"Maaf, Be..." Diva mengejang sesaat. Juna meletakkan dagu di bahunya, kedua lengan pemuda itu memeluk perutnya erat. "Gue tadi nungguin lu, Tasya datang jadinya gitu," bisik Juna. Pemuda itu menyembunyikan wajah di ceruk leher Diva, menghirup aroma s**u kesukaannya yang menguar dari tubuh gadis itu. Diva mengembuskan napas melalui mulut, berharap sesak yang memenuhi dadanya berkurang. "Kenapa lo minta maaf sama gue?" tanya gadis itu. "Emangnya lo punya salah sama gue?" Juna tak menjawab. Ia juga tidak tahu kenapa meminta maaf pada Diva, ia hanya mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini. "Lo nggak punya salah, Jun. Jadi lo nggak perlu minta maaf." Diva segera menggigit bibirnya setelah berkata seperti itu. Ia tidak mau air matanya tumpah lagi. Cukup tadi saja ia menangis. Ju

