Chapter 29 (b)

470 Words

Rey rasanya ingin menampar mulutnya yang menyeletuk. Astaga, ia seperti p****************g yang minta dibelai. "Ah, udahlah. Lupakan apa yang gue bilang tadi." Rey memalingkan wajahnya, merasa jengah pada tingkahnya sendiri. Marsha menghela napas panjang, kemudian menatap lekat Rey yang nampak menunggu gadis itu bercerita. Namun, selang lima sampai enam menit, belum ada sepatah kata pun yang Marsha ungkapkan. "Lo jadi ngomong atau enggak, nih? Jangan buang-buang waktu orang." Rey memecah keheningan yang terasa mencekik ini, kakinya mengetuk lantai kayu seakan-akan tak sabaran. "M-maaf, saya ragu mau menceritakannya. Karena ini menyangkut barang peninggalan kakek yang ada di kamar saya. Jadi kepikiran." Marsha bersuara. Rey mengangkat alisnya tinggi-tinggi, penasaran. Mengapa melibat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD