bc

Pengantin Pengganti Sang Raja Tak Terduga

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
contract marriage
family
HE
age gap
friends to lovers
arranged marriage
badboy
goodgirl
mafia
gangster
drama
sweet
bxg
city
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Saat kakaknya kabur di hari pernikahan, Titah terpaksa menjadi pengantin pengganti. Ia mengira akan menikahi pria buruk rupa dan tak berguna. Namun di balik semua rumor, suaminya ternyata Afgansyah Reza Pratama—seorang penguasa paling berkuasa dan paling ditakuti di negeri ini. Sejak saat itu, hidup Titah berubah selamanya, terjebak dalam cinta, kekuasaan, dan rahasia yang mengancam nyawanya.

chap-preview
Free preview
Bab 1. Pengantin Pengganti dan Mahar yang Tak Terduga
"Jadi, biar aku perjelas jalan pikiran kalian yang benar-benar di luar nalar ini." Suara Titah menggelegar membelah keheningan ruang tamu yang berantakan. Ia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tajam bak elang yang siap menerkam mangsa. Tangan kanannya masih mencengkeram draf skripsi yang penuh coretan merah dari dosen pembimbingnya. "Kakakku yang terhormat, si Ratu Kecantikan dan Suka Bermain Drama, Tania Azzahra, menabrak mobil orang. Lalu keluarga korban—yang katanya sangat kolot—meminta Tania menikahi anak mereka sebagai ganti rugi. Alasannya? Karena anak mereka itu jelek, bodoh, tidak bisa apa-apa, dan pengangguran abadi! Kakakku tentu saja kabur karena tidak sudi. Dan sekarang, kalian menyuruhku yang masih pusing tujuh keliling memikirkan revisi ini untuk menggantikannya jadi tumbal?!" Ibu Titah, Nyonya Larasati Dewi, mengusap wajahnya yang pucat pasi dengan tisu mahal yang sudah lecek. "Kecilkan suaramu, Titah! Ini bukan soal tumbal-tumbalan. Ini soal menyelamatkan nyawa dan martabat keluarga kita! Keluarga yang ditabrak kakakmu itu bukan orang sembarangan. Kalau kita tidak memenuhi janji untuk menyerahkan anak perempuan kita, Ayah dan Ibumu ini akan dijebloskan ke penjara karena tuduhan penggelapan dan perusakan aset bernilai miliaran!" "Lalu kenapa tidak dari kemarin-kemarin kalian ikat saja Kak Tania di tiang jemuran?! Kenapa baru sekarang panik saat orangnya sudah hilang ditelan bumi?!" Titah berkacak pinggang. Gadis berjaket denim pudar dengan rambut diikat asal-asalan itu benar-benar tak habis pikir. Baru saja ia pulang dari kampus dengan sisa-sisa kewarasan, kini disuguhi drama luar biasa di rumahnya sendiri. Tuan Sujatno, ayah Titah, memijat pelipisnya yang berdenyut keras hingga uratnya menonjol. "Tania mematikan semua akses komunikasinya, Tah. Nomornya tidak aktif, akunnya semuanya lenyap. Kami tak bisa menghubunginya sama sekali. Ah, sudahlah! Waktunya sudah sangat mepet. Pihak keluarga pria sudah menunggu di masjid untuk akad. Kamu harus bersiap sekarang juga!" "Aku?! Menikah dadakan? Hari ini juga? Pak, Bu, aku ini belum lulus kuliah! Boro-boro memikirkan rumah tangga, memikirkan bab tiga saja aku sudah mau muntah! Lagipula, masa aku dinikahkan dengan pria pengangguran, bodoh, dan jelek? Mau dikasih makan apa aku nanti? Batu kerikil campur semen?! Coba pikirkan pakai logika!" Titah menolak mentah-mentah. Sifat keras kepalanya mulai keluar. Ia bahkan menendang pelan kaki meja kaca di dekatnya saking frustrasinya. "Tolonglah, Titah..." Nyonya Larasati Dewi tiba-tiba melorot dari sofa dan bersimpuh di atas karpet, membuat mata Titah membelalak kaget. "Hanya ini satu-satunya cara. Ibu mohon... Ibu janji, setelah ini Ibu tidak akan membeda-bedakanmu dengan Tania lagi. Kartu kreditmu akan Ibu tambah limitnya. Tapi tolong, selamatkan kami. Mereka bilang anak mereka tidak bisa apa-apa, mungkin kamu nanti bisa mengajarinya berbisnis kecil-kecilan. Buka warung seblak atau apa saja. Kamu kan anak yang tangguh, pemberani, dan tahan banting." Titah menghela napas kasar, mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia memang selalu merasa menjadi anak kedua yang tak kasatmata di rumah ini. Tania selalu menjadi prioritas—si cantik yang anggun dan penurut, setidaknya kelihatannya begitu. Namun melihat ibunya menangis tersedu-sedu hingga berlutut memohon padanya, pertahanan keras kepalanya runtuh juga. Jauh di lubuk hatinya, ia tetap menyayangi keluarganya yang aneh ini. "Bangun, Bu. Jangan pakai