Tapi tangan dan mulutnya... bisa membunuh mental seseorang dalam sekejap." Alih-alih gemetar ketakutan, seulas seringai tipis justru terukir di bibir Titah. Rasa tertantang dan keras kepala — darah dagingnya — seketika mendidih layaknya lava. "Jadi intinya... dia cuma pria sombong yang kesal karena tiba-tiba harus butuh bantuan orang lain?" Titah berdiri tegak, mengulurkan tangan. "Mana kontraknya? Urus sekarang. Serahkan lima ratus juta itu dalam koper, sebelum jam dua belas siang. Aku akan menjinakkan bos mafia lumpuh itu sebelum makan malam." Kalimatnya diucapkan dengan keyakinan baja. "Kalau dia berani melempar barang padaku, aku pastikan barang itu berbalik menghantam kepalanya sendiri." Pak Guntur menatap tangan kecil yang kapalan itu — tampak rapuh, namun sorot matanya setajam belati. "Kau yakin, Titah? Ini sama dengan melompat ke kandang singa yang sedang terluka. Dan singa terluka... adalah yang paling mematikan." "Pak Guntur, aku tumbuh di jalanan. Aku sudah bertarung dengan kelaparan, kejamnya orang, dan nasib yang tak adil. Singa terluka, naga mengamuk, iblis lepas — semuanya sama saja di mataku. Selama dompet mereka tebal dan bisa menyelamatkan rumah Ayahku," jawab Titah tanpa ragu sedikit pun. Empat jam kemudian... Dengan puas, Titah menyerahkan koper berisi uang lunas ke tangan Bang Benny yang menerimanya gemetar ketakutan. Utang ayahnya — lunas tuntas. Ancaman lenyap. Bengkel dan rumah selamat. Kini... saatnya membayar harganya. Titah berdiri menengadah di depan gerbang besi hitam setinggi enam meter. Di baliknya, menjulang sebuah mansion raksasa bergaya gotik modern — dominan hitam, emas, dan abu-abu arang. Tempat itu tak tampak seperti rumah manusia, melainkan benteng raja iblis yang terperangkap dalam kesunyian. Di sekelilingnya, pria-pria tegap berjas hitam pekat berdiri tak bergerak, earpiece menempel di telinga, tatapan mereka tajam memindai setiap inci gerak. Saat Titah melangkah mendekat — celana jeans robek, kaos polos, jaket kulit lusuh, ransel kusam — mereka langsung bersiaga. "Berhenti. Area berkeamanan tinggi. Siapa kau?" tanya salah satu penjaga, suara bariton berat penuh ancaman. "Santai, Mas. Nama saya Titah Kesumawardani. Perawat dan asisten pribadi baru untuk Tuan Afgan," jawabnya lantang, dagu terangkat menantang, tak sedikit pun menunduk. Keributan kecil itu memunculkan sosok pria tua yang berdiri tegak lurus sempurna. Pakaiannya rapi tanpa kerutan — seragam kepala pelayan keluarga kerajaan. Wajahnya kaku, dingin, penuh kebijaksanaan sekaligus ketegasan. Ia Yoga, kepala pelayan senior yang telah mengabdi puluhan tahun pada keluarga Baskara. Yoga mendekat perlahan, memindai Titah dari ujung rambut berantakan hingga sepatu bot usang yang berdebu. Lalu menghela napas panjang — napas kekecewaan mendalam. "Jadi ini kualitas calon kami sekarang? Mengirim gadis jalanan ke mansion paling elit di negeri ini?" gumamnya pelan namun sengaja terdengar jelas. Ia menoleh pada penjaga. "Buka gerbang. Ikut saya, Nona Titah." Titah melangkah masuk dengan langkah santai, sama sekali tak peduli tatapan merendahkan. Ia sengaja mengentakkan kakinya — sepatu bot beratnya menggema berirama di atas lantai marmer hitam Italia yang mengilat layaknya cermin. Suasana di dalamnya membuat bulu kuduk meremang. Sangat sunyi. Sangat dingin. Sangat mencekam. Tak ada tawa, tak ada musik, bahkan para pelayan yang lewat bergerak layaknya bayangan — cepat, bisu, menunduk takut berbuat salah. Baru saja tiba di kaki tangga utama yang melingkar megah ke lantai dua — DUARR! Sebuah dentuman keras membelah keheningan, disusul bunyi pecahan kaca dan keramik yang meledak dari lantai atas. Dan suara gemuruh amarah pria terdengar bergema hingga ke bawah: "PERGI! KAU SEMUA TIDAK ADA GUNANYA! AKU BISA MEMBUNUHMU DENGAN MATA PEDANG INI SAJA!" ** "KELUAR! BAWA MAKANAN SAMPAH INI KELUAR DARI HADAPANKU! APA KALIAN SEMUA INGIN MATI, HA?!" Suara bariton yang berat, serak, dan menggelegar itu memantul di setiap sudut dinding rumah, memancarkan amarah yang begitu pekat dan gelap hingga udara di dalam ruangan seketika terasa menipis dan sesak. Detik berikutnya, pintu kamar di lantai atas terbuka kasar. Seorang perawat muda berlari menuruni tangga dengan wajah basah oleh air mata ketakutan, tubuhnya gemetar hebat seakan mau pingsan, dan lengan seragam putihnya memerah padam — terbakar kuah sup panas yang baru saja dilempar ke arahnya. Titah refleks menangkap lengan gadis itu saat ia melintas. "Hei, tenanglah sebentar. Apa yang terjadi?" "Lepaskan aku! Dia iblis! Pria itu iblis sejati! Dia melempar mangkuk sup mendidih padaku hanya karena rasanya kurang garam! Aku bisa mati di sana!" jerit perawat itu meronta, melepaskan diri lalu berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi. Benar-benar hancur karena trauma. Melihat itu, Yoga memejamkan matanya rapat-rapat. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening — seolah ini sudah pemandangan rutin harian yang tak lagi mengejutkan. Lalu menatap Titah dengan pandangan datar namun penuh peringatan. "Seperti yang Anda lihat dan dengar sendiri, Nona Titah. Tuan Afgan sedang berada dalam kondisi terburuknya. Saya sarankan — dan ini peringatan tulus — jika Anda masih menghargai nyawa, masa depan, dan kewarasan Anda... ambil kembali uang muka itu, serahkan ke agen, dan pergilah keluar dari gerbang itu sekarang. Kami berjanji tidak akan menuntut Anda secara hukum." Titah menatap ke arah ujung tangga, ke pintu kayu jati ganda yang terbuka separuh — sumber amarah dahsyat itu. Alih-alih mundur, jantungnya justru memompa adrenalin liar. Sebuah senyum miring, menantang, dan penuh percaya diri merekah di bibirnya. Ia menjatuhkan ransel kusamnya ke lantai, lalu menggulung lengan jaket kulitnya hingga ke siku dengan gerakan santai yang sengaja dibuat-santai. "Pergi? Dan membiarkan ayahku kehilangan bengkelnya di masa depan? Tidak akan pernah terjadi dalam kamus hidup Titah Kesumawardani, Pak Yoga," ucapnya dengan nada riang yang justru terdengar sangat berani. "Lagipula, Bapak tak tahu — aku sudah biasa berhadapan dengan preman mabuk di pasar yang mengayunkan parang panjang. Jadi, menghadapi satu pria lumpuh yang mengamuk karena sup kurang garam... seharusnya bukan masalah besar. Biar aku yang menjinakkan 'bayi iblis' yang sedang tantrum di atas sana." Tanpa menunggu jawaban atau izin dari Yoga yang terpaku melongo di tempatnya, Titah melangkah lebar menaiki anak tangga. Setiap langkahnya mantap, tegas, dipenuhi keyakinan mutlak. Ia menyusuri lorong panjang yang bernuansa gelap, hingga tiba di depan pintu ganda besar berukir lambang kepala singa emas. Pintu itu terbuka separuh. Tanpa mengetuk, tanpa ragu — Titah mendorongnya lebar-lebar dengan ujung kakinya dan melangkah masuk. Kamar itu luasnya setara sebuah rumah tinggal utuh. Namun suasananya remang, karena seluruh tirai beludru tebal ditutup rapat, hanya menyisakan celah tipis cahaya matahari yang menembus debu-debu melayang di udara. Karpet Persia yang harganya setara mobil mewah itu kini tampak seperti medan perang. Pecahan piring porselen seni Eropa, tumpahan sup berminyak, noda teh pekat, dan potongan daging berserakan di mana-mana. Dan di tengah kehancuran itu — membelakangi dinding kaca raksasa — duduklah seorang pria di atas kursi roda mutakhir berwarna hitam metalik berkilau. Titah menghentikan langkahnya sejenak, melipat kedua tangan di d**a, dan mulai mengamati sosok 'bos besar' itu dengan tenang. Pria itu mengenakan kemeja sutra hitam yang kancing bagian atasnya terbuka lebar, memperlihatkan garis leher dan d**a yang kokoh meski terkurung diam. Rambut hitamnya sedikit berantakan — tanda emosi yang tak terkendali — namun tetap memancarkan ketampanan yang mengancam. Wajahnya tanpa cela, namun rahangnya mengeras hingga terlihat menonjol, menahan kemarahan yang siap meledak kapan saja. Dan matanya... sepasang mata gelap pekat yang memancarkan kebencian pada seluruh dunia. Afgan tidak menoleh. Ia tetap memandang ke depan, ke arah kegelapan, seolah keberadaan Titah belum terdeteksi atau justru — diabaikan. "Kau tuli?!" suaranya menggelegar kembali, lebih rendah namun lebih mematikan. "Aku sudah bilang — PERGI! Tak ada satu pun dari kalian yang berguna!" Afgansyah Reza Baskara. Meski tubuhnya kini memancarkan amarah gelap yang meluap-luap, Titah terpaksa mengakui dalam hatinya: pria ini memiliki ketampanan yang luar biasa — mengerikan, namun tak masuk akal sempurnanya. Rahang kokoh bagai pahatan batu, bayangan jenggot tipis yang tak terurus justru menambah kesan liar dan maskulin. Hidungnya mancung lurus sempurna, rambut hitam kelam yang sedikit ikal berantakan karena terus disibak dengan tangan penuh frustrasi, menambah aura tak tertaklukkan. Postur bagian atasnya begitu besar dan kekar, berbalut kemeja sutra hitam kusut dengan tiga kancing teratas terbuka — memperlihatkan otot d**a bidang yang naik turun hebat menahan amarah yang nyaris meledak. Namun satu hal yang mendominasi segalanya: sepasang mata elang kelam itu. Menyorot kebencian murni, hawa membunuh yang begitu pekat, begitu dingin, dan tak tersentuh kehangatan sekalipun. "Sudah kubilang — PERGI! Apakah telinga kalian semua benar-benar tuli dan tak berguna?!" geram Afgan tanpa menoleh. Suaranya bergetar menahan luapan emosi yang nyaris tumpah. Kedua tangannya yang besar, berurat tebal, dan kekar mencengkeram sandaran tangan kursi roda begitu kuat hingga buku jarinya memutih — seakan ia ingin meremukkan besi itu sendiri. Titah tidak mundur selangkah pun. Ia justru tersenyum miring, lalu sengaja melangkah maju. Ujung sepatu botnya menginjak pecahan piring keramik besar di lantai — KRAK! — hingga hancur berkeping-keping. Bunyi nyaring itu membelah keheningan kamar yang mencekam. Mendengar langkah kaki yang berat, tenang, dan sama sekali bukan langkah panik pelayan yang kabur ketakutan, Afgan bereaksi. Dengan gerakan kilat dan agresif, ia memutar kursi rodanya. Mata elangnya berkilat tajam bagai belati, langsung mengunci sosok asing yang berani menerobos wilayahnya. Alisnya menukik tajam. Tatapannya meneliti dari atas ke bawah — penampilan Titah yang terlihat tak pantas, kumal, seakan tak mengenal kemewahan sama sekali. "Siapa kau? Beraninya kau masuk ke kamarku tanpa izin dengan pakaian gembel menjijikkan seperti itu!" desis Afgan merendah. Nada rendah itu justru jauh lebih mematikan daripada teriakan tadi. Titah menunduk sejenak, memungut sebuah apel yang menggelinding di dekat kakinya, mengelapnya santai di jaket kulit lusuhnya, lalu menggigitnya keras — KRES! "Aku?" Ia mengunyah sebentar sebelum menjawab dengan nada riang yang tak masuk akal. "Namaku Titah. Panggil saja begitu. Aku asisten pribadi, perawat, pengurus rumah — atau apa pun sebutan yang kau suka untuk babu barumu. Yang akan mengurus sisa-sisa hidupmu di sini." Ia menyandarkan punggungnya pada tiang tempat tidur raksasa, membalas tatapan membunuh itu dengan senyum jenaka yang penuh tantangan. Afgan kaku membeku beberapa detik. Otaknya memproses hal absurd yang baru saja didengarnya. Delapan bulan terkurung di neraka ini — semua orang: dokter, rekan bisnis, pelayan — selalu menatapnya dengan dua cara: penuh ketakutan, atau penuh rasa kasihan. Dan keduanya sama-sama ia benci. Tapi gadis kecil kumal di hadapannya ini... anomali. Tak ada sedikit pun ketakutan. Tak ada rasa iba. Yang ia lihat hanyalah api pemberontakan murni. "Babu baru?" Afgan mendengus keras, tawa kering dan sinis lolos. "Kau sama sekali tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, gadis bodoh? Sepertinya agen sialan itu sudah bosan bernapas, sampai berani mengirim p*****r jalanan murahan ke kamarku." Rahang Titah mengeras. Darah panasnya langsung mendidih. "Heh — JAGA MULUT SAMPAHMU, TUAN MAFIA TERHORMAT!" potong Titah tajam seketika. Ia membuang sisa apel sembarangan. "Aku dibayar mahal dengan uangmu sendiri untuk merawatmu, bukan dijual seperti yang otak mesummu pikirkan! Dan aku tahu persis siapa kau." Ia melipat tangan di d**a, berjalan mendekat perlahan — tenang, namun penuh ancaman halus layaknya harimau mengitari mangsa. "Afgansyah Reza Baskara. Katanya bos mafia kejam berdarah dingin yang ditakuti pebisnis, menteri, hingga kepala polisi sekalipun. Tapi dari apa kulihat dengan kedua mataku..." Titah berhenti tepat di depan kursi rodanya, menatap sekeliling ruangan yang berantakan. "...Kau cuma pria dewasa menyedihkan yang tak tahu bersyukur, buang-buang makanan enak, dan mengamuk lempar barang seperti balita kehilangan mainan — karena kau tak bisa berjalan. Benar-benar... menyedihkan." Seketika, suhu ruangan turun puluhan derajat menuju titik beku. Kata 'menyedihkan' dan ejekan soal 'tak bisa berjalan' bagaikan bensin bergalon-galon tumpah langsung ke dalam api ego Afgan yang sudah menyala sejak lama. Batas kesabarannya runtuh tak bersisa. Dengan gerakan secepat kilat yang tak terduga — Afgan memajukan kursi rodanya secara agresif. Tangan kanannya yang besar melesat layaknya ular kobra menyerang. Jemarinya mencengkeram kerah jaket kulit Titah begitu kuat hingga napas gadis itu tercekat. Dengan kekuatan tubuh bagian atasnya yang luar biasa, ia menariknya ke depan paksa. Titah kehilangan keseimbangan, membungkuk dalam, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah pria itu. Jantung Titah berdegup gila. Ia salah perhitungan — pria ini lumpuh, tapi refleks dan kekuatan tangannya bukan manusia biasa. Aroma maskulin menyeruak: kayu cendana mahal, mint segar, dan tembakau cerutu — memabukkan sekaligus mematikan. Napas Afgan yang memburu panas menerpa kulit wajah Titah. "Dengar baik-baik, Nona Jalanan yang sok Berani," bisik Afgan pelan, serak, dingin — tepat di bibir Titah. Matanya menatap menembus langsung ke jiwa. "Kau mungkin berpikir karena aku duduk di kursi roda, kau bisa melangkah masuk dan menantangku sesukamu. Tapi ingat satu hal: meski kakiku tak bisa melangkah untuk mematahkan lehermu... aku masih punya seribu satu cara memastikan kau berakhir di dasar laut terikat balok semen. Satu jentikan jariku — SATU — dan kau beserta seluruh keluargamu tak akan melihat matahari terbit besok. Kau. Paham. Itu?" Setiap kata diucapkan dengan penekanan yang cukup membuat wanita mana pun pingsan ketakutan. Jantung Titah memang berdebar kencang, memompa adrenalin saat menyadari: ancaman pria ini bukan omong kosong. Aura penguasa kegelapan dan kekejaman Afgansyah Reza Baskara begitu nyata, pekat, dan mencekik rongga dadanya. Namun — tunduk, mundur, memohon ampun — tiga kata itu sudah lama ia coret habis dari kamus hidupnya. Sifat pemberontak Titah Kesumawardani menolak untuk bertekuk lutut. Semakin ia ditekan, semakin liar perlawanan yang ia berikan. Alih-alih meronta panik, menjerit minta tolong, atau menangis merendahkan diri — Titah justru melakukan hal yang tak masuk akal. Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat lagi, hingga ujung hidungnya nyaris bersentuhan dengan hidung mancung Afgan. Matanya menatap lurus ke kedalaman manik kelam itu tanpa berkedip walau sedetik pun. Di sana menyala api keberanian murni — terang, berani, tak kenal takut. "Kalau begitu... tunggu apa lagi? Lakukan saja sekarang, Tuan Mafia yang Agung," bisiknya membalas — nada tak kalah tajam, namun dibalut kelembutan yang justru semakin menantang di tengah keheningan mencekam. Tangannya yang bebas terangkat, menepuk pelan punggung tangan besar yang masih mencengkeram kerahnya. "Jentikkan saja jari besarmu itu dan bunuh aku detik ini juga. Tapi, Tuan Afgan yang cerdas... ingatlah satu hal kecil ini," desisnya menyeringai sinis. "Jika kau membunuhku hari ini, kau harus memungut makanan berserakan di lantai ini sendiri. Dan kau harus membersihkan kotoran dari tubuhmu sendiri mulai besok. Karena setelah aku mati, tak akan ada satu pun manusia waras di muka bumi ini yang sudi menginjakkan kaki di kamarmu — merawat pria cacat yang hobinya cuma mengamuk tak jelas!" Kata 'cacat' diucapkan pelan, tegas — menusuk setajam pedang tepat ke luka terdalam ego Afgan. Seketika, ruangan sunyi senyap. Sangat hening, hingga detak jarum jam dinding terdengar seperti dentuman bom waktu yang siap meledak kapan saja. Afgan terpaku. Napasnya tertahan. Matanya sedikit melebar, menatap wajah gadis di hadapannya dengan pandangan campur aduk — mencari setitik saja ketakutan, keringat dingin, keraguan. Tak ada. Gadis kecil kumal ini menatapnya dengan keyakinan mutlak. Dia serius. Dia tidak takut mati. Delapan bulan terkurung dalam gelap — kemarahan buta yang selalu menguasai dirinya seketika terhenti. Digantikan oleh percikan emosi yang sudah lama mati. Cengkeraman tangannya yang mematikan perlahan mengendur, lalu terlepas sepenuhnya. Kepalanya sedikit mundur. Dan perlahan, sudut bibir Afgan terangkat sebelah. Sebuah senyuman miring, sinis, dingin — namun entah bagaimana justru membuat ketampanannya melonjak menjadi sesuatu yang mematikan sekaligus menawan. "Kau..." Afgan mendesah pelan, suaranya berubah drastis — lembut seperti beludru tajam. ".. Kau benar-benar punya nyali yang luar biasa besar untuk ukuran gadis kecil yang kotor dan tak berdaya, Titah." Ia mengusap jemarinya sendiri seolah baru saja menyentuh sesuatu yang langka. "Jadi — kau butuh uangku untuk menyelamatkan keluargamu dari rentenir? Begitu rupanya. Baiklah. Kontrak eksklusifmu resmi dimulai — detik ini juga." Afgan menyandarkan punggungnya kembali ke kursi roda, menatapnya dengan tatapan intens layaknya predator yang akhirnya menemukan mangsa sekaligus mainan baru yang paling menarik. "Kita lihat saja nanti, Nona Pemberani," ancamnya merdu namun mematikan. "Berapa hari kau sanggup bertahan di neraka pribadiku ini, sebelum egomu hancur berantakan dan kau merangkak di bawah kakiku yang lumpuh ini sambil menangis memohon agar aku tak membiarkanmu pergi." Titah tersenyum lebih liar, lebih menantang. Ia merapikan kerah jaketnya yang kusut, mengusap leher yang masih terasa hangat napas pria itu. "Tantangan DITERIMA dengan senang hati, Tuan Afgansyah Reza Baskara." Suaranya bergaung tegas, layaknya sumpah perang. "Tapi sebagai perawat yang baik hati — aku juga menasihatimu: siapkan mental bajakmu sekuat tenaga. Karena pada akhirnya nanti... bukan aku yang akan berlutut memohon padamu. Melainkan kau sendiri yang akan memohon padaku untuk tak pernah pergi dari sisimu." Sebelah alis tebal Afgan terangkat tinggi. Ia tak menyangka akan mendapat serangan balik verbal yang begitu tajam, berani, dan penuh percaya diri — dari seorang gadis yang seharusnya tak berarti apa-apa. Afgan menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak tubuhnya hancur di malam sialan itu — darah di nadinya kembali berdesir kencang. Rasa bosan, muak, dan keputusasaan kelam yang selama ini mengurungnya... seolah terbakar habis oleh api kecil bernama Titah. Gadis jalanan yang bar-bar ini — tanpa ia sadari — baru saja membangunkan singa buas yang selama ini tertidur lelap di dalam dirinya. Dan singa itu tak lagi ingin membunuhnya. Ia ingin memilikinya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.7K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
170.4K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Tentang Cinta Kita

read
230.3K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
7.3K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook