Seperti biasa Arsyi selalu menunggu kedatangan Juna dan Helen. Pagi ini pun demikian. Namun pemuda itu tidak meletakkan tas sekolahnya terlebih dahulu di dalam kelas, ia lebih memilih menunggu di tempat parkir, di dalam mobilnya. Ia merasa lebih aman menunggu di sini ketimbang di lobi ataupun halaman sekolah. Ia tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang dan membuat Helen semakin bertambah salah paham. Arsyi memeriksa jam tangan yang melingkari pergelangan lengan kirinya. Alis tebal pemuda itu berkerut, sepuluh menit lagi jam pelajaran pertama akan di mulai, tetapi mobil Juna masih belum terlihat. Arsyi berdecak kesal. Selalu seperti ini, pikirnya. Juna akan selalu tiba saat bel masuk sebentar lagi akan berbunyi. Bahkan kedua anak itu pernah tiba bertepatan dengan bel masuk. Arsyi men