drama berlutut segala, lantainya belum dipel dari kemarin," ucap Titah sambil menarik lengan ibunya dengan tenaga ekstra agar wanita itu berdiri. "Baiklah! Aku akan menikah dengan pria pengangguran jelek itu! Tapi ingat, kalau sampai hidupku melarat dan aku disuruh kerja banting tulang buat memberi makan suami yang tak berguna, aku akan pulang ke sini dan mempreteli semua perabotan rumah ini untuk kujual di pasar loak!" ** Dua jam kemudian, dunia Titah terasa seolah diputar balik dengan kecepatan cahaya. Entah bagaimana caranya, ibunya bisa memanggil tim penata rias profesional dalam waktu sesingkat itu. Wajah yang biasanya hanya kenal bedak bayi dan pelembap bibir, kini disulap dengan riasan sempurna yang membuatnya tampak luar biasa cantik dan memukau. Kebaya putih anggun bertahtakan payet—kemungkinan besar milik Tania yang terpaksa dirombak dadakan—membalut tubuhnya dengan pas. Mobil Alphard hitam yang membawa mereka berhenti di pelataran masjid megah, perpaduan arsitektur Timur Tengah dan gaya modern. Titah mengerutkan kening, menempelkan wajahnya ke kaca jendela. "Tunggu dulu," gumamnya curiga, matanya memindai deretan mobil mewah yang terparkir rapi. "Keluarga si pengangguran ini yang menyewa masjid semegah ini? Kalian yakin mereka tidak baru saja merampok bank atau berutang pada rentenir untuk biaya nikah? Ini terlalu mewah untuk ukuran keluarga yang anaknya tak berguna!" "Sudah, diam saja. Jaga lisanmu, Titah. Jangan mempermalukan Bapak," bisik ayahnya gugup, keringat dingin sebesar biji jagung menetes di dahi. Tuan Sujatno menuntunnya keluar, tangannya mencengkeram lengan putrinya sedikit terlalu erat, seolah takut gadis pemberani ini akan kabur seperti kakaknya. Suasana di dalam masjid begitu khusyuk dan sejuk, namun entah mengapa terasa sangat mengintimidasi. Tak banyak tamu undangan yang hadir. Anehnya, yang memenuhi ruangan justru belasan pria berjas hitam rapi dan berkacamata gelap, berdiri tegap dengan postur layaknya pasukan elit. Wajah mereka datar, dingin, dan tak bergerak sedikit pun. Di tengah ruangan, tepat di depan meja akad yang dihias melati putih, duduk seorang pria dengan kemeja putih dan jas hitam pekat. Ia membelakangi pintu masuk. Dari belakang, punggungnya terlihat sangat lebar, kokoh, dan tegap. Sama sekali tak mirip pria pengangguran kurang gizi yang hanya tahu rebahan di kamar seperti bayangan Titah. Titah didudukkan di kursi berukir tak jauh dari sana. Jantungnya mulai berdegup kencang, memompa darah dengan kecepatan tak wajar. "Baiklah, karena mempelai wanita sudah hadir, mari kita mulai prosesi akad nikah yang mulia ini," ucap penghulu, memecah keheningan yang sejak tadi mencekik leher Tuan Sujatno. Ayahnya duduk berhadapan dengan pria itu. Tangannya bergetar hebat saat menjabat tangan calon menantunya. Dari tempatnya duduk, Titah belum bisa melihat wajah pria itu. Ia meremas ujung kebayanya hingga buku jarinya memutih. "Gadis berisik sepertiku, yang hobi makan mie instan tengah malam dan berdebat dengan pengantar ojek, menikah dengan pria yang katanya bodoh dan jelek. Luar biasa sekali naskah takdirku," batinnya sinis, setengah tertawa miris. Sang penghulu memberikan mikrofon kepada Tuan Sujatno. Dengan suara gemetar dan napas tertahan, ayahnya mengucapkan kalimat sakral. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Afgansyah Reza Pratama bin Muhammad Rizky Pratama, dengan putri kandung saya, Titah Kesumawardani binti Sujatno, dengan mas kawin berupa seratus kilogram emas batangan murni, kepemilikan saham PT Pratama Nusantara Grup sebesar dua puluh persen, serta sebuah pulau pribadi di kepulauan Maldives, dibayar tunai!" Uhuk! Uhuk! Titah tersedak ludahnya sendiri dengan keras. Matanya melotot hampir keluar dari sarangnya. Ayah dan ibunya pun sama terkejutnya. Mulut Nyonya Larasati Dewi ternganga lebar hingga rasanya rahangnya bisa lepas. Wanita itu harus berpegangan kuat pada lengan kursi agar tak pingsan mendadak. "Seratus kilo emas?! Saham dua puluh persen?! Pulau pribadi di Maldives?!" jeritnya dalam hati. Otaknya yang terbiasa menghitung sisa uang jajan bulanan seketika berhenti bekerja. "Pengangguran macam apa yang punya mahar segila ini?! Ini mahar atau anggaran pendapatan daerah?!" Namun sebelum rasa kaget itu mereda, suara bariton yang sangat dalam, dingin, dan berat bergema memenuhi ruangan. Suara itu begitu mantap, mendominasi, tanpa keraguan sedikit pun. "Saya terima nikah dan kawinnya Titah Kesumawardani binti Sujatno dengan mas kawin tersebut, tunai." "Bagaimana para saksi? Sah?" "SAH!" Gemuruh kata 'sah' dari para pria berjas hitam terdengar seperti paduan suara militer yang mengunci takdir Titah secara permanen. Al-Fatihah dilantunkan, namun pikiran Titah masih melayang membayangkan tumpukan emas yang berkilauan. Sementara itu, di kursi akad, benak sang mempelai pria bekerja cepat. Afgansyah Reza Pratama—sang penguasa yang sengaja menyebar rumor kebodohan dan kejelekan untuk menyaring wanita yang hanya menginginkan harta—memicingkan mata. Saat ayah mertuanya menyebut nama 'Titah Kesumawardani', kecerdikannya langsung menangkap kejanggalan. "Titah?" batinnya dingin. Data yang ia terima jelas menyatakan wanita yang menabrak mobil orang tuanya adalah Tania Azzahra—gadis model amatir yang cengeng, manja, dan matre. Mengapa nama yang disebutkan saat akad adalah Titah? Begitu doa selesai diaminkan, Afgan membalikkan badannya dengan gerakan perlahan namun penuh wibawa yang mengintimidasi. Ia menatap lurus ke arah kursi mempelai wanita. Napas Titah tercekat di tenggorokan. Waktu seakan berhenti, dan gravitasi bumi terasa menghilang. Pria itu, demi Tuhan, jauh dari kata jelek! Wajahnya bak pahatan dewa mitologi dengan garis rahang setajam silet, hidung mancung sempurna, dan sepasang mata elang berwarna cokelat gelap yang menatapnya dengan intensitas yang bisa membakar kulit. Auranya menguar begitu pekat, dingin, dan sangat berkuasa. Tak ada sedikit pun jejak pria bodoh, apalagi pengangguran. Yang ada di hadapannya kini adalah bahaya yang dibalut dalam ketampanan yang tak masuk akal. Di saat yang sama, Afgan menatap gadis yang kini resmi menjadi istrinya. Matanya memindai dengan cepat. Gadis di depannya memiliki sorot mata yang tajam, berani, dan sedikit konyol karena sedang melotot tak percaya. Jauh berbeda dengan foto Tania yang pernah ia lihat sekilas. Gadis ini tak terlihat seperti boneka porselen yang mudah hancur. Ia tampak seperti seseorang yang bisa dan berani membalas jika diserang. "Menarik," seringai tipis yang nyaris tak terlihat muncul di sudut bibir Afgan. Keluarga ini berani mempermainkannya dengan mengganti pengantin. Namun melihat siapa yang menggantikannya, ia merasa ini sama sekali bukan kerugian. Wanita ini berbeda. Afgan melangkah mendekat. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai marmer terdengar bagai detak jam raksasa yang menghitung mundur sisa kewarasan Titah. Pria itu berdiri menjulang di hadapannya, menatap dari atas dengan raut wajah datar yang tak bisa ditebak isinya. Titah menelan ludah dengan susah payah; kerongkongannya terasa kering seketika. Diingatkan lagi oleh senggolan halus ibunya dari belakang, ia perlahan mengulurkan tangan yang sedikit gemetar. Ia meraih tangan besar pria itu—kasar namun menghangatkan—lalu mencium punggungnya sebagai tanda bakti pertama. Wangi parfum maskulin bercampur aroma mint dan sesuatu yang berbau bahaya langsung menyergap indra penciumannya, membuat kepala Titah sedikit pening. Saat ia mengangkat wajah kembali, Afgan menunduk perlahan. Jarak mereka begitu dekat hingga Titah bisa melihat betapa lebatnya bulu mata pria itu. Bibir Afgan nyaris menyentuh telinganya, membuat seluruh bulu kuduk Titah meremang hebat oleh embusan napasnya yang sedingin es. "Kau bukan Tania yang seharusnya kunikahi, Nona Titah," bisiknya rendah—nada yang mengancam namun entah bagaimana terdengar menggoda. Ia mundur sedikit, menatap tepat ke dalam manik mata Titah yang kini melebar penuh kepanikan. "Tapi jangan pernah berharap kau bisa lari. Karena permainan yang sesungguhnya, yang penuh bahaya ini, baru saja kita mulai, Istriku."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Tentang Cinta Kita

read
230.2K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
170.0K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
7.2K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.6K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.8K
bc

Istri Kecil Om Arogan

read
14.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook